Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Ujang memberikan harapan.


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Dan benar saja, Ujang datang lagi. Tapi kali ink dia datang hanya seorang diri, tanpa kedua orangtua, yang di perkenalkan nya sebagai orang tuanya.


Ujang kali ini menggunakan motor sport nya, motor keluaran baru, yang saat masa zamannya, motor itu sangat bagus dan paling keren ke Indonesia, dan hanya Ujang yang memilikinya di kampung itu.


Ujang menghentikan motornya tepat di depan rumah Yati. Dia mulai menoleh, lalu turun dari motornya.


Karena pada zamannya tidak di wajibkan memakai helm, saat itu Ujang pun tidak memakai helm.


Setelah turun dari motornya, Ujang berjalan mendekat ke arah pagar bambu rumah mang Ibing. Lalu dia memberi salam,


"Assalamu'alaikum."


Suasana saat itu terlihat sepi. Waktu saat itu masih jam 7 malam. Lalu Ujang kembali memberi salam, "Assalamu'alaikum."


Ternyata, mang Ibing dan kluarganya sedang berada di belakang, merek berkumpul di sana, sambil menikmati teh dan rebusan.


Asep mendengar sayup suara orang memberi salam. Asep mwmpertajam pendengarannya, karena dia takut salah mendengar.


Ternyata, ketika Ujang memberi salam untuk ketiga kalinya, baru Asep yakin, bahwa di luar memang ada orang yang datang dan memberi salam tepat di depan rumahnya.


"Pak, kayanya di luar ada yang memberi salam," kata Asep meyakinkan.


"Us, tolong liatin sana," perintah mang Ibing pada Usep.


Usep pun bangkit dari duduknya, dan berjalan masuk ke dalam rumahenhju pintu depan.


Sementara mang Ibing dan anak-anak serta istrinya saat itu sedang membicarakan lamaran Ujang untuk Yati.


"Lalu, kamu mau Terima atau enggak? Biar nanti Bapak dan Ibu yang menyampaikan, itu juga kalo si Ujangnya datang lagi," tanya mang Ibing.


Tiba-tiba saja Asep kembali lagi ke ruang belakang, di mana mang Ibing dan yang lain masih berkumpul, Asep menoleh ke arah mang Ibing  dan memeritahukan sesuatu,


"Pak, ada tamu."


Mang Ibing menoleh ke arah Asep yang masih berdiri di depan pintu, sementara Ratmi, Yati dan Isep menoleh ke arah Asep dengan berbagai pertanyaan.


Tetapi mereka tidak langsung melontatkan pertanyaan dari benak mereka.

__ADS_1


Dan mereka pun tidak ingin merusak suasana yang tenang di malam itu.


"Siapa tamunya?" tanya mang Ibing, sambil mengerutkan keningnya.


"Ehm... Anu pak, itu, ehm... Sejenak Asep terdiam.


Melihat sikap Asep, mang Ibing segera berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Sementara Ratmi mengikutinya dari belakang. 'Siapa Pak tamunya?" tanya Ratmi.


"Lah, kan Ibu liat sendiri tadi, Asep gak bilang siapa tamunya, tapi bapak msih udah nebak siapa tamunya," jawab mang Ibing.


"Ibun juga nebak pak siapa tamunya, tapi muda mudahan aja tebakan Ibu meleset," sahut Ratmi.


Mang Ibing tersenyum geli mendengar ucapan istrinya dan berkata, "Gak boleh begitu Bu, bagaimana pun kita harus menghargai tamu."


Tetapi Ratmi hanya terdiam mendengar ulasan suaminya.


Mang Ibing mengintip dari balik jendela, lalu dia menjelaskan nafas, dan sedikit menahannya.


Mang Ibing mendekat ke arah telinga sang istri dan berbisik, "Tamu spasial kita malam ini adalah Ujang."


Ratmi pun ikut menhela nafas, dan sedikit menahan.


Karena benar saja ats dugaannya, kalau tamunya malam ini adalah Ujang. Mengapa demikian? Karena malam itu adalah tepat satu minggu, setelah kesayangannya tempo hari.


Mang Ibing membuka pintu, dan menyapa Ujang, "Eh Nak Ujang, silakan  duduk."


Ujang malah terdiam ketika di persilakan duduk, karena posisi mereka masih di depan rumah.


Ujang pun bertanya pada mang Ibing,


"Di sini Pak?" Mang Ibing mengangguk pelan sambil menjawab, "ya  disini, di dalam gerah, panas hawanya, mending kita ngobrolnya di depan saja, gak apa-apa kan Nak Ujang?"


