Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Pengacara alias pengangguran banyak acara.


__ADS_3

Bidin pun sampai di rumah kedua orang tuanya,


"Assalamu'alaikum."


"Wa alaikum salam," sahut seseorang dari dalam rumah.


Bidin menurunkan Mawar dan Melati, dan mereka pun langsung masuk ke dalam rumah yang di datangi Bidin saat itu.


Setelah mereka masuk, Mawar langsung memeluk neneknya,


"Niniiiii!"


Selang beberapa saat, Melati pun ikut memeluk neneknya dan juga sambil berteriak-teriak, "Niniii Niniiii!"


Bidin pun menemui Emaknya, lalu Bidin menyalaminya.


"Loh, tumben nih bukan hari libur ke sininya?" tanya sang Emak.


"Ndin gak di suruh duduk dulu Mak?" tanya Bidin sambil tersenyum.


"Eeeh Mak lupa, ayooo duduk sini. Tarik sini bangkunya," sahut si Emak.


Mawar dan Melati bermain di luar.


Bidin celingak celinguk, kedua bola matanya memutar, dia melihat ke sekeliling ruangan.


"Bapak mana Mak, kok sepi?" tanya Bidin.


"Bapak lagi ke kadang, lagi sda urusan sama mandor," kata si Emak.


Si Emak memperhatikan anaknya. Ikatan batin tidaklah salah. Apa yang sedang di rasakan oleh Bidin, sang Emak pun ikut merasakannya.


Tapi sengaja sikap si Emak yang biasa saja, walau dia mengetahui ada ganjalan di hati anaknya.


"Mak, ada yang saya mau omongin," kata Bidin tiba-tiba.


Raut wajah sang Emak pun berubah. Kerutannyablebih nampak dari biasanya.


Sementara, kita beralih pada Yati.


Yati saat ini masih berada di kamarnya, maaih tergeletak malas di tempat tidurnya.


Sedangkan Ratmi dan kang Ibing berada di ruang makan.


"Pusing saya Pak, mikirin keadaan Yati. Ampe saya malu kalo ke warung, perasaan saya semua orang memandang ke arah saya, perasaan saya semua orang bergunjing tentang Yati, saya malu Pak!" keluh Ratmi.


"Pokoknya Yati gak boleh keluar! Tuh jendela kamarnya udah Bapak ******! Jadi dia gak bisa lagi loncat lewat jendela," kata mang Ibing.


Mang Ibing pun kembali berkata,


"Lagian, Yati harus menjalani masa iddah dulu setelah di cerai, emang dia pikir di cerai itu enak! Nanti tetap awasi Yati Bu, biar gak kabur lagi!" perintah mang Ibing.


"Iya Pak, Ibu bakal tetap awasi, biar gak kabur ruh anak!" sahut Ratmi.


Asep masuk ke ruang makan dari arah dapur.


Sebenarnya dia sudah mendengar pembicaraan bapak dan ibunya, tetapi sengaja Asep tidak memberi komentarnya.

__ADS_1


Asep duduk dan menyendok nasi, lalu mengambil lauk pauknya juga.


Ada ikan asin, sambal dan lalapan.


Setelah mengisi nasinya dengan penuh, Asep pindah ke ruang tamu.


Melihat Asep yang diam saja tanpa komentar, Ratmi dan mang Ibing terlihat bingung.


Mereka pun saling menatap dan memandang. Lalu mang ibing bertanya pada Ratmi,


"Asep kenapa?"


Ratmi yang memang tidak tahu apa-apa hanya mengangkat kedua bahunya.


Asep pun terlihat asyik dengan santapan makanannya.


Walau sebenarnya hatinya tidak sama dengan apa yang terlihat.


Asep merasa kesal dan sedih, mendengar desas desus di luaran sana.


Apa lagi ketika tadi setelah dia pulang dari sekolah, dia melewati warung Sukaesih.


Banyak pengunjung di sana. Salah satu pengunjung melihat Asep pulang dari sekolah dan memanggilnya.


"Hei Sep, mampir dulu atuh sini, kita ngopi-ngopi dulu atuh," ajak Agan.


Agan adalah salah satu pemuda PENGACARA  di kampung itu, alias Pengangguran Banyak Acara. 


"Eh iya Kang, makasih. Saya mau langsung pulang, cape nih, cape mikir," kata Asep.


"Kamu mau buru-buru pulang karena cape atau mau jagain Yati? Takut kabur lagi ya?" tanya Agan.


Lalu Agan pun kembali berkata pada pemilik warung,


"Teh, di kampung ini ada barang baru Teh, masih sekel lagi, mantaaaap."


Asep semakin geram. Dia mengerti apa maksud perkataan Agan.


Lalu Agan kembali berkata pada Asep,


"Ya sudah, sana pulang, tolong jagain Yati ya buat saya, tiga bulan mendatang saya akan mengawininya."


