
Setelah merapikan Mawar dan Melati, Bidin mengajak mereka untuk sarapan.
"Bapak bikin nasi goreng Neng, mau gak?' tanya Bidin.
Mawar mengangguk lalu menarik bangku dan duduk di sana.
Begitu pula dengan Melati, dia juga menarik bangku, lalu duduk.
Bidin mengisi piring kosong untuk mereka.
Setelah Bidin menyendoki nasi ke piring kosong mereka, mereka pun lalu menyantapnya.
"Enak Pak, nasib goreng buatan Bapak enak," kata Mawar sambil mengacungkan ibu jarinya. Setelah itu, Bidin meninggalkan mereka.
"Bapak ke kamar dulu ya, kalian habiskan nasinya," perintah Bidin.
Mawar dan Melati pun mengangguk.
Bidin melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
Dia melihat ke arah cermin. Dia memandangi dirinya darinoantulan cermin.
"Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya menceraikan Yati?" pikirnya.
Bidin mengganti pakaiannya dengan kaos. Setelah ini, Bidin berniatbke rumah orang tua Yati untuk memastikan keberadaan istrinya.
Bidin keluar dari kamar dan melihat keadaan anak-anaknya.
Ternyata mereka makan sambil bercanda.
Mawar menyuapi adiknya, begitu pun Melati, dia menyuapi Mawar, hingga meja makan pun berantakan.
Melihat kehadiran Bidin, Mawar terdiam. Dia menyadari bahwa dirinya salah.
Mawar takut jika bapaknya marah.
Tetapi ternyata tidak, Bidin tidak marah. Ia hanya terdiam dan kembali duduk.
Melati melanjutkan aktifitas makannya, sementara Mawar, dia berusaha membersihkan meja makan, karena berserakan nasi karena ulah adiknya.
"Setelah ini, kita nanti ke rumah Aki lagi ya, kalian bisa main puas di sana,"
kata Bidin pada Mawar dan Melati.
"Apa kita akan jemput teh Yati Pak?" tanya Mawar.
Bidin terdiam sejenak. Lalu dia tersadar, bahwa dia tidak boleh terlihat sedih si hadapan anak-anaknya.
Lalu Bidin menjawab,
"Liat saja nanti, kalo teh Yati ada dan mau ikut kita, ya kita bisa ajak teh Yati pulang. Tapi kalo teh Yati gak mau pulang bersama kita, ya sudah, Bapak gak maksa teh Yati untuk tetap tinggal bersama kita."
Lalu Melati bertanya,
"Nanti teh Yati tinggal di mana Pak? Bobonya sama siapa?"
Bidin menoleh ke arah Melati.
Anak sekecil Melati saja bisa bertanya seperti itu, berarti dia memikirkannya. Tapi apakah Yati memikirkan mereka?
Bidin menghela napas panjang.
Bidin tidak menjawabnya.
Sementara, di rumah kang Ibing, Yati masih di introgasi oleh seluruh keluarga besarnya.
"Bapak malu Yat, Bapak bener-bener malu sama tingkah laku kamu!" bentak Mang Ibing.
Dia berdiri, dan berjalan kesana kemari sambil bertelak pinggang.
"Kamu sudah mencoreng nama baik keluarga di hadapan suamimu! Dan kamu tidak mampu menjaga nama baik suamimu! Apa benar apa yang telah di katakan kang Bahar pada Bapak? Jawab Yati!" bentak mang Ibing sambil mengebrak meja.
Semua yang berkumpul di sana serentak terdiam.
Lalu Nini, ibu dari mang Ining bangkit dari duduknya. Dia menoleh ke arah mang Ibing, lalu berkata pelan,
"Ibubmau bicara sama kamu."
Nini pun berjalan ke ruangan lain di ikuti oleh mang Ibing.
Nini duduk di kursi dengan perlahan, karena memang dia sudah tua, gerakannya pun tidak secepat yang masih muda.
__ADS_1
Mang Ibing mendekatinya, dia duduk di lantai.
"Iya Bu, ada apa?" tanya mang Ibing pada Nini, sang Ibu.
"Apa sebelumnya kamu sudah bicara baik-baik pada Yati, tanyakan apa maunya?" tanya Nini.
Nini berusaha untuk bersikap bijaksana. Dia tahu betul tingkah laku Yati yang masih kekanak-kanakan.
"Saya udah tanya Bu, jawabannya dia minta pisah saja sama Bidin, dia bosen katanya, harus ngurus anak-anak, gak bisa main, dia udah sering kabur Bu, saya malu, saya malu sebagai orang tuanya, saya juga sudah bicara sama suaminya, si Bidin, saya pernah tanya, apa kamu pernah berlaku kasar? Dia bilang tidak, dan Yati pun mengiyakan, bahwa suaminya tidak pernah kasar sama dia. Berarti emang dasar Yati nya aja yang brengsek!" jawab mang Ibing.
