Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Tenang bersama Arum.


__ADS_3

Bidin menoleh ke samping, dia melihat tangan Arum masih berapa di pundaknya.


"Maaf Rum, jangan begini, gak baik di liat orang," kata Bidin, sambil menampik tangan Arum yang masih berada di pundaknya.


Wajah Arum pun nampak kecut, Arum merasa keberadaan dirinya mendapatkan penolakan.


Tiba-tiba saja Arum berdiri dan berkata,


"Ya udah, kalo Akang merasa terganggu sama Arum, Arum pulang aja, maapin Arum Kang," kata Arum, sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Bidin.


Tetapi ketika Arum hendak membalikkan tubuhnya dan hendak meninggalkan Bidin, segera Bidin menarik tangan Arum.


Arum pun terkejut saat Bidin menarik tangannya. Seketika saat itu juga Arum menoleh.


Bidin pun berkata ketika Arum menoleh ke arahnya, "Tunggu Rum!"


Arum menghentikan langkahnya. Dia terdiam sesaat.


"Duduk sini," ajak Bidin.


Arum terdiam, dia menatap ke arah wajah Bidin.


Melihat pandangan mata Arum, Bidin pun menjadi tidak enak. Bidin pun berkata, "Maapin saya Rum, saya gak bermaksud menolak kehadiran kamu, ayo duduk sini."


Akhirnya Arum pun mengikuti ajakan Bidin. Arum duduk kembali di teras.


Arum mulai bicara,


"Arum cuman khawatir dengan keadaan Akang, Arum liat sepertinya Akang sedang riweh, mungkin dengan Akang bercerita pada Arum, bisa mengurangi perasaan yang gak enak saat ini, hanya itu Kang. Arum gak bermaksud macam-macam."


Bidin menoleh ke arah Arum, dan Arum menundukkan kepalanya.


"Iya, maapin Akang ya, mungkin tadi Akang udah bersikap kasar. Tapi Akang gak ada maksud masar sama Arum, hati Akang aja yang gak enak, sekali lagi, Akang minta maap," sahut Bidin.


"Sebenarnya ada apa Kang? Kenapa Akang di luar sendirian? Yati mana?" tanya Arum penuh selidik.


Bidin menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Yati minta cerai dari Akang, Rum. Sekarang ini, Yati telah minggat. Gak tau sekarang ini dia ada di mana. Tadi Akang sudah mencari di rumah bapak dan ibunya, ternyata dia gak ada di sana," kata Bidin bercerita.


Arum terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh Bidin.


Perasaan Arum saat mendengarkan berita yang di sampaikan oleh Bidin, antara sedih dan senang.


Sesi hn karena melihat Bidin yang merasa sangat kehilangan, tetapi ada rasa senang yang Arum rasakan dalam hatinya.


Senang jika Yati meninggalkan Bidin, agar kedudukan Yati bisa dia gantikan kelak.


Tapi saat itu, malam itu, Arum harus bersikap bijaksana, seolah-olah dia pun ikut sedih atas penderitaan Bidin.


"Yang sabar ya Kang, semua mungkin ujian rumah tangga. Lagian, Akang harus lebih mengerti akan sifat Yati, Yati itu kan masih anak-anak, masih maunya main, harusnya Akang bisa lebih mengerti, bisa lebih membimbing, mengayomi, bukan menghakimi," sahut Arum.


"Akang sudah berusaha bijaksana sama Yati, Rum. Akang kasih dia kalo mau main, bahkan Akang ngelarang dia kalo main ajak anak-anak, biar dia main gak terbebani, semua urusan rumah bangga, Akang yang ngerjain, dia cuman nemenin anak-anak aja,enenin Mawar dan Melati, itu aja, dan selebihnya, Akang juga berusaha bersikap lembut padanya," tutur Bidin.


Arum terdiam.


"Iya Kang, Arum percaya kok, mungkin Yati nya aja yang masih ingin bebas, karena masih banyak teman-temannya yang amaih sendiri. Mungkin di antara mereka susah ada yang pernah menikah, tapinya itu, mereka masih saja bebas, masih saja main sana, main sini, mungkin Yati ingin seperti mereka," kata Arum.

__ADS_1


Malam itu, Arum berusaha memberikan perhatian untuk Bidin. Dan Bidin pun merasa nyaman bercerita segala keluh kesahnya tentang Yati pada Arum.


Ada perasaan lega setelah berbincang-bincang pada Arum.


Tidak terasa, waktu telah menunjukkan tengah malam.


"Rum, udah jam dua belas malam, sebaiknya kamu pulang," kata Bidin.


Arum terkejut dengan apa yang di sampaikan oleh Bidin, bahwa saat itu sudah tengah malam.


Suara jangkrik saling bersahut-sahutan.


Semakin malam udara semakin dingin, dan suara jangkrik pun terdengar semakin keras.


Bidin bangkit dari duduknya, begitu juga dengan Arum. Walau sebenarnya Arum sangat berat untuk meranjak dari tempat duduknya.


Hatinya sangat senang bisa menemani Bidin malam itu. Bahkan, jika dia tidak takut oleh emaknya, dia akan dengan rela menemani Bidin sampai pagi.


