Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
pintu kamar Yati harus di bongkar.


__ADS_3

Aki mengeluarkan kertas rokok dan tembakau, lalu dia mulai meraciknya.


Kertas rokok yang terbuat dari kulit jagung, mampu membuat aroma ruangan itu lebih santai saat Aki membakarnya.


Aki menawarkan Bidin,


"Mau nyoba Nak Bidin, biar lebih santai kita ngobrolnya."


Bidin tersenyum, sedikit susut ketegangannya.


Lalu Bidin mengambil satu batang rokok yang telah di racik oleh Aki.


Bidin mulai membakarnya dan menghisap dalam-dalam.


Mang Ibing memperhatikan apa yang dilakukan Bidin.


Lalu Aki bertanya pada Bidin,


"Apa kamu baru pertama kali menghisao rokok?"


Bidin tersenyum malu, lalu dia menjawab, "Iya, Ki, ini kali pertama saya menghisap rokok. Ternyata rokok kaung ini begitu nikmat ya Ki."


"Iya Nak Bidin, dan rokok kaung ini gak bikin candu, gak bikin kita ketagihan pengen merokok lagi dan lagi," kata AkiĀ  jelaskan.


Bidin kembali menghisap rokok racikan Aki sambil menyeruput teh panasnya.


Melihat Aki yang mencairkan suasana, akhirnya Ratmi menawarkan makan siang.


Kebetulan saat itu sudah hampir memasuki waktu makan siang.


Bidin merasa sudah di perlakukan sangat baik oleh keluarga Yati, semakin betah.


Tapi bagaimana pun, dia tetap harus menerima apa pun keputusan keluarga.


Lagi pula, niat awal Bidin dari rumah pun sudah mulai mengikhlaskan kepergian Yati.


"Nak Bidin, kita makan siang dulu ya, Ibu sudah bikin ikan bakar kesukaanmu. Tapi Asep sudah menangkap ikan di belakang rumah, tempat Bapak beternak. Tenang aja, ikannya ternakan kok, jadi makanan ikannya memang buat makanan ikan, bukan kotoran," kata Ratmi menerangkan.


Sontak saja se isi rumah itu tertawa, sedangkan Bidin terlihat pucat.


Bagaimana tidak pucat, dia pernah di kerjai oleh Asep, saat itu Asep mengatakan bahwa ikan yang Bidin makan adalah ikan yang ada di empang.


Sedangkan Bidin berpikiran yang aneh-aneh. Biasanya, orang kampung memelihara ikan dengan memberikan makanan dari kotoran mereka, dannikan itu seharusnya tidak boleh di makan, haram hukumnya.


Sedangkan saat itu, Bidin tengah memakan ikan goreng buatan Ratmi. Sontak saja, Bidin memuntahkan makanan yang saat itu sedang sia kunyah.


Ratmi meletakkan ikan bakar yang baru saja di bakar oleh Usep di belakang. Mereka membakar ikan bersama Mawar dan Melati, mereka ikut melihat pekerjaan yang Usep lakukan.


Wanginikan bakar begitu semerbak, hingga mengundang perut meronta-ronta.


Ratmi berkata, "Tenang Nak Bidin, ikan di sini tidak di beri makan kotoran kok, kan Bapak belajar, jadi tau mana yang boleh dan tidak."


Bidin pun tersenyum geli mengingat kejadian itu.


Nini pun ikut membantu Ratmi, menyediakan makan siang saat itu.


Setelah semua tertata rapi di atas meja makan, mereka pun makan bersama.


Ada nasi, ikan bakar, sambal dan lalapan.


Mereka menyantapnya dengan pernah nikmat.


Sedangkan Mawar dan Melati di suapin makan oleh Ratmi.


Saat mereka menikmati makan siang mereka, tiba-tiba suasana hening. Hanya suara kunyahan mulut dan suara gelas.


Lalu tiba-tiba mang Ibing berkata pada Bidin, "Sepait-paitnya berita, alangkah baiknya jika lebih cepat di sampaikan. Kami sudah merembuk nak Bidin. Atas nama keluarga, kami meminta maaf pada nak Bidin atas kelakuan Yati. Dan kami tidak ingin Yati terus merusak nama baik keluarga. Karena itu, kami meminta dan memohon pada nak Bidin, dan demi kelangsungan dan kebaikan bersama, kami mohon dengan sangat, agar nak Bidin segera memberikan talak pada Yati."


