Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Arum marah pada Yati.


__ADS_3

Arum masuk ke dalam rumah Bidin sambil menarik tangan mawar. Mulanya mawar tertawa tetapi kini wajahnya berubah menjadi cemberut dan terlihat ketakutan.


"Di mana Ibu tirimu?" tanya Arum pada mawar. Tetapi mawar hanya terdiam, dia merasa takut dengan sikap Arum yang terlihat galak.


" Ih kamu ini kalau ditanya dijawab atuh,  Mawar di mana Ibu tirimu?" Kembali Arum bertanya pada Mawar.


Saat itu juga Yati menampakan dirinya di ruang tamu sambil menggendong Melati.


Saat itu Yati menggendong melati sambil menyuapinya nasi.


"Ada apa Teh Arum Kenapa datang sambil marah-marah?" Tanya Yati sambil berjalan mendekati Arum.


" Ini Coba kamu lihat,  Kenapa tangan mawar jadi kayak gini?  Kamu nggak becus banget sih ngurus anak!  Harusnya kamu lebih telaten sekarang,  kamu itu adalah ibu tiri mereka,  Harusnya kamu bisa lebih Sigap untuk menjaga mereka," kata Arum pada Yati sambil memaki.


Mendengar ucapan Arum, Yati hanya terdiam,  tidak ada satu kata pun omongan Arum dibantah oleh Yati.


Karena sikap Yati yang hanya terdiam saja,  membuat arum semakin geram, akhirnya Arum menarik rambut Yati dengan kencang,   sambil bertanya,


"Kamu dengar gak sih apa yang aku katakan tadi?"


Yati pun kesakitan karena rambutnya dijambak oleh Arum. Melihat tindakan Arum yang berlebihan,  mawar pun menangis dan berteriak,


"Jangan teh, jangan, jangan tarik rambut Teh Yati!"


Mawar berteriak sambil menarik-narik pakaian Arum.


Melihat Yati yang kesakitan karena rambutnya telah dijambak oleh Arum,  akhirnya Melati Pun Menangis di dalam gendongan Yati.


Dan kini bukan hanya melatih saja yang menangis,  mawar pun ikut menangis,  karena melihat sikap Arum yang berlebihan.


Suara tangis Mereka pun terdengar hingga keluar rumah,  dan akhirnya suara mereka Mengundang para tetangga yang mendengarnya. Saat itu pulalah Bidin pulang dari tempatnya mengajar.


"Ada apa ini? Kenapa pada ngumpul di sini?" tanya Bidin pada orang-orang yang berkerumunan.


"Itu tuh Kang, anak-anak pada nangis, suaranya terdengar saat kami mau ke ladang, emang anak-anak Kang Bidin gak ada yang jagain?"


tanya salah satu tetangganya yang barusan lewat.


"Ada kok Pak, istri saya yang jagain, sebentar nya Pak, saya masuk ke dalam dulu," sahut Bidin.


Sebelum masuk, Bidin bembalikkan tubuhnya dan berbicara pada orang-orang yang berkerumunan di depan rumahnya, "Ayo bapak-bapak, ibu-ibu silakan bubar, pertunjukkan sudah selesai!" Teriak Bidin.


Mendengar suara Bidin, Arum pun menghentikan aksinya. Segera dia melepaskan tangannya dari rambut Yati, tetapi sayangnya aksi yang di lakukan oleh Arum telah di lihat oleh Bidin, dia melihat kelakukan Arum terhadap Yati melalui pantulan cermin yang menempel di dinding di ruang tengah.


Betapa terkejutnya Bidin melihat kelakuan Arum dari pantulan cermin. Bidin pun segera menghentikan aksi Arum dengan Berteriak, "Arum, hentikan!"

__ADS_1


Bidin sudah berada di tengah-tengah mereka berdua.


"Apa yang kamu lakukan di rumahku Arum?" tanya Bidin.


Lalu Bidin menoleh ke bawah, di lantai Yati menangis sambil menggendong Melati.


Bidin membungkukkan tubuhnya lalu menggendong Mawar. Tidak lupa dia menarik tangan Yati agar Yati bangkit.


Yati pun bangkit dan berdiri di balik tubuh Bidin.


Yati menangis sesegukan.


Arum terlihat pucat pasi, lantaran Bidin malah melindungi Yati.


"Maap kang, saya khawatir sama anak-anak, karena tadi saya mendengar suara anak-anak nangis. Sepertinya Yati tidak becus menjaga mereka," kata Arum pada Bidin, sambil menundukkan kepalanya.


