Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Prasangka.


__ADS_3

Bidin membalikkan tubuhnya, dia hendak keluar untuk mengambil kunci motornya yang masih nyantel di setang motor.


Bidin pun terkejut melihat Yati yang sudah berada di hadapannya.


"Yati? Akang gak tau kalo Yati udah pulang. Yati dari mana? Kata Arum, kamu abis main ke rumah Asih?"


tanya Bidin bertubi-tubi.


Yati tidak menjawabnya, dia hanya menganggukkan kepalanya lalu menunduk.


Kemudian Bidin menyuruh nya untuk masuk ke dalam,


"Ayo masuk Yat, panas atuh di luar."


Tanpa mengangkat wajahnya Yati pun masuk ke dalam rumah. Yati melewati Arum yang tengah duduk di lantai sambil memangku Mawar.


Yati masuk ke dalam tanpa berkata apa-apa.


Dia langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.


Sementara Mawar hendak bangun dari pangkuan Arum, tetapi Arum segera mencegahnya.


"Mau kemana kamu? Udah sini aja sama Teteh, main sama Teteh," sahut Arum.


Bidin melihat gelagat yang aneh pada Arum. Lalu Bidin pun berkata pada Arum untuk segera pulang.


"Arum, makasih ya udah jagain anak-anak Akang, Arum sekarang boleh pulang, Akang mau ngajak anak-anak untuk tidur siang," kata Bidin.


Wajah Arum pun berubah, dia tidak menyangka jika dia akan di usir secara halus oleh Bidin.


Bidin pun memanggil Mawar,


"Ayo Mawar, dari tadi kamu duduk di pangkuan Teh Arum, mungkin teh Arum keberatan, kan kamu udah gede, badan kamu udah berat."


Mawar pun beranjak dari pangkuan Arum. Dia langsung berlari ke dalam untuk mencari Yati.


Mawar pun memanggil dan mencari Yati dengan berteriak,


"Teeeeh, Teteeeeeeh, Teteh di mana?"


Mendengar namanya di panggil oleh anak dirinya, Yati pun dengan terpaksa keluar dari kamar.


Yati membuka pintu kamar perlahan, lalu mengeluarkan kepalanya sambil pandangan matanya memutar.


Lalu Yati melihat Mawar sedang berdiri mematung.


Melihat Yati hanya melongok kan kepalanya, Mawar segera berlari mendekat.


Yati pun merendahkan tubuhnya sambil memeluk Mawar. Yati pun menangis di pelukan Mawar.


Tidak lama kemudian, Yati melepaskan pelukannya. Mawar menatap wajah ibu tirinya dan bertanya,


"Teh Yati marah ya sama Mawar?"


Yati tersenyum dan menggelengkan kepalanya, sambil kedua tangannya mengeringkan pipi gembul nya karena basah dengan air mata.


Lalu Mawar kembali bertanya,


"Kenapa Teteh nangis? Apa Teteh marah sama Teh Arum?"


Yati terdiam sejenak, lalu dia menganggukkan kepalanya.


Ternyata Bidin dari tadi memperhatikan mereka berdua sambil menggendong Melati yang sudah tertidur pulas.


Yati pun baru menyadari bahwa Bidin telah hadir di dekat mereka.


Bidin segera memanggil Mawar dan mengajaknya untuk tidur siang.

__ADS_1


"Mawar, ayo bobo siang dulu sama Bapak, biar Teh Yati istirahat juga. Kan nanti malam mau ngaji," ajak Bidin.


Mawar pun berjalan mendekati Bidin, dia memegang tangan Bidin.


Bidin pun menggiring nya masuk ke dalam kamar anak-anak.


Bidin meletakkan Melati secara perlahan, lalu menyuruh Mawar untuk segera naik ke tempat tidur.


"Ayo Nak, tidur dulu, nanti sore bangun," ajak Bidin.


Mawar pun menuruti perintah Bidin.


Setelah Mawar naik ke tempat tidur, dan memeluk guling, Bidin berkata kembali pada Mawar,


"Bobo ya Nak, Bapak mau liatin Teh Yati dulu."


Mawar pun mengangguk, dan segera memejamkan kedua matanya.


Bidin pun turun dari tempat tidur, lalu berjalan menuju kamarnya.


