Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Jalan-jalan.


__ADS_3

Setelah selesai memberikan beberapa tumpuk pupuk, Ujang pun berpamitan,


"Ayo Kang Mandor, say permisi dulu," kata Ujang.


"Iya sana pergi, kasihan juga itu anak orang nanti di lalerin," kata sang mandor.


Ujang pun tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Bagaimana tidak? Membayangkan jika Yati kelamaan dia tinggal di tepi jalan  Yati akan di hinggapi lalat banyak, betapa menjijikkan bagi Ujang.


"Ah sadar Mandor gelo!" gerutunya dalam hati.


Ujang pun pergi meninggalkan Mandor menuju jalan raya. Di sana dengan setia, Yati menunggunya.


Angin bertiup kencang, menyapu wajah dan rambut Yati.


Yati pun mengibas rambutnya yang panjang. Terlihat seksi dari kejauhan, membuat otak Ujang mulai berkelana. Dan saat itu, Yati pun menggunakan pakaian terlihat seksi.


Pokoknya, kini penampilan Yati pun sedikit berubah, bahkan sikapnya pun terlihat lebih luwes dari biasanya.


Mungkin karena sekarang dia susah bukan istri Bidin lagi  karena itu, sikapnya kini bisa menjadi dirinya sendiri, berbeda dengan kemarin, dia adalah istri Bidin, bagaimana pun dia harus menjaga sikap.


Ketika Ujang sampai, Yati pun bertanya, "Udahan Kang?"


"Udah, gelis, kemon yuk kita jalan," jawab Ujang.


"Jalan ke mana atuh Kang? Jalan atau naik motor? Kalo jalan, Yati ogah, cape pisan, entar gerah, bau keringat lagi. Kalo naik motor Yati mau," sahut Yati.


Ujang pun tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Yati.


"Bisa aja kamu Neng gelis,asa Akang ngajak kamu jalan kaki? Kasihan atuh kamunya, ya naik motor atuh, percuma aja Akang punya motor kalo gak di naikin Neng Yati," kata Ujang merayu.


Yati pun tersipu malu.


Lalu Ujang mulai naik ke atas kendaraannya dan mulai menyalakan mesin motornya.


Setelah menyalakan mesin motornya, Ujang menyuruh Yati untuk segera naik.


"Ayo atuh Neng, cepet naik."


Yati pun naik di atas kendaraan milik Ujang, tepatnya di belakang punggung Ujang, sambil bertanya, "Kita mau kemana Kang sekarang?"


Yati pun berpegangan dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ujang.

__ADS_1


Ujang pun senang dan menjawab, "Kan kita mau jalan-jalan, ayuh atuh kita kemon jalan-jalan."


Yati pun tersenyum dengan rasa senang.


Ujang mulai melajukan motornya. Angin pun terasa kencang, hingga mengacak-acak rambut Yati.


Dan Yati pun sibuk menjaga kerapian rambutnya.


Udara saat itu sudah mulai redup, bahkan mulai gelap. Awan hitam mulai menyelimuti langit di tengah kampung itu.


Rintik hujan mulai turun, Ujang mulai kebingungan. "Wah, gimana nih Neng, kita bakal kehujanan," kata Ujang.


"Ayo Kang kita neduh, cepat cari tempat teduhan," kata Yati memberi saran pada Ujang.


Ujang pun memutar kedua bola matanya  mencari tempat untuk berteduh.


Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah warung kecil. Warung itu terletak di pinggir jalan yang berseberangan dengan sebuah ladang yang sangat luas. Kadang itu di tumbuh oleh tanaman jagung.


Ujang pun menghentikan kendaraannya. Kemudian Yati turun sambil berlari kecil menuju sebuah warung yang akan di singgahinya.


Di sana ada beberapa orang yang sedang menikmati hidangan panas. Bukan hanya makanan, tetapi ada juga minuman yang menghangatkan.


Bau alkohol tercium tercium oleh Yati. Bau yang sangat menyengat, membuat Yati kerasa mual.


"Oooh itu bau minuman, Yat, berarti di sini menjual minuman penghangat badan," jawab Ujang.


Yati membesarkan kelopak matanya karena merasa heran. Yati baru pertama kali mencium aroma yang demikian menyengat di hidung.


Ujang pun duduk di warung itu, lalu memesan minuman untuknya dan untuk Yati.


