
"Maksud Usep tuh, Teh Yati harus selidiki siapa kang Ujang itu dulu, siapa dia, orang mana dia, gimana keluarganya, jangan sampe suatu saat Yeh Yati nyesel, yang kemarin aja, yang udah jelas asal usulnya aja Teh Yati enggak betah, gimana sama yang ini, yang belum jelas asal usulnya, juntrungannya, yaaa Usep mah sebagai lalaki cuman ingetin ajah ke Teteh, biar tidak ada penyesalan, gituh," kata Ussp panjang lebar.
"Aduuuuh, Teh Yati pusing dengernya, mending kamu keluar ajah, cuman nambah beban pikiran ajah kamu mah!" sahut Yati.
Usep menjadi bertambah kesall dengan sikap kakaknya yang susah di beri masukan positif. "Jangan sampai tuh Teh Yati menyesal di kemudian hari, Usep sebagai adik, peduli sama kehidupan Teteh, apa lagi Teteh pernah gagal dalam berumah tangga, emang Teh Yati pernikahan itu apa? Kalo cuman buat mainan mah terserah Teh Yati ajah. Tapi asal Teteh tau ya, sangsi sosialnya Usep kedapetan juga, malu atuh Teh!"
" Udaaah! Cukuuuup Useeeep! Kuping Teteh pengeng! Udah sana cepet keluar!' bentak Yati.
Usep pun keluar dari kamar kakaknya, sementara Yati bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu kamar. Seketika saat itu juga, Yati menutup pintu kamar dengan membanting nya.
BLAAKKK!
Yati pun membalikkan tubuhnya dan kembali melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya.
Yati pun menangis tersedu-sedu di balik bantalnya.
Waktu terus berlalu, malam pun semakin larut, tetapi Yatim masih saja menangis sesegukan.
Lelah karena menangis, Yati pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, matanya memandang langit-langit kamar.
Tiba-tiba dia teringat saat-saat bersama Ujang, yang menurut Yati waktu bersama Ujang sangat mengesankan.
Dari asal pertemuan mereka, sampai pada saat Yati kabur dari rumah Bidin. Dan Yati mulai berpikir, apakah dia selingkuh, pada saat dia masih menjadi istri Bidin?
Yati berpikir keras. Tetapi Yati bersikap kukuh, bahwa dia tidak selingkuh.
"Yati teh tidak macam-macam, kenapa di bilang selingkuh? Aya aya wae mah si bapak dan ibu. Yati cuman kenalan aja emang itu selingkuh namanya? Yati gak pegang pegangan, gak peluk pelukan, apa lagi cium ciuman, Yati gak ngelakuin itu, kenapa di sangka selingkuh! Sakit Buuu, sakit hati Yati di sangka selingkuh!" gerutu Yati.
Yati masih saja menggerutu. Dan karena lelah menggerutu, akhirnya Yati pun tertidur.
Dalam tidurnya Yati bermimpi. Dia sedang berjalan jalan di sebuah taman yang bagus dan indah. Banyak bunga yang sedang bermekaran di taman itu.
Lalu Yati memetik bunga yang berwarna merah, tetapi sayangnya, tangan Yati terkena duri yang terdapat di batang bunga itu.
__ADS_1
"Aduh!!! Perih banget," kata Yati meringis kesakitan. Darah pun keluar dengan deras dari luka di tangan Yati. Karena terlalu derasnya darah yang keluar dari tangan Yati, Yati pun bingung untuk menghentikan aliran darah yang terus menerus keluar datinluka tangannya.
Lalu Yati menekannya dengan di lapisi baju yang dia kenakan.
Dan saat itulah Yati terbangun dari tidurnya.
"Astaghfirullah, ya Alloh, kaliin beneran, alhamdulillah cuman mimpi."
Yati duduk dan menyenderkan tubuhnya di kelapa tempat tidurnya.
Matanya melihat ke arah jam dinding, waktu telah menunjukkan pukul dua malam.
Karena kondisi Yati sangat haus, Yati pun keluar dari kamarnya menuju ruang dapur. Sesampainya dia di dapur Yati mengambil air minum, lalu meminumnya sambil duduk di dapur.
Yati termenung saat itu, dia mengingat kembali mimpinya barusan.
Yati membayangkan taman yang dia lewati tadi di dalam mimpi, alangkah indah taman di sana.