Semua anggota keluarga yang berada di ruangan itu terdiam. Sama sekali tidak ada suara. Sampai suara nafas pun tak terdengar.


Bidin menundukkan kepalanya sejenak. Lalu dia mengangkat wajahnya dan berkata,


"Bismillah, mulai hari ini, saya cerai Yati binti mang Ibing istri saya, saya pulangkan pada kedua orangtuanya."


Suasana menjadi bertambah hening.

__ADS_1


Tetapi tiba-tiba, Ratmi tidak dapat menahan tangisnya.


Maka terdengarlah tangisan Ratmi. Lalu Bidin kembali berkata,


"Bu, ibu tetap mertua saya, karena tidak ada bekas mertua dalam pernikahan. Saya akan tetap sayang sama ibu dan bapak, dan saya tidak akan memutuskan jalinan keluarga ini hanya karena ketidak utuhan rumah tangga saya. Saya juga minta maaf atas segala kesalahan selama menjadi suami Yati, karena belum mampu menjadi suami yang baik bagi Yati, sekali lagi saya mohon di bukakan pintu maaf selebar-lebarnya."


Mereka saling menangis dan berpelukan.


Mang Ibing merangkul bahu Bidin. Terdengar isak tangis di sana.


Tetapi Bidin berusaha tegar. Tidak ada satu tetes pun Nair matan keluar dari kelopak mata Bidin.


Bidin terus tersenyum. Walau senyuman itu penuh arti, tetapi Bidin mempertahankan senyumannya.


Makan siang pun selesai. Ratmi ndan Asep membenahi piring-piring kotor yang terdapat di atas meja makan. Dan mereka pun melanjutkan obrolan mereka.


Setelah rapi, Asep membuatkan kopi hitam. Asep kembali menyalakan tungku api yang ada di dapur.


Saat diasnyalakan kembali api tungku, Asep bertanya pada Ratmi,


"Bu, apa Yati tidak sinpertemukan kembali sebelum mereka benar-benar berpisah?"


Ratmi tidak langsung menjawabnya. Dia melihat ke kanan dan kirinya.


Setelah itu Ratmi baru menjawab pertanyaan Asep,


"Apa itu harus Sep? Apa baik buat Bidin? Ibu takut hatinya bertambah hancur."


Asep terdiam, dia pun sangat sedih atas perceraian adiknya.


Asep pun memikirkan masa depan adiknya, dia pun sebenarnya tidak mau jika Yati seperti perempuan lain yang ada di kampung itu. Menjalin hubungan pada banyak laki-laki, itulah yang Asep takutkan kelakuan Yati.


Asep pun telah selesai membuat kopi hitam, lalu dia menyuguhkan minuman di atas meja.


Mang Ibing langsung menyeruput. Satu teguk saja, karena masih sangat panas.


Lalu dia menawarkan Bidin,


"Ayo Nak Bidin, silakan di minum kopinya."


Tapi yang jelas, kedua bola matanya mengelilingi setiap sudut ruangan di rumah itu.


Bidin pun meraih kopi yang ada di hadapannya lalu menyeruputnya.


"Nikmat sekali," kata Bidin.


Lalu dia kembali meletakkan cangkir kopi itu di atas meja.


Kedua bola mata Bidin kembali memutar, lalu dia memberanikan diri untuk bertanya,


"Pak, bolehkah saya bertemu Yati untuk terakhir kalinya?"


Mendengar pertanyaan yang Bidin lontarkan, membuat hati mang Ibing terenyuh.


Dia memandang ke arah Ratmi, yang sudah duduk di sampingnya.


Lalu mang Ibing berbisik pada Ratmi,


"Suruh Yati keluar, Bu."


Ratmi mengangguk. Lalu dia beranjak dari tempat duduknya.


Dia berjalan ke arah kamar Yati.


Ratmi mengetuk pintu kamar, tetapi tidak ada jawaban.


Kembali Ratmi mengetuk pintunkamar Yati dan memanggilnya, tetapi tetap saja tidak ada jawaban dari dalam kamar.


Lalu Ratmi berkata pada suaminya, mang Ibing, "Pak, Yati gak nyaot, kumaha atuh ini Pak?"


Lalu mang Ibing berdiri dan beranjak berjalan mendekat.


