Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Main ke rumah bapak.


__ADS_3

Melihat gaya Bidin terlihat bergaya di depan pintu, membuat Yati tertunduk, dia terus menundukkan kepalanya.


Jantungnya berdegup kencang, Yati takut sekali jika Bidin akan marah.


Lalu Bidin menurunkan tangannya dan berkata,


"Kenapa gak nunggu saya dulu Yat? Kamu main keluar ajak anak-anak kan kamunya yang cape. Kamu harus gendong Melati, panas-panas, kenapa gak tunggu sore aja mainnya, kan enak udaranya udah adem, kamu pun gak harus ngajak anak-anak. Ayo masuk, liat baju kamu basah sama keringat."


Bidin pun memberi jalan untuk Yati agar Yati lekas masuk ke dalam rumah.


Karena rasa takutnya, Yati tidak segera masuk, dia masih berdiri terpaku di luar.


Akhirnya Bidin membiarkan Yati yang masih berdiri, dan Bidin pun masuk ke dalam rumah.


Semenjak kejadian itu, Yati merasa hidupnya terkekang. Ketika Bidin tidak ada dirumah, Yati selalu gelisah, apa lagi ketika Mawar dan Melati sedang rewel.


"Diam kenapa sih, teteh pusing ngadepin kalian yang cengeng!" Bentak Yati.


Spontan saja Mawar terdiam, tetapi air matanya masih saja mengalir.


"Heran Teteh sama kalian, ada aja yang di ributin, mainan, baju, ampe sapu, kalian rebutan. Ini lagi kamu yang gede gak mau ngalah. Melati masih kecil, kamu harusnya ngalah!" Bentak Yati pada Mawar.


Bekas makan pagi berserakan di lantai, karena ulah Mawar dan Melati rebutan sendok makan.


Akhirnya piringnya pun terbalik dan mengotori lantai.


"Tuh, liat, nasinya berantakan, emang kamu bisa bersihin? Teteh lagi kan yang harus bersihin! Udah awas sana, kamu duduk di kursi, dan diam. Kamu juga Melati, duduk dan diam, Teteh mau bersihin nasi yang tumpah, tambah ribet kalo sampe ke injek!"


Tetapi sayangnya omongan Yati tidak si gubris oleh Melati. Anak umur tiga tahun itu dengan sengaja berjalan dengan lenggang ke lantai yang kotor. Sebagai dia menginjak-injak nasi yang bertaburan di lantai.


Sontak saja kelakuannya membuat Yati bertambah geram. Yati pun berteriak,


"MELATIIIII!"


Yati pun akhirnya menarik tangan Melati, lalu menggendongnya. Yati berjalan ke arah bangku panjang, di sana ada kain panjang yang biasa Yati gunakan untuk menggendong Melati.


Yati pun menggendong Melati dengan kain panjang.


Setelah mengencangkan kainnya, Yati segera mengambil sapu ijuk, lalu kemudian menyapu lantai hingga bersih.


Sedangkan Mawar masih duduk di kursi dan tidak turun ke lantai karena takut oleh omelan Yati.


Setelah membersihkan lantai, Yati segera mengajak Melati ke kamar mandi dan membersihkan telapak kaki Melati yang kotor.


Setelah itu Yati mengeringkan kaki Melati dan mengajaknya masuk ke kamar.


"Tunggu di sini ya, awas kalo keluar kamar, nanti Teteh cubit!" kata Yati menakuti Melati.


Melati pun merebahkan tubuhnya di atas kasur.

__ADS_1


Sementara Yati kembali ke ruang samping, dan mengajak Mawar untuk ke kamar mandi.


*Ayo War, ke kamar mandi, Teteh bersihin kakinya. Udah jangan nangis lagi! Kamu yang salah malah kamu juga yang nangis!" bentak Yati.


Sesampainya di kamar mandi, Yati melihat mata Mawar masih basah karena air matanya.


Lalu Yati mengusap pipi Mawar dan mengeringkan nya.


Lalu Yati membersihkan kaki Mawar.


Tiba-tiba ada suara yang memberi salam. Sumber suara itu tersangar dari luar.


Mawar mendengarkan suara itu dengan seksama, kemudian dia berteriak memanggil,


"Bapaaaak! Bapaaaaaak! Bapak pulang!"


Yati pun menyudahi pekerjaannya.


"Eh anak Bapak lagi ngapain?" tanya Bidin pada Mawar.


"Mawar abis cuci kaki," jawab Mawar.


