Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Tidak berubah.


__ADS_3

Di rumah kang Ibing, Yati sedang datang bahkan mau menginap. Yati sedang merapikan ruang kamarnya, sementara Asep dan usep sedang menonton TV hitam putih di ruangan tengah.


Ratmi, dari ruang dapur berjalan menuju ruang kamar Yati dan sudah berdiri di depan pintu.


Dia melihat anak perempuannya yang kini telah menjadi istri orang sedang sangat haru.


Bagaimana tidak? Banyak perubahan pada diri Yati setelah menjadi istri Bidin, menurut Ratmi.


Susah mulai rajin dengan pekerjaan rumah.


Tapi saat ini, saat Yati hendak menginap di rumah ibu bapaknya, Ratmi melihat ada kejanggalan.


"Kenapa Yati tiba-tiba datang dan bilang mau menginap? Apakah suaminya benar-benar mengizinkannya? Mengapa dia tidak membawa anak-anak tirinya? Apakah dia sedang ribut?"


tanya Ratmi dalam hati.


Tapi dari aura wajahnya, dari saat dia datang dan sampai sekarang, Yati tidak menunjukkan kesedihan atau amarah.


Bahkan tadi dia datang membawa banyak buah-buahan, yang katanya dari Bidin, suaminya. Lantas mengapa Bidin tidak ikut serta?


Banyak pertanyaan yang hinggap di pikiran Ratmi saat itu. Hingga dia lupa bahwa dia telah berdiri mematung di depan pintu terlalu lama. Sedangkan Usep, anak Ratmi yang paling akhir memperhatikannya.


"Mak, ngapain diri di depan pintu? Malahan lama banget? Mak kangen ya sama teh Yati?" tanya Usep tiba-tiba.


Usep adalah anak ke tiga dan terakhir dari perkawinan Ratmi dengan mang Ibing.


Usia usep masih 14 tahun, hanya berjarak 2 tahun dengan Yati. Hanya dia yang memanggil Ratmi dengan sebutan Emak, sedangkan Asep dan Yati memanggil Ratmi dengan panggilan Ibu.


"Eh, kamu Us, ibu pikir siapa. Bikin kaget ibu aja," sahut Ratmi.


Mata Ratmi kembali memperhatikan Yati yang tengah memasang seprai.


Lalu Ratmi kembali berkata pada Usep,


"Kamu liat deh teteh kamu, dia mulai ada perubahan, ibu seneng banget liatnya, udah mulai rajin, dan mau gantiin seprai sendiri."


Usep pun tersenyum, "Baguslah Mak, masa udah kawin dia masih males aja, Bila-bila di cerai nanti sama Kang Bidin," sahut Usep.


Mendengar ucapan Usep, mata Ratmi terbelalak karena kaget, "Husss! Kamu nih kalo ngomong asalan aja, gak boleh begitu Us!"


Mendengar dirinya di bicarakan, Yati diam saja, tetapi telinganya tidak, dia terus mendengarkan dan menyimak.


Merasa pegal setelah memasang seprai Yati pun duduk di sisi tempat tidur, dan menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, kemudian dia menoleh ke arah ibu dan adiknya.


"Masuk sini Bu, udah rapi nih," ajak Yati.


Ratmi tersenyum, lalu melangkahkan kakinya masuk ke ruang kamar milik Yati.


Ratmi duduk di dekat Yati, lalu dia bertanya,  "Apa kamu udah izin sama suamimu kalo mau menginap di sini?"


Yati mengangguk.

__ADS_1


Lalu Ratmi kembali bertanya, "Kalo kamu nginap di sini, suamimu tidur sama siapa?"


"Ya sama anak-anak, paling tidur di kamar mereka, Yati juga sering kok tidur bareng anak-anak di kamar mereka, kamarnya lebih besar," jawab Yati.


Lalu Ratmi memegang tangan Yati, dia hendak bertanya masalah yang lebih pribadi.


Karena tatapan mata Ratmi yang tidak biasa, membuat Yati sedikit risih, Yati pun bertanya pada ibunya,


"Ibu kenapa, kok liatin Yati kaya gitu?"


Ratmi pun tersenyum, kemudian menoleh kearah pintu, untuk memastikan keberadaan Usep di sana


Ternyata Usep udah tidak berdiri di depan pintu.


Ratmi pun bertanya pada Yati, "Ibu mau tanya, gimana malam pertama kamu sama suamimu? Apa kamu sudah melayani dia dengan baik?"


Mendengar pertanyaan Ratmi, Yati oun tersipu malu. Akhirnya dian menundukkan kepalanya.


Melihat Yati merasa malu, Ratmi pun menerangkan atas pertanyaannya,


"Bukannya ibu mau ikut campur urusan pribadi kalian, ibu cuman takut aja kalo kamu gak melayani dia sebaik-baiknya. Dia itu suami kamu, kapan pun dia minta, kamu harus melayaninya dengan baik."


Yati semakin menundukkan kepalanya, tetapi bibirnya menyunggingkan senyuman.


"Maafkan ibu ya Yat, ibu gak bermaksud ingin tau hal-hal pribadi kalian. Tapi paling tidak, ibu mengingatkan tentang kewajibanmu yang satu itu,"


sahut Ratmi.


Yati terus tersipu malu. Bagaimana tidak, sang ibu menanyakan hal-hal yang menurut Yati itu adalah hal yang tabu.


