Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Kang Ibing marah.


__ADS_3

Yati mengemas kembali pakaiannya ke dalam tasnya di dalam kamar. Sementara Asep mencari jagetnya dan bertanya pada Ratmi,


"Jaket Asep mana Bu?"


Ratmi pun mulai celingak celinguk, karena dia mengingat bahwa dia melihat jaket milik Asep, tapi dia lupa. Melihatnya di area mana.


Tiba-tiba Ratmi mengingat, bahwa dia menyimpan nya di belakang pintu kamar Yati.


"Coba kamu liat di belakang pintu kamar Yati, ada gak? Ibu lupa nyimpan di mana," perintah Ratmi.


Asep. Masuk ke dalam kamar Yati, dan melihat ke arah balik pintu. Ya, benar saja, Ratmi menyimpan jaket Asep di belakang pintu kamar Yati.


Tiba-tiba Yati berkata pada Ratmi,


"Yati pulang sendiri aja Bu, hak usah di anter."


Mendengar ucapan Yati, Asep menoleh ke arah jam yang menempel di dinding, kemudian dia berkata pada adiknya,


"Kamu liat atuh sekarang jam berapa? Sekarang udah jam 8 malem, jalanan udah sepi, kamu harus ada yang jagain, lagian ada Aa' kok, jangan nekat kamu Yat."


Tanpa berpikir panjang, Yati pun keluar dari rumah orang tuanya begitu saja tanpa sepatah kata pun.


Melihat tingkah lakunya Yati, Ratmi semakin kesal dan dongkol.


"Ya ampun Yatiiii, sikap kamu kok gak berubah juga, masih aja kaya anak kecil, keras kepala!" kata Ratmi.


Akhirnya Ratmi menyuruh Asep mengikutinya.


"Asep, sana ikutin adikmu! Ibu khawatir takut ada apa-apa di jalan," perintah Ratmi.


Asep pun mengangguk. Lalu Asep pergi mengikuti Yati dari belakang.


Jarak. Mereka memang jauh, tetapi walau jauh, Asep masih bisa melihat keberadaan Yati.


Beberapa saat kemudian, Yati pun sampai di rumahnya, dan Asep pun segera memastikan, jika Yati Adiknya benar-benar sudah masuk ke dalam rumahnya.


Setelah sudah yakin Yati masuk ke dalam rumahnya, Asep pun membalikkan tubuhnya, lalu berjalan menuju rumahnya.


Sementara Yati, telah masuk ke dalam rumahnya dan menemui Bidin.


Bidin pun terkejut melihat bahwa istrinya kembali pulang,


"Loh, kok kamu pulang Yat? Katanya mau nginep ke rumah Ibu dan Bapak? Kenapa malah pulang? Ini usah malam loh? Apa kamu ada yang anter?"


Yati menggeleng kan kepalanya.


"Yati pulang sendiri Kang. Tadi sih Aa' Asep mau nganterin, tapi Yati gak mau, Yati pulang aja sendiri," sahut Yati.


Waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Sementara Mawar dan Melati masih bermain dengan mainan mereka.


Bidin pun menyuruh mereka untuk segera tidur.


"Ayo Mawar, Melati, waktunya tidur, nanti di temenin saja teh Yati," perintah Bidin.


"Emang teh Yati udah pulang Pak?" tanya Mawar.

__ADS_1


"Udah tuh, teh Yati gak jadi nginep," jawab Bidin.


Mawar pun beranjak dari tempat duduknya, lalu dia masuk ke dalam kamar.


Sementara Yati setelah meletakkan tas pakaiannya di dalam kamar, dia kembali keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tengah, di mana Mawar dan Melati bermain.


Mawar sudah masuk ke dalam kamarnya lebih dulu, sementara Melati masih berada di sana.


Yati pun duduk di lantai, lalu membereskan semua mainan Mawar dan Melati. Setelah merapikan semua mainan, Yati pun menggendong Melati untuk di ajak ke kamarnya dan menyuruhnya untuk tidur.


Ayo tidur sama Teh Yati," ajak Yati pada Melati.


Melati pun mengangguk, lalu Yati menggendong Melati menuju kamarnya.


Bidin tetap berdiri memperhatikan apa yang di lakukan istrinya yang masih sangat muda.


Dia mengerti tingkah Yati, Bidin mulai terbiasa dengan sikap acuhnya Yati yang kadang datang tiba-tiba.


Yati menemani Melati agar tertidur.


Beberapa saat kemudian, Mawar dan Melati pun tertidur.


