
Yati sedang menjalani masa iddahnya, terasa membosannya baginya. Aktifitas hanya bisa di lakukannya di dalam rumah.
Yati melihat ke jendela yang tembus ke luar. Banyak orang-orang beraktifitas di luar, membuat Yati bertambah bosan di dalam rumah.
Tapi bagaimana pun rasa bosan itu ada, Yati harus menjalaninya. Karena itu adalah keputusan yang dia ambil sendiri. Rasa bosan yang harus dia tanggung.
Jika dia tidak menjalankannya, mang Ibing akan marah besar padanya. Dan juga untuk menghindari segala fitnah yang ada, dengan terpaksa Yati menjalani masa iddah itu.
"Lagian inginkan keputusan kamu, kemauan kamu yang minta cerai, ya begini setelah cerai, harus menjalani masa iddah.. Emang kamu pikir setelah cerai, kamu bisa langsung bebas? Bebas pergi kemana-mana? Enak aja, kamu pikir kamu itu binatang?" kata Ratmi pada Yati.
Saat itu Yati sedang berdiri di depan jendela ruang tengah. Pandangannya mengarah ke luar.
Ratmi berkata seperti itu karena Ratmi tahu apa yang Yati rasakan. Dia ingin bercerai dari Bidin karena ingin bebas bergaul.
Yati terdiam membisu. Pandangannya kosong menatap jendela ruang tengah.
Ratmi pun meninggalkannya ke dapur, dia hendak memasak.
Saat itu, Asep dan Usep masih berada di sekolah. Sedangkan mang Ibing berada di ladang.
Seperti biasa, selesai memasak, Ratmi membawakan makan siang untuk mang Ibing yang sedang bekerja di ladang.
Sebelum berangkat ke ladang, Ratmi menyusun makan siang yang akan di bawa nya untuk mang Ibing. Dia menatanya meja makan.
Ratmi mengeluarkan rantang, di isinya berbagai macam makanan, seperti nasi sayur dan lauk pauknya.
Ratmi membawakan makan siang itu untuk dua porsi.
Ternyata Ratminingin menemaniang Ibing makan di ladang.
Tidak lupa dia menyusun makanan di meja makan, agar ketika nanti Asep dan Usep sepulang sekolah, makanan sudah tersedia.
Ratmi kembali ke dapur, tetapi sebelumnya, dia msnokeh ke arah ruang tengah, di mana Yati berada.
Ya, Yati tengah duduk di ruang tengah sambil. Memandang ke arah jendela.
Jendela ruang tengah tidak berkaca, hanya berjeruji besi, karena itu untuk memandang ke luar tidak terhalang oleh kaca.
Yati melihat orang berlalu lalang dengan aktifitas masing-masing.
Ratmi memanggilnya dengan yang keras,
"Yatiiiiii!" Yati menoleh, dia bangkit dari duduknya dan mencari sumber suara. Dan Yati mendapati sangat ibu tengah sibuk mempersiapkan makan siang si atas meja.
Mata Yati tertuju pada sebuah rantang, Yati ingat, saat dulu sebelum dia menikah dengan Bidin, Yatilah yang mendapat tugas dari Ratmi mengantar makanan ke ladang untuk bapak.
__ADS_1
Jika dia tidak di antar Asep, Yati akan berjalan kaki, jarak yang lumayan jauh yang harus dia tempuh dengan berjalan kaki.
Kini, tugas itu telah digantikan oleh sang ibu, Ratmi.
Ratmilah yang mengantikan tugas Yati. Dia akan mengantarkan makanan itu untuk suaminya ke ladang dengan berjalan kaki.
Dan ketika Yati melihat ke arah rantang, timbul pertanyaan di benaknya, lalu dia lontarkan pada sang ibu, "Bu, makanan untuk bapak, apa Yati yang akan ibu suruh mengantarnya?"
Ratmi menoleh ke arah Yati dengan pandangan sinis. Sambil mengernyitkan keningnya, Ratmi berkata dengan nada di tekan,
"Apa? Kamu yang bawakan makanan ini ke ladang? Pakai otak mu Yatiiii! Gak mungkin Ibu menyuruhmu ke ladang, untuk apa? Kamu itu tidak boleh keluar rumah sampai waktu yang di tentukan, dan kamu harus menjalaninya. Jangan remehkan aturan agama Yat, biar gak timbul fitnah. Ingat, kamu tiu tinggal bersama kami, jika kamu melanggat, yang kena fitnah bukan kamu aja, tetapi bakal selalu isi rumah ini yang bakal kena!"
Yati terdiam, wajahnya terlihat murung.