"Oh iya Pak, gak apa-apa, gak masalah bagi saya, di mana pun Bapak mempersilakan saya untuk duduk, itu adalah suatu kehormatan bagi saya, dan saya sangat menghargainya," sahut Ujang, dengan wajah yang masih terlihat bingung.


Mang Ibing pun duduk di atas bale bambu, dan Ujang pun mengikutinya.

__ADS_1


"Ayo Nak Ujang, silakan duduk, ada perlu apa ya malam-malam ke sini?"


Di tanya hal demikian oleh Bapaknya Yati, Ujang terdiam, seolah-olah mang mang Ibing tidak tahu arah kedatangannya.


Ujang membetulkan letak duduknya, dengan tegak, serta mulai mengatur pernafasannya.


"Jadi, begini Pak, kedatangan saya kali ini, ingin menagih jawaban dari Bapak dan Ibu, mengenai lamaran saya pada putri Bapak dan Ibu, yaitu Yati. Apakah lamaran saya di Terima atau tidak? Jika lamaran saya diterima, saya bersyukur, dan tetapi jika lamaran saya di tolak, tolong kasih saya penjelasan agar saya tidak penasaran, apa alasan penolakannya," jawab Ujang panjang lebar menjelaskan.


Mang Ibing menoleh ke arah Ratmi, yang masih saja berdiri di depan pintu. Sementara, Ratmi pun menoleh ke arah suaminya, dan mereka pun saling melempar pandangan.


"Jadi begini Nak Ujang, kami sudah bertanya pada Yati, tetapi sampai saat ini dia belum memberi jawaban. Sabar saja Nak Ujang, mungkin Yati butuh waktu untuk berpikir lebih lama," kata mang Ibing.


Sambil mengerutkan dahinya, Ujang bertanya, "Sampai kapan saya harus menunggu jawaban dari Yati Pak? Tempo hari Napak bilang minta waktu satu minggu, eh sskatanga kenapa malah nambah waktunya Pak? Atau_"


Ujang menghentikan ucapannya.


Dia baru tersadar bahwa sikapnya sudah tidak terkontrol.


Ujang berusaha mengendalikan sikapnya, dengan mulai mengatue nafas.


Ujang menarik nafas panjang  dan menghembuskannya perlahan. Ratmi melihat hal itu. Dalam hatinya dia menggerutu, "Hakntahan banget sih pengen buru-buru, kebelet banget!"


Karena tidak suka dengan sikap Ujang, Ratmi pun masuk ke dalam tanpa berkata-kata lagi.


Ujang hanya melihat tingkah Ratmi, dia pikir, Ratmi masuk ke dalam rumah untuk menyuruh Yati keluar, untuk menemuinya.


Untuk mengalihkan perhatiannya, Ujang kembali berbincang-bincang dengan mang ibing.


"Maap Pak, jika nanti bapak mendapatkan jawaban dari Yati dan Yati menerima pinangan saya, Bapak mau saya bawakan uang masak berapa? Pokoknya saya tidak ingin bapak juga mengeluarkan biaya, biar saya saja yang menanggung semua," kata Ujang, sambil menahan senyum.


Mendengar pernyataan Ujang, mang Ibing hanya tersenyum tipis. Sambil meluruskan kakinya, mang Ibing berkata, "Gampang itu mah, bisa di atur, yang penting kan seorang gimana keputusan Yati, anak saya. Kalo soal uang dapur mah, dibicarakan nanti saja, malu kan saya  kalo saya udah ngomongin panjang lebar soal uang dapur, eh ternyata Yatinya nolak dengan lamaran Nak Ujang, kan saya jadi malu, he he he. Dan saya juga gak enak sama Nak Ujang. Jadi mending nanti sajah di bicarakannya."


"Tapi, nanti kira-kira ajah, Bapak dan Ibu minta hadiah apa dari saya? InsyaAllah saya akan kasih sesuatu buat Bapak dan Ibu, sebagai tanda terimakasih saya, sudah menerima saya sebagai menantu," tanya Ujang, yang masih saja mencari jalan untuk mendapatkan simpati dari calon mertuanya.


Mang Ibing tertawa, dia tidak langsung menjawab pertanyaan Ujang. Mang Ibing terus tertawa, dan membuat Ujang terheran-heran.


Karena perasaannya yang penasaran, Ujang pun lalu bertanya, "Loh, kenapa Bapak tertawa? Apa Bapak pikir saya hanya bercanda? Atau Bapak pikir saya mengada ada?"

__ADS_1


__ADS_2