Dia melihat Yati memalingkan tubuhnya ke arah dinding.


Bidin oun mendekat dan duduk di sisi tempat tidur. Lalu Bidin bertanya dengan suara pelan,


" Kenapa kamu menangis Yat?"


Yati mendengar suara Bidin, tetapi dia tetap memalingkan tubuhnya ke arah dinding.


Kalo Bidin mencoba merayunya, Bidin pun kembali berkata,


"Akang tau, Yati gak tidur kan?"


Mendengar pertanyaan Bidin, Yati tetap tidak menggubris nya. Dia masih saja memalingkan tubuhnya dari suaminya, si Bidin.


Lalu Bidin pun mendekat dan memeluk Yati dari belakang. Dengan spontan Yati menepuk tangan Bidin, agar tidak memeluk tubuhnya.


"Salah Akang apa? Kok Yati marah sama Akang? Kasitau atuh salah Akang di mana?" tanya Bidin penasaran.


Akhirnya Yati membalikkan tubuhnya dan duduk.


Air matanya terus bercucuran membasahi pipinya yang gembul. Yati pun menoleh ke arah Bidin, sambil mengeringkan pipinya yang basah.


"Yati sebel sama Akang, Akang percaya sama perkataan teh Arum. Omongan teh Arum itu bohong semua Kang,"


kata Yati, sambil menangis terisak-isak.


Lalu Yati kembali berkata,


"Dari tadi Yati udah pulang, Kang. Yati denger semua apa yang di katakan oleh teh Arum. Dia jahat! Dia juga udah bohongin Yati. Dia bilang kalo dia ketemu Asih di pasar, dan Asih sedang bersama pacar barunya. Trus kata Dia, Asih nyariin Yati. Dan Dia nyuruh Yati ke rumah Asih. Dia juga nawarin jasanya, kalau dia mau jagain anak-anak, mangkanya Yati pergi gak nunggu Akang pulang dulu."


Bidin merebahkan tubuhnya di samping Yati yang masih menangis sesegukan.


"Teh Arum itu jahat! Ternyata Asih gak nyariin Yati, Kang. Malah kata Asih tadi, dia gak ketemu teh Arum, malah Asih bilang ke Yati, kamu gimana sih, aku kan gak pernah ke pasar! Yati kan malu Kang!"


kata Yati mengadu.


Karena suara Yati yang keras dan  terdengar sampai kamar anak-anak, Mawar pun akhirnya membuka matanya. Lalu dia turun dari tempat tidur.


Mawar pun keluar dari kamar dan berjalan menuju ke kamar Bidin.


Melihat ada bayangan, Yati menoleh ke arah pintu. Dia melihat Mawar sudah berdiri di sana.


"Sini Kak Mawar, masuk," ajak Yati.


Lalu Yati kembali berkata,


"Akang bisa tanya ke Mawar, barusan kamu di cubit kan paha kamu sama Teh Arum?"

__ADS_1


Mawar terdiam. Tetapi tiba-tiba matanya mulai berkaca-kaca.


"Teteh tuh udah dari tadi berdiri di depan pintu. Teteh liat teh Arum nyubit paha kamu, iya kan? Orang Teteh liat sendiri kok dengan jelas. Tapi tadi Teteh lagi dengerin obrolan Bapak sama Teh Arum, semua yang teh Arum katakan ke Bapak itu bohong kan, Mawar?"


Air mata Mawar mulai jatuh. Bidin melihatnya, segera dia memeluk Mawar dan berkata,


"Maapin Bapak ya Nak, Bapak belum mampu jagain kamu."


Mendengar ucapan Bidin, Yati menunduk, karena dia merasa bersalah, sudah meninggalkan Mawar dan Melati.


"Teteh minta maaf ya, teteh udah ninggalin kamu, teteh bener-bener nyesel," sahut Yati.


Mawar pun mengangguk. Lalu Bidin angkat bicara,


"Pokoknya mulai sekarang siapa pun yang datang, termasuk teh Arum, apa pun kepentingan mereka, jangan buka pintu. Kecuali orang itu dari keluarga kamu, atau saya."


Yati pun mengangguk. Padahal sebelumnya, Yati pernah di ingatkan juga oleh Bidin akan hal ini, soal siapa yang datang, dan siapa yang pantas di bukakan pintu dan yang boleh di persilakan masuk. Selain keluarga, apa pun keperluannya jangan di bukakan pintu, termasuk tetangga dekat.


