
Ratmi terdiam mana kala dia merenungi apa yang anaknya sampaikan. Usep mengeluarkan unek-uneknya.
Dari kesimpulan yang Usep sampaikan, sebenarnya Ratmi lah yang salah. Jika sebelum dia pergi ke ladang menunggu Asep terlebih dahulu pulang dari sekolah, kemungkinan Yati tidak ada kesempatan untuk kabur.
Tetapi jika dia menunggu Asep lebih dahulu, dia mengkhawatirkan jika suaminya harus menunggu lebih lama, Ratmi merasa kasihan.
Ratmi merasa kasihan jika suaminya harus menunggunya terlalu lama dan menahan rasa laparnya.
Ratmi terdiam dan menerungi apanyang telah terjadi. Apa pun dan bagaimana pun sikap suaminya nanti, Ratmi harus siap menghadapinya.
"Pasti Bapak marah besar nih kalo begini, aduh Yaaaat, kenapa sih tingkahmu malah bikin ibu masik kesel! Ibu pikir setelah kamu kawin, kamu udah gak ngerepktin ibu lagi, eh malah sebaliknya, malah tambah bikin ibu sama bapak tambah repot, tambah di bikin malu! Bener-bener bikin ibu jadi geram sama kamu Yat!!!" gumambya dalam hati.
Ratmi melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu nya. Dian kembali merenunginya, apa yang Usep katakan.
Lalu tiba-tiba Ratmi mengernyitkan dahinya, "Pergi sama laki-laki? Siapa dia? Apa Yati sudah memiliki kekasih baru? Atau memang kekasihnya itu dari dulu, hingga sikapnya pada Bidin seperti itu?"
Sedangkan di luar kamar, Asep dan Usep terdiam. Lalu Asep mengingatkan adiknya, "Kamu Us, harusnya kamu gak boleh bersikap kasar sama ibu! Ibu udah cape ngurusin kita, kamu malah bentak-bentak!"
"Iya A', maaf. Abis Usep juga emosi liat sikap Emak yang nyalahin Aa', kan kalo Aa' di salahain, berati Usep juga salah. Lagian padahal kan bukan begitu, seolah-olah malah Emak kaya nyari kambing hitam," sahut Usep.
"Iya, kamu bener, tapi gak boleh begitu caranya, ngomong pelan-pelan kan bisa, jangan sampe ibu sedih," kata Asep, mengingatkan.
Saat itu hujan sangat deras dan lebat, hingga sampai anginnya tertutup kabut.
Sementara Yati dan Ujang masih berada di sebuah warung.
Saat itu, hanya Yati satu-satunya perempuan yang berada di sana, jingga hampir semua mata tertuju padanya.
Kehadiran Yati di warung itu menjadi ousatbperhatian para pengunjung warung, baik yang memang makan dan minum di sana, maupun hanya untuk sekedar berteduh.
Dan juga, yang menjadi tambah pusat perhatian, pakaian yang Yati pakai sangat ketat. Yati menggunakan kaos lengan pendek, dengan belahan dadabyang menantang, di pasukan dengan celana Jins yang ketat.
Sedangkan tubuh Yati yang sangat semok, membuat tampilan Yati semakin bahenol.
Ternyata, dari sekian pengunjung waeung yang ada, ada yang kenal dengan Yati. Dan orang itu pun menyapa Yati,
"Eh, kamu Yati ya? Jandanya mang Bidin? Benarkan?"
__ADS_1
Yati pun menoleh dan melempar senyum.
Ketika orang itu melihat sikap Yati yang melempar senyuman padanya, membuat laki-laki itu tertantang. Laki-laki itu pun menghampiri Yati dan menggodanya.
"Wah enak atuh kalo udah janda, bisa dong Akang mampirin Yati?" Kata laki-laki itu sambil menyolek lengan Yati. Saat itu Ujang tidak melihatnya, karena dia memperhatikan motornya yang kehujanan.
Yati pun tersenyum simpul, walau sebenarnya dia tidak mengerti apa maksud dari ucapan laki-laki itu. Yati pun berkata pada laki-laki itu, sambil menepuk bahunya, "Ahhh, Akang bisa aja, emangnya Yati warung, di mampirin."
Lalu laki-laki itu bertanya kembali,
"Eh tapi boleh gak, boleh ya nanti Akang mampirin, semaleman aja, Akang mau tau gimana rasanya kamu yang bahenol, jangan masih mahal-mahal ya buat Akang."
