
"Assalamu'alaikum," sapa Mang Ibing.
Ratmi mendengar suara orang memberi salam dari luar, segera dia dengan cepat membukakan pintu.
"Wa alaikumsalam, eh Bapak, sudah pulang, apa itu Pak?" tanya Ratmi, melihat mang Ibing membawa bungkusan plastik.
"Oh, ini bu, jagung, Bapak di kasih sama Bidin, tadi Bapak papasan sama dia di depan warung Sukaisih. Sebenarnya dia mau ke sini, tapi gak enak, dia ngerasa sungkan, eh pas banget ketemu Bapak, ya udah, sekalian dia kasih ini ke Bapak," jawab mang Ibing.
Mang Ibing memberikan bungkusan plastik pada Ratmi, lalu dia duduk di ruang makan.
Ratmi menyimpan bungkusan yang berisi jagung itu di dapur. Kemudian menawarkan kopi hitampa pada suaminya, "Bapak mau kopi?"
"Mau atuh, tumben Ibu kape nawarin segala, biasanya langsung di tato aja di depan Bapak."
Mang Ibing mengipas-ngipasi tubuhnya pada topi miliknya, topi yang terbuat dari anyaman bambu, mampu memberikan kenyamanan saat mengipas.
"Bapak sholat asar dulu ya Bu, mandinya nanti dulu, takut kssorean," kata mang Ibing.
"Iya Pak, ibu mah udahan tadi, baru aja ibu selesai sholat, eh Bapak pulang. Udah sana sholat, nanti Ibu bikinin kopi sama jagung rebus," sahut Ratmi.
Mang Ibing sangat mengenal istrinya. Dia mencium gelagat aneh pada Ratmi, sikapnya yang tidak seperti biasa.
Karena biasanya, tanpa menawarkan, Ratmi langsung meletakkan kopi hitam di atas meja, atau di bale bambu yang terletak di depan rumah.
Tapi kini, dia menawarinya terlebih dahulu.
Mang Ibing melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia pun melihat ke sekeliling rumahnya, sepertinya ada yang aneh, pikir mang Ibing.
Tetapi mang Ibing sengaja diam saja, agar emosinya pun bisa dia kendalikan.
Dia juga melihat istrinya seperti sudah lelah, karena sekarang dia lah yang membawakan makan siangnya dan Ratmi pun harus berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh.
Setelah sholat Asar, mang Ibing duduk di depan rumah,, tepatnya di atas bale bambu, sambil menikmati kopi hitam dan jangung rebus.
Saat itu Ratmi pun ikut duduk di sana. Suasana saat itu hening, sengaja mang Ibing tidak memulai pembicaraan.
Dia melihat istrinya nampak gelisah, tetapi mang Ibing membiarkannya.
Akhirnya, Ratmi pun memberanikan diri untuk bicara apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Pak, ada yang mau Ibu bicarakan," kata Ratmi.
"Iya Bu, bicara aja, ada apa?" sahut mang Ibing datar. Mang Ibing saat itu sambil melinting rokok.
"Pak, Yati Pak, Yati kabur lagi," kata Ratmi, suaranya sangat pelan sekali.
Mendengar hal itu, mang Ibing menarik nafas panjang, lalu membetulkan letak duduknya.
Tatapan mata mang Ibing lurus ke depan, dia berusaha menahan emosinya. Tetapi lama kelamaan, mang Ibing menyadari, bahwa urusan Yati adalah tanggung jawab dia sebenarnya, bukan istrinya.
"Iya Bu, dari tadi Bapak sudah menduganya, karena dari tadi kamarnya tertutup, dan Bapak yakin kalo kamarnya terkunci," kata mang Ibing.
Lalu mang Ibing menghela nafasnya dalam-dalam dan membetulkan letak duduknya.
Mang Ibing kembali berkata, "Nanti jika Ytak pulang, lebih baik diam kan saja, jangan di marahi, kita juga kan tidak tau Bubapa yang sebenarnya dia rasakan, nanti diam kan saja, kita liat apa maunya Yati, kali dia bicara, yankita dengarkan, tapi jangan sesekali menanyakan apa nyang telah dia lakukan di luar."