Dia mengetuk pintu kamar Yati lebih keras lagi. Beberapa kali mang Ibing mengetuk pintu kamar Yati dengan keras, hingga membuat Bidin menjadi tidak enak hati.


Lalu Bidin berkata pada mang Ibing,

__ADS_1


"Sudah Pak, gak usah di panggil Yati nya, mungkin dia tidak mau menemui saya."


"Nanti dulu Nak Bidin, ini sepertinya ada sesuatu yang gak beres," sahut mang Ibing.


Mang Ibing memerintahkan pada Asep agar mendobrak pintu.


"Sep, ambil linggis, Bapak mau congkel aja pintu kamar Yati," perintah mang Ibing.


Mendengar perintah dari bapaknya, Asep menoleh kearah Ratmi, dan Ratmi pun mengangguk.


Asep pun berjalan ke ruang belakang si mana tempat penyimpanan segala perkakas di di malam di sana.


Tempat itu sengaja di jadikan mang Ibing sebagai gudang, tempat menyimpan segala barang-barang.


Asep mencari linggis. Beberapa saat kemudian Asep pun menemukannya.


Melihat Asep yang tengah sibuk mencari linggis di ruang gudang, Usep pun bertanya,


"Cari apa A'?"


"Aa' cari linggis, di suruh Bapak," jawab Asep.


Usep pun ikut masuk ke dalam gudang. Dia berusaha membantu Asep.


Beberapa saat kemudian Usep pun menemukan linggis yang mereka cari.


"A' nih linggis nya, emang buat apa?" tanya Usep.


"Buat bongkar pintu kamar Yati. Dari tadi ibu usah ngetok-ngetok, manggil-manggil Yati, tapi Yatinya teh gak nyaut," jawab Usep.


Usep terdiam.


Lalu Asep keluar dari gudang dengan membawa linggis. Asep pun menyerahkan linggis itu pada mang Ibing.


Setelah mendapatkan linggis dari Asep, mang Ibing pun siap mendobrak pintu kamar Yati.


Saat itulah Bidin jadi teringat peristiwa yang mengiris hatinya, saat dia pernah mendobrak pintu kamarnya sendiri. Saat itu saat Yati minggat dari rumahnya melalui jendela.


Kejadian itu sama persis saat ini.


Saat orang memanggilnya dan mengetuk pintu kamar, tetapi Yati yang berada si salam kamar tidak memberi jawaban panggilan.


Bidin terdiam. Pikirannya melayang, membuat kepalanya sakit dan pusing.


Kejadian yang menyayat hati itu sepertinya akan kembali terulang saat ini.


Hanya bedanya, kemarin Bidin yang membongkar dan mendobrak pintu kamarnya untuk mencari Yati.


Sedangkan sekarang, mang Ibing yang membongkar dan mendobrak pintu kamar Yati untuk mencari keberadaan Yati.


Bidin memejamkan mata, dadanya berdegup dengan sangat kencang. Apapun yang terjadi, Bidin harus bisa menerima kenyataan. Sakit, memang sakit, tetapi semua harus di terimanya dengan hati lapang.


Mang Ibing masih berusaha membongkar paksa pintu kamar Yati. Agak sulit memang, karena pintu kamar Yati begitu kokoh, hingga mang Ibing pun sedikit kesulitan.


Asep pun membantunya untuk mendobrak pintu kamar Yati.


Suasana menjadi tegang, karena tidak ada sautan dari dalam kamar.


Dan hati Bidin yakin, bahwa kejadian di rumahnya akan terulang kembali.


Bidin tidak berharap banyak, bahwa Yati akan mau menemuinya untuk terakhir kali.


Tapi, bagaimana pun, dalam hati Biskn yang paling dalam, Bidin masih berharap bisa bertemu Yati walau sebentar.


Dan harapannya itu jelas suatu harapan palsu, karena Bidin yakin seyakin yakinnya, bahwa Yati tidak mau menemuinya, walau untuk terakhir kali.


Wajah-wajah orang-orang yang di ruangan itu sangat tegang, begitu juga dengan Nini dan Aki, mereka adalah ennek dan kakek Yati dari pihak mang Ibing.


Wajah mereka begitu tegang, sambil menunggu ointu kamar dapat di dobrak.


BRAAKKK!!!


Akhirnya, pintu kamar Yati bisa di buka dengan paksa.


Suara mereka berteriak dengan serempak memanggil nama Yati,

__ADS_1


"YATIIII!!!"


__ADS_2