Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Bukan untung malah buntung.


__ADS_3

Sore pun tiba, Ujang dan Yati berpisah di persimpangan jalan.


"Makasih ya Kang Ujang, udah ngajak Yati jalan-jalan, kapan-kapan kita ketemu lagi," kata Yati sambil melambaikan tangan.


Ujang pun membalas lambaian tangan Yati, lalu kemudian Ujang menghentikan sebuah mini bus yang mengarah ke kampung sebelah.


Lalu Yati pun kembali meneruskan perjalanannya.


Di dalam mini bus yang di tumpangi Ujang, hanya ada beberapa penumpang saja.


Ujang bisa duduk lebih leluasa. Tapi walau dia bisa duduk dengan leluasa, tetapi hatinya tidak demikian.


Hati Ujang sangat kesal dan dongkol.


Bagaimana tidak?


Seharusnya dia bisa menikmati waktu sampai sore si danau bersama Yati, gadis incarannya saat itu. Ujang merasa pertemuan dirinya bersama Yati bukan keuntungan yang dia dapat, tetapi malah kerugian yang harus dia bayar.


Alat pancing yang harusnya dia sewa, tetapi malah dia harus mengganti dengan harga yang baru, karena alat pancing itu si bawa kabur oleh ikan Mas yang sangat besar.


Sedangkan pihak penjaga danau malah meminta ganti rugi.


Ujang merasa tidak mendapatkan keadilan.


Di tambah lagi, ternyata banyak mata yang memandang mereka berdua.


Ujang salah tentang Yati, ternyata Yati banyak dikenal orang.


Tetapi dalam hati Ujang, ini adalah tantangan baginya, Ujang merasa tertantang bak menghadapi kompetisi.


"Saya harus mendapatkan Yati! Bagaimana pun caranya. Wajah dan tubuhnya membuat saya tergila-gila!" khayal nya dalam hati.


Hingga tanpa sadar, dia meremas pahanya sendiri.


Tetapi setelah sadar karena merasa sakit pada pahanya, Ujang malah tertawa.


Hingga suara tawanya mengundang penumpang lain, dan membuat mereka menoleh ke arahnya.


Sedangkan Yati sudah berada di rumah mang Ibing.


Yati masuk ke dalam tanpa basa basi.


Melihat kepulangan adiknya, Asep berteriak memanggil Yati,


"Eh Yati, dari mana kamu?"


Mata Asep penuh selidik. Dia menatap ke arah Yati. Asep memandangi penampilan Yati, di lihatnya Yati dari atas sampai bawah.


"Iiiih si Aa', kenapa teh liatin Yati kaya gitu?" tanya Yati penasaran.


"Kamu teh dari mana? Tadi suamimu dan anak-anak pada ke sini, kamu teh kemana? Kamu ribut lagi ya sama suami kamu?" tanya Asep.


Yati terus masuk ke dalam, langkahnya di ikuti asep dari belakang.


Ratmi muncul dari arah dapur. Melihat kedatangan Yati, darah Ratmi menjadi mendidih.

__ADS_1


Jantungnya berdegup kencang, dia sangat kesal pada sikap anaknya itu yang sangat sulit di beritahu.


Dengan kesalnya, Ratmi menghentikan langkah Yati ke dalam kamarnya,


"Yati, berenti! Kamu dari mana? Kamu selalu bikin Ibu dan Bapak Malu!"


Yati terdiam. Dia menundukkan kepalanya.


Karena sikap Yati yang hanya diam dan menunduk, akhirnya Ratmi bertambah kesal dan dongkol.


Seketika saja Ratmi menjambak rambut Yati, "Dasar anak gak tau di untung! Bisanya bikin malu orang tua aja!"


"Aduuuh Bu, sakiiiit!" pekik Yati.


Asep yang berada di sana merasa serba salah.


Sebenarnya dia tidak tega melihat Yati di marahi dengan cara kasar sama ibunya, tetapi Asep tidak bisa menolongnya, karena memang benar apa yang di katakan sang Ibu, bahwa Yati susah di atur.


Ratmi melepaskan tangannya dari rambut Yati. Lalu Yati menoleh ke arah Ratmi dan berkata,


"Yati mau cerai aja Bu, pokoknya Yati mau cerai!"


"PLAKKK" Satu tamparan mendarat di pipi Yati yang gembul.


Yati pun terperangah mendapatkan perlakuan kasar dari ibunya.


Sungguh Yati tidak menyangka jika Ratmi akan semarah itu.


"Sebenarnya apa salah suamimu, apa dia telah menyakiti kamu, jingga kamu minta cerai?! Kamu nya aja yang masih ke kanak-kanakan, yang maunya hidup bebas! Kenapa kamu itu luar Yati??? Ibu maluuu!!!" maki Ratmi.