Karena mereka sering bercumbu dengan pacar mereka.


Karena saat itu Yati tidak memiliki pacar, jadi Yati hanya menjadi pendengar yang baik.


Membicarakan soal kisses bagi Yati dan teman-temannya adalah hal biasa. Hingga akhirnya Yati bertemu dengan Bidin, dan Bidin menikahinya, saat itulah Yati benar-benar melakukannya untuk pertama kali. Bahkan lebih dari itu, Yati menyerahkan semua pada Bidin, suaminya.


Untuk mengalihkan pembicaraan, Yati bertanya pada Ratmi,


"Oh ya Bu, Ibu masak apa? Yati lapar."


Ratmi kembali mengingat kegiatannya siang tadi di dapur.


"Oh iya, Ibu masak sayur lodeh sama ikan teri. Tapi gak tau deh enak ada apa enggak. Kamu sih ke sininya dadakan," kata Ratmi.


Lalu Ratmi bangkit dari duduknya dan kembali berkata,


"Sebentar, Ibu liatin dulu."


Yati pun mengangguk. Ratmi pun keluar dari kamar menuju dapur, sedangkan Yati masih tetap berada di kamarnya.


Yati termenung, dan tiba-tiba dia mengingat suaminya, Bidin.

__ADS_1


Padahal hatinya sedang merasa bosan berada di sana.


Bagaimana tidak bosan? Yati, yang usianya belum genap 17 tahun, sudah berumahtangga. Dan aktifitasnya setiap hari, itu itu saja.


Menjaga Mawar dan Melati dan mengurusnya. Yati di larang membereskan rumah dan memasak. Karena itu semua Bidin yang mengerjakannya selepas dia pulang dari tempatnya mengajar.


Setiap kali Yati ingin membuat sesuatu di dapur, seperti nasi goreng contohnya, setelah selesai Bidin selalu berkata, "Lain kali kamu gak usah repot, biar Akang aja yang bikin. Kamu cukup mengurus anak-anak saja."


Yati pun merasa iri pada teman-temannya yang main asyik bermain.


Kadang mereka berkumpul di danau, di sawah, kadang di ladang.


Kumpul sambil ngobrol, ada saja pembahasan mereka yang seru.


Yati sangat rindu dengan masa remajanya.


Tapi kali ini, ketika rasa bosan menghinggap padanya, tiba-tiba dia teringat akan Bidin.


Entah rasa rindu datang tiba-tiba, atau entah apa. Yati pun tidak mengerti akan dengan perasaannya.


Karena itu, tiba-tiba dia mengurungkan niatnya untuk menginap di rumah ibu bapaknya.


Yati bangkit dari duduknya dan berjalanenuju ruang dapur. Dia Ratmi desang memanaskan sayur.


Yati berdiri di depan pintu dan memanggil ibunya, "Bu!" Suara Yati sedikit keras, membuat Ratmi terkejut.


Ratmi menoleh ke arah Yati dan berkata,


"Kamu Yat, bikin Ibu jantungan aja. Lihat nih, Ibu lagi manasin sayur lodehnya buat kamu makan nanti. Tuh tempe tahunya udah Ibu dendam, tinggal nanti ibu goreng. Oiya, kamu mau makan pakai ikan juga gak? Kalo mamu, nanti Usep tangkepin dulu di kolam belakang."


Yati menggeleng. Lalu dia berkata pada ibunya, "Yati gak jadi nginep Bu, Yatim mau pulang aja."


Loh, kamu ini gimana sih, tadi katanya mau nginep, sekarang tiba-tiba mau pulang," celoteh Ratmi.


Lalu dia mematikan api kompor, dengan mencipratkan air dari tangannya. Seketika saja api yang berada din kompor itu mati.


Ratmi membalikkan tubuhnya dan bertanya,


"Sebenarnya kamu ini ada apa? Apa kamu lagi berantem sama Bidin?"


Yati terdiam sejenak, lalu Yati menjawab pertanyaan Ratmi.


"Enggak kok Bu, Yati gak berantem sama Kang Bidin. Yati cuman bosen Bu, tiaaaaaap hari kerjaannya jagain Mawar sama Melati. Bosen Bu, Yati Bosen!"


Saat itulah Yati menangis. Lalu Ratmi memeluk Yati.


Dia berusaha memberikan pengertian pada Yati.


"Yat, jadi istri itu memang membosankan, apa lagi kamu memiliki anak tiri, dan mau tidak mau, kamu harus belajar beradaptasi dengan keadaan. Kamu harus menjalani rutinitas yang membosankan. Itu harus kamu lalui. Lambat laun, mereka juga akan besar dan sekolah. Kamu nanti harus mengantar mereka pergi ke sekolah. Di sana kamu bakal punya teman banyak," sahut Ratmi.


"Bu! Ibu ini gimana sih, Yati bosannya sekarang, bosan banget Bu, Yati takut ketelepasan sama bosan ini, takut jadi marah-marah sama anak-anak," kata Yati.

__ADS_1


"Kalo kamu lagi bosan sekarang, kenapa tiba-tiba kamu gak jadi nginep? Kenapa tiba-tiba kamu mau pulang? Kamu gak liat sekarang jam berapa?" tanya Ratmi dengan sedikit agak keras suaranya.


Ratmi mulai kesal pada sikap Yati yang masih saja ke kanak-kanakan.


__ADS_2