Nini pun terdiam setelah mendengarkan ulasan dari mang Ibing. Nini memikirkan langkah apa yang baik untuk semuanya.
"Kita harus menjaga kehormatan keluarga, tetapi kita juga harus memikirkan perasaan masing-masing. Jangan sampai apa pun keputusannya, kita telah menyakiti salah satu perasaan, jangan sampai silaturrahmi kita terputus. Mungkin memang jiwa Yati yang masih ingin main, masih ingin bebas," sahut Nini.
"Iya memang. Tapi daripada dia berhubungan dengan teman-temannya, main sana sini, nemplok sana sini, gandeng sana sini, mending kan dia nikah, saya pikir, itu adalah jalan terbaik buat Yati, eh ini malah jadinya kaya gini, jadi malu maluin!" kata mang Ibing dengan suara menekan.
Akhirnya Aku, bapak mang Ibing dan Ratmi ikut bergabung di ruangan itu.
Aki duduk di kursi, dia pun berusaha untuk bersinar bijak, walau sebenarnya dia sudah sangat marah dengan tingkah cucunya itu.
Tetapi dia tidak berhak menghakiminya, karena Yati hanya cucunya, dia masih memiliki orang tua, yaitu mang Ibing dan Ratmi.
Ratmi pun duduk di sana, lalu berkata pada semuanya,
"Kita harus mengambil keputusan, jalan terbaik apa yang harus kita ambil, untuk kebaikan semua?"
Mereka pun saling pandang.
Sementara, Bidin sudah bersiap-siap bersama Mawar dan Melati akan pergi ke rumah mang Ibing.
Dari dalam rumah, Arum melihat melalui jendela rumah nya yang berkaca bening, dia mengamati gerak gerik Bidin.
Pandangannya penuh harapan cinta, ya, Ima juga memperhatikan gerak gerik anaknya.
Hati Ima juga merasa miris melihat anaknya yang telah jatuh cinta pada pria yang tidak mencintainya, hingga menghabiskan waktu dengan kesendiriannya. Karena usia Arum telah memasuki 29 tahun, sedangkan di kampung itu, wanita dengan usia si atas dua puluh tetapi belum menikah, wanita itu sudah di anggap sebagai perawan tua.
Karena Iman tidak ingin anaknya larut dalam perasaannya, akhirnya Ima membentak Arum agar kembali masuk ke dalam kamarnya,
"Arum! Masuk kamar! Ngapain kamu berdiri di situ!"
Arum menoleh ke arah Ima kemudian dia menunduk. Setelah mendengar perintah Ima, Arum segera masuk kembali ke dalam kamarnya.
Sudah bertahun-tahun Arum memendam cinta terhadap Bidin, tetapi sayangnya, Bidin tidak pernah menanggapi perhatiannya. Sepertinya Bidin menganggap kebaikan dan perhatian Arum adalah hanya perhatian biasa saja, dia tidak pernah menanggapi bahwa perhatian Arum adalah perhatian yang khusus.
Karena itu, Bidin pun tidak pernah memperlakukan Arum sebagaimana orang yang spasial.
Sampai detik ini pun Bidin masih tidak. Memahami sikap baik Arum terhadapnya. (Ada ya cowok kaya gitu, ya adalah, itu si Bidin hahahahaha).
Bidin mulai menyalakan mesin motor bututnya.
Seperti biasa, Melati naik di depan, sedangkan Mawar naik di belakang.
"Peluk Bapak ya Neng," perintah Bidin pada Mawar sambil menoleh ke belakang.
"Iya Pak, nih Mawar peluk Bapak," sahut Mawar dengan suaranya yang nyaring.
Bidin pun melajukan kendaraannya menuju rumah mang Ibing.
Dalam perjalanan, Mawar bertanya pada Bidin,
"Pak, kita sekarang maunke rumah akinya teh Yati?"
"Iya Neng," jawab Bidin.
"Kita akan jemput teh Yati?" tanya Mawar kembali.
"Tergantung teh Yati, mau atau gak pulang lagi ke rumah kita," jawab Bidin.
"Jangan berharap lebih Neng, teh Yati mudah gak mau pulang ke rumah kita, dan kita hak bolehnmaksa dia untuk tetap pulang," gumamnya dalam hati.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai.
Suara motor butut Bidin terdengar sampai ke dalam rumah mang Ibing.
Asep pun keluar dan. Menyambut kedatangan kakak iparnya.
Sedangkan Yati, setelah mendengar suara motor Bidin, Yati segera beranjak dari duduknya, kakinya melangkah masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Sepertinya, Yati sudah tidak mau bertemu dengan Bidin lagi. Dan sepertinya Yati ingin sekali segera pisah dari Bidin.
