
"Pak, Teh Yati kemana? Dan itu kok jendela kamar Bapak terbuka?' tanya Mawar, sambil tangan kanannya menunjuk ke arah jendela.
Bidin bangkit dari duduknya dan menoleh ke arah jendela.
Kakinya pun melangkah naik ke atas tempat tidur untuk menutup kembali jendela kamar.
"Nanti kita cari teh Yati di rumah Aki ya," jawab Bidin.
Tetapi jawaban Bidin tidak membuat Mawar lega, karena Bapaknya tidak menjawab di mana keberadaan ibu tirinya.
Mata Mawar masih saja menjelajah ke setiap sudut ruang, berharap dia mendapatkan keberadaan Yati.
Tapi sayang, sampai mereka sudah berada di depan pun, Mawar tidak melihat keberadaan Yati.
Bidin mulai menyalakan mesin motornya, tetapi Mawar kembali bertanya,
"Pak, teh Yati mana? Mengapa Bapak meninggalkannya? Harusnya Bapak nunggu teh Yati dulu."
Bidin terdiam, tetapi sorot matanya mengarah ke arah Mawar.
"Kamu belum mengerti Nak, ibu tirimu telah minggat barusan meninggalkan kita," batinnya.
"Bidin pun menaiki motornya lalu berkata,
" Ayo cepat naik Neng, Neng bisakan naik di belakang Bapak?"
Mawar pun kegirangan dan menjawab,
"Bisa dong Pak, Mawar kan sudah besar."
Bidin pun menggendong Melati dan mendudukinya di posisi depan. Tangan Melati memegang stang.
Sementara Mawar duduk di belakang sambil memeluk erat tubuh bapaknya.
Bidin pun mulai melajukan motor bututnya, tetapi langsung di halang oleh Arum, yang saat itu tengah menyapu pekarangan rumahnya.
"Stop Kang, stop. Akang dan anak-anak mau kemana udah pada gelis pisan?"
tanya Arum tiba-tiba.
Bidin pun terkejut melihat keberadaan Arum yang tiba-tiba saja menghalangi perjalanannya.
"Mawar mau jalan-jalan Teh, Ayo Pak, cepetan, nanti keburu siang," jawab Mawar.
"Ayo Rum, jamin pergi dulu," sahut Bidin.
Bidin pun kembali melajukan kendaraannya. Lalu Arum pun berteriak,
"Hatinya mana Kang? Kenapa gak di ajak?'
Suara Arum menghilang selepas Bidin melajukan kendaraannya semakin jauh.
Mata Mawar melihat ke kanan dan ke kiri, banyak orang yang lalu lalang. Mereka pun melewati sebuah warung makan.
Kendaraan yang Bidin naiki lajunya tidak terlalu cepat.
Mata Mawar mengarah pada sebuah warung makan yang mereka lalui yang berada di pinggir jalan raya.
Tanpa sengaja, mata Mawar tertuju pada satu sosok yang tengah duduk di sana, sosok seorang perempuan yang berambut panjang, bertubuh semok.
Hingga Mawar pun menoleh terus ke arah waru g itu hingga motor yang di naikinya pun berlalu melewati warung itu dan menjauh.
Mawar terdiam sesaat lalu mengingat-ingat. Tiba-tiba mulutnya berkata pelan, ya, sangat pelan. Sampai-sampai Bidin pun tidak mendengarnya.
"Teh Yati," ucap Mawar.
Tanpa sengaja, pengangan kedua tangan Mawar mengendur di rasakan oleh Bidin.
Khawatir anaknya terjatuh, Bidin pun memanggil Mawar yang masih berada di jok belakang,
"Neng, Neng Mawar, kok gak pegangan Bapak? Ayo Neng kencengin lagi pegangannya, sebentar lagi kita sampai di rumah Aki."
Tanpa berkata-kata, Mawar pun kembali memeluk tubuh Bidin, bahkan dia mengencangkan pekukannya. Kedua tangan Mawar di lingkarkan ke pinggang Bidin.
Motor pun terus melaju. Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah Kang Ibing
Saat itu Asep tengah mengeluarkan beberapa ayam miliknya dari kandang. Sementara Ratmi tengah menyapu pekarangan rumahnya yang lumayan luas.
Dan kang Ibing tengah nagkring di atas bale bambu, dia tengah menikmati rokok tembakaunya yang di pulung sendiri, bersama secangkir kopi dan singkong rebus.
Dan Usep, anak terakhir mereka, tengah sibuk menyapu lantai ruangan dalam rumah.
Mereka berbagi tugas, dan mereka pun dengan rutin melakukannya.
Serempak mata mereka melihat kedatangan Bidin dan anak-anaknya. Mereka pun segera menyambutnya.
Bisin memberi salam,
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
"Wa alaikumsalam," jawab seisi rumah.
Bidin pun turun dari motor.
Ratmi membuka pagar Bambu rumah mereka, dan Asep segera melangkahkan kakinya mendekat.
Asep menurunkan Mawar yang duduk di jok belakang. Tidak lupa dia bersalaman dengan Bidin.
