Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Acep mengetahui trik Arum.


__ADS_3

"Tidak, kamu tidak boleh ikut pulang ke rumah bapak, kamu disini aja," kata Asep sambil berlalu.


Yati pun berteriak memanggil sang kakak,


"Aa', Yati ikut Aa' aja, Yati gak mau di sini!"


Segera Bidin menarik tangan Yati dan memeluknya.


"Jangan pergi Yat, tolong jangan pergi! Tetap di sini saja sama Akang, Akang sayang sama Yati," kata Bidin.


Yati pun berusaha untuk memberontak. Tetapi lilitan tangan Bidin terlalu kuat untuk di lepaskan Yati, tenaga Yati pun terkuras.


Yati hanya bisa menangis sesegukan. Sedangkan Arum masih berada di sana. Dia menyaksikan semuanya.


Dia melihat bahwa Bidin sangat mencintai Yati, Bidin begitu sangat menyayangi Yati.


"Tapi kamu gak pantas Yat jadi istri kang Bidin! Kamu gak pantas! Kamu gak bisa jadi istri buang baik untuk kang Bidin, terutama dalam mengurus anak-anak kang Bidin! Sungguh kamu benar-benar gak pantas!"


maki Arum dalam hati.


Arum begitu sangat membenci Yati. Bahkan Arum sampai mengutuk Yati di dalam hatinya,


"Aku gak akan tinggal diam. Aku akan terus mengganggu rumah tangga kalian, agar kalian benar-benar pisah! Kamu gak layak jadi istri Bidin, Yati! Tapi aku lah yang pantas jadi istrinya, aku mampu menjadi istri yang baik untuk Bidin dan jadi ibu yang baik untuk Mawar dan Melati! Liat saja nanti, aku akan terus mengganggu kalian! Dan akan ku buktikan kalau aku lebih pantas untuk kang Bidin, ketimbang kamu, Yati!"


Karena terlalu lama Arum berdiri di depan mereka, akhirnya Arum pamit undur diri,


"Arum pamit dulu Kang, gak enak kelamaan di sini."


Bidin tidak menjawab, dia hanya memandang ke arah Arum, sementara Yati masih berada di pelukan Bidin.


Arum pun keluar dari rumah Bidin, hatinya masih saja menggerutu,


"Sial! Aku hanya jadi penonton mereka saja! Dasar kang Bidin buta! Istri kaya gitu masih aja di pertahanin, mending di pulangin aja ke emak bapaknya!"

__ADS_1


Ima yang sedang merajut berada di ruang tengah, mendengar ocehan anak semata wayangnya, yang telah menjadi perawan tua di kampung itu menegurnya,


"Ada apa sih Rum, kenapa kamu ngedumel sendirian kaya gitu? Eh Neng, kenapa lama pisan sih di rumah kang Bidin? Kamu ngapain aja?"


Arum berjalan mendekat pada Ima dan dia mulai bercerita,


Mak tau gak, itu tuh istrinya kang Bidin pergi ninggalin anak-anak begitu aja! Kasian deh Mak, mereka nangis nyariin dia, untung Arum dateng, diem deh mereka. Arum mandiin mereka, kasi makan mereka,  pokoknya kasian deh mereka Mak."


Ima meletakkan hasil rajutannya di atas meja. Dia mengambil peralatan sirihnya dan mulai meraciknya.


Sambil kedua tangannya meracik sirih, Ima bertanya,


"Kamu teh boleh-boleh aja membantu mereka, tetapi kamu juga harus tau batasannya. Kenapa teh kamu berlama lama di sana? Kan Bapaknya udah pulang dari tempatnya mengajar, kenapa juga kamu gak langsung pulang?"


Arum pun kembali berdalih,


"Ya ampun Maaak, Arum teh udah deket pisan sama anak- anak kang Bidin, gak enak atuh kalo Arum ninggalin mereka begitu aja, lagian Arum ini kaya emak tirinya, bisa-bisanya tuh si Yati ninggalin anak-anak begitu aja, belum pada mandi, makan, coba deh Emak banyangin, gimana nasib mereka kalo Arum tadi gak langsung dateng! Bisa langsung kelenger anak-anak mah, belum mandi  belum makan, kasihan atuh Mak!"