Taman yang belum pernah dia batangi.
Tapi tidak sengaja, Asep mendengar ucapan Yati, ketika Asep terbangun dan hendak buang air kecil.
"Ngapain Yati di dapur sendirian? Aduh kebelet!"
Asep pun bergegas ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, dia pun selesai dari buang hajad kecilnya. Asep pun keluar dari kamar mandi.
Langkahnya tidak langsung masuk ke dalam, tetapi Asep melongokkan kepalanya ke dalam ruang dapur.
Tetapi dia tidak melihat sosok adiknya.
"Lah.... Yati nya mana? Kok gak ada?" gumamnya pelan.
__ADS_1
Lalu Asep terus berjalan ke arah kamarnya, dia pun melihat kamar Yati tengah terbuka pintunya.
Asep pun mendekat dan melihat Yati sedang melamun.
"Heh, tidur atuh Yat! Eh tadi kamu di dapur ya?" tanya Asep.
"Iya, kenapa emang?" sahut Yati.
Asep masuk ke dalam kamar adiknya, lalu dia duduk di samping Yati.
"Kamu kenapa Yat? Kamu ngendusin?" tanya Asep.
Yati mengangguk pelan. "Barusan Yati teh mimpi A', mimpi indah pisan, eh kebangun, trus haus. Ya udah Yati ke dapur ambil minum," jawab Yati.
Asep pun bangkit dari duduknya dan berkata," Ya udah, tidur lagi sana, biar besok bisa bantuin ibu masak, kasian kan ibu tiap hari bawain nasi buat bapak, kalo masak juga sendirian, Aa' khawatir takut ibu sakit. Oh iya, sikap ibu yang tadi jangan di ambil hatinya, lagian mending kamu breh jujur di awal, jadi orang tua gak kepikiran. Urusan kamu teh urusan mereka juga, baiknya kamu jangan egois."
"Egois gimana atuh Aa'? Yati tadi belum. Sempet jawab, tapi ibunudah marah marah sama Yati, Yati gugup pisan tadi pas di tanya ibu, apa lagi si depan bapak juga. Yati juga sebenarnya takut ibu sakit dan juga Yati takut kalo bapak marah. Yati gak selingkuh Aa', Yati cuman kenalan aja waktu itu, waktu Yatim kabur dari rumah kang Bidin, itu juga teh gak sengaja bisa kenalan sama dia. Lah kang Ujang juga gak ngomong dulu sebelumnya kalo mau dateng ngelamar, Yati sama dia si kang Ujang gak ada apa-apa Aa'. Cuman temenan wae, beneran. Mungkin kang Ujangnya aja kali yang suka sama Yati trus langsung ke sini, nemuin bapak sama ibu," kata Yati menerangkan panjang lebar.
"Ya udah, tidur dulu ajah, mending besok ngomong terus terang sama Ibu, biar dia juga gak kepikiran sama urusan kamu, ngomong baik-baik, dan minta maap dulu sebelumnya, jangan asal ngerocos," sahut Asep.
Yati pun mendengarkan dengan seksama dan mengangguk pelan.
Asep lalu keluar dari kamar Yati, dia melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Di saat dia melangkahkan kakinya ke arah kamarnya, Asep melewati kamar bapak dan ibunya. Tidak sengaja, dia mengdengar percakapan antara bapak dan ibunya.
"Kok Ibu gak suka ya sama si Ujang itu, ngeliatnya aja teu bagja, Kuring henteu weruh naha éta," kata Ratmi.
"Ibu gak boleh begitu, gak boleh sangka buruk sama orang. Lagian kita juga belum kenal siapa dia, walau pun dia udah perkenalkan diri, tetep kita harus cari tau dulu siapa si Ujang itu," sahutang Ibing.
Mendengar percakapan bapak dan ibunya, Asep hanya mengangguk anggukan kepalanya.
Asep lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Asep berpikir,
"Duh, lupa lagi, tadi gak tanya ke Yati, "dia Terima gak lamaran si Ujang itu? Tapi... Dari ucapan Yati tadi sepertinya Yati tidak ada perasaan apa-apa sama Ujang, eh gak tau juga ya, vhatikan siapa yang tau? Sama kang Bidin aja yang jelas-jelas dia suka, dia malah minta cerai, gimana sama yang ini?"