Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Yati masih ngantuk.


__ADS_3

"Eh Teh Arum, kenapa teh narik kerudung Yati? Apa salah adik saya?" tanya Asep pada Arum.


Wajah Arum pun pucat pasi, dia tidak menyangka jika kelakuannya di ketahui oleh Asep.


Mendengar suara Asep, dengan sigap Bidin segera menyuruh Yati untuk duduk di dekatnya.


"Yati, sini duduk deket Akang,"


Perintah Bidin pada Yati. Sambil membetulkan kerudungnya, Yati pun bangkit dari duduknya dan beranjak mendekati Bidin, lalu dia duduk di samping Bidin.


Bidin menoleh ke arah Yati dan berbisik pelan,


"Udah kamu duduk di sini aja, besok-besok juga ya."


Kata Yati melirik ke arah Bidin sambil menganggukkan kepalanya.


Bidin pun meneruskan kembali mengajarnya.


Teman-teman Yati saling berbisik, entah mereka membicarakan apa, yang jelas kelakukan Arum telah mengundang banyak perhatian orang yang hadir.


Pengajian pun selesai. Yang laki-laki melipat tikar sedangkan yang perempuan menyapu lantainya kembali dan menata lekar.


Mereka saling bekerja sama. Sedangkan Arum segera ke dapur membuatkan minuman teh hangat untuk Bidin. Setelah membuatkan minuman teh hangat, seperti biasa, Arum meletakkan minuman hangat itu di depan Bidin.


Bidin masih duduk di depan papan tulis sambil merapikan semua buku.


Bidin memperhatikan gerakan Arum. Akhirnya Bidin berkata pada Arum,


Rum, sini duduk dulu, Akang mau bicara."


Hati Arum pun berbunga-bunga mana kala Bidin memanggilnya.


"Iya Kang, ada apa?" tanya Arum.


Arum pun duduk, tepat berhadapan dengan Bidin, tetapi jaraknya agak jauh.


Remaja putra putri lainnya msih sibuk dengan urusan mereka, karena seperti biasa, para putra putri yang mengaji di sana setelah selesai, mereka merapikan ruangan yang telah di tempati. Bahkan bukan hanya ruangan itu saja, mereka msdapikan seluruh ruangan rumah Bidin.


Itulah tradisional mengaji di kampung itu, sebagai tanda hormat mereka pada orang yang mengajar, mereka merapikan rumahnya, begitu pula dengan rumah Bidin.


Bidin kembali menatap Arum, lalu Bidin berkata,


"Mulai sekarang, kamu teh gak usah bikinin minuman buat Akang lagi ya, itu sekarang sudah menjadi kewajiban Yati. Kamu boleh ngerjain yang lainnya."


Dari menatap dan mendengarkan ucapan Bidin, setelah mendengar apa yang di katakan oleh Bidin, wajah Arum berubah, dan kini dia menundukkan kepalanya.


Karena tidak ada respon dari Arum, minimal Arum mengangguk, Bidin oun kembali menekankan, "Kamu ngerti kan maksud Akang, Rum?"


Dengan terpaksa, Arum mengangkat wajahnya, dia pun mengangguk.


"Kalo dulu, Akangkan belum punya istri, ya gak apa-apa kamu yang buatin, sebagai pengabdian kamu belajar ama Akang, nah sekarang kan Akang udah punya istri, ada baiknya pekerjaan itu istri Akang aja yang ngerjain, dan juga biar Yati terbiasa dengan tugasnya," kata Bidin menerangkan.


Arum pun menganggukkan kembali kepalanya.


Tapi walau pun Arum mengangguk, bukan berarti dia menerima perkataan Bidin, tetapi malah rasa kesal yang berkecamuk di dalam hati Arum.

__ADS_1


Sebenarnya Arum tidak menerima apa yang Bidin katakan, dia merasa tergeser, merasa tergantikan, dan ada rasa tercampakkan.


Dada Arum semakin panas, gundah gulana. Seperti dia ingin berteriak. Dan matanya pun mulai berkaca-kaca.


Karena dia takut air matanya jatuh di hadapan Bidin, akhirnya Arum minta izin untuk pulang,


"Arum izin pulang dulu Kang, usah malam, kasian emak sendirian."


Bidin pun mengangguk dan berkata,


"Baiklah Rum, terimakasih ya sudah mau membantu Akang. Oh ya, jangan lupa, bacaannya di lancarin ya di rumah."


Arum pun mengangguk, walau awalnya dia merasa kesal, tetapi karena perhatian Bidin barusan, Arum pun kembali terhibur.


"Baik Kang, Arum akan lancarin biar cepet hatam," sahut Arum sambil tersenyum.


Arum pun bangkit dari duduknya sambil berucap salam, "Assalamu'alaikum Kang."


"Wa alaikum salam," jawab Bidin.


Sepeninggal Arum, hati Bidin sedikit lega. Sengaja Bidin menyuruhnya pulang lebih Awal, karena dia tidak mau ada lagi kerusuhan di rumahnya.


