Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Perkenalan dengan Ujang.


__ADS_3

Ujang memperhatikan Yati dari saat awal kedatangannya. Dia memandang Yati dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Ujang pun memberanikan diri, lalu dia berpindah duduk berhadapan meja dengan Yati.


"Maap Teh, boleh saya duduk di sini?" tanya Ujang berbasa basi.


Yati menoleh ke arah Ujang yang masih berdiri mematung, lalu Yati membuang muka.


Tanpa menunggu jawaban Yati, dengan cueknya Ujang duduk berhadapan dengan Yati.


Sengaja Ujang diam saja, tanpa mengajak bicara pada Yati. Dia sedang melihat respon dari Yati.


Karena dari tadi, Ujang sudah memperhatikannya, menurut Ujang, sepertinya Yati tengah mengalami masalah.


Ujang menyeruput teh tawarnya, sedangkan matanya mengarah pada Yati.


Pakaian Yati memang sedikit terbuka di bagian dadanya, membuat mata Ujang tak berkedip, sedangkan Yati tidak merasa sedang di perhatikan.


Lalu tiba-tiba Sukaisih melihat gelagat Ujang yang tak baik. Sukaisih menyuruh Yati agar membawa minumannya masuk ke dalam.


"Yati, kamu masuk saja sana di dalam, kamu kan istri orang, gak baik duduk di warung kaya gini, kalo kamu masih tetap masuk di sini, lebih baik kamu di dalam saja sana!" kata Sukaisih pemilik warung menyarankan.


Bukan nya mendengar arahan Sukaisih, Yati malah menepis peringatan itu,


"Biarlah Teh, Yati di sini aja, enak minum teh tawar sambil melihat ke arah jalan, melihat orang lalu lalang."


Sukaisih pun menghela napas panjang. Hatinya mulai merasa kesal dengan sikap Yati.


Sedangkan Ujang, dia merasa inilah mangsa barunya, gadis muda yang sedang patah hati.


"Ayo atuh Yati, mending di dalam aja, gak baik istri guru ngaji duduk di warung bareng-bareng sama laki-laki lain," ajak Sukaisih.


Lalu Sukaisih kembali berkata untuk mengingatkan Yati,


"Teteh gak mau warung Teteh jelek karena Yati ada di sini, kamu tuh istri Kang Bidin, harusnya jaga nama baiknya."


Merasa di beri ceramah okeh pemilik warung, akhirnya Yati memutuskan untuk pergi.


Sebelum pergi, Yati bertanya pada Sukaisih,


"Semua berapa Teh? Yati minum teh tawar, pisang goreng dua, ubi goreng satu."


"Semua seribu lima ratus Yati," jawab Sukaisih.


Yati merogoh saku bajunya. Tetapi tiba-tiba Ujang menyodorkan uang pada Sukaisih, dan berkata,


"Sekalian saya aja teh, ini uangnya."


Sukaisih melirik ke arah Yati. Tetapi Yati tidak menghiraukannya, dia malah pergi begitu saja.


Sukaisih meraih yang dari tangan Ujang dan berkata, "Terimakasih."


"Sama-sama Teh, saya pergi dulu," sahut Ujang.


Ujang pun ikut keluar dari warung Sukaisih. Langkahnya di percepat agar bisa mengimbangi langkah Yati.


Setelah sejajar, Ujang bertanya pada Yat,

__ADS_1


"Namamu Yati ya? Oh ya, kenalkan nama saya Ujang, saya dari kampung sebelah."


Yati hanya menoleh sebentar ke arah Ujang, lalu Yati terus melangkah.


"Kamu mau ke mana?" tanya Ujang kembali.


"Bukan urusan kamu!" Jawab Yati dengan ketus.


"Sudah jadi urusan saya jika kamu berada dekat dengan saya," kata Ujang.


"Gak baik seorang gadis pergi sendirian, nanti kenapa-kenapa," kata Ujang kembali.


Tiba-tiba Yati menghentikan langkahnya. Dia terdiam mematung.


Ujang pun ikut menghentikan langkahnya.


Lalu Ujang kembali berkata,


"Kalau kamu pergi tanpa tujuan, lebih baik kamu ikut saya aja pergi ke danau, di sana kita bisa berbincang-bincang tanpa ada yang menggangu. Kamu bisa mengeluarkan unek-unek mu, saya bisa kok jadi pendengar yang baik."


Seketika Yati menatap wajah Ujang.


Lalu Ujang kembali berkata,


"Jika kamu butuh teman, ikuti langkah saya. Tapi jika kamu tidak membutuhkannya, maka berbalik lah dan jangan ikutin saya."


Lalu tanpa menoleh lagi, Ujang berjalan pergi. Langkahnya dengan gontai meninggalkan Yati yang masih berdiri terpaku.


