
Arum mencoba memaksa masuk ke dalam rumah Bidin. Dia melihat Melati dari luar pagar menangis tersedu-sedu.
"Mawaaar! Mawaaar! Cepat buka pagarnya, Teh Arum gak bisa buka dari luar!"
Pekik Arum yang masih berdiri di depan pagar.
Mawar yang masih mengantuk, dengan terpaksa keluar dan membuka pintu pagar bambu rumahnya.
Setelah Mawar membuka pagar, Arum pun memaksa masuk dan membungkukkan tubuhnya.
"Kamu kenapa Mawar? Adik kamu kenapa nangis dan teriak-teriak?" tanya Arum, kedua tangannya mengguncang bahu Mawar.
"Mawar gak tau, Mawar bangun tau-tau liat ade lagi nangis," jawab Mawar, sambil me ngucak mata.
Lalu Arum membalikkan tubuhnya dan menutup kembali pintu pagar.
Dia menarik tangan Mawar untuk masuk ke dalam.
"Sakit Teh," teriak Mawar.
"Ayo masuk! Dimana teh Yati War?" tanya Arum.
Mendengar suara Arum yang keras, membuat Mawar sedikit takut. Mawar bukannya menjawab, tetapi dia diam saja sambil mendongakkan kepalanya ke arah Arum.
"Eh di tanya teh kenapa diam saja, jawab atuh!" sahut Arum
Lalu Arum membungkukkan tubuhnya, jadi posisi Arum sejajar dengan Mawar.
"Neng, teh Yati mana? Ibu tiri kamu kemana?" tanya Arum, suaranya mulai melemah.
Mawar menggelengkan kepalanya dan menjawab,
"Neng gak tau, Neng bangun teh Yati gak ada, Neng cari cari gak ada juga."
Lalu Arum melepaskan tangan Mawar, dan masuk ke dalam.
Dia melihat Melati tengah menangis di ruang samping.
"Melati, aya naon teh, kenapa nangis gelis?" tanya Arum, seraya menggendong Melati dan memeluknya.
"Cup atuh, kan udah ada teh Arum di sini, kita mandi yuk."
Arum mencoba untuk menghentikan tangisan Melati.
Melati mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangannya. Lalu Arum membawanya ke kamar mandi.
Seperti biasa, Arum meletakkan Melati duduk di sebuah bak kecil, kemudian Arum menimba air untuk mengisi bak.
Hanya cukup dua ember, bak pun terisi penuh.
__ADS_1
Memang saat itu, untuk mendapatkannya air, Bidin memiliki lubang sumur yang cukup dalam, mungkin sekitar sepuluh meter lebih kedalamannya.
Karena itu, Bidin selalu melarang Yati untuk mengambil air dari sana.
Bidin berusaha selalu memenuhi kolam dengan menimba air sumur. Bukan hanya kolam yang di penuhi Bidin, tetapi tong yang menggantung pun di penuhinya juga, guma untuk mengambil air wudhu.
Lalu Arum kembali mengambil ember besar dan berteriak memanggil Mawar,
"Mawaaar, lekas sini! Teteh udah siapin air buat Neng."
Mendengar namanya di panggil, Mawar pun beranjak ke kamar mandi
Dia melihat Melati sedang air bermain air dengan duduk di dalam bak kecil.
"Sini Neng, buka bajunya, Teteh mandiin," perintah Arum.
Mawar pun menurut. Mawar tidak merasa sungkan saat membuka bajunya di hadapan Arum. Karena hubungan mereka sudah sangat dekat.
Walau terkadang sikap Arum yang tidak bersahabat pada Mawar dan Melati, tetapi jika Mawar dan Melati dalam kesusahan, Arum berusaha untuk memberikan perhatian.
Setelah membuka bajunya, Mawar pun masuk ke dalam kamar mandi.
Lalu Arum memandikannya.
Setelah selesai, Arum mengeringkan tubuh Mawar dan menutupinya dengan selembar handuk dengan melilit ke tubuhnya.
Setelah selesai, Arum menyuruh Mawar untuk keluar dari kamar mandi.
Mawar pun keluar dari kamar mandi, dan berjalan menuju kamarnya.
Sementara Arum kini memandikan Melati.
Sementara Yati sudah berada di rumah ibu bapaknya. Yati sedang busuk di meja ruang Tengah berhadapan dengan kang Ibing dan Ratmi, yaitu bapak dan ibunya. Mereka sedang mengintrogasi Yati.
