Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Kesialan bagi Ujang.


__ADS_3

Sementara, Ujang masih berada di tepi jalan sendirian.


"Sial saya mah, bener-bener sial, kumaha atuh ini? Masa saya harus balik lagi ke saung? Malahan makanannya gelap, masa saya harus jalan sambil ngeraba-raba lagi? Malahan sendal saya di pake Yati, aduuuuh bener-bener sial! Selalu saja gak pernah untung ke temu Yati, ujung-ujungnya malah buntung!" gerutu Ujang.


Dengan terpaksa Ujang kembali lagi ke saung untuk mengambil kunci motornya yang tertinggal.


Pelan-pelan sambil kakinya meraba, Uanng kembali berjalan di atas pematang sawah menuju saung. Benar-benar sangat berat perjuangan Ujang kala itu.


Bagaimana tidak? Saat itu waktu telah masuk malam, dan tidak ada cahaya pun yang membantu menyinarinya.


Hanya berharap dengan cahaya bulan saat itu, sedangkan cahaya bulan tidak seterang sinar matahari, sangat sulit Ujang berjalan di pematang sawah dan keadaan gelap dan tidak memakai sendal.


Sedangkan keadaan pematang sawah sangat licin.


Ujang sangat berhati-hati dalam melangkah. Lama Ujang harus berjalan di pematang sawah, karena jarak antara tepi jalan ke saung sekitar seratus meter.


Dan akhirnya, Ujang pun sampai juga di saung, dan naik ke atas saung. Dia mencari kunci motornya yang tertinggal.


Dan benar saja, kunci motor Ujang ada di sana.


"Ini dia. Aduuuh cape banget jadinya kerja dua kali. Sial banget saya hari ini, dada saya sakit ngatur napas," gerutu Ujang.


Ujang pun beristirahat sejenak di saung, dia duduk di sisi saung dan menyenderkan tubuhnya di sebuah tiang. Serta kedua kakinya di luruskan.


Seketika pandangannya lurus ke depan dan pikirannya kembali pada Yati.


Bayangan Yati menari-nari di pikiran Ujang, dan membuat Ujang tersenyum sendirian.


"Ah, kamu Yat, menggoda saya aja, tapi kenapa setiap kali saya bertemu denganmu nasib saya selalu sial? Pokoknya, saya harus mendapatkan kamu, Yati! Kamu harus jadi istri saya, bagaimana pun caranya! Saya sudah terlanjur jatuh cinta, apa lagi wajah kamu yang aduhai." Ujang terus mengoceh sendirian.


Ujang pun tersadar, jika saat itu dia sudah terlalu lama beristirahat.


"Waduh, jam berapa ini? Bila-bila orang rumah ngamuk!"


Ujang pun beranjak dari saung. Dia mulai kembali berjalan si atas pematang sawah yang gelap dan licin.


Hanya suara jangkrik yang menemani perjalanannya saat itu.


Dan tiba-tiba saja, Ujang terpeleset karena kurangnya kehati-hatian, membuat Ujang terjatuh, dan terperosok ke dalam lumpur.


"GUBRAKKK!!!"


"Aduuuuh, sakiiiiiit!!!" pekik Ujang.


Ujang pun duduk di pematang sawah, karena sudah terlalu lelah menahan bobot tubuhnya.


Sebenarnya tubuh Ujang sangat sintal, tinggi dan berbadan tegap. Tetapi karena saat itu keadaan tubuhnya sangat lelah, hingga akhirnya ketika dia teperosok,  begitu berat dia bangkit dan akhirnya Ujang pun duduk di pematang sawah.

__ADS_1


Saat itu keadaannya sangat kotor, kaki dan tangannya, bahkan pakaiannya pun kotor karena lumpur dan tanah merah.


Beberapa saat Ujang terdiam, dan mengatur napasnya.


Lalu dia pun kembali bangkit, dan melanjutkan langkahnya ke tepi jalan dengan perlahan-lahan.


Akhirnya sampai juga Ujang di tepi jalan. Dia mulai menyalakan mesin motornya, ya, motor Ujang adalah motor keliaran baru dan masih terlihat keren.


Ujang pun pulang ke rumahnya yang terletak di kampung sebelah dengan sisa tenaganya.


*****


Akhirnya resmi juga Yati dan Bidin bercerai. Gosip-gosip tetangga pun mulai betebaran di kampung itu, hingga sampailah kabar itu ke telinga Arum. Bahkan, sampai juga kabr iru pada para teman-teman Yati, termasuk dan kawan-kawan.


"Hah? Yati cerai sama kang Bidin? Kok bisa Teh?" tanya Asih pada Arum.


