
Yati membalikkan tubuhnya lalu duduk sambil mengusap air matanya yang membasahi pipinya yang gembul.
Dia melirik ke arah Bidin dan berkata,
"Akang mah gak sayang ama Yati."
"Ssttt, Akang sayang ama Yati, Mawar juga sayangkan sama teh Yati?" kata Bidin sambil meletakkan jarinya ke bibir Yati. Bidin menoleh ke arah putrinya.
Mawar mengangguk.
Lalu Yati memeluk Mawar. Kemudian Bidin bertanya,
"Siapa yang membukakan Arum masuk ke dalam?"
Mata Bidin mengarah pada Yati, tetapi Mawar yang terbelalak. Dia ingat apa yang dia lakukan.
Yati menggelengkan kepalanya.
"Yati gak tau Kang, dia masuk sambil menarik tangan Mawar," jawab Yati.
Lalu Bidin menoleh ke arah Mawar, Bidin memegang tangan Mawar,
"Nak, gimana teh Arum bisa masuk ke dalam rumah kita? Apa dia memaksa untuk masuk?"
Mawar menunduk, dia takut jika Bidinarah padanya.
Lalu Bidin meraih tubuh Mawar dan di dudukkan di pangkuannya.
"Bapak gak marah, Bapak cuman nanya doang," sahut Bidin.
Lalu Mawar berkata, "Mawar yang bukain teh Arum masuk, karena dia nanyain teh Yati. Sebelumnya dia nanya ke Mawar, kenapa kamu nangis? Trus Mawar kasih unjuk tangan Mawar, eh teh Arum nya malah marah, padahal Mawar nunjukkinnya ketawa.
Yati mengerutkan keningnya dan bertanya,
"Oh jadi teh Arum marah gara-gara dia liat tangan Mawar?"
Yati langsung terdiam.
Kemudian Bidin bertanya kembali,
"Memang tangan kamu kenapa Nak?"
Mawar melihat ke arah Yati, Yati pun tersenyum.
Lalu Melati mendekat sambil menunjukkan telapak tangannya ke arah Bidin dan berkata,
"Tangan Lati kilut api gak atit. Tangan Kak Awal kilut juga, tapi atit ya Kak."
__ADS_1
Mawar menggeleng dan berkata, "Tangan Kak Mawar gak sakit kok, Mawar cuman kaget kalo tangan Mawar jadi jelek, keriput."
Bidin mengernyitkan keningnya, dia mulai meraba pokok dari permasalahan rumah tangganya.
"Trus kalian nangis?" tanya Bidin pada anak-anak nya.
Mawar dan Melati mengangguk.
Bidin menarik nafasnya lega. Ternyata mereka nangis hanya karena telapak tangan mereka pada keriput.
Kemudian Bidin bertanya lagi pada anak-anak nya, "Kenapa tangan kalian bisa keriput?"
Lalu Mawar melihat ke arah Yati, Yati pun mengangguk.
Maksud Yati mengangguk agar Mawar saja yang menjelaskan, tetapi Mawar takut jika bapaknya akan marah.
Mawar menggelengkan kepalanya pada Yati, dan Yati berkata, "Gak apa-apa atuh Neng, cerita aja ke Bapak, biar Bapak tau."
Akhirnya Mawar pun menceritakan kejadian kenapa tangan Mawar dan Melati menjadi keriput.
Dan Bidin pun tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita dari Mawar. Dan akhirnya Mawar dan Melati juga ikut ikut tertawa.
Lalu Bidin pun kembali menerangkan pada anak-anak nya,
"Lihat apa yang kalian lakukan? Kalian nagis kenceng karena ulah kalian sendiri dan liat akibatnya, orang-orang pada datang karena mendengar tangisan kalian. Lain kali, kalo nangis jangan kenceng-kenceng. Kasian kan Teh Yati jadi kena omelan sama Teh Arum, ha ha ha."
Yati bangkit dari duduknya dan meninggalkan Bidin dan anak-anak tirinya begitu saja.
Bidin pun melihat perubahan aajah Yati yang menunjukkan ketidaksukaannya.
Dengan cepat Bidin menarik tangan Yati, "Mau ke mana? Sini dulu, Akangkan belum selesai bicara."
Bidin menarik tangan Yati dan mengajaknya duduk, dan Yati pun duduk di sampingnya.
Lalu Melati menaiki pangkuan Yati dan duduk.