Ima hanya terdiam mendengarkan celotehan anak semata wayangnya yang telah menjadi oerawan tua di kampung itu.


Sebagai tetangga, Ima sangat kenal dengan Bidin, laki-laki sholeh, lembut, baik, bahkan banyak yang menyukai Bidin di kampung itu, tetapi Ima sadar, bagaimana sifat Arum, jadi Ima tidak pernah mengolok atau mendekatkan Bidin pada Arum.


Sementara di rumah Bidin, mereka masih bersitegang antara Bidin dan Yati.


"Yati mau kita pisah aja Kang, Yati cape jalanin rumah tangga. Yati harus ngurus anak-anak, harus diam di rumah, Yati mau bebas Kang!" teriak Yati.


Saat itu Bidin sudah melepaskan pelukannya dari tubuh Yati. Bidin duduk di kursi makan, sedangkan anak-anak berada di ruang samping sambil menonton TV.


Jadi keributan mereka tidak langsung terdengar oleh anak-anak.


"Yati, tolong mengerti lah, kamu itu sudah jadi istri Akang, Akang yakin kamu bisa jadi istri yang baik buat akang, bisa jadi ibu yang baik untuk Mawar dan Melati, mengertilah tugas istri harus bagaimana. Akang juga gak mengekang Yati jika mau main, Akang gak pernah ngelarang, tapi kenapa Yati malah merasa terkekang oleh Akang? Akang gak ngerti! Apa ada orang yang menjelek-jelekkan tentang Akang ke kamu?" tanya Bidin.


Yati menoleh ke arah Bidin.

__ADS_1


"Yati benci sama sikap Akang, lebih percaya sama orang lain ketimbang Yati, katanya sayang, tapi gak percaya sama Yati!" bentak Yati pada Bidin.


Mata Bidin terbelalak mendengar penuturan Yati.


"Akang percaya siapa Yati?" tanya Bidin.


Bidin dibuat bingung oleh tingkah Yati.


"Akang lebih percaya sama omongan teh Arum ketimbang Yati, kalo Akang lebih suka sama teh Arum, kenapa Akang gak nikahin dia aja? Kenapa Akang malah nikahin Yati, sampai Akang pake bujuk Bapak dan Ibu Yati segala!" maki Yati.


Bidin pun bertambah kesal dengan sikap Yati yang ke kanak-kanakan. Bidin beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Yati.


Bidin langsung memeluk Yati, memeluk dengan penuh kasih sayang. Membelainya dan mengecup kening Yati.


"Kamu salah Yat, semua prasangkamu salah tentang Akang. Akang sangat mencintai kamu. Gak ada sedikit oun perasaan suka Akang apalagi sayang pada Arum, sedikit pun gak ada Yat," bisik Bidin tepat di telinga Yati.


Karena dekapan tangan Bidin begitu kuat, Yati pun tidak dapat menghindar dari pelukan Bidin.


Padahal dalam hati Yati, dia merasa sangat muak pada suaminya, sangat bosan, bahkan Yati ingin sekali minggat dari rumah Bidin.


Merasa Yati tidak memberontak kali ini, Bidin pun melepaskan tubuh Yati dari pelukannya, dan menarik tangan Yati secara pelan, untuk di ajak ke kamarnya.


Tetapi segera Yati menepis tangan Bidin.


"Ngapain Akang natikbtangan Yati, Yati gak mau!" bentak Yati.


Wajah Bidin memerah seketika. Ternyata anggapannya barusan salah. yati masih sangat marah pada dirinya. Tetapi Bidin tidak kehilangan akal.


Dia berusaha mengajak Yati untuk tetap ke kamar, tetapi lagi-lagi, tangan Bidin di tepisnya.


Bahkan kali ini, tepisan tangan Yati begitu kuat, hingga tangan Bidin terasa sakit.


Sontak saja Bidin pun membentaknya,

__ADS_1


"Yati! Salah Akang apa? Apa yang membuat kamu jadi seperti ini?"


__ADS_2