"Pulanglah Rum, makasih ya, kamu udah nemenin Akang," kata Bidin.


Arum tersenyum, senyuman Arum adalah senyum kebahagiaan, karena dia merasa menang, merasa bisa mengisi waktunya bersama Bidin.


"Arum pamit Kang, Arum masuk dulu ke rumah," sahut Arum berpamitan.


Bidin membukakan pintu pagar rumahnya.


Arum pun keluar dan pulang.


Sesampainya di depan rumahnya, Arum masuk dengan mengendap-endap m dia takut Ima terbangun karena ulahnya.


Bidin sudah tidak terlihat di sana.


Ya, Arum memastikan bahwa Bidin telah masuk ke dalam rumahnya, dan Arum pun segera masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.


Ketika Arum membuka daun pintu terasa seperti ada yang menahannya.


Arum menekan daun pintu lebih kuat, dan akhirnya pintu pun bisa terbuka.


Betapa terkejutnya Arum saat itu.


Atum melihat Ima tengah berdiri di sana, dengan bertelak pinggang.


Ima sangat marah dengan kelakuan Atum malam itu.


Arum pun berteriak, "Emaaak! Arum pikir siapa, bikin kaget aja."


"Eh, harusnya Emak yang marah sama kamu, Arum! Emak gak suka sama kelakuan kamu malam ini, tingkahmu seperti perempuan murahan!" bentak Ima.


Atum terkejut, sangat terkejut mendengar ucapan Ima. Selama ini, Ima tidak pernah marah semarah malam itu. Ima tidak pernah membentak Arum.


Tetapi malam itu  Ima sudah sangat geram.


Satu tamparan mendarat di pipi kanan Arum, "PLAAKK!!!"


Arum meringis kesakitan.


"Beraninya ya kamu keluar, beraninya kamu nemenin laki orang! Arum, sejak kapan kamu berani kaya gini! Emak marah sama kamu Arum! Mulai saat ini, jangan pernah kamu mengurusi urusan si Bidin! Kalo kamu masih saja peduli sama laki orang, Mak usir kamu dari rumah!" maki Ima.

__ADS_1


Arum menunduk sambil mengusap pipinya yang telah di tampar oleh emaknya.


Lalu Ima kembali membentak,


"Cepat masuk kamar kamu!"


Segera Arum melangkah masuk ke dalam kamarnya, sambil menangis dan meringis.


Setelah Arym masuk ke dalam kamarnya, Ima pun berdiam, berdiri mematung.


"Astaghfirullah," ucap Ima.


Kemudian Ima kembali berkata pada dirinya,


"Maapin Emak, Rum, Emak udah kasar sama Arum. Tapi Arum udah kelewat batas, Bidin itu suami orang, Mak tau kamu suka sama dia, tapi sekarang dia itu udah jadi suami orang, jangan cari peratian dari dia, ya Alloh, maapin  udah kasar sama anak sendiri, maapin ya Alloh."


Tidak terasa, Ima meneteskan kan air matanya, dia sangat sedih, bukan hanya karena menyesali sikapnya yang telah kasar pada putrinya, tetapi merasa sedih lantaran Arum masih saja menyimpan cinta pada Bidin.


Ya, Ima sangat tahu betul, bahwa putrinya sangat mencintai Bidin.


Sebelum Bidin menikah dengan Rima, Arum telah jatuh cinta.


Tapi sayangnya, Bidin hanya menganggapnya sebagai teman.


Hingga sampai Rima wafat  Arum masih menyimpan perasaan pada Bidin.


Bahkan, ada seseorang yang hendak melamar Arum kala itu, tetapi Arum menolak, dengan alasan bahwa dia tidak mencintai laki-laki itu.


Ima duduk di kursi ruang tengah, kemudian dia melangkah menuju jendela.


Ya, dia sempat melihat Arum dan Bidin dari balik jendela itu.


Arum terlihat bahagia saat berbincang-bincang dengan Bidin.


Ima melihat raut wajah anaknya yang begitu senang.


Ima sangat menyesali keadaan itu.


Sedangkan Bidin, sudah berada di kamarnya. Dia mulai merebahkan tubuhnya.


Bidin memikirkan untuk esok hari, dan sepertinya dia harus menitipkan Mawar dan Melati pada Arum, agar dia bisanpeeginke sekolah untuk mengajar.


Bidin menatap langit-langit kamarnya, secara tidak sadar, dia telah membandingkan Yati dengan Arum.


Bidin memejamkan kedua matanya, ada Yati dan Arum di sana.


Tiba-tiba Bidin pun tersadar, lalu dia bangun dan duduk.


"Astaghfirullah, mengapa saya membandingkan mereka berdua? Tidak! Yati adalah istri ku, dia tidak boleh di banding-bandingkan dengan perempuan lain!" gumamnya pelan.


Bidin pengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Tetapi tetap saja, pikirannya melayang pada Arum.


Ya, Bidin menemukan ketenangan saat berbincang-bincang dengan Arum.


Tetapi Bidin berusaha untuk menampiknya.

__ADS_1


__ADS_2