Bidin pun berkata sambil membelai rambut Yati,
"Akang gak ngebela Arum Yat, Arum itu salah dalam bertindak. Mangkanya Akang menyuruhnya langsung pulang kalo udah gak ada keperluan lagi, itu tandanya Akang mengusirnya, walau dengan cara halus. Ya udah, sekarang semuanya jadiin pelajaran aja, buat anak-anak Bapak, kali nangis jangan kenceng-kenceng, malu di denger tetangga, apa lagi kalo teh Arum denger, bisa berabe, dia bakaln turun tangan. Dan buat kamu Yat, kamu udah bener kok jaga anak-anak, tapi kalo bisa ngajak ngerendemnya jangan kelamaan."
Mereka, Yati, Mawar dan Melati pun mengangguk. Lalu Bidin pun mengajak mereka untuk makan siang.
"Yuk, kita makan, takut keburu dingin," Ajak Bidin.
Mereka pun akhirnya keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang makan.
Yati mulai sibuk menyiapkan piring untuk mereka.
__ADS_1
Bidin dan anak-anak duduk dengan manis, dan Yati mulai menyendok makanan untuk mereka.
Yati menyuapi Melati, karena Melati belum sigap untuk makan sendiri, sementara Mawar bisa menyuap kananannya sendiri.
Bidin memperhatikan tindak tanduk anak-anak dan istri barunya, dan hatinya sangat bahagia.
Setelah selesai makan, Yati pun segera merapikan meja makan, dan Bidin pun mengajak anak-anaknya untuk menonton TV.
Selagi Yati merapikan meja makan, Bidin berkata, "Yat, nanti malam ba'da maghrib kita ada pengajian ya, kamu siap-siap ya."
Yati mwngangguk, lalu dia bertanya,
"Nanti Akang mau pakai ruangan mana?"
Bidin pun terdiam sejenak, kemudian melanjutkan bicaranya, "Kita bisa pakai ruangan samping, nanti anak-anak ada yang bawa tikar, dan mereka yang merapikan."
"Baik Kang, nanti lantainya Yati aja yang bersihin, biar temen-temen bisa langsung gelar," sahut Yati.
Bidin pun mengangguk dan tersenyum, dia merasa lega, hatinya berkata, "Semoga saja saya tidak salah untuk memperistri Yati."
Malam pun tiba, satu persatu murid-murid Bidin datang. Yang laki-laki merapikan tempat, ada yang menggelar tikar, dan yang menyusun lekar, ada juga yang membersihkan papan tulis. Mereka masih menulis dengan papan board, alias papan tulis hitam dan alat tulis nya memakai kapur, sesuai jamannya.
Pengajian pun di mulai, dan Arum pun hadir di sana bersama para gadis kampung lainnya.
Melihat yang ikut pengajian di sana, hati Arum menjadi jengkel. Karena Sebelum Yati di persunting Bidin, Yati adalah gadis yang malas untuk mengaji. Jangan mengaji, sekolah saja Yati malas, hingga akhirnya Yati putus sekolah.
Dengan nada sinis, Arum menyapa Yati,
"Tumben kamu ikutan ngaji, biasanya malas."
Mendengar perkataan Arum, Yati hanya diam, dia tidak meladeni ucapan Arum. Tetapi Arum tidak tinggal diam, dia kembali berucap,
"Eh Yati, apa karena kamu udah jadi istri Kang Bidin, kamu jadi mau ngaji? Bisa banget kamu nyari peratiannya!"
Yati hanya melirik ke arah Arum.
Hati Arum menjadi sangat kesal, karena sikap Yati yang tidak menggubris ucapannya.
Sengaja Yati hanya diam, dia tidak mau nanti sikapnya jika membalas ulah Arum menjadi pusat perhatian. Yati pun hanya diam dan menundukkan kepalanya.
Ternyata, dari tadi ulah Arum sudah di perhatikan oleh Asep, kakak Yati. Hati Asep menjadi kesal melihat ulah Arum.
Tetapi karena situasi yang tidak memungkinkan, Asep menahan rasa kesal nya.
Karena sikap Yati yang hanya diam saja, Arum oun menjadi bertambah emosi, akhirnya Arum menarik kerudung Yati, dan Yati pun meringis, "Aduh, jangan Teh Arum!" tangan Yati bergerak membetulkan letak kerudungnya.suara Yati mengundang perhatian teman-teman yang lain, hingga medeka menoleh ke arah Yati.
Hati Asep pun semakin kesal melihat ulah Arum, dan akhirnya Asep pun mengambil tindakan.
__ADS_1