"Ya bisa, Orang Yati masih ingin main kaya kamu," cetus Arum.


Tiba-tiba wajah Asih pucat pasi.


Ya, Asih di antaranya yang tidak menginginkan Yati menikah saat awal Yati di lamar Bidin.


Asih tertegun karena tidak percaya dengan kabar itu. Dia sangat menyayangkan jika memang benar Yati dan Bidin bercerai.


Karena di mata Asih, Yati sanagt beruntung memiliki suami seperti Bidin.


Bukan hanya tampan, tetapi juga sholeh.


Asih termasuk salah satu yang mengagumi Bidin.


Asih terdiam, membayangkan betapa sedihnya Bidin berpisah dari Yati, karena Asih tahu benar bahwa Bidin sangat mencintai Yati.


"Udah ah, Teteh pulang dulu, mau beresin rumah. Kali aja nanti Kang Bidin mau nitipin anak-anaknya lagi ke Teteh," kata Arum.


Mereka pun berpisah di persimpangan jalan.


Saat itu Arum berpapasan dengan Asih, kala Arum hendak pulang dari pasar.


Setelah itu, Arum pun pulang ke rumahnya melewati pekarangan rumah Bidin.


Arum terlihat celingak celinguk, melihat ke adaan rumah Bidin.


Tetapi keadaan rumah Bidin terlihat sepi senyap, tidak ada suara anak-anak, bahkan terlihat semua pintu dan jendela tertutup rapat.


Arum pun akhirnya masuk ke dalam rumahnya.


Dia meletakkan belanjaan sayuran di atas meja ruang tamu.

__ADS_1


Melihat hal itu, Ima berteriak,


"Aruuuum, bawa ke dapur!"


Mendengar namanya di panggil, Arum pun terkejut, sambil mengelus dada,


"Ya ampun Maaaak, kaget Arum teh, kenapa pake teriak sih Mak?" sahut Arum.


Ngapain mata kamu jelalatan kaya gitu? Nyariin Bidin? Bidin gak ada!" bentak Ima, sambil mengunyah sirihnya.


Ima berjalan ke arah depan rumah, dia duduk di bale bambu dengan membawa semua peralatan sirihnya.


Arum pun ke dapur untuk menyimpan belanjaan sayurannya.


Setelah itu, dia menyusul Ima ke depan.


Melihat Arum ikut duduk di bale, Ima pun marah,


"Ngapain kamu di sini? Cepat sana ke dapur, masak cepetan!"


"Iiiih Maaak, ngapain buru-buru sih, masih pagi juga kok, gak boleh banget Arum santai sebentar. Cape tau Mak, jalan kaki ke pasar bolak-balik. Mak mah enak, tinggal nyuruh-nyuruh," kata Arum berkelit.


"Emangnya tumben kamu jalan kaki ke pasar? Baru sekarang ngeluh cape! Udah, cepet sana!" perintah Ima.


Arum tidkanjuga beranjak. Dia malah mendekat dan bertanya,


"Eh Mak, kok rumahnya Kang Bidin sepi ya? Trus kok pintu dan jendelanya tertutup rapat? Apa kang Bidin pergi, Mak?" tanya Arum berbisik, tetapi matanya mengarah ke arah rumah Bidin.


Sebenarnya Ima mengetahui jika Bidin dan anak-anaknya pergi. Karena sebelum pergi, Bidin menemuinya saat Arum pergi ke pasar.


"Mak, saya titip rumah nyak, saya mau ke rumah emak bapak saya di kampung sebelah, mungkin saya di sana beberapa hari," kata Bidin pada Ima.


"Iya Nak Bidin, Hati-hati di jalan, salam buat emak bapakmu ya," sahut Ima.


Ima melihat raut wajah Bidin yang tidak biasa.


Sengaja Ima tidak menanyakan lebih jauh, karena Ima melihat Bidin sedikit terburu-buru, dan juga khawatir jika akan memakan waktu jika saat itu banyak berbincang-bincang.


Dan Bidin pun menitipkan kunci rumah pada Ima.


"Saya nitip kunci rumah ya Mak, takut ada apa-apa saat saya gak sda di rumah," pinta Bidin.


Ima pun menanggapi kunci yang si berikan oleh Bidin, dan menyimpannya ke dalam bajunya.


Seperti pada jamannya, jika perempuan yang sudah sepuh, biasanya memakai pakaian dalam berupa kemben, dan di kemben itu terdapat kantong kecil.


Di sanakah Ima menyimpan kunci rumah Bidin.

__ADS_1


__ADS_2