
"Asal kamu dari mana Nak? Siapa namanya?" tanya mang Ibing.
"Asal Saya dari kampung sebelah Pak, di antara kampung di sana, kampung saya yang paling ujung," jawab Ujang, sambil merapikan rambutnya dengan telapak tangannya.
"Maaf, kalo boleh Saya tau, kamu ini kok bisa kenal dengan anak saya? Asal usulnya bagaimana bisa kenal dengan Yati? Maap ya Nak Ujang, karena anak saya ini kan janda, dan baru banget bercerai, jadi saya ingin tahu, kapan kalian berkenalan?" tanya mang Ibing.
Ujang terdiam sesaat, dia mulai mengatur kata.
"Saya juga lupa kapan saya berkenalannya Pak, tapi di awal saya berkenalan, saya memang sudah mulai tertarik pada Yati, dan kebetulan sekarang saya berhadapan langsung pada Bapak, maap jika saya kurang sopan menyampaikan ini," jawab Ujang.
"Yach, memang kayanya akan ke arah ke sana, udah jelas keliatan," gumam mang Ibing dalam hati.
"Jika Bapak berkenan, izinkan saya dan keluarga saya ke sini Pak, untuk melamar Yati, tapi saya juga belum tahu kapan waktu nya, yang penting, Bapak sudah mengizinkan, manyun jika waktunya tiba, akan saya beritahu waktunya Pak," jawab Ujang.
Mang Ibing mengangguk anggukan kepalanya.
"Ya, saya mengizinkan jika keluarga Nak Ujang akan datang, yang penting beritau kami jangan mendadak ya, lebih baik dari jauh jauh hari, biar kami lebih siap," kata mang Ibing.
Ujang tersenyum bahagian mendapatkan lampu hijau dari mang Ibing, calon mertuanya.
Terimakasih banyak Pak, atas restunya," kata Ujang, sambil meraih tangan mang Ibing, lalu menjabat nya dan mencium punggung tangan mang Ibing.
Tetapi mang Ibing tersenyum sinis, sedangkan senyum sinisnya tidak diketahui oleh Ujang.
Setelah mandi dan berpakaian, Ratmi keluar dari kamar. Dia mendengar suara orang sedang berbincang-bincang. Dan Ratmi pun melihat Yati, tengah duduk di ruang tamu, tepatnya di balik tirai.
"Kamu ngapain Yat di di situ?" tanya Ratmi.
Sikap Yati pun gugup mendengar pertanyaan dari ibunya, dia pun membetulkan letak duduknya sambil merapikan rambut panjangnya.
"Ah, enggak Bu, cuman duduk aja," jawab Yati.
Ratmi sedikit melongok kan kepalanya ke luar, lalu dia kembali bertanya pada Yati, "Ada tamu ya di luar?"
Yati tersenyum dan mengangguk. Dengan malu-malu dia njawabnya,
"Iya Bu, ada tamu."
__ADS_1
Ratmi mengernyitkan dahinya, lalu bertanya, "Kamu kenal tamunya?"
Sejenak Yati terdiam, kemudian dia tersenyum tipis dan mengangguk.
Ratmi mulai curiga dengan sikap Yati yang terlihat sedikit malu malu.
"Jangan-jangan, tamu yang datang itu adalah temannya yang datang bersma dia saat pulang, ehm, bisa jadi. Ah dasar Yati, Yati. Kenapa tingkahmu seperti ini? Segampang itu kamu kenal dengan laki-laki, yang gak jelas juntrungannya," gumam Ratmi dalam hati.
Ratmi melangkah keluar, dan ikut bergabung dengan mang Ibing dan Ujang. Lalu Ratmi menyapa mereka,
"Eh ada tamu." Ratmi pun duduk di antara mereka.
Ujang segera meraih tangan Ratmi dan menyalaminya. Lalu Ratmi bertanya,
"Namanya siapa Nak?"
"Ujang Bu, saya dari kampung sebelah, kampung ke tiga yang ada di bagian hilir," jawab Ujang.
Ratmi mengernyitkan dahinya dan sedikit berpikir. "Kampung ketiga yang ada si bagian hilir?" gumamnya dalam hati. "Bukankah kampung itu sangat terkenal dengan laki-laki yang beristri banyak? Laki-laki di sana kebanyakan memiliki istri lebih dari satu." Ratmi kembali bergumam dalam hatinya.
Rahmi memperhatikan Ujang, dari ujung rambut sampai ujung kaki, tubuh Ujang yang tinggi dan tegap, wajahnya yang lumayan tampan, Ratmi pun memperhatikannya dengan seksama.
