
Malam itu Mawar dan Melati sudah tidur setelah Bidin menemaninya dan meninabobokan anak-anaknya.
Bidin beranjak keluar dari kamar anak-anaknya, lalu dia duduk di ruang tamu.
Ya, ruang tamu jarang sekali di duduki olehnya, karena aktifitas keluarga lebih banyak di ruang samping.
Bidin menyeka wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia sedang merenungi nasib rumah tangganya.
Bidin tidak terpikir hal ini akan terjadi pada pernikahannya dengan Yati.
Ya, Bidin tahu jika Yati masih berusia remaja, tapi tidak terpikir jika istrinya akan bersikap lebih ke kanak-kanakan.
Bidin sungguh tidak menyangka, jika pernikahannya sedang di ujung tanduk.
Cuaca saat itu sangat panas, hingga akhirnya Bidin membuka bajunya, dia hanya menggunakan kaos dalam dan kain sarung.
Lalu Bidin membuka pintu rumahnya dan duduk di teras depan.
Karena bentuk pagar rumah Bidin yang hanya setinggi pinggang dewasa, Bidin pun bisa melihat ke arah jalanan dan berseberangan dengan sebuah ladang.
Bidin duduk termenung sambil memandangi pemandangan malam itu yang sangat indah dan cerah.
Sementara, Arum dari dalam rumahnya, melihat Bidin yang telah duduk sendirian.
Arum melihat dan mengamati Bidin dari dalam rumahnya. Lalu Arum berjalan mendekat ke arah jendela rumahnya.
"Kang Bidin kok sendirian, kemana tuh si Yati?" Kepala Arum mulai celingak celinguk. Kedua mata Arum mulai menjelajah ke seluruh sudut teras rumah Bidin.
Tiba-tiba saja, Arum terkejut melihat sebuah bayangan, lalu dia segera menoleh kebelakang,
"Ah, Emaaak! Kaliin Arum siapa!"
"Kamu ngapain ngintipin laki orang, Neng?" tanya Ima pada Putrinya yang perawan tua.
"Ih, si Emak, siapa yang lagi ngintipin laki orang, Arum lagu nyari malah istri kang Bidin ke mana!"
jawab Arum berdalih.
"Kamu teh, rumpi aja sama urusan rumah tangga orang, bairin aja atuh," kata Ima.
"Iya Maaak. Arum cuman ngelongok aja, kok kang Bidin sendirian, ke mana itu tuh si Yati," sahut Arum.
"Aduuuuh, ini anak susah banget di bilangin. Pamali atu Neng terlalu ikut campur urusan rumah tangga orang, gak baik Neng, Mak minta jauhin keluarga itu Neng," kata Ima menasehati.
Bukannya mendengar nasehat ibunya, Arum malah pergi, meninggalkan Ima di ruangan itu.
Sementara, Arum masuk ke dalam kamarnya dan duduk bersandar di pembaringannya.
Arum termenung. Tapi tanpa sadar, dia telah membayangkan wajah Bidin, wajah suami Yati yang tampan itu.
__ADS_1
Wajah tampan yang selama ini menghiasi hatinya. Ya, hanya dirinya yang mengetahui, jika wajah Bidin telah masuk ke dalam hati nasubari Arum.
Arum merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan ukuran sedang.
Karena itu, dia merasa bahwa dirinya merasa lebih baik dari Yati, dia yang merasa berhak menjadi istri Bidin dan ibu sambung bagi anak-anak Bidin.
Arum pun sudah merasa menyayangi mereka.
Sedangkan Bidin, masih berada di depan rumahnya, tepatnya di teras depan rumahnya.
Dia duduk merenungi nasib pernikahannya.
Pikiran Bidin melayang, dia mengingat pertemuannya dengan Yati.
Saat itu, Bidin melihat Yati yang tengah lewat di depan rumahnya. Yati hendak ke dalang membawakan makan siang untuk kang Ibing, bapaknya Yati.
Saat itu, Bidin mengira Yati memiliki sifat keibuan, karena Bidin melihat postur tubuh Yati yang aduhai.
Wajah Yati yang canti dan berkulit putih sawo matang, membuat Bidin menyukainya.
Sikap ramah Yati telah menipu matanya. Saat itulah Bidin jatuh cinta pada Yati, dan berniat menikahinya.