"Memang kaki Mawar kotor?" tanya Bidin.


Mawar tidak menjawabnya, dia hanya menoleh ke arah Yati. Sedangkan Yati hanya diam saja, dia hanya menyalami Bidin, lalu meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


Awalnya Yati hanya mengintip dari balik pintu. Karena tidak ada pergerakan pada tubuh Melati, akhirnya dengan rasa penasaran, Yati pun berjalan pelan masuk ke dalam kamar.


Ternyata Yati melihat Melati tertidur.


Yati pun tersenyum, lalu dia kembali keluar dari kamar secara perlahan.


Yati pun kembali berjalan ke ruang samping, di mana Bidin dan Mawar berada.


Dari balik tembok, Yati mendengar Mawar bercerita atas kejadian tadi, saat dia dan adiknya rebutan sendok dan akhirnya nasi yang berada di atas piring pun tumpah.


Yati mendengarkan dengan seksama, tak ada satu pun cerita yang keluar dari mulut mungil Mawar yang salah. Termasuk saat Yati marah dan membentak nya.


Tiba-tiba Yati keluar dari persembunyiannya. Betapa terkejutnya Mawar melihat kedatangan Yati. N karena Mawar takut jika Yati akan marah pada nya.


Ternyata Yati tertawa terbahak-bahak dan berkata pada Mawar,


"Gimana War gaya Teteh marah tadi? Coba kamu ulangin?"


Bidin pun tersenyum, lalu menarik lengan Yati agar duduk di dekatnya. Yati pun menggeser tubuhnya agar duduk berdekatan dengan Bidin.


Tiba-tiba Bidin berbisik tepat di telinga Yati, "Terimakasih ya sudah jagain anak-anak Akang, benerkan apa kata Akang, kamu bisa kok jadi ibu yang baik buat anak-anak Akang."


Yati pun tertunduk malu.

__ADS_1


Waktu pun berlalu. Semakin hari semakin bosan yang berkepanjangan yang Yati rasakan.


Hingga satu saat Yati hendak pulang ke rumah bapak dan ibunya.


"Kang, Yati mau pulang, boleh gak?" tanya Bidin saat sarapan.


Bidin yang saat itu sedang mengunyah makanannya, akhirnya menghentikan dan menoleh ke arah Yati.


"Kapan kamu mau pulang?" tanya Bidin, tangannya meletakkan sendok di atas piring.


"Entar, kalo Akang sudah berangkat,  kalo Yati udah mandiin anak-anak, Yati mau ke rumah bapak," jawab Yati.


"Kamu mau ngajak Mawar sama. Melati? Emang bhak repot?" tanya Bidin kembali.


Yati menggeleng. Akhirnya Bidin pun mengizinkan Yati ke rumah bapaknya mengajak Mawar dan Melati.


Hati Yati pun sangat senang mendengarnya, "Terimakasih ya Kang, Yati janji, saat sore Yati langsung pulang."


Bidin pun mengangguk.


Beberapa saat kemudian, Bidin pun berangkat ke sekolah untuk mengajar, di antar Yati sampai depan pagar.


Seperti biasa, Arum tengah mwnyapu pekarangan rumahnya.


"Berangkat Kang Bidin, cepet atuh, udah kesiangan," sapa Arum.


Bidin menoleh, dan tersenyum. Bidin pun berlalu bersama motor bututnya.


Sementara Yati hendak kembali masuk ke dalam.


Tiba-tiba Arum menyapanya,


"Yat, sini atuh!" Yati menoleh, sambil mengernyitkan dahinya.


"Ada apa Teh?" tanya Yati.


Arum keluar dari pagar rumahnya dan berjalan menuju pagar rumah Bidin.


Sesampainya Arum berada di depan pagar, Arum bertanya,


"Kamu betah tinggal di sini?"


Yati mengangguk, tetapi gerakannya perlahan. Ada keraguan di sana.


"Kemarin Teteh ketemu sama Asih dan teman-temannya. Katanya Asih punya pacar baru, kamu udah kenal belum pacar Asih yang baru? Ganteng pisan, dia dari kampung sebelah. Dan katanya, sebentar lagi Asih mau di lamar Sama pacar barunya itu," sahut Arum.


Yati terdiam, dia mengingat-ingat bahwa kemarin dia bertemu dan main ke rumah Asih. Sedangkan Asih tidak memberitahukannya.


Apa benar yang di katakan oleh Arum?

__ADS_1


__ADS_2