"Bu, nanti Nak Ujang katanya mau datang lagi bersama keluarganya, sekarang dia memperkenalkan diri, dan mengutarakan niatnya terhadap Yati, anak kita. Barusan bapak juga sudah bilang padanya, bagaimana status Yati, dan sepertinya Nak Ujang tidak keberatan," kata mang Ibing.
Lalu tiba-tiba Ratmi melontarkan pertanyaan pada Ujang, "Dan Nak Ujang sendiri, apakah pernah menikah?"
Sontak saja Ujang pun terkejut mendengar pertanyaan dari Ratmi, Ujang tersedak saat menyeruput kopi hitamnya.
Maka, tumpahlah sebagian kopi. Pada bajunya, "Aduh, yaaah tumpah!"
Ujang langsung mengibaskan kopi yang tumpah di bajunya, lalu dia bangkit dan berdiri.
Ratmi pun mengambil lap bersih dan memberikannya pada Ujang, "Di lap aja Nak Ujang."
Ujang pun meraih lap bersih dari tangan Ratmi, lalu menggosok bajunya untuk membersihkan dari sisa tumpahan kopi.
"Lain kaliĀ hati-hati Nak Ujang kalo minum kopi panas, biar gak kena bajunya," kata Ratmi mengingatkan.
__ADS_1
Ujang pun tersenyum getir dan menganggukkan kepalanya sambil berkata, "Hehehe, iya Bu, saya ceroboh."
Waktu sudah semakin sore, dan beberapa saat kemudian, Ujang pun berpamitan untuk segera pulang,
"Mon maap Bapak, Ibu, Ujang pamit pulang dulu, takut kemaleman di jalan, gak enak, jalanan gelap."
"Ih iya, Nak Ujang, silakan," Sahut mang Ibing.
Ujang pun menyalami keduanya.
Sengaja mang Ibing tidak memanggil Yati, sedangkan Ujang berharap jika mang Ibing atau Ratmi memanggilnya.
Mata Ujang mulai bergerilya, sedangkan sikapnya terbaca oleh Ratmi.
"Nyari Yati ya? Yati lagi di dalam, mungkin lagi mandi, atau istirahat. Nak Ujang kalo mau pulang silakan aja, nanti ibu sampein salamnya," kata Ratmi.
Pengusiran, secara halus. Begitulah sikap ketidak sukaan Ratmi terhadap Ujang, dia tunjukkan secara halus. Tetapi sepertinya Ujang tidak memahaminya.
Tetapi mata Ujang masih saja menoleh ke arah dalam rumah.
Mang Ibing dan Ratmi saling menatap. Tetapi karena Ujang tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, Ujang pun segera pamit, dan menyalami mereka.
Sedangkan Yati, yang masih berapa di balik tirai, sikapnya masam, dan wajahnya di tekuk delapan.
Setelah Ujang pulang, Ratmi pun segera merapikan bale bambu, dan mengangkat gelas kopi yang Yati suguhkan untuk Ujang.
Ratmi pun masuk ke dalam, tanpa menoleh ke arah ruang tamu, di mana Yati berada di sana, tepatnya di balik tirai.
Sengaja Ratmi tidak menoleh ke arah Yati, karena Ratmi yakin jika pembicaraan mereka barusan di dengar oleh Yati, jadi menurut Ratmi, dia tidak perlu menjelaskan kembali.
Ratmi terus melangkahkan kakinya ke dapur, sedangkan mang Ibing pun bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumah, karena waktu sebentar lagi memasuki waktu maghrib.
Ternyata, kepulang Yati tadi sore di ketahui oleh Asep dan Usep. Usep tadi memperhatikan Ujang, dan menyampaikan apa yang dia ketahui pada Asep, kakaknya.
"A', kayanya Usep kenal sama laki-laki itu, Usep sering liat di ladang samping sekolah, dia bekerja di ladang samping sekolah," kata Usep.
"Oowh, masa sih Us, beneran kamu sering liat orang itu?" tanya Asep menekankan.
__ADS_1
"Iya A', dia mandor yang bekerja di ladang sebelah sekolah Usep, lagaknya petantang petenteng, banyak orang yang gak suka sama dia, tapi kok ngapain dia ke rumah kita? Apa Bapak atau Emak ada urusan masa orang itu?" tanya Usep.
"Aa' juga gak tau Us, tadi pas pulang main, udah ada di depan, di bale ngobrol sama Bapak, keliatannya akrab banget, mungkin emang teman Bapak kali, atau lagi ada urusan sama Bapak," sahut Asep.