Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Bertemu Ujang kembali.


__ADS_3

Dengan nafas yang tersengal-sengal, Usep duduk di warung Sukaesih. Melihat kedatangan Usep, Sukaisih menyapanya, "Eh Kang Usep, tumben dateng dateng ke warung Teteh."


Usep pun menoleh ketika namanya di panggil dengan sebutan Kang.


Usep pun memasang wajah cemberut.


Dengan kesal, Usep oun berkata,


"Naon Teh, panggil-panggil Usep pake Akang, emang Usep udah gede banget!"


Wajah Usep cemberut sambil duduk di warung.


Sukaisih memang senang jika menggoda Usep, lantaran usia Usep memang masih 14 tahun dengan paras wajah yang tidak kalah tampan dari kakaknya, Asep.


Setelah mengatur nafasnya, Usep bertanya pada Sukaisih, "Bi, Kakak saya ke sini gak?"


Sukaisih mengerutkan keningnya, lalu bertanya untuk menegaskan, "Siapa? Si Asep? Gak tug, gak ke sini."


"Bukan atuh Bi, bukan Asep, tapi Yati, kakak perempuan saya?" tanya Usep.


"Oooh Yati, eh barusan aja dia dari sini, tapi udah pergi lagi. Tadi sih dia pergi sama temannya," jawab Sukaisih.


"Sambil memukul meja, Usep memaki,


" Yach, telat! Gawat ini!"


Sukaisih pun semakin heran dengan tingkah si Usep,


"Aya naon kasep?"


"Teh Yati pergi gak bilang, pasti nanti bapak marah," jawab Usep.


Sukaisih terdiam sejenak, dia mencerna ucapan Usep.


"Bapak marah karena dia keluar rumah pada masa iddahnya?"


Usep mengangguk.


"Kira-kira kemana ya Bi, Bibi tau gak?" tanya Usep.


"Yaaach, Bibi mana tau Sep, Bibi gak tau. Lagian mereka pergi begitu aja, gak bilang, gak cerita," jawab Sukaisih.


"Temennya siapa Bi? Teh Asih?" tanya Usep penasaran.


"Asih mah ada tuh di dalem, sama Teman-temannya yang lain, kalo Yati tadi pergi sama teman lainnya," jawab Sukaisih.


Usep berdiam, dan merenung. Kemudian dia kembali bertanya pada Sukaisih, "Apa teman yang pergi bersama teh Yati adalah laki-laki Bi?"


Dengan wajah kecut, Sukaisih mengangguk.

__ADS_1


Wajah Usep terlihat marah, dan tangannya pun mengepal.


Tanpa permisi, Usep pun beranjak dan pergi.


Tapi tiba-tiba pintu yang mengarah ke dalam terbuka, hingga Asih melihat Usep dari ruangan dalam warung.


Lalu Asih bangkit dari duduknya dan segera memakai sendalnya. Asih berteriak memanggil Usep,


"Useeeeppp! Useeeeeppp!"


Usep pun menoleh dan langkahnya pun terhenti.


Usep membalikkan tubuhnya, dia melihat Asih ayng sedikit berlari ke arahnya.


"Tunggu atuh Useeep!" teriak Asih.


"Nuhun Teh, aya naon? Usep lagi buru-buru," sahut Usep.


"Kamu nyari Yati ya?" tanya Asih.


Usep mengangguk.


"Yati memang tadi ke sini, sempat ngobrol juga sama teteh, trus di pergi. Teteh gak liat sih dia pergi sama siapa, tapi kayanya sama orang lain, teteh gak kenal. Maaf ya Sep, Teteh ngomong kaya gini, bukan kenapa-napa. Teteh cuman gak mau di salahin sama keluarga Usep, sama ibu bapak Usep. Kan mereka taunya Yati lainnya sama Teteh, padahal mah perginya sama orang lain. Mending gak usah di cari Sep, kayanya perginya jauh, mereka naik motor soalnya," kata Asih menerangkan.


Usep terdiam. Dia berpikir tentang apa yang dikatakan teman kakaknya itu. Memang benar yang dia katakan, bahwa bapak dan ibunya hanya tahu jika Yati bergaul dengan Asih, bukan yang lain. Sementara Yati perngi bersama orang lain.


Usep mengangguk-anggukan kepalanya, jika dirinya mengerti apa yang Asih katakan.


Lalu Usep berpamitan pada Asih,


"Ya udah Teh, saya pamit dulu, Emak pasti sudah pulang dari ladang, kasian A' Asep, pasti kena damprat sama Emak."


