
"Iya Kang," sahut Yati.
Mendengar namanya di panggil oleh suaminya, Yati pun masuk tanpa menghiraukan Arum yang masih menyapu di pekarangan rumahnya.
"Ada apa Kang?"
tanya Yati. Dia masih berdiri di depan pintu rumah mereka.
"Sini atuh duduk, kita makan kuenya di dalem aja, Akang males ada Arum di luar," jawab Bidin.
Yati membelalakkan matanya sambil bertanya, "Di luar? teh Arum bukannya ada di rumahnya? Gak di luar Kang."
Bidin menghela nafasnya, lalu dia berkata,
"Ia, dia di rumahnya, di sebelah rumah kita, tapi berasa dia tuh berdiri di depan rumah kita, Akang males ah nimpalin dia, ujung-ujungnya bikin rusuh."
Ternyata Yati tidak mendengarkan omongan suaminya, dia asyik menikmati kue pancong yang baru saja di belinya.
Bidin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bidin lalu berdiri dan mengambil tasnya yang berada di atas kursi.
"Akang berangkat dulu ya, jaga rumah dan tolong jaga anak-anak Akang. Oh ya, ingat kejadian kemarin, Akang gak mau semua itu terulang kembali. Kalo bisa, mainnya di dalam rumah aja, gak usah bukain kalo ada tamu yang datang, kecuali keluarga kamu,"
kata Bidin.
Yati mengangguk. Lalu Bidin kembali berkata, "Akang gak mau kalo Arum nyakitin kamu, Yati."
Yati menatap lekat ke arah Bidin. Hatinya begitu senang mendengar penuturan suaminya.
Bidin pun beranjak dari duduknya dan hendak keluar rumah.
Dengan sigap, Yati pun menyalami Bidin. Yati mencium punggung tangan Bidin dan Bidin pun mencium kening Yati.
Bidin keluar menuju teras depan, Yati pun mengikutinya dari belakang. Lalu Bidin mulai menyalakan motor bututnya.
Dari dalam rumahnya, Arum mengintip dari balik jendela.
"Wah, Akang Bidin baru mau berangkat, kenapa siang amat! Dasar ai Yati bikin Kang Bidin telat aja, gimana nanti murid-muridnya menilai kalo gurunya aja telat datangnya!" celoteh Arum.
Setelah Bidin menyalakan motor bututnya, pidin pun pergi ke sekolah dan meninggalkan rumahnya.
Sedangkan Yati langsung Mengunci pintu pagar.
Yati menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian dia membalikkan tubuhnya, dan masuk ke dalam rumah.
Tidak lupa Yati mengunci pintunya.
Yati melihat ke arah jam dinding yang menempel, waktu telah menunjukkan pukul 07.00.
Segera Yati membangunkan mawar dan melati.
" Kakak ayo bangun Sudah siang," Panggil Yati pada mawar, sambil mengoyak-ngoyahkan tubuh mawar.
__ADS_1
Mawar mulai mengeliutkan tubuhnya. Kembali hati membangunkan mawar dengan suara yang sedikit keras,
" Ayo kakak Mawar bangun dulu, Sudah siang."
Karena suara Yati yang terdengar keras, Melati pun bangun dan menangis.
Melati menangis memanggil Bidin.
"Bapaaaaak, Bapaaaaak!"
Yati segera mendekat dan memeluk Melati, "Ayo De, bangun Yuk, udah siang," sahut Yati.
Mawar hanya mengeliatkan tubuhnya, dia membuka sebentar matanya, kemudian kembali memeluk guling dan tertidur kembali.
Begitu pula dengan Melati. Setelah menangis memanggil bapaknya, tidak lama kemudian Melati pun kembali terlelap.
Melihat keadaan itu, rasa kantuk pun kembali binggap pada mata Yati. Walau dia berusaha untuk menahan, tetapi tetap saja kedua mata Yati ingin di pejamkan.
Dan akhirnya Yati pun ikut kembali tertidur bersama Mawar dan Melati.
Waktu pun berlalu, jam telah menunjukkan pukul 12 siang.
Melati bangun, dan duduk. Dia masih berada di atas tempat tidur.
Melati yang masih berusia 3 tahun menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia melihat ibu tirinya yang masih tertidur dan melihat kakaknya juga yang masih tertidur.
Akhirnya Melati turun dari tempat tidur.
Melati memanggil Bidin, "Bapaaaak, Bapaaaak!" teriak Melati.
