Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Terjebak permainan Arum.


__ADS_3

Yati berdiri mematung, jari tangannya menempel di kedua bibirnya, sepertinya dia sedang berpikir.


"Ayo sana main, Yati. Ngapain kamu masih berdiri di situ? Ayo sok atuh, jangan pikirin Mawar sama Melati, mereka bisa nanti aku yang jagain," kata Arum berusaha meyakinkan.


Akhirnya Yati pun segera mengambil keputusan, dia akan pergi main ken rumah Asih.


Yati masuk ke dalam kamar lalu mengganti pakaiannya.


Setelah rapi, Yati pun keluar dan menemui Arum. Yati bertanya tentang penampilannya,


"Udah rapi belum Teh?"


Arum melihat penampilan Yati dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Udah, udah rapi, sana pergi, kasian Asih nungguin kamu," perintah Arum.


Yati pun akhirnya pergi ke rumah Asih, tanpa berkata apa-apa pada Mawar.


Melihat Yati pergi, Mawar bertanya,


"Teh Yati mau kemana Teh?"


Arum menoleh ke arah pintu yang mengarah ke arah luar, untuk memastikan bahwa Yati telah pergi.


"Teh Yati kau main ke rumah teh Asih, udah biarin aja, paling nanti bapak pulang bakal di marahin. Istri apa kaya gitu, suami gak ada malah main," jawab Arum.


Mawar hanya terdiam. Usia Mawar yang masih 6 tahun, tapi dia sudah mampu membaca situasi.


Lalu Mawar bertanya kembali,


"Kenapa Teteh Arum gak omelin teh Yati?"


Arum hanya tersenyum, sejenak dia terdiam. Lalu Arum pun menjawab,


"Biarin aja teh Yati main, biar diomelin Bapak kamu."


Sedangkan Yati, yang diberi kesempatan untuk main ke rumah Asih oleh Arum, saat itu Yati masih berada di jalan.


Dia berpapasan dengan beberapa orang warga, dan mereka pun menyapa Yati,


"Eh Neng Yati mau kemana sendirian?"


Yati menoleh ke arah salah satu orang yang berpapasan dengannya.


"Yati maunke rumah Asih Bi," jawab Yati.


Yati pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah Asih. Kemudian dia kembali berpapasan dengan salah satu warga, warga itu pun menyapa nyari, "Sendirian aja Neng? Kang Bidinnya mana?"


"Iya, Yati sendirian Mang, Kang Bidin masih di sekolah," jawab Yati.

__ADS_1


Lalu Yati pun kembali melanjutkan perjalanannya.


Akhirnya Yati sampai juga di rumah Asih. Yati pun memberi salam,


"Assalamu'alaikum?"


Mendengar suara orang memberi salam, Asih pun bergegas melihat ke arah luar melalui jendela rumahnya.


"Ih si Yati, mau ngapain dia ke sini? Udah kawin juga, masih aja main!" gumamnya dalam hati.


Asih pun keluar mendekati pagar,


"Eh Yat, ada apa? Mana anak-anakmu?" tanya Asih.


"Anak-anak di rumah, sama teh Arum. Eh tadi kamu nanyain aku ya Sih? Kata teh Arum, kamu nyariin aku tadi," sahut Yati.


Asih melongo mendengar perkataan Yati. "Kapan aku ketemu teh Arum? Aku gak ketemu teh Arum, Yat," kata Asih.


"Iiih, kamu lupa ya, tadi kata teh Arum, ketemu kamu di pasar, trus katanya kamu nanyain aku dan nyuruh aku datang," sahut Yati.


Mereka pun terdiam sejenak. Lalu Yati kembali bertanya,


"Buka dulu atuh pagarnya, masa kamu gak nyuruh aku masuk?"


Asih pun bergegas membuka pagar bambu rumahnya.


Yatim memandang ke sekeliling rumah Asih, matanya celingak celinguk seperti mencari sesuatu.


"Kamu nyari apa Yat?" tanya Asih.


"Mana pacar baru kamu Sih? Kata teh Arum kamu lagi sama pacar baru kamu? Oh iya, teh Arum juga bilang, katanya kamu mau di lamar sama pacar baru kamu ya?" tanya Yati penasaran.


Asih terlihat bingung dengan pertanyaan Yati. "Pacar baru? Punya juga enggak," gerutu Asih dalam hati.


"Apa jangan-jangan Yati ke sini hanya mau menghina ku saja?" PikirAsih.