"Kamu gak boleh seperti ini, Yati! Kamu gak boleh keluar rumah tanpa izin dari suamimu! Jangan bikin malu bapak dan ibu!" teriak mang Ibing pada Yati.
Ratmi pun tidak tinggal diam, dia pun ikut memarahi Yati,
"Harusnya kamu bersyukur di nikahi oleh Bidin! Banyak perempuan sini yang mau dinikahin dia, Baik yang janda maupun yang perawan, tapi kenapa kamu malah kaya gini, Yat! Ibu gemes banget sama kamu! Kamu gak pernah berubah! Masih saja kaya anak kecil!"
Yati hanya diam, dia menundukkan kepalanya.
Lalu mang Ibing kembali bertanya,
"Sekarang, apa mau kamu? Tolong katakan pada Bapak!"
Yati mulai mengangkat wajahnya.
"Yati ingin pisah saja Pak, Yati cape! Yati bosan, Pak!" teriak Yati bercampur isak tangis.
__ADS_1
Air mata Yati mulai keluar dan membasahi pipinya yang gembul. Ya, Yatim memang bertubuh gempal dan semok. Yati mulai mengusap kedua pipinya yang basah.
"Kamu gak boleh kaya gitu, Yati. Jadi istri itu harus sabar. Kalo bosan, kamu bisa main ke sini. Lagian Bidin juga tidak melarang kamu kan, asal kamu izin dulu, jangan kaya gini!" maki Ratmi.
Lalu Ratmi kembali meneruskan,
"Jika seorang istri tidak bisa menahan rasa bosan, bagaimana dia bisa menjaga keutuhan rumah tangganya?"
Yati tidak menerima ungkapan Ratmi, lalu dia berkata dengan lantang,
"Lagian siapa yang mau di nikahin sama kang Bidin? Kan Bapak dan Ibu yang maksa Yati untuk jadi istrinya! Yati cape Pak, Yati bosan Bu! Kerjanya cuman ngurus anak-anak. Yati mau main sama temen-temen Yati, Yati mau bebas kaya dulu! Pokoknya Yati gak mau balik ke rumah Mang Bidin!"
Seketika saja telapak tangan mang Ibing mendarat ke wajah Yati.
PLAKKK!!!
Yati pun menangis karena rasa sakit atas tamparan bapaknya, yaitu kang Ibing.
"Dasar anak kurang ajar! Gak tau di untung! Otaknya maunya main!"
Kang Ibing marah besar pada Yati.
Asep yang saat itu baru saja pulang dari sekolah melihat kejadian itu, langsung terperangah, Asep sangat kaget melihat bapaknya yang marah besar.
Tetapi dengan reflek Asep berteriak pada mang Ibing,
"Bapak! Kenapa bapak menampar Yati! Emang gak bisa bicara baik-baik!"
Melihat sikap Asep yang membela Yati, mang Ibing pun kembali marah,
"Eh Asep, kamu gak tau apa-apa lebih baik kamu diam ya! Adikmu ini udah bikin malu keluarga! Udah bikin malu Bapak dan Ibu! Kamu baru dateng dan gak tau apa-apa, jadi lebih baik kamu diam, atau nanti Bapak tampar kamu juga!"
Asep pun terdiam. Dia berdiri terpaku di depan pintu masuk.
"Cepat, sekarang kamu bawa barang-barang bawaan kamu dan pulang!" perintah kang Ibing pada Yati.
Lalu kang Ibing menoleh kearah Asep yang masih saja berdiri di depan pintu.
"Kamu Sep, cepat ganti bajumu, dan antar adikmu pulang ke rumah suaminya, cepat!" perintah kang Ibing.
Asep pun bergegas ke kamar dan menganti baju seragam sekolahnya, dia mencari kaos dan celana panjang.
Setelah mengganti bajunya, Asep pun kembali keluar menuju ruang tengah, di mana bapak dan ibu serta Yati berada.
"Cepat Sep, bawa tas besar punya adikmu itu, dan antar Yati pulang ke rumah Nak Bidin!" teriak Ratmi pada Asep.
Asep pun melakukannya. Dia mengangkat tas besar milik Yati yang berisi pakaian, dan menarik tangan Yati.
Tetapi tangan Asep segera di tepis Yati. Yati pun berteriak,
__ADS_1
"Yati bilang, Yati gak mau balik ke rumah kang Bidin!"
Asep pun melongo, dia merasa serba salah.