Khawatir ibunya lebih kalap lagi, akhirnya Asep tidak tinggal diam. Dia mendekati sang Ibu dan berkata,


"Sabar Bu, kita bicarakan semuanya baik-baik. Semakin Ibu marah pada Yati, dia gak akan dengerin Bu, malah bisa jadi Yati malah tambah keras kepala."


Asep memegangi tubuh Ratmi dan mengajaknya untuk duduk.


Yati yang tengah duduk di lantai, dengan menekuk kedua kakinya, hingga dia memeluk kedua kalinya yang di tekuk, menangis tersedu-sedu.


Tidak lama kemudian, kang Ibing pum datang.


Wajahnya sangat tidak bersahabat.


"Ngapain kamu pulang ke sini? Ngapain kamu pake minggat segala? Bisanya malu-maluin Bapak aja!" maki mang Ibing, sambil menjotos kepala Yati.


Yati hanya memejamkan matanya sambil tertunduk.


"Sekarang kamu maunya apa Yati?" tanya Asep, dia berusaha berdiri di tengah. Dia tidak ingin memihak salah satunya.


Tetapi kehadirannya malah di anggap membela Yati oleh Bapak dan ibunya.


"Kamu lagi Sep, jangan berbaik hati sama adikmu! Dia itu udah bikin malu keluarga!" Maki Ratmi.


"Iya Bu, Asep tau, tapi semua ini kan bisa kita tanyakan Yati baik-baik, dia ini maunya apa? Kenapa bisa kaya gini?" sahut Asep.


Seketika saja Yati berteriak,

__ADS_1


"Yati mau cerai Aa', Yati mau pisah aja sama kang Bidin!"


Asep terkejut mendengar perkataan adiknya sambil menoleh ke arah Yati. Matanya membulat seakan dia tidak percaya.


Lalu Asep kembali bertanya pada Yati perihal keinginannya untuk bercerai,


"Apa alasannya kamu ingin cerai dengan kang Bidin? Apa dia udah nyakitin kamu? Atau apa kang Bidin pernah khianati kamu? Atau pernah kang Bidin menelantarkan kamu?"


Yati semakin terpojok dengan segala pertanyaan kakaknya.


Karena apa yang di tanyakan Asep, tidak ada satu pun yang pernah di lakukan oleh suaminya.


Mang Ibing dan Ratmi semakin geram dengan sikap Yati.


Yati hanya menggelengkan kepalanya.


Melihat sikap Yati, Asep pun berdiri, lalu kembali bertanya,


"Lalu apa alasanmu minta cerai dari kang Bidin??? Tolong Yat, jangan kaya anak kecil sikap kamu!" Bentak Asep.


Yati tidak menjawabnya  dia hanya menangis sesegukkan.


"Di tanya malah nangis, kamu itu bukan anak kecil lagi, Yati! Kamu itu udah jadi istri orang, belajar kenapa sih bersikap lebih dewasa, Bapak heran banget sama kamu!" Maki kang Ibing.


Lalu kang Ibing kembali bertanya pada Yati,


"Sekarang apa mau kamu? Pulang sana ke rumah suami kamu!"


Yati menggeleng dengan keras.


"Enggak Pak, Yati gak mau pulang ke rumah kang Bidin! Pokoknya Yati gak mau!"


Segera Yati bangkit dari duduknya. Setelah mengusap air matanya dari kedua pipinya yang gembul, Yati bergegas melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.


Melihat Yati yang masuk ke dalam kamarnya, Ratmi hendak menghentikan langkah Yati, tetapi sayang, dia kalah cepat dari anaknya.


"BRAKKK"


Yati membanting pintu kamar dan menguncinya dari dalam.


Asep termenung, memikirkan nasib perkawinan adiknya.


Sambil mengernyitkan keningnya, Asep bertanya pada mang Ibing,


"Asep jadi bingung Pak sama Yati, sebenarnya apa sebabnya dia minta cerai?"


"Kamu lagi Sep, Bapak juga gak ngerti apa maunya Yati!" sahut mang Ibing.


Ratmi pun termenung. Dia paham sekali watak Yati yang pemalas, dan sedikit liar. Sebenarnya inilah yang di takutkan Ratmi akan sifat Yati yang terdalam.


Ratmi sangat khawatir dengan masa depan Yati, karena banyak seusia Yati di kampung itu yang lebih cepat mengambil tindakan bercerai dari suami mereka.


Karena ada beberapa gadis di kampung itu yang terkenal dengan kawin cerainya.


Ratmi tidak ingin hal itu menimpa putrinya.

__ADS_1


"Pokoknya, Yati tidak boleh cerai dari nak Bidin, Pak!" kata Ratmi dengan geram.


__ADS_2