Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Yati salah tingkah.


__ADS_3

Sengaja Yati melirik ke arah suaminya yang sedang menikmati makan siangnya, sedangkan Mawar hanya melihat ke arah piring, yang telah di letakkan oleh Yati di hadapannya.


Yayi hanya terdiam, dia pun mengikuti apa yang Mawar lakukan.


Menyadari hanya dirinya yang melakukan aktifitas makan siang itu, Bidin pun menghentikannya. Dia menoleh ke kanan, di mana Mawar duduk di sampingnya.


"Ayo Mawar, di makan dong nasinya, teh Yati kan sudah nyendokin," perintah Bidin pada Putri tertuanya yang masih berusia 6 tahun.


Mawar hanya cemberut. Lalu Bidin mendekati wajahnya ke arah telinga Mawar, dia membisikkan sesuatu,


"Ingat pesan Bapak tadi, Bapak minta tolong kan sama Mawar agar bisa jaga sikapnya, jangan manja."


Dengan wajah yang masih cemberut, Mawar mulai menggerakkan tangannya, dia mengambil sendok dan mulai memakan makanan yang berada di hadapannya.


Begitu pula dengan Yati. Melihat Mawar yang sudah mulai makan, Yati pun mengikuti apa yang Mawar lakukan. Tetapi bedanya, Yati tidak sambil cemberut.


Di sela-sela waktu makan siang mereka, Bidin memulai perbincangan diantara mereka. "Mawar, mulai hari ini, yang menjaga kamu dan Melati adalah Teh Yati. Teh Yati sekarang bkan sudah jadi istri bapak, dan teh Yati juga udah jadi ibu buat Mawar dan Melati, kamu ngerti kan Nak?" kata Bidin berusaha menerangkan pada anak pertamanya.


Wajah Mawar masih cemberut, kemudian Bidin kembali bertanya, sepertinya pertanyaannya itu suatu penekanan. "Nak, kamu ngerti kan apa yang barisan bapak terangkan?"


Mawar masih berdiam. Tetapi sesaat kemudian Mawar membanting sendok dibataa piringnya, karena saking kerasnya, membuat piring itu terbelah dua.


Bidin pun berteriak, "Astaghfirullah, Mawar, kanapa--"


Belum lagi Bidin menyelesaikan perkataannya, Mawar segera turun dari bangku, dan berlari ke dalam kamarnya.


Melihat sikap Mawar, Bidin pun merasa tidak enak hati pada Yati, tetapi melihat sikap Mawar yang kasar seperti itu malah membuat Yati menjadi takut, apa lagi mendengar suara Bidin barusan yang infonasinya membentak.


Yati menundukkan kepalanya, bahkan dianoun takut menatap wajah Bidin.


"Maafkan saya Yat, saya gak bermaksud membentak Mawar, saya cuman kaget ngeliat sikapnya kaya gitu," sahut Bidin.


Yati masih terus menundukkan kepalanya. Dia benar-benar takut. Lalu Bidin bangun dari tempat duduknya dan mendekati Yati. Sambil memegang tangan Yati, Bidin berkata,

__ADS_1


"Maafkan saya Yat, saya janji gak bakal bersuara keras lagi."


Kini Yati berani mengangkat wajahnya, lalu Bidin berkata,


"Lanjutin lagi ya makannya." Yati pun mengangguk, lalu Bidin mencium ubun-ubunnya.


Ada sesuatu yang aneh yang Yati rasakan. Seperti sesuatu yang sedang berjalan di dalam tubuhnya. Tapi entah Biru apa.


Mereka selesai makan, lalu Yati merapikan piring-piring kotor yang terdapat di atas meja.


Hanya piring milik mawar yang tertinggal di sana. Bidin pun mengambilnya lalu membawanya ke dalam kamar anaknya.


Dia melihat mawar sedang menangis,  Bidin pun mendekatinya dan duduk di samping mawar.


Bidin memegang sendok dan mulai menyuapi putrinya.


Awalnya Mawar tidak mau  dia menolak makanan yang telah di arahkan ke mulutnya. Lalu Bidin berkata pada Mawar, "Kalo anak bapak gak makan, nanti sakit, trus bapak juga repot. Udah dong nangisnya, lagian liat deh muka Mawar di kaca, pasti jelek kalo lagi nangis."


Mawar pun mengering kan air matanya yang telah jatuh di pipinya. Kemudian Bidin kembali menyuapi Mawar. Dan kini Mawar pun mulai membuka mulutnya. Bidin pun mulai memasuki pakanan ke dalam mulut Mawar, Mawar pun mulai mengunyah.


Mawar terdiam, dia terus mengunyah makanannya. Bidin pun melanjutkan suapan berikutnya. Saat itulah Mawar bertanya, "Berarti teh Yati adalah Ibu tiri Mawar ya Pak?" Bidin terdiam, dia tidak langsung menjawab pertanyaan putrinya. Otaknya mulai merangkai kata, takut jika salah dalam penyampaian bisa berabe, pikir Bidin.


