
"Sep, boleh Bapak masuk?" tanya mang Ibing yang tengah berdiri di depan pintu kamar Asep anak tertuanya.
Asep saat itu tengah berbaring di tempat tidur. Bahkan mang Ibing melihat Asep tengah memandang langit-langit kamar. Dan sepertinya pandangan mata Asep terlihat kosong.
Melihat kedatangan bapaknya, Asep pun bangkit dan duduk di tepi tempat tidur.
"Ya Pak, masuk aja," sahut Asep.
Mang Ibing pun masuk dan duduk di samping Asep.
Baru pertama kali mang Ibing masuk ke dalam kamar anaknya. Kedua bola mata mang Ibing memutar, dia melihat ke segala sudut.
"Kamar kamu enak juga, bersih, Bapak suka Sep," kata mang Ibing berbasa basi.
Asep pun tertawa kecil dan berkata,
"Ah, biasa aja kok Pak."
"Gimana sekolah mu? Apa rencanamu setelah lulus tahun ini?" tanya mang Ibing.
Asep segera memperbaiki duduknya, dia duduk menyamping, dan kini, mang Ibing berada di hadapannya.
"Tumben Bapak nanyain soal sekolah Asep, ini bukan basa basi kan Pak?"
jawab Asep dengan pertanyaan sindiran.
"Maapin Bapak ya, Bapak terlalu sibuk di ladang, sampe kita jarang ngobrol berdua," sahut mang Ibing.
Asep pun terdiam. Dia tidak menyangka dengan sikap bapaknya yang melunak.
Sambil memgang bahu Asep, mang Ibing berkata,
"Mulai sekarang, anggap saja Bapak ini kawanmu Sep, biar kamu bisa lebih terbuka ngobrol sama Bapak. Bapak siap jadi teman kamu."
Asep pun menyentuh tangan mang Ibing yang berada di bahunya.
Sementara Ratmi mengintip dari balik pintu kamar.
Dia penasaran apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Ketika mang Ibing hendak berdiri, Asep mencegahnya, "Pak, sebentar."
Mang Ibing menoleh, dan kembali duduk.
"Ada apa Sep?" tanya mang Ibing.
Mang Ibing memperhatikan wajah Asep. Dalam hatinya berkata, "Anak Bapak ganteng juga, kegantenganmu nurunin dari Bapak, Sep."
"Ada yang mau Asep bicarakan Pak," kata Asep.
Mang Ibing menarik nafasnya dalam-dalam. Dia mencoba bersikap bijak saat itu di hadapan Asep.
"Tentang apa Sep, sok atuh ngomong," kata mang Ibing.
Asep terdiam sesaat.
"Tentang Yati, Pak," jawab Asep.
"Kenapa lagi sama Yati? Urusannya udah beres, tinggal nunggu surat resmi aja dari KUA, itu juga Pak RT yang ngurus, kita tinggal terima beres," jawab mang Ibing.
"Iya, soal itu Asep tau, Pak. Tapi soal omongan orang yang bikin Asep kesel, sebel, pengen tampol aja itu orang! Asep denger orang menghina Yati, mengolok-olok Yati, Asep kesel Pak! Gara-gara ulahnya, kita semua kena getahnya, semua orang jadi memandang keluarga kita sebelah mata!" Asep menerangkan perasaannya dengan menggerutu.
Mang Ibing tersenyum kecut. Sambil menghela napas panjang, mang Ibing membetulkan letak duduknya.
Selama Asso beranjak dewasa, tidak pernah mang Ibing bersikap seperti hari ini, terlihat akrab dan peduli.
Biasanya sikapnya cuek terhadap anak-anaknya, karena mang Ibing berpikir, jika anak sudah besar, tidak membutuhkan perhatian intensif lagi, padahal tidak.
Semakin anak tumbuh besar, tetap membutuhkan perhatian intensif, tidak ada anak yang tidak membutuhkan perhatian.
Sebagaimana saat ini, saat keluarga mang Ibing mendapatkan masalah keluarga yang begitu pelik, hingga efek sosialnya melibatkan seluruh keluarga.
Yati yang bermasalah karena ulahnya, tetapi dampak sangsi sosial juga di rasakan oleh anggota keluarga lainnya. Dan bagaimana mereka menyikapinya? Maka peran orang tua sangat penting di sini.
"Sep, Bapak mengerti perasaan kamu. Bukan kamu saja yang merasakannya, Ibumu juga. Seperti ada orang yang sedang mengamati tingkah Ibu, seperti ada yang kasak kusuk di belakang dia, setiap langkah nya ke luar rumah, seperti rasanya banyak mata yang memandang," sahut mang Ibing.