Ini termasuk kelalaian Yati, dan mudah percaya dengan orang yang jelas-jelas sudah berbuat jahat.


Lalu Biidin mengingatkan kembali bahwa dia pernah mengatakan hal yang sama,


"Yat, bukankah saya sudah pernah bilang ke kamu, sudah saya wanti-wanti? Kamu sekarang sudah dewasa Yat, seharusnya kamu lebih bisa menjaga diri, termasuk sama Arum, sikap kamu harus tegas, jadi dia gak bisa permainkan kamu."


Yati terdiam, matanya mulai berkaca-kaca kembali.


Yati kembali panas. Jantungnya semakin bergetar kala Bidin kembali menjyebut nama Arum.


"Apa Akang gak percaya sama Yati?! Kenapa Akang lebih percaya sama Arum?" tanya Yati.


Bidin pun bangkit dan duduk.


Sedangkan Mawar naik ke tempat tidur dan duduk di pangkuan Yati.


"Akang gak percaya sama perkataan Arum. Buktinya Akang gak marah sama kamu. Akang melihat seperti ada sesuatu, mangkanya Akang tekankan ke kamu, juga kamu Mawar, kalo gak ada Bapak, jangan buka pintu, siapa pun yang datang, kecuali aki sama nini yang dateng, atau mamang, kakak dari Teh Yati, mengerti?"  kata Bidin menekankan, pada Yati dan Bidin.


Bidin membelai rambut Yati, lalu kemudian kembali berkata,


"Ya sudah, jangan nangis lagi, Akang percaya kok sama Yati. Akang bukannya ngelarang Yati main, boleh kok Yati main, tapi alangkah baiknya kalo main jangan bawa anak-anak, dan tunggu akang pulang dulu. Lagian Akang ngajar kan gak lama, paling sampe dzuhur aja."


Yati menundukkan kepalanya. Ucapan Bidin membuat Yati takut, karena prasangka Yati, Bidin sedang marah, padahal tidak.


Bidin bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar. Dia duduk di ruang tamu.


Ruang tamu jarang sekali di tempati, karena ruangan yang aktif adalah ruangan samping, di mana jika selepas Maghrib di gunakan untuk pengajian anak-anak dan remaja.


Sedangkan Bidin sering menghabiskan waktu si ruang tamu jika dia merasakan sesuatu yang mengusik hati nya.


Bidin duduk, dan termenung di ruang tamu. Dia memikirkan masalah yang saat ini tengah keluarganya hadapi.


Bidin berpikir, setelah dia menikahi Yati, tingkah Arum berbeda. Seperti dia ingin mengacak-acak keluarga kecilnya.


Sudah dua kali kejadian yang menghebohkan, bahkan kejadian pertama, sampai mengundang warga sekitar. Dan itu semua ulah Arum.


Bidin terus merenung memikirkannya.


Tiba-tiba saja tersirat si pikirannya,


"Apakah Arum cemburu? Apakah Arum dengan sengaja ingin merusak pernikahanku dengan Yati?"


Bidin mengernyitkan keningnya. Dia terus merenung, meraba, dan kilas balik.


Menurut Bidin, sebelum dia menikahi Yati, tidak ada satu pun tingkah Arum yang menunjukkan jika Arum menyukai dirinya.


Memang, jika dia mengajar, anak-anak sering di titipkan pada Arum. Tetapi itu hal biasa. Karena Arum di kenal warga sebagai tempat penitipan anak-anak, jika ada warga yang tidak sempat mengurus anak-anak mereka, ketika para orang tua hendak ke ladang.


Karena itu Bidin sering menitipkan anak-anak nya pada Arum saat dia akan mengajar.

__ADS_1


Bidin begitu yakin jika Arum tempat penitipan anak yang baik. Bukan hanya sekali, tetapi sering kali Bidin menitipkan Mawar dan Melati, sedangkan tidak ada keluhan dari anak-anak nya, tidak ada pengaduan dari Mawar dan Melati dari hal-hal yang kurang mengenakkan.


"Tetapi kenapa sekarang berbeda? Kenapa Arum sekarang menjadi rusuh dalam rumah tangganya?" pikir Bidin.


__ADS_2