Bidin masih duduk di ruang makan, sambil menunggu Yatinkeluar dari kamar anak-anak.


Lama rasanya Bidin menunggunya, akhirnya Bidin hendak melihat Yati di dalam kamar anak-anak.


Bidin pun beranjak dari duduknya, lalu dia beranjak masuk ke dalam kamar anak-anak.


Tiba-tiba Bidin pun tersenyum melihat Yati, sang istri ikut tertidur di antara Mawar dan Melati.


Bidin mengambil selimut kain dan menutupi tubuh Yati, kemudian Bidin pun menutup pintu kamar.


Laku dia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.


Pintu kamar Bidin tertutup menimbulkan bunyi, dan terdengar sampai ke kamar anak-anak, karena malam itu sangat hening dan hanya suara jangkrik yang terdengar.


Tiba-tiba Yati membuka kedua matanya.


Ternyata Yati belum tertidur nyenyak.


Yati bangkit dari duduknya, dia menatap wajah Mawar dan Melati.


Yati termenung, memikirkan dirinya yang kini sudah jelas bahwa dia berstatus istri Bidin.


"Maafkan Yati Kang, ternyata Yati gak bisa mencintai Akang, Yati udah berusaha, tapi Yati tetap gak bisa," gumamnya pelan.


Air matanya pun mengalir membasahi pipinya.


Yati pun mulai merasa lelah, lalu dia merebahkan tubuhnya.


Beberapa saat kemudian, Yati pun tertidur.


Keesokan paginya, seperti biasa Bidin membangunkan Yati sebelum waktu subuh masuk.


"Yat, ayo Yat, bangun, waktunya sholat subuh, kita sholat jamaah," kata Bidin, sambil menggoyang-goyangkan tubuh Yati.

__ADS_1


Yati pun mulai menggeliat kan tubuhnya, dan beberapa saat kemudian dia mulai membuka  matanya.


Bidin pun keluar dari kamar anak-anak, lalu berjalan menuju kamar mandi.


Sedangkan Yati sudah bangun dan menyiapkan alat-alat sholat.


Beberapa saat kemudian, Bidin pun selesai mandi.


Yati menunggu komando dari Bidin untuk segera lekas mandi.


"Ayo mandi sana, Akang sudah," kata Bidin.


Kebiasaan rutinitas Bidin yang hampir Yati hapal, karena membosankan bagi Yati.


Yati pun beranjak ke kamar mandi. Tetapi tidak lama Yati mandi, dia pun keluar dari kamar mandi.


Bidin pun mengajaknya untuk sholat.


Sungguh hati Yati memberontak, dia sangat merasa terkekang, dan sangat bosan dengan  rutinitas yang itu itu saja.


Selesai Sholat subuh, setelah melipat kain dan mukena, Yati berkata,


"Kang, Yati mau ngomong."


Bidin menoleh ke arah Yati dan bertanya,


"Mau ngomong apa teh? Sepertinya serius."


Yati menunduk. Bidin memperhatikan Yati, lalu Bidin mengubah posisi duduknya, hingga Yati telah berada di hadapannya.


"Ada apa Yat, sok ngomong atuh, kalo memang ada yang penting, cepet katakan," kata Bidin.


"Gak ada yang penting Kang, cuman_"


Yati tidak meneruskan ucapannya. Yatim merasa takut jika dia berterus terang, suaminya akan marah.


Bidin pun penasaran dengan apa yang akan Yati katakan.


"Cuman apa Yat, katakan aja atuh, jangan sungkan. akang lebih seneng jika apa yang Yati rasakan di bicarakan, jangan di pendam," sahut Bidin.


Yati mulai mengangkat wajahnya. Dia menatap wajah Bidin yang tampan, yang sangat dia kagumi selama ini.


"Akang tau gak, kalo Akang itu tampan? Akang tuh ganteng pisan," kata Yati, sambil kedua tangannya mengusap kedua pipi Bidin.


Bidin terdiam. Yati merebahkan kepalanya di dada Bidin yang bidang.


Sejenak saja, lalu dia mengangkat kepalanya dan mengecup kening Bidin.


Yati menggenggam kedua tangan Bidin dan kembali berkata,


Maafkan Yati Kang, Yati belum bisa jadi istri yang baik untuk Akang, lebih baik, Akang pulangin Yati aja ke Bapak dan Ibu."


DEGGG!!!


"Apa!!! Apa maksud kamu Yat  Akang gak ngerti!" Bentak Bidin.

__ADS_1


__ADS_2