Melihat sikap suaminya yang begitu bijak, Ratmi sangat terkejut dan merasa sangat heran.
Lalu Ratmi mendekat sambil memegang bahu suaminya,
"Pak, kamu gak apa-apa? Kenapa sikap bapak berubah? Apa Bapak marah sama Ibu?"
Ratmi terdiam, dia menghela nafasnya dalam-dalam. Hatinya merasa lega melihat sikap bijak suaminya, walau jarang sekali nampak.
Hati Ratmi bukan hanya lega, tetapi juga terharu mendnegar perkataan suaminya, bagaimana tidak? Biasanya mang Ibing selalu menyalahkan dirinya sebagai ibu yang tak mampu mendidik anak-anak, selalu protes dengan segala kebijakan yang Ratmi lakukan.
Tiba-tiba Ratmi merasa tersentuh, dan kedua bola matanya mulai mengembang. Pandangan mata Ratmi mulai terhalang oleh butir-butir air yang menggenang di kelopak matanya.
Untuk menutupi perasaannya, Redmi segera mengalihkan pembicaraan,
" sudah sore Pak Ibu mandi dulu ya."
Tanpa menunggu jawaban dari Mang Ibing, Ratmi segera beranjak dari tempat duduknya, kakinya melangkah masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian ketika Ratmi sedang mandi, ada seseorang yang datang.
Orang itu mengendarai sebuah motor dengan membonceng seorang perempuan.
Kala itu nang Ibing sedang asyik menikmati kopi hitam beserta jagung rebus yang disediakan oleh Ratmi, karena itu mang Ibing tidak terlalu memperhatikan Siapa yang datang.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba ada suara yang memberi salam, " Assalamualaikum."
Saat itulah Mang Ibing menoleh ke arah sumber suara, maka terkejut telah Mang Ibing melihat Siapa yang datang.
Mang Ibing Berkata sambil berteriak,
" Yati!!!"
Yati menoleh dan menunduk. Dia takut sekali pada bapaknya. Yati takut jika Mang Ibing akan marah padanya, dan akan mengusir Ujang yang mengantar Yati saat itu.
Segera Mang Ibing turun dari bale bambu, dan berjalan ke arah pagar bambu lalu membukakannya untuk Yati.
" sama siapa kamu Yat?" Tanya Mang Ibing.
Dengan gugup Yati menoleh ke arah Ujang yang masih berdiri di sana, tepatnya Ujang berdiri sekitar satu meter dari tempat Yati berdiri.
" dengan teman Yati Pak," Jawab Yati.
Lalu Ujang berjalan mendekat, dan memperkenalkan diri,
"Saya Ujang Pak, kawan Yati."
Mang Ibing pun mengangguk, lalu mempersilakan Ujang untuk masuk.
"Ayo silakan masuk, kita ngopi dulu," ajak mang Ibing pada Ujang.
Melihat respon mang Ibing, Ujang pun menjadi besar kepala. Dengan senyum yang semringah, Ujang pun menjawab ajakan mang Ibing, "Wah, boleh banget Pak, sekalian saya juga ingin pendekatan pada Bapak."
Mang Ibing mengernyitkan dahinya, "Secepat itu?!" gumamnya mang Ibing dalam hati.
"Ayo masuk-masuk, jangan sungkan, kita bisa ngobrol di sini," kata mang Ibing.
Mereka pun duduk di bale bambu, sedangkan Yati masuk ke dalam untuk membuatkan kopi untuk Ujang.
"Sikap Bapak kok aneh ya, kok Bapak gak marahin Yati ya? Ada apa ya? Padahal dari tadi hati ini dag dig dug, Yakub banget Bapak bakal marah Sin depan kang Ujang, eh ini malah enggak, malah nyuruh kang Ujang masuk, bener-bener aneh ini!" kata Yati dalam hatinya.
Yati pun membuatkan kopi hitam untuk Ujang. Setelah jadi, Yati pun membawanya ke depan teras, tepatnya di letakkan di atas bale bambu.
Setelah meletakkan kopi untuk Ujang, Yati pun bergegas masuk ke dalam.
__ADS_1
Yati duduk di balik tirai, pendengarannya pun di pertajam.