"Pesan teh panas manis Mang, dua," Pinta Ujang.


Kala itu, warung tersebut yang melayani adalah seorang laki-laki paruh baya. Sambil melayani dan membuatkan dua gelas minuman teh panas manis yang di pesan Ujang, laki-laki paruh baya itu melirik ke arah Yati.


"Semok pisan awewe na," batinnya.


Lalu laki-laki paruh baya itu bertanya pada Yati, sambil menyodorkan teh manis, "Neng, biasa mangkal di mana?"


Yati yang mendengar pertanyaan dari pemilik warung itu tidak mengerti apa masud dari pertanyaan pemilik warung itu.


Tetapi Ujang kemudian yang menjawabnya, "Eh Mamang, sembarangan aja nanyanya, dia teh gadis baik, lagian mana mungkin saya bawa gadis yang mangkal, enak aja. Selera saya tuh tinggi, ogah saya mah bawa-bawa gadis yang begituan."

__ADS_1


Sementara di rumah mang Bidin, Ratmi sedang marah-marah.


Entah dia marah dengan siapa, tetapi yang jelas ada Asep di sana. Asep hanya menundukkan kepalanya dan terdiam.


Sementara Usep baru saja sampai dan masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.


Usep pun terkejut melihat Ratmi sudah pulang dari kadang, Usep pun berkata,


"Eh Emak, udah pulang."


Ratmi memandang nanar ke arah Usep. Usep pun merasa takut melihat ke kopak mata Ratmi yang hampir saja keluar dari porosnya.


Tiba-tiba Ratmi bertanya dengan marah, "Dari mana kamu? Pulang sekolah bukannya jaga rumah malah ngayap! Malahan belum ganti baju! Liat tuh kakak kamu udah kabur!"


Usep tertegun mendengar pernyataan Ratmi, seolah-olah dia merasa di salahkan karena kepergian Yati dari rumah.


Usep menoleh ke arah Asep, yang tengah duduk terdiam di ruang tengah, sementara dia berdiri di ruang makan.


"Aa', ngomong atuh A', jangan diam aja, bair Emak bau yang sebenarnya," kata Usep.


Asep yang masih terdiam mulai menoleh ke arah Usep dengan gerakan perlahan, karena dia takut sang ibu semakin marah.


Asep memberi kode pada adiknya agar tetap diam, agar sang ibu tidak lebih marah lagi.


Tetapi sepertinya Usep tidak mengerti apa yang Asep maksud. Malah dia mempertegas dan berkata pada Ratmi,


"Maaak, Teh Yati pergi sebelum kita berdua pulang sekolah! Aa' Asep pulang lebih dulu, baru Usep sampe di rumah. Tapi teh Yati udah gak ada di rumah!"


Asep merasa tertekan, lalu dia kembali memberikan kode pada Usep agar kembali diam.


Lalu Ratmi berkata pada Usep, "Alaaah, kalian aja yang lengah, gak bisa jagain Yati, atau jangan-nangan kalian sekongkol!"


Usep semakin geram mendengar ucapan ibunya.


Usep mendekat dan berkata sambil memegang kedua tangan Ratmi,


"Maaak, sabar Maaaak! Emak kenapa jadi nyalahin Usep sama A' Asep? Kita berdua juga gak tau teh Yati pergi Mak! Tadi Usep ke belakang, niatnya mau cuci tangan trus mau ambil piring, tapi Usep liat pintu belakang gak tertutup rapat, akhirnya Usep yang nutup pintu, Usep tutup rapat. Kita pikir juga teh Yati ada di kamar, ternyata enggak ada, tapi pintu kamarnya di kunci! Emak jangan bisanya nyalahin kita aja napa! Barusan Usep juga nyari teh Yati ke rumah teh Asih, tapi gak ada. Akhirnya Usep istirahat di warung teh Sukaisih. Trus kata teh Sukaisih, teh Yati tadi ke warungnya, tapi usah pergi lagi. Katanya teh Yati pergi sama laki-laki naik motor!"


Ratmi pun tertegun mendengar penjelasan Usep. Pergi sama laki-laki? Apa Yati udah punya pacar? Pikir Ratmi.


Mendengar Usep yang terus menerus cuap-cuap, Asep pun membentaknya,

__ADS_1


"Udah Us, UDAH!!! Kasian Ibu!!!"


__ADS_2