Mereka terdiam sesaat. Tetapi hati Asep masih gundah gulana.
"Tapi Pak, bagaimana menyikapi sikap mereka yang menghina kita? Asep sebel Pak di cibir! Pengen Asep gampol aja wajahnya!" gerutu Asep.
__ADS_1
Mang Ibung pun tertawa lepas melihat wajah Asep yang terlihat tegang dengan terbakar amarah.
Karena mang Ibing tidak pernah melihat anaknya bersikap seperti itu.
Sambil menepuk bahu Asep, mang Ibing berkata, "Sabar atuh Seeep, sabar. Jangan pake emosi. Setiap orang bebas melakukan apa saja yang menurut mereka itu baik. Mungkin mereka mencibir, atau memberi komentar tentang keluarga kita, menurut mereka itu baik, padahal kan menyakiti perasaan kita. Yang penting kita yang sabar menghadapinya, biarkan saja mereka berkomentar, lagian masalah inginkan masalah Yati, bukan kamu. Salah pun kamu merasa, kamunjuga kena dampaknya, itukan ulah dari masyarakat saja, jadi hairkan saja, jangan di telan."
Asep semakin bingung dengan penjelasan bapaknya.
Lalu dia berusaha menelaah, Asep terdiam sejenak, dia berusaha untuk menjerna apa yang mang Ibing ucapkan.
Melihat Asep yang masih terlihat bingung, mang Ibing kembali berkata,
"Gini atuh Sep, kita ini kan keluarga, setiap keluarga memiliki anggota. Jika salah satu amggota keluarga kita bermasalah, biarkan saja, itu masalahnya. Kita bantu semampu kita, kita ingatkan dia jika dia salah. Soal omongan orang, biarin aja, jangan di ambil ati, kita juga harus menjaga hati kita agar tidak terbakar emosi. Orang kan hanya bisa menilai apa yang mereka liat, tapi mereka tidak merasakan apa yang kita derita, karena mereka tidak berada di posisi kita. Dan tidak semua orang memiliki sifat empati."
Asep mendengarkan dengan seksama, dia mengangguk-anggukan kepalanya sebagainya nda bahwa dia mengerti apa yang bapaknya terangkan.
"Ya sudah, sekarang jangan terlalu banyak memikirkan apa yang orang katakan tentang kita, tugas kita sekrang menjaga Yati, ingatkan dia, dan Bapak minta kamu jagain dia, kasih masukan-maaukan yang positif buat dia, kesal boleh, marah boleh, tapi jangan keterlaluan, jangan terpancing emosi dengan sikap Yati yang cengengesan. Bapak keluar dulu ya, kamu istirahat aja," kata mang Ibing.
Asep pun mengangguk, lalu mang Ibing keluar dari kamar Asep.
Saat mang Ibing keluar dari kamar Asep, dia bertabrakan oleh Ratmi.
Ratmi buang sedari tadi berada si balik pintu, mendengarkan percakapan suaminya dengan anak pertamanya.
BRAKKK
"Aduuuuh, Buuuu! Sakit kepala Bapak!" teriak mang ibing.
"Aduuuuh Paaaak, Ibu juga sakit nih kepala Ibu! Bapak sih mau keluar kamar gak liat-liat!" maki Ratmi.
"Loh, kok Bapak jadi yang di salahin sih! Lagian Ibu mngapain sih ngumpet di belakang pintu?" tanya mang Ibing.
"Iiiihhh, siapa yang ngumpet, orang Ibu mau ke dapur, eh Bapak buka pintu kamar Asep main dorong aja, kan Ibu kaget!" jawab Ratmi berbohong.
Padahal, dari awal mang Ibing masuk ke dalam kamar Asep, Ratmi bersembunyi di balik pintu. Dia mendengarkan percakapan antara mang Ibing dan Asep, anak tertuanya.
Ratmi ingin mendengar, bagaimana suaminya yang terlihat cuek memberikan perhatian pada anaknya. Lalu tiba-tiba Ratmi berkata pada mang Ibing,
"Ternyata, Bapak bisa juga ya bersikap bijaksana sama anaknya, Ibu pikir, bisanya cuman marah-marah aja."
__ADS_1
Mang Ibing pun terkejut mendengar pengakuan dari istrinya, kedua matanya membulat, hampir saja bola mata mang Ibing keluar dari porosnya,
"Lah, Ibu nguping ya???"