Dia keluar dari kamar, langkahnya menuju ke ruang tamu. Melati mulai celingukan. Dia kembali ke ruang tengah, menuju kamar Bidin.
Melati kembali memanggil Bidin. "Paaaak, Bapaaaak!" Melati memanggil Bidin di dalam kamar, ternyata Melati tidak menemukannya.
Melati pun menangis, tetapi suaranya pelan.
Melati menggaruk-garukkan kepalanya sambil menangis. Dia kembali berjalan menuju ruang tamu. Melati duduk di sana.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah botol bedak. Melati turun dari bangku, lalu berjalan mendekat ke sebuah bupet. Melati ingin meraih botol bedak yang berada di sana.
Tetapi tangannya tidak dapat menggapainya. Lalu Melati mulai berpikir.
Kemudian Melati punya ide, dia menarik bangku dan mendekatkan pada bupet, lalu dia menaiki bangku itu untuk meraih botol bedak.
Ternyata akhirnya, Melati berhasil mengambil botol bedak itu dan membawanya turun.
Melati pun turun dari kursi, dan duduk di lantai. Lalu dia memutar botol bedak itu dan mengeluarkan isinya.
Maka berserakan lah bedak ke lantai.
Melati mulai mengusap bedak yang berserakan di lantai itu, lalu mengusapkannya ke kakinya. Terlihat sangat Asyik Melati bermain bedak sendirian.
30 menit berlalu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, dan Melati mendengarnya.
__ADS_1
Melati bangkit dari duduknya, dan langkahnya terpeleset akibat taburan bedak di lantai.
Suara tangisannya pun terdengar sampai ke luar. Lalu suara ketukan pintu terdengar kembali.
Walau dalam keadaan menangis, Melati berusaha membuka pintu, dan akhirnya berhasil.
Tangisannya pun berhenti, manakala dia melihat siapa yang ada di hadapannya. Melati pun berteriak memanggil, "Bapaaaak!"
Bidin pun menggendong Melati. Tetapi wajah Bidin tampak bingung. Dia melihat Melati masih memakai baju tidurnya.
Apa lagi Bidin melihat Melati bermain sendirian di ruang tamu. Dan lantai ruang tamu pun telah di penuhi taburan bedak.
Melihat wajah Melati yang belepotan bedak, bahkan sampai ke rambut dan kakinya, Bidin pun tertawa.
"Ya ampuuuun, anak Bapak cantik bangeeet," sahut Bidin.
Sambil menggendong Melati, Bidin melangkah ke ruang tengah, karena di sana ada sebuah cermin besar.
Bidin pun berdiri di sana, sambil masih menggendong Melati.
"Liat Mel, Mel cantikkan?" tanya Bidin sambil menunjuk ke arah cermin.
Mata Melati pun membesar saat dia melihat dirinya serba putih, lantaran taburan bedak yang dia balurkan ke seluruh tubuhnya, bahkan rambutnya pun menjadi putih pula.
"Nenek-nenek, Ade kaya nenek-nenek!" kata Melati berteriak.
Lalu Bidin meletakkan Melati si atas meja makan. Bidin pun bertanya pada Melati,
"Teh Yati mana?"
Melati terdiam sejenak. Melati mulai mengingat-ingat. Lalu Melati mengangkat kedua bahunya.
Lalu Bidin kembali bertanya untuk menekankan,
"Masa Melati gak tau di mana teh Yati? Ayo coba ingat-ingat, teh Yati ke mana?"
Tiba-tiba Yati menampakkan dirinya, dia keluar dari kamar.
Betapa terkejutnya Yati melihat Melati yang belepotan bedak, di tambah lagi, Yati tambah kaget melihat suaminya telah berada di rumah.
"Eh, Akang sudah pulang?!" Yati segera mendekat. Dia mengambil tangan kanan suaminya, lalu mencium punggung tangan Bidin.
Wajah Yati tampak kecut, lalu dia segera menggendong Melati dan mengajaknya ke kamar mandi, sambil berkata,
"Yuk, Teh Yati bersihin."
Melati pun mengangguk. Lalu Yati menggendong Melati.
Melihat sikap Yati yang terlihat canggung dan takut, Bidin berusaha mencari lelucon,
"Melati gak usah mandi deh, kan udah cantik."
Seketika saja Melati berteriak,
__ADS_1
"Gak, Melati jelek kaya nenek-nenek!"