Karena sudah beberapa bulan ini, memang Asih sedang menjomblo. Saat ini dia tidak menjalin hubungan spasial dengan seseorang, setelah beberapa bulan yang lalu Asih putus dengan Komar.


Asih menggeleng, "pacar dari mana, Yat? Kan kamu tau aku lagi malas pacaran setelah putus dari a' Komar."


Yati pun terdiam. Tapi tiba-tiba dia tersenyum dan kembali berkata pada Asih dengan mengoloknya,


"Ah yang bener kamu Sih? Masa iya teh Arum bohong sama aku? Atau jangan-jangan kamu yang bohongin aku? Kamu takut ya kalo pacar kamu itu nanti aku ambil, atau pacar kamu itu akan lebih tertarik sama aku?"


Mendengar ucapan Yati, Asih kemudian berdiri. Wajahnya begitu marah pada Yati, karena Asih merasa tersinggung.


"Eh Yati! Mending kamu pulang aja sana! Lekas sana pulang! Jangan urusin urusan aku! Dasar bodoh! Segampang itu kamu di bohongin teh Arum!"


Tangan Asih menarik tangan Yati. Yati pun akhirnya tersungkur.

__ADS_1


"Ih Asih, sakit tau!" gerutu Yati.


"Kamu itu temenku! Kenapa lebih percaya sama omongan orang?! Teh Arum itu cuman orang asing yang baru kamu kenal. Aku aja gak kenal dia sebenarnya, cuma tau namanya aja, dan status dia yang perawan tua! Lah kamu lebih percaya sama omongan dia!" kata Asih memaki.


Yati pun bangkit, dia benar-benar tidak menyangka jika sahabatnya akan bersikap sekasar itu.


"Cepat sana pulang! Jangan sampai kang Bidin marah sama kamu!" Bentak Asih.


Saat itulah Yati kembali berpikir. Dia mengingat suaminya dan dia pun takut jika suaminya sudah berada di rumah sebelum dirinya sampai.


Yati segera memakai sendalnya. Tanpa berpamitan, Yati keluar dari rumah Asih, hingga dia pun lupa tidak menutup kembali pintu pagar rumah Asih.


Langkah Yati begitu cepat, hingga sapaan orang-orang yang berpapasan dengan dia pun tidak di sauti.


"Yati dari mana tuh, kenapa jalannya terburu-buru?" bisik seorang warga pada warga yang lainnya yang melihat Yati saat itu.


Yati pun terus berjalan, bahkan langkahnya sedikit berlari.


Hanya tinggal beberapa meter ke depan, Yati telah melihat rumah Bidin.


Sayangnya, Yati melihat motor Bidin sudah terparkir di pekarangan rumahnya.


Dada Yati berdegup kencang melihat motor Bidin yang terparkir di pekarangan. Tubuhnya basah oleh keringat. Dan tangan serta kakinya pun gemetaran.


Yati takut Bidin marah. Langkahnya pun di perlambat.


Akhirnya Yati pun sampai di rumah Bidin. Tetapi kehadirannya tidak di ketahui oleh Bidin dan Arum.


"Yati minta tolong sama saya, untuk jagain Mawar dan Melati, katanya dia maunmain ke rumah si Asih. Itu tuh teman mainnya, Akang kenalkan?" kata Arum pada Bidin.


"Ya, kenal. Tapi ngapain dia minta tolong sama kamu buat jagain anak-anak? Yati kan bisa nunggu saya dulu. Saya izinin kok dia kalo mau main," sahut Bidin.


"Mungkin dia udah kebelet mau main kali Kang, kelamaan kalo nunggu Akang pulang ngajar. Ya udah saya jagain anak-anak Akang. Dia langsung ganti baju yang rapi," kata Arum mengarang cerita.


Mendengar pengakuan Arum, Yati menjadi geram. Percakapan mereka pun di simak oleh Mawar.


Mendengar perkataan Arum, Mawar berpikir dengan keras.


Arum melihat perubahan wajah Mawar. Dia segera menarik tangan Mawar dan memangku nya.


Tetapi tangan Arum segera mencubit paha Mawar, dan Mawar pun meringis kesakitan.


"Diam kamu! Awas kamu ngadu yang tidak-tidak sama bapak kamu! Nanti teteh cubit kamu lagi lebih keras!"


bisik Arum mengancam Mawar.


Sedangkan Bidin tidak memperhatikannya.


Arum tidak sadar, jika kelakuannya di lihat oleh Yati.

__ADS_1


__ADS_2