Sukeisih melihat ke arah Asep. Pemilik warung itu tahu bagaimana perasaan Asep saat itu.


Sukaesih pun segera berkata pada Asep,


"Sudah sana Sep pulang. Omongan si Agan mah jangan ditanggapin, dia emang usil."


Semua orang mengenal Agan. Seorang pengangguran yang kesehariannya mengomentari orang lain, siapa pun yang lewat di hadapannya. Apalagi tentang gosip yang beredar, jika sudah sampai ke telinga Agan, dia yang paling jago menggoreng berita.


Mendengar perkataan Agan dan melihat sikapnya, ingin sekali Asep memberikan hadiah sebuah pukulan ke wajahnya.


Untung saja saat itu pemilik warung, Sukeisih segera menyuruhnya cepat pulang.


Maka, Asep pun pulang ke rumah dengan membawa perasaan kesal.


Asep terus menikmati makan siangnya tanpa bersuara.

__ADS_1


Bahkan sikapnya membuat Ratmi dan mang Ibing menjadi bingung. "Ada apa dengan Asep?"


Setelah menyantap makan siangnya, Asep pun bangun dari duduknya dan berjalan ke ruang makan.


Asep mengisi gelas kosong dengan air putih lalu meminumnya.


Kemudian dia hendak melangkah meninggalkan ruang makan.


Tetapi mang Ibing segera memanggilnya,


"Asep!"


Asep pun menoleh, dan menyapa mang Ibing, "Iya Pak?"


"Sini duduk," ajak mang Ibing.


Asep menoleh dan berkata, "Asep ngantuk Pak  Asep mau tidur."


Setelah bicara, Asep pun berlalu meninggalkan mang Ibing dan Ratmi.


Mereka berdua nampak terdiam melihat tingkah Asep.


"Asep kenapa Bu?" tanya mang Ibing.


"Ibu gak tau Pak, kan kita sama-sama di sini. Tau-tau Asep datang tanpa ngomong apa-apa," sahut Ratmi.


Ratmi pun duduk sambil bertopang dagu.


Tiba-tiba Ratmi teringat kejadian kemarin, saat Ratmi melihat Usep, sikapnya sama persis dengan Asep saat tadi.


Lalu Ratmi pun mengadukan nya pada mang Ibing.


"Eh Pak, kemarin Si Usep juga kaya gitu sikapnya, sama persis kaya Asep. Nyelonong aja, gak ngomong. Boro-boro masuk rumah beri salam, bersuara dikit aja enggak Pak. Sebenarnya ada apa ya dengan mereka?" tanya Ratmi.


"Tugas ibulah yang harus selidikin anaknya, kenapa ibu nanya Bapak? Biasanya kan anak lebih terbuka sama ibunya, bukan sama Bapaknya, apa lagi anak laki-laki, biasanya lebih terbuka sama ibunya ketimbang bapaknya," jawab mang Ibing.


"Iya, itu biasanya. Karena bapaknya gak mau pendekatan sama anak, mangkanya anak lebih nyaman jika bicara sama ibunya, karna ibu yang ada di rumah," celoteh Ratmi.


"Loh, kok Ibu jadi nyalahin Bapak? Tugas Balak kan nyari nafkah. Kalo Bapak sibuk ngurus anak, kapan nyari nafkahnya?" tanya mang Ibing berkilah.


"Weeh, Paaaak, denger yaaaa.... Kalo tugas seorang Bapak cuman nyari nafkah doang, apa bedanya Bapak sama hewan? Tugas seorang Bapak tuh bukan cuman ngasih makan aja Pak, tapi juga berkewajiban mendidik anak-anaknya," kata Ratmi.


"Loh, kok Ibu nyamain Bapak sama hewan?" tanya mang Ibing dengan nada emosi.


"Loh, Bapak sendiri kok yang menyamakan diri Bapak sama hewan!" bentak Ratmi.


"Sudah-sudah Bu, kenapa kita jadi berantem begini sih! Coba sana liatin Asep  ada apa sana dia? Kelakuannya kaya lagi kesurupan, gak kenal orang!"


Maki mang Ibing.


Ratmi pun tidak mau kalah, saat itulah menurut Ratmi, saat yang tepat suaminya melakukan mendekatan pada anak-anaknya.


Ratmi pun meredakan suaranya, dia mendekat pada telinga mang Ibing,


"Sekaranglah Pak saatnya, ngobrol sama anak. Masuk sana ke kamar Asep, deketin, ajak ngomong dari hati ke hati."


"Aduuuuh Buuu, Bapak gak bisa, Bapak grogi!" kilahnya.

__ADS_1


"Iiih si Bapak! Jangan bisanya bikin anak aja, tapi mendidiknya ogah!" gerutu Ratmi.


Lalu Ratmi menarik tangan mang Ibing agar dia mau berdiri. Setelah berdiri, Ratmi mendorong tubuh suaminya agar mau masuk ke dalam kamar Asep.


__ADS_2