"Tidak semua ibu tiri itu jahat kok, buktinya Nini, Nini kan ibu tiri bapak. Nini baik dan sayang sama Bapak."


"Emang Nini Bapak juga meninggal Pak?" Seraya bertanya, tetapi pertanyaannya kali ini mengingatkan dia pada sosok ibunya yang telah pergi entah kemana.


Tiba-tiba ingatan Bidin terbang ke masa lalu, dia masih ingat saat sang ibu pergi dengan laki-laki lain, Bidin kecil di tinggalkan begitu saja, saat sangat bapak sedang mencari kerja.


Karena keadaan yang mendesak, membuat samg Ibu tidak tahan dengan keadaan yang terjepit. Keadaan bapak Bidin saat itu belah bangkrut.


Tetapi sebelumnya keadaan bapak Bidin maju pesat. Malah bapak Bidin termasuk orang yang terpandang di kampung itu. Bukan hanya terkenal kekayaannya saja, melainkan sikap dermawan dan ketampanannya, banyak orang-orang menyukainya.


Hingga satu saat, bapak Bidin bangkrut dan terlilit hutang, ada saja orang yang menagih datang ke rumah, membuat ibu Bidin menjadi malu pada tetangga. Hingga suatu malam, Bidin kecil mendengar percekcokan antara ibu dan bapaknya, mereka ribut besar. Ibu berbicara sambil berteriak, hingga membuat Bidin terbangun di tengah malam.

__ADS_1


Hingga sampai pagi, keributan itu tidak juga reda. Bapak pun keluar rumah, dia bilang pada ibu bahwa dia akan mencari pekerjaan, tetapi saat itu ibu malah menertawakannya, dan bapak pun tetap pergi. Waktu pun berlalu, siang menjelang sore, bapak belum juga pulang.


Bidin melihat sang Ibu memasukkan pakaiannya ke dalam tas besar. Semua pakaian miliknya dia keluarkan dari dalam lemari dan di masukkan ke dalam tas besar.


Bidin melihat ibunya berdandan, sangat cantik dan wangi. Saat itu Bidin tidak berani untuk bertanya.


Pesan ibu saat itu hanya, "Tunggu saja Bapakmu, sebentar lagi juga pulang."


Kalimat itulah yang selalu terngiang di telinga Bidin. Hingga tengah malam, bapaknya baru sampai ke rumah. Sedangkan sang Ibu telah pergi bersama laki-laki lain yang menjemputnya dengan sebuah mobil bagus. Bidin melihat kepergian sang ibu melalui jendela.


Saat itu Bidin tidak menangis, dia hanya melihat kepergian ibunya lewat jendela, hingga mobil yang membawa ibunya pun berlalu dari pandangan Bidin.


Tiba-tiba tangan Mawar menyentuh pipi Bidin, dan mengeringkan air mata yang jatuh di sana, "Kok bapak nangis?"


Lalu Mawar memeluk tubuh Bidin, lalu Mawar pun kembali berkata,


"Mawar janji Pak, mulai sekarang Mawar gak akan marah lagi, Mudah-mudahan bapak benar, teh Yati ibu tiri yang baik."


Bidin pun tersenyum, lalu dia pun melanjutkan menyuapi Mawar kembali. Setelah selesai menyuapi Mawar, Bidin bangkit dari duduknya, dan berkata pada Mawar, "Mulai besok, Bapak kembali mengajar, Mawar sama Melati di rumah ya sama Teh Yati, ingat, anak bapak adalah anak yang baik, jadi tunjukan pada teh Yati, kalo Mawar adalah anak yang baik."


Mawar pun  tersenyum. Lalu Bidin keluar dari kamar menuju ke ruang dapur.


Dia meletakkan piring kotor di meja. Bidin melihat Yati sedang membersihkan dapur.


Malam pun tiba. Waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, Mawar dan Melati sudah tertidur.


Melihat keduanya tertidur, Yati pun masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Bidin telah tertidur pulas.


Yati pun merebahkan tubuhnya di samping tubuh Bidin, dan itu adalah malam kedua dia tidur seranjang.


Yati mencari posisi yang enak untuk tidur, matanya belum ngantuk sama sekali.


Dia melihat Bidin di sampingnya tertidur sangat nyenyak, hingga tiba-tiba tubuh Bidin bergerak. Bidin merubah posisinya menghadap ke arah Yati, dan secara tidak sabar, tangan Bidin berada di tubuh Yati.

__ADS_1


Yati pun tidak bisa bergerak, padahal ingin sekali dia memindahkan tangan Bidin ke sampingnya, tetapi Yati takut jika Bidin akan terbangun.


Yati pun menahan nafasnya, tetapi malah jantungnya berdegup kencang.


__ADS_2