"Kamu tau Yat, di awal kamu bercerai dengan Bidin, semua kena dampak sosialnya! Ibu, bapak, Asep, bahkan Usep. Kamu karena gak punya otak, jadi gak mikirin dampak buruknya, susah memang kalo ngomong sama otak kerdil!" maki Ratmi.
Memang Ratmi sangat kesal dengan Yati, karena tingkah lakunya yang benar-benar semaunya.
Menurut Ratmi, sifat anak perempuan satu-aatunya itu sangat egois, dan benar-benar sangat egois.
Dia hanya memikirkan dirinya sendiri, hanya memikirkan egonya dan ambisinya tanpa berpikir apa dampak negatif dari apa yang akan dia lakukan.
Ratmi sungguh sangat kesal dengan sifat dan tingkah laku Yati.
"Entahlah Yat, kamu itu nurunin sifat siapa, yang jelas sifat ibu gak kaya gitu, dan ibu gak beda-bedain cara mendidik anak-anak Ibu, semua ibu perlakukan sama, tapi entah kenapa sifat kamu buruk sekali," maki Ratmi.
Setelah membereskan rantang yang akan di bawanya, Ratmi bergegas ke kamar, untuk mengganti pakaiannya.
Dia melangkah menuju ruang kamar tanpa berkata-kata pada Yati.
Seolah-olah Yati tidak ada di hadapannya.
Yati pun menggerutu, "Ih Ibu, Yati cuman mau bantuin aja malah ceramah panjang lebar!"
Yach, begitulah sifat Yati. Sang ibu sudah bicara panjang lebar malah menggerutu. Ucapan ibunya bukan di jadikan renungan untuknya, tetapi malah sebaliknya, Yati tipe perempuan yang tidak suka di nasehati, sifatnya sangat berbeda dengan kakak dan adiknya.
Asep dan Usep adalah anak-anak Ratmi dan mang Ibing yang rajin dan bertanggung jawab. Merek pun senang bersekolah dan bermain hanya sekedarnya.
Sangat berbeda dengan Yati, yang menjadi anak perempuan satu-satunya.
Dia pemalas dan semuanya. Apa pun keinginannya akan dia lakukan sesuai dengan kemauannya.
Ratmi pun telah selesai menata makanan.
Ratmi kembali memanggil anaknya dengan berteriak,
__ADS_1
"Yatiiiii, Ibubmau ke ladang dulu, tolong jaga rumah ya. Liatin makanan yang si meja makan, ibu udah tutup dengan tutup saji, takut kucing masuk!"
Suara Ratmi tidak di gubris oleh Yati. Dia hanya duduk di ruang tengah dan melamun.
Setelah Ratmi kergi, Yati melongok kan kepalanya ke arah pintu depan. Kepergian Ratmi di awasi oleh Yati.
Setelah kepergian Ratmi hilang dari pandangannya, Yati menoleh ke arah jam dinding.
Waktu saat itu telah menunjukkan pukul 11.30 siang, sebentar lagi Asep dan Usep pulang dari sekolah.
Yati beranjak dari duduknya, dan melangkah keb ruang meja makan. Yati melihat makanan yang telah di tutup oleh tutup saji.
Yati membukanya dan memperhatikan makanan yang ada, lalu menutupnya kembali.
Yati melangkah ke arah dapur. Sesampainya di dapur, dia memeriksa pintu dapur buang masih terbuka. Lalu Yati menguncinya dari dalam.
Kemudian dia berjalan ke arah kamarnya dan masuk.
Yatim membuka pintu lemarinya, dia mulai memilih baju.
Seketika ada sesuatu di pikiran Yati.
Saat itu Yati mempercepat gerakannya, dia segera mengganti pakaiannya.
Setelah mengganti pakaiannya, Yati berkaca, dia melihat penampilannya di cermin sambil membolak balikkan tubuhnya ke kanan dan kiri.
Setelah merasa penampilannya sudah rapi, Yati pun bergegas keluar dari kamar dan mengunci pintu kamarnya.
Ya, Yati dapat mengunci pintu kamarnya, setelah kemarin mang Ibing memperbaikinya.
Setelah menguncinya, mata Yati kembali melihat jam yang menempel di dinding.
"Wah, jam duabelas kurang, sebentar lagi Asep dan Usep pulangĀ bagaimana ini?" gumamnya dalam hati.
Lalu Yati berjalan ke arah ruang tamu, dia segera menutup rapat pintu depan.
Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke belakang rumah.
Yati pun membuka pintu belakang, kepalanya di longokkan, dia menoleh ke kanan dan kiri.
Lalu Yati pun kabur melalui pintu belakang.
Tidak lama beberapa saat kemudian, Asep pun pulang. Asep masuk ke rumah melalui pintu depan.
"Assalamu'alaikum," sapa Asep. Asep pun tidak tahu jika rumahnya dalam keadaan kosong.
__ADS_1