Bidin pun masuk, lalu mang Ibing dan Ratmi menyambutnya dan mempersilahkan masuk dan duduk.
__ADS_1
Seperti biasa, Bidin menyalami keduanya.
Bidin terkejut melihat ada Nini dan Aki Yati. Bidin pun tersenyum dan menyapa mereka.
Pertemuan mereka sangat hangat, dan mereka pun sayang pada Bidin.
Ratmi menyuguhkan minuman hangat untuk Bidin. Sementara Mawar dan Melati bermain bersama Asep dan Usep.
"Jangan sampai anak-anak mendnegar percakapan orang dewasa, kita mainnya agak jauhan aja Us," ajak Asep pada adiknya, Usep.
"Iya A', Usep juga tadinya mau ngajak gitu, biar pada gak dengerin. Mereka ini cerdas, cepet nguping, tar ujung-ujungnya kita juga yang repot, karena mereka nanya-nanyanya ke kita," sahut Usep.
Sedangkan Mawar, dia menoleh mencari satu sosok. Kedua matanya memutar, memandangi setiap sudut ruangan rumah mang Ibing.
Tiba-tiba Mawar bertanya pada Asep,
"Mang Asep, Teh Yati ke mana? Kok gak ada?"
Asep terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan Mawar.
Aswo dan Usep pun saling pandang.
Lalu Usep mengalihkan perhatian Mawar,
"Eh kita main ke saung aja yuk, ayooo siapa yang mau di gendong belakang?"
Mawar dan Melati pun saling bersorak.
Mereka merebut minta di gendong oleh Usep.
"Aduuuuh, Aa' gak kuat kalo dua duanya minta gendong sama Aa', gimana kalo satu satu. Melati sama Aa' Usep, dan Mawar sama mang Asep?" tanya Usep.
Mereka pun kembali bersorak-sorai.
Sementara di dalam rumah mang Ibing, suasana menjadi tegang dan kaku.
Wajah mereka menegang.
Ratmi, mang Ibing, Nini dan Aki, termasuk Bidin.
Tetapi Bidin berusaha untuk lebih santai, sikap tutur katanya terlihat luwes.
Dan sepertinya, Bidin sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Bidin memulai pembicaraan di antara mereka,
"Saya mohon maaf, jika kedatangan saya dan anak-anak mengganggu Bapak bdan Ibu, juga Nini dan Aki, saya ke sini untuk kembali mencari istri saya, Yati, mungkin hari ini dia ada di sini."
Nini dan Aki saling melempar pandangan.
Lalu Nini bertanya, "Tadi kamu bilang kembali mencari? Apa maksud kamu Nak Bidin?"
Bidin menoleh ke arah mang Ibing, lalu mang Ibing mengangguk, pertanda Bidin harus menjelaskan perihalnya dari awal.
"Begini Nini, kemarin saya sudah nyari Yati ke sini, tetapi dia gak ada. Saya coba menunggu di sini sampai menjelang sore, tetapi Yati belum ada juga. Bdan hari ini, saya ke sini lagi berharap Yati, istri saya berada di sini," jawab Bidin menerangkan.
Ratmi terdiam, dia menundukkan kepalanya karena merasa malu si hadapan menantunya.
Sementara, Aki dan mang Ibing saling berpandangan.
Aki menganggukkan kepalanya, sebagai kode, agar mang Ibing lekas bicara.
"Nak Bidin, kami sebagai orang tua Yati, memohon maaf pada Nak Bidin, atas segala sikap dan tingkah laku Yati. Kami sebagain orang tua Yati, merasa sangat malu si hadapan Nak Bidin."
Mendengar Kata-kata mertuanya, Bidin langsung mengelak,
"Tidak Pak, Bapak dan Ibu tidak perlu malu sama saya, malah seharusnya saya yang meminta maaf, saya yang seharusnya malu pada Ibu dan Bapak. Yati adalah tanggung jawab saya, tapi saya belum mampu mendidiknya menjadi istri yang baik. Sedangkan saya sebagai suami, sudah berusaha mendidiknya dengan lembut, dan saya sebagai suami sudah merasa gagal."
Mereka pun terdiam.
Suasana saat itu begitu hening dan menegangkan.
Lalu mang Ibing kembali angkat bicara,
"Karena Yati tidak mau berusaha untuk merubah sikapnya, kami tadi barusan sudah membicarakannya dan kami pun sudah berembuk, Nak Bidin."
Kini wajah Bidin yang terlihat lebih tegang dari yang lain.
Bidin menekan kedua gigi gerahamnya, hingga terlihat dari balik pipinya.
Bidin mengepalkan tangannya. Tapi apa pun keputusan keluarga Yati, Bidin harus Terima.
__ADS_1