Beberapa meter, Ujang memoerlambat langkahnya. Ingin sekali dia membalikkan tubuhnya, melihat keberadaan Yati, tetapi dia harus menahan keinginannya itu.


Semakin jauh labgkah Ujang, Yati masih menatapnya dari kejauhan.


Tapi jika dia berbalik, ke mana tujuannya pergi saat itu?


Karena untuk pulang ke rumah Bidin, itu semua sudah tidak mungkin, karena memang dia sudah tidak merasa betah di sana.


Jika saat itu dia pulang ke rumah Bapak dan Ibunya, dia khawatir jika nanti akan bertemu dengan Bidin.


Karena Yati yakin, jika Bidin telah berada di sana untuk mencari dan menjemputnya pulang.


Yati berpikir keras, lalu akhirnya, Yati oun memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan ikut ke danau bersama Ujang, walau pun dia baru saja kenal dengan Ujang, tetapi Yati yakin, ini adalah waktu yang tepat untuk menghabis waktu dengan Ujang, hanya untuk berbincang-bincang.


Akhirnya Yati dengan mantap melangkahkan kakinya menyusul langkah Ujang.


Sedangkan Ujang terus berjalan, melalui jalanan setapak yang kanan kirinya terdapat ladang jagung.


Di sana tanaman jagung tumbuh dan tertata rapi.


Yati mempercepat langkahnya, hingga langkahnya hampir setara dengan Ujang.


Dan Ujang oun melihat bayangan Yati yang hampir saja berada di sampingnya.


Ujang pun tersenyum bangga dan culas.


"Kita mau ke mana Kang?" tanya Yati tiba-tiba.


"Ikuti saja langkah saya, yang jelas, langkah saya akan membuat kamu merasa nyaman," jawab Ujang.

__ADS_1


Yati melirik ke arah Ujang.


Yati melihat wajah Ujang dari samping, dan hatinya pun berkata,


"Eh ganteng juga kang Ujang, gak kalah ganteng dengan kang Bidin, sayang aja kang Bidin udah punya anak, emangnya aku pengasuh bayi, di suruh jagain anak melulu."


Langkah Ujang memasuki kawasan danau.


Di sana ada tempat pemancingan dan warung makan beserta saung saung. Para pengunjung bisa duduk di pinggir danau dan duduk di saung.


Hanya orang-orang yang memiliki uang banyak yang bisa datang ke sana.


Karena untuk tiket masuk saja sudah lumayan mahal, apa lagi makan dan mengikuti kegiatan memancing di sana, para pengunjung harus mengeluarkan kocek yang lumayan mahal.


Saat itu, waktu telah memasuki pagi menjelang siang.


Langkah Ujang sudah memasuki area danau. Karena ketika masuk di pintu depan, para pengunjung harus melangkah melewati jembatan kecil.


Ujang menoleh ke belakang, Ujang mengulurkan tangannya untuk menuntun Yati.


Secara otomatis, Yati pun menyambut ukuran tangan Ujang.


Dan mereka pun menyeberangi jembatan kecil itu.


Sesampainya di seberang, mereka masih berdiri, sesaat mereka terdiam.


Yati pun tersadar jika tangannya masih berpegangan pada tangan Ujang.


Ketika tersadar, Yati pun segera melepaskan pegangan tangannya dari tangan Ujang sambil berkata,


"Eh maaf."


Ujang tersenyum. Tetapi dalam hatinya, ada kepuasan di sana. Dia merasa telah memenangkan satu episode.


Lalu Ujang berkata,


"Kita ke sana aja, tempatnya masih luas, belum banyak pengunjung yang duduk di sana."


Ujang masih menoleh ke arah Yati, karena menunggu jawaban darinya.


Seketika saja Yati menganggukkan kepalanya.


Ujang oun tersenyum dan merasa lebih menang, lalu Ujang pun berjalan menuju arah yang dia tunjuk.


Sedangkan Yati mengikutinya dari belakang.


Mereka berjalan beriringan di pinggiran tepi danau, hingga ada beberapa mata melihat ke arah mereka.


Ternyata, di antara pengunjung yang sedang memangcing, ada yang mengenal Yati.


Ya, semenjak Yati menikah dengan Bidin, sosoknya banyak di kenal orang.


Bahkan sebagian orang yang berada dari kampung sebelah pun mengenalnya, karena Bidin terkadang mengajar juga di kampung sebelah.


"Loh, itu kan Yati, si semok istrinya kang Bidin!" kata salah satu pengunjung kepada temannya.


Temannya pun menoleh ke arah yang di tunjuk.

__ADS_1


"Oh iya, Yati sama siapa tuh? Sepertinya bukan orang sini," sahut Sobari, salah satu pengunjung yang melihat kedatangan Yati dengan Ujang.


__ADS_2