Entahlah, saat ini Bidin belum mengerti mengapa Arum begitu antusiasnya terhadap rumah tangganya, apa lagi Bidin sudah mulai bisa menilai bahwa Arum Sepertinya tidak suka dengan Yati.


Tetapi menurut Bidin, yang penting anak-anaknya, terlihat oleh Bidin, jika Mawar dan Melati sudah mulai menyukai Yati.


Seperti halnya malam itu, ketika para remaja yang mengaji di rumah Bidin telah pulang semua, dia melihat Yati tengah menemani anak-anaknya untuk segera tidur.


Bidin pun mengintip ke dalam kamar anak-anaknya, ternyata, Yati pun ikut tertidur bersama mereka.


Dan anak-anaknya pun tadi tidak rewel, tidak seperti malam sebelumnya, terlalu banyak drama.


Setelah mengganti pakaiannya, Bidin merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Tiba-tiba Bidin pun tersenyum, manakala dia mengingat saat kejadian tengah malam, tidak sengaja dia memeluk Yati.


Bidin pun senyum-senyum sendirian. Tidak lama kemudian, Bidin pun tertidur.


Keesokan harinya, seperti biasa Bidin bangun sebelum subuh. Sebelum dia beranjak ke luar dari kamarnya, dia melihat ke sampingnya, ternyata Yati tidak berada di samping nya.


Bidin baru teringat bahwa semalam Yati tidur di kamar anak-anaknya.


Segera dia beranjak dan keluar dari kamar, langkahnya menuju kamar anak-anaknya.


Bidin membuka pintu kamar, dan benar saja, Yati masih terlelap tidur.


Bidin pun membangunkannya, "Yat, ayo Yat, bangun, sholat Subuh dulu."


Yati menggeliat kan  tubuhnya, rasa sepat di matanya masih belum bisa dia lawan.


Yati hanya mengucap, "Ehm." Lalu dia tertidur lagi.


Melihat Yati yang malas untuk bangun, akhirnya Bidin mengguncang tubuh Yati lebih keras lagi.


"Yat, Ayo Yat, bangun, udah Subuh, Sholat dulu, Akang tunggu ya di kamar."

__ADS_1


Bidin pun langsung bangkit dan meninggalkan Yati.


Sedangkan Yati tidak menghiraukan perkataan suaminya, Yati pun melanjutkan tidurnya.


Setelah mandi, Bidin mencari istrinya di kamar, tetapi tidak ada. Lalu dia kembali ke kamar anak-anaknya.


Tubuh Bidin masih di lilit selembar handuk.


Bidin akhirnya mencipratkan air ke wajah Yati. Yati pun terkejut dan marah.


"Akang apaan sih, basah tau!" Bentak Yati.


Bidin pun tertawa dan berkata, "Mangkanya bangun dong, ayo Akang tunggu, kita sholat Subuh jamaah."


Bidin pun meninggalkan Yati dan keluar dari kamar anak-anaknya.


Yati pun menggerutu, "Ih Akang mah, Yati masih ngantuk udah di bangunin aja."


Dengan terpaksa, Yati pun bangun dan beranjak ke kamar mandi. Yati pun segera mandi secara kilat. Lalu Yati dengan handuk yang melilit di tubuhnya keluar dari kamar mandi.


Yati masuk ke dalam kamar hendak mencari pakaiannya.


Dia pun melihat Bidin yang sudah rapi hendak Sholat.


"Cepet Yat, Akang tungguin, kita sholat Subuh jamaah," sahut Bidin, tetapi matanya memperhatikan Yati yang masih berbalut handuk.


Hati Bidin berkata, "Dasar bocah, susah banget bangun pagi, liat aja, saya akan ngegemblengnya biar tau kewajiabnnya."


Agar Yati cepat memakai baju, Bidin pun akhirnya keluar dari kamar dan berkata,


"Kalo udah rapi, bilang ya."


Yati pun mengangguk sambil menekuk wajahnya.


Yati pun memakai baju dan mukena nya, sambil merentangkan dua lembar sajadah.


Setelah itu dia memanggil Bidin,


"Akang, Yati udah rapi." Mendengar panggilan istrinya, Bidin pun kembali masuk ke kamarnya, dan mereka pun melaksanakan sholat Subuh berjamaah.


Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai, lalu Yati keluar dari kamar.


Melihat Yati telah membuka mukena dan melipat sajadahnya, Bidin menoleh dan bertanya,


"Kamu mau kemana?"


Yati pun terdiam sejenak, karena sebenarnya dia ingin kembali ke kamar anak-anak dan melanjutkan tidurnya.


Tetapi Yati tidak menjawab demikian,


"Yati mau ke dapur, nyiapin sarapan untuk Akang."


Lalu Bidin pun mengangguk dan berkata, "Oh mau nyiapain sarapan  kaliin mau pergi tidur lagi."


DEGGG

__ADS_1


"Ih kenapa Kang Bidin tau sih, aku kan masih ngantuk, emang salah apa kalo aku mau tidur lagi!"


Wajah Yati seketika berubah.


__ADS_2