"Baiklah kalo gitu, salam nyak sama Emak, mang beda sendiri kamu, yang lainnya anak ibu, kalo kamu anak Emak, hehehe," kata Asih bercanda.


" Susah Teh merubah kebiasaan dari kecil, enakan manggil Emak, hehehe. Baik teh, Usep pulang dulu, Assalamu'alaikum," pamit Usep.


"Wa alaikumsalam," sahut Asih.


Usep pun berlalu, dan mempercepat langkahnya.


Sedangkan Asih kembali masuk ke dalam warung.


Sedangkan Yati sedang asyik berboncengan motor. Kini sikap Yati tidak setengang di awal mereka berjumpa.


Malah kini Yati mau berpegangan pinggang Ujang saat di bonceng motor.


Ujang terus melajukan motornya dengan kecepatan sedang dan Yati pun tetap berpegangan padanya.


Udajng sangat menikmatinya. Dan beberapa saat kemudian mereka pun sampai di sebuah kadang yang lumayan luas.

__ADS_1


Ujang menghentikan motornya. Yati


pun turun dan merapikan rambutnya yang panjang.


Ujang melihat ke arahnya. "Cantik banget Yati, apalagi saat angin meniup rambutnya, wiiih seksi pisan eyyy," batinnya.


Yati menoleh ke arah Ujang dengan menatapnya heran, "Kenapa atuh Kang, cengar-cengir sendiri? Apa ada yang aneh?"


Ujang tersenyum malu saat kepergok sedang memperhatikan Yati. Cinta Ujang semakin bulat, setelah urusannya selesai dengan bos mandornya, Ujang akan nembak Yati. Maksudnya, Ujang sudah merencanakan akan menyatakan perasaan cintanya pada Yati, dan akan meyakinkan Yati, dengan niat akan menikahinya.


"Kamu tunggu di sini dulu ya, saya mau ke sana dulu," perintah Ujang pada Yati, sambil menunjukkan ke arah ladang yang luas.


Di sana banyak orang yang bekerja. Ada pekerjaan laki-laki dan perempuan. Dengan membawa beberapa tumpuk pupuk, Ujang pun masuk ke ladang itu.


Dia bejalan tergesa-gesa. Ujang tidak mau banyak orang yang melihat kehadiran Yati, karena semua pekerjaan di sana sudah mengenal Ujang.


Ujang melawati beberapa orang pekerja tanpa menyapanya.


Begitulah Ujang, jika bertemu dengan pekerjaan lain, sikapnya angkuh dan sombong. Dia tidak mau berbasa basi pada pekerja.


Ujang adalah mandor di salah satu ladang milik Haji Napi. Ladang Milik Haji Napi berada di beberapa kampung, salah satunya di jaga oleh Ujang.


Dan Ujang pun orang asli di kampung tersebut.


Setelah langkahnya sampai di hadapan mandor, Ujang segera menurunkan tumpukan pupuk yang di bawanya.


"Bos, nih pupuk nya, sudah ya, saya mau kencan dulu," kata Ujang.


"Aiiih si Ujang, pake kencan segala, kencan sama siapa atuh Jang?" tanya sang mandor.


Lalu Ujang menunjuk ke arah di mana Yati menunggunya.


"Tuh, awewe na, gelis pisan," kata Ujang.


Karena terik matahari di tengah ladang, sang mandor tidak bisa melihat Yati dengan jelas, karena jarak mereka juga sangat jauh.


Tapi sang mandor berusaha melihatnya, dengan mengecilkan bola matanya.


"Kelihatannya sih gelis nyak, boleh saya nyoba juga?' tanya sang mandor.


Dengan kesakitan Ujang memukul tangan mandor itu sambil berkata,


" Dasar mulut comberan, kamu pikir dia itu piala bergilir!"


Sambil mendekatkan wajahnya ke telinga sang mandor, Ujang berbisik,


"Saya akan jadikan dia sebagai calon istri saya, Kang."


sontak sang mandor pun terkejut mendengar ulasan Ujang.

__ADS_1


"Apa? Kamu mau jadikan dia sebagai istri kamu? Apa kamu tidak salah Jang? Mau kamu kasih makan apa perempuan itu? Yang ada aja pada telantar! Pikir dulu atuh UjangĀ  jangan sembarangan nikahin anak orang!"


"Ssttt!" bisin Ujang, sambil meletakkan jari telunjuknya di depan kedua bibirnya.


__ADS_2