Bidin menghela nafas panjang, setelah mengingat itu semua.
"Aku telah salah menilainya, ku pikir dia dewasa, ternyata aku salah. Tapi kenapa Yati tidak menolak saja saat aku melamarnya? Tapi anehnya menurutku, Yati bilang dia juga menyukaiku," katanya dalam hati.
Tidak ada sikap Yati yang menunjukkan sebuah oenolakan saat Bidin mencumbu nya, karena itu, Bidin tidak habis pikir, mengapa dia ingin bercerai. Bahkan berbuat nekat sampai dia minggat dari rumahnya.
Sedangkan malam itu, Ima sudah masuk ke dalam kamarnya, dan Arum mengetahui itu.
Dengan mengendap-endap, Arum keluar dari kamarnya.
Arum melihat keluar jendela dari ruang tengah, dia melihat Bidin masih duduk di sana.
Arum memperhatikan Bidin dari balik jendela. Dada Arum mulai berdegup kencang, entah apa yang di rasakan Arum. Tetapi yang jelas, Arum melihat kesedihan nampak pada Bidin.
Akhirnya Arum bertekad keluar rumah.
Dia mengendap-endap, langkahnya perlahan tetapi pasti.
Dia keluar melewati pintu belakang.
Di bukanya pintu belakang pelan-pelan agar tak terdengar.
Arum khawatir jika suara pintu terdengar oleh emaknya, maka akan gagal rencananya untuk keluar.
Ya, Arum hendak keluar rumah lantaran melihat Bidin.
Arum khawatir dengan keadaan Bidin.
__ADS_1
Dari pelataran rumahnya, Arum melempar batu kecil mengarah pada tempat Bidin duduk.
"TUKKK."
Alangkah terkejutnya Bidin, tubuhnya terkena lemparan batu kecil.
Bidin menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi dia tidak melihat satu orang pun.
Bulu kuduknya mulai berdiri. Kedua bola mata Bidin mulai memutar, pandangan matanya mulai beredar keseluruh penjuru.
Tiba-tiba Arum sudah berada di depan pagar rumah Bidin. Bidin pun terkejut, dia pun memastikan kesadaran dirinya, jingga kedua tangan Bidin menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri.
Sontak saja Arum geram melihat tingkah Bidin.
"Ih Akang, ini teh Arum, kenapa Akang kaya gitu?" kata Arum meyakinkan.
Bidin pun beranjak dari tempat duduk nya untuk membuka pintu pagar.
"Kamu ngapain ke sini? Udah malam, ngapain kamu keluar rumah?" tanya Bidin.
"Bukain dulu atuh Kang pagarnya," sahut Arum.
Segera Bidin membukakan pintu pagar rumahnya. Arum pun masuk tanpa menunggu perintah Bidin.
Arum duduk di teras depan, sedangkan Bidin masih berdiri di hadapan Arum
"Kamu ngapain ke sini? Gak baik atuh kamu keluar malam-malam, sana pulang, Arum," kata Bidin.
"Denger dulu atuh Kang, Arum ke sini karena liat Kang Bidin duduk sendirian, Arum khawatir sama Akang," kata Arum.
Bidin memperhatikan aura wajah Arum, untuk meyakinkan dirinya, yang di katakan Arum tidak mengada-ada.
Biidn lalu duduk di teras, tetapi jarak mereka agak jauh.
Arum pun mengerti, saat Bidin memutuskan untuk duduk agak jauh darinya.
Lalu Arum memulai membuka perbincangan,
"Kang, sebenarnya ada apa atuh? Tadi Arum liat dari dalam rumah, Akang kayanya lagi kalut, seperti banyak beban yang Akang pikirin, ada apa Kang?"
Bidin tidak langsung menjawabnya, dia malah terdiam.
Bidin duduk sambil menaruh kedua siku tangannya di lutut, hingga dia duduk agak membungkuk.
Sedangkan kedua tangannya bertopang dagu, gayanya seperti orang yang sedang berpikir keras.
Arum melirik ke arah Bidin. Sambil menepuk pundak Bidin, Arum berkata,
"Lebih baik Akang cerita atuh sama Arum, mungkin bisa melepaskan kecemasan yang ada di hati Akang."
__ADS_1
Bidin menoleh, matanya menatap tangan Arum yang masih menempel di bahunya.