Bidin berusaha menahan emosinya pada Arum, karena Bidin melihat dengan jelas bahwa Arum sedang menarik rambut Yati.


"Baik, terimakasih Rum, sudah memberikan perhatian kamu. Sekarang saya sudah di rumah, lebih baik kamu pulang," sahut Bidin.


Secara halus dia mengusir Arum dari rumahnya.


Dengan wajah semringah, Arum berkata,


Bidin tersenyum kecut mendengar perkataan Arum. Arum pun membalikan tubuhnya dan dia pun kembali ke rumahnya.


Betapa kesal hati Yati melihat sikap Bidin, Yati melihat bahwa sikap Bidin seolah-olah mempercayai perkataan Arum.


Yati pun marah, tapi dia tidak berkata apa-apa. Lalu Yati pergi ke kamar dengan meninggalkan Bidin yang masih menggendong Melati.


Bidin pun terdiam melihat Yati yang berjalan meninggalkan nya. Bukannya dia tidak peduli, tetapi dia membiarkan dulu agar suasana menjadi kondusif.


Bidin lalu meletakkan Melati duduk di atas meja makan.


Mawar pun mengikutinya, sam duduk si bangku. Bidin membuka makanan yang baru saja dia bawa.


"Yuk kita makan," Ajak Bidin pada anak-anak nya.


Lalu Mawar bertanya pada Bidin, "Teh Yati tidak di ajak makan Pak?"


Mendengar pertanyaan Mawar, Bidinenatap wajah anaknya dengan lekat.


Lalu dengan suara pelan, agar tidak terdengar oleh Yati, Bidin bertanya pada Mawar, sambil membungkukkan tubuhnya,


"Kalau kamu mau ngajak teh Yati makan juga, ya udah, kamu panggil sana teh Yati ya."

__ADS_1


Sengaja Bidin menyuruh Mawar untuk memanggil Yati di kamar. Dia ingin tahu dan ingin melihat sikap Mawar terhadap Yati yang sebenarnya. Mawar pun turun dari bangku, yang ternyata bangku itu agak tinggi, hingga Mawar pun agak susah untuk turun dari sana.


Dan Bidin pun sengaja tidak membantunya, dia ingin melihat kesungguhan Mawar memanggil Yati.


Dan benar saja, Mawar tidak meminta bapaknya untuk menurunkannya.


Dia berusaha sendiri, setelah turun dari bangku, Mawar berlari ke kamar bapaknya.


Di dalam, Yati tengah berbaring di tempat tidur sambil memeluk guling. Tangisnya mereda setelah dia mendengar suara Mawar yang memanggilnya.


"Teeeh, Teh Yati, ayo bangun, di panggil Bapak mau di ajak makan," suara Mawar masih di luar kamar.


Tiba-tiba Mawar sudah berada di kamar. Dia menaiki tempat tidur dan menggoyang-goyangkan tubuh Yati.


"Ayo Teh, kita makan, Bapak udah nungguin," panggil Mawar.


Tetapi Yati tidak menoleh sama sekali. Wajahnya masih di sembunyikan di balik bantal.


Mawar pun berteriak memanggil Bidin,


"Bapaaaak! Teh Yati gak mah bangun!"


Bidin pun mendengar suara Mawar memanggil namanya, lalu Bidin beranjak sambil menggendong Melati. Langkahnya menuju ke kamar.


Di depan pintu kamar, dia melihat Yati menghadap ke arah dinding.


Bidin pun masuk ke dalam kamar dan menurunkan Melati.


"Turun dulu ya Nak," kata Bidin pada Melati, Melati pun mengangguk.


Lalu Bidin duduk di sisi tempat tidur.


Dan Mawar pun turun dari sana lalu duduk di pangkuan Bidin.


Bidin menyentuh tangan Yati sambil berkata, "Kita makan dulu yuk, saya udah beli makanan, sayang keburu dingin nanti."


Yati hanya terdiam. Tidak sedikit pun tubuhnya bergerak.


Lalu Bidin menyuruh Mawar untuk turun dari pangkuannya, "Mawar turun dulu ya, Bapak mau merayu teh Yati dulu, biar mau di ajak makan."


Mawar pun tersenyum-senyum tanpa suara.


Setelah Mawar turun dari pangkuan Bidin, Bidin pun mendekat, dan berbisik ke telinga Yati,


"Yat, kita makan dulu yuk."

__ADS_1


__ADS_2