Yati tersenyum terkekeh-kekeh, kembali Yati menepuk bahu laki-laki itu. "Ih Akang, bisa aja. Udah bts di di bilang Yati ini bukan warung, malah mau di ammoirin semaleman, aya aya wae Akang mah."
Tidak sengaja, Ujang mendengar percakapan Yati dengan laki-laki itu. Saat mendnegar sekilas, Ujang masih belum paham, semakin dia pasang pendengarannya, Ujang semakin yakin, bahwa laki-laki itu sedang merayu Yati.
Ujang pun menjadi geram.
Ujang menarik tubuh Yati, agar berpindah tempat dengannya, agar Yati tidak duduk berdekatan dengan laki-laki itu. Yati pun menurutinkemauan Ujang.
"Eh kamu! Memang kamu siapanya dia?"
Laki-laki itu berdiri dan berkata pada Yati, "Dia teh saha atuh? Apa hubungannya sama kamu? Apa dia pacar kamu?"
Yati yang di tanya laki-laki itu hanya terdiam, melongo.
Lalu pemilik warung pun ikut campur dengan urusan mereka, karena khawatir nanti warungnya rusak karena ulah mereka.
"Eh udah atuh udah! Kenapa jadi ribut di sini? Sana kalian jangan ribut di sini!"
Melihat sikap pemilik warung yang seolah tidak peduli dengan sikap pengunjung yang mulai kurang ajar terhadap Yati, Ujang bertambah geram.
"Akang gak tidak tau aja perbuatannya, Kata-kata nya pada dia mulai kurang ajar! Dia pikir wanita yang saat ini bersama saya wanita panggilan!"
Seolah-olah tidak peduli urusan Ujang, pemilik warung malah mengelak,
"Mau perempuan panggilan, mau perempuan pijitan, saya gak peduli! Pokoknya kalo mau ribut jangan di warung saya atuh! Sana pergi!"
__ADS_1
Pemilik warung itu mengusir Ujang dengan wajah yang mulai sangar. Sedangkan keadaan diluar sedang turun hujan yang sangat lebat.
"Eh Kaaang, kalo tidak hujan mah dari tadi aja Sayan pergi dari sini! Akang liat noh Ujan deras, percuma aja saya neduh di sini, tadi kan saya ngomong baik-baik saya Akang, saya dan dia numpang neduh, sambil pesan minuman, trus orang itu sikapnya kurang ajarĀ lah kenapa malah saya yang di usir!"
Beberapa saat kemudian hujan pun reda. Dengan sigap, Ujang menggandeng tangan Yati dan mengajak pergi dari sana.
"Ayo Yat, kita pergi dari sini, di sini gak aman buat kamu, banyak singa yang mau nerkam kamu!"
Yati membulatkan kedua kelopak matanya. Sambil berjalan karena di tarik tangannya sama Ujang, Yati bertanya, "Mana singanya Kang? Emang ada Singa?" Yati pun menoleh ke kanan dan ke kiri.
Ujang pun mulai menyalakan mesin motornya, lalu menaikinya. Ujang pun menyuruh Yati agar cepat bergegas.
"Cepat atuh Yaaat, lelet amat! Nanti kamu cepat sibyerkam singa!"
"Iiih si Akang, mana Singanya? Yati gak liat Singa," jawab Yati, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seekor singa.
"Bukan singa betulan atuh Yat, singa jadi jadian! Nanti kamu di terkam gimana? Siapa yang mau tanggung jawab? Mending Akang aja yang nerkam Yati, Akang mau tanggung jawab," sahut Ujang.
Yati yang tidak mengertj arah pembicaraan Ujang hanya terdiam, walau pun dia berusaha untuk mencernanya, tetapi otaknya belum sampai ke sana.
"Ah dasar gelo! Badannya aja yang bongsor, otaknya masih cimit! Yatiii, Yatiiiii!" gumam Ujang.
Ujang pun terus melajukan motornya. Sian mengarahkan motornya ke arah perbatasan kampung, di sana terdapat air terjun.
"Kita mau ke mana Kang?" tanya Yati.
Karena cuaca setelah hujan masih angat dingin, tangan Yati pun terasa sangat dingin. Yati pun mempererat pegangannya di tubuh Ujang.
Ujang pun menikmatinya, seperti baru pertama kali saja sikap Ujang menghadapi wanita.
******
Waktu pun terus berlalu, dan ketika itu sudah sore. Ratmi semakin gelisah, karena sebentar lagi suaminya, mang Ibing akan pulang ke rumah.
Ratmi snagat khawatir, jika suaminya akan marah besar padanya, karena Yati sudah kabur.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian, mang Ibing pulang.
__ADS_1