"Sehat Kang?" tanya Asep.
"Alhamdulillah Sep, Akang dan anak-anak sehat," jawab Bidin.
Mereka pun masuk dan duduk di bale mambu.
Bidin pun menyalami Kang Ibing dan Ratmi.
Setelah menyalami ibu bapak mertuanya, Bidin kembali duduk di bale bambu.
Mata mang Ibing penuh selidik, bola matanya memutar, begitu pulang dengan istrinya, Ratmi.
Pandangan mata Ratmi pun penuh selidik. Kedua mata Ratmi juga memutar, mereka berdua tidak melihat keberadaan Yati, putri mereka.
Tetapi sengaja sikap mereka sedikit acuh, mereka tidak langsung menanyakan keberadaan Yati, karena mereka mulai mengerti keadaan rumah tangga anaknya itu.
Untuk memecahkan keheningan, Ratmi menawarkan kopi pada menatunya itu,
"Nak Bidin mau kopi?"
Saat itu Bidin sedikit melamun. Tetapi suara Ratmi telah menyadarkannya dari lamunan,
"Oh iya, gak usah repot-repot."
"Ah kamu Kang, biasa saja, gak usah canggung di sini, ini kan rumah mertuamu, berarti sama dengan ibu bapakmu," sahut mang Ibing.
Tanpa di beritahu pun Bidin mengerti soal itu.
Ratmi oun segera masuk ke dalam. Kakinya melangkah ke arah ruang dapur. Dia pun segera menyalakan api di tumpukan kayu bakar.
Sedangkan Mawar dan Melati mulai asyik bermain di pelataran bersama Asep dan Usep.
Mawar memegang mangkuk yang berisi makanan ayam, sedangkan Melati melemparkan makanan ayam ke tanah, sambil tetapi di dampingi Usep.
Mata Usep melihat ke kanan dan ke kiri, dia mencari keberadaan kakak perempuannya.
"A', teh Yati ke mana, kenapa gak ikut? Kok Usep liat gak ada?"
Asep melirik ke kanan dan ke kiri, lalu menjawab pertanyaan adiknya.
"Husss, gak usah ikut campur urusan orang, udah, biarin aja, mau ada kek atau enggak, kamu gak usah tanya-tanya, biarin aja. Pura-pura aja, yang penting kita jagain nih bocah-bocah."
Usep pun terdiam mendengar penuturan Asep.
"Memang ada apa dengan teh Yati? Lier ey urusan orang dewasa," gumamnya dalam hati.
Usep pun kembali ikut bermain bersama Melati.
Terlihat Mawar dan Melati sangat senang bermain bersama kedua paman mereka.
Walaupun dua paman mereka adalah paman tiri, tetapi terlihat Asep dan Usep sangat menyayangi Mawar dan Melati.
Ratmi pun selesai membuatkan kopi hitam untuk menantunya, yaitu Bidin.
Ratmi segera ke luar membawakan sscangkir kopi hitam dan sepiring singkong rebus, dia meletakkan di hadapan menantunya, lalu ikut duduk bergabung.
Ratmi duduk di samping kang Ibing. Lalu dia bertanya mengenai Yati.
"Nak Bidin, Ibu gak liat Yati, dia kemana? Kenapa gak ikut kalian ke sini?"
Wajah Bidin seketika berubah. Ada raut kesedihan di sana. Ratmi dan mang Ibing pun melihat penampakan itu. Sontak saja mang Ibing dan Ratmi saling pandang.
Bidin menarik napas panjang, dan di hembuskannya perlahan.
Ratmi dan mang Ibing pun melihatnya. Sangat jelas terlihat bahwa saat itu keadaan Bidin tidak baik-baik saja.
"Yati_" Bidin terdiam sejenak.
"Yati kenapa Nak Bidin? Apa yang terjadi?" tanya Ratmi penasaran.
"Pak, ada apa dengan anak kita?' tanya Ratmi pada mang Ibing.
Wajah mang Ibing berubah menjadi sedikit sangar.
Ratmi pun melihat perubahan wajah suaminya, ia takut jika suaminya tiba-tiba saja marah.
" Yati telah pergi, Yati minggat Pak, Bu!" kata Bidin dengan suara tertekan.
__ADS_1
"APA? YATI MINGGAT?" tanya mang Ibing dan Ratmi bersamaan.
Bidin tertunduk, kedua bola matanya mulai berembun.
Kang Ibing menegakkan tubuhnya, lalu dia bertanya,
"Bagaimana bisa minggat? Mengapa kamu tidak mencegahnya? Apa kamu tidak melihatnya?"
Sederetan pertanyaan langsung di lontarkan oleh mang Ibing.
Melihat sikap mang Ibing, Ratmi lalu menepuk bahu suaminya, agar dia menyadari sikapnya yang keterlaluan terhadap menantunya.
Ketika Ratmi menepuk bahunya, kang Ibing menoleh, lalu Ratmi mengedipkan sebelah matanya.
Menyadari sikapnya yang salah, kang Ibing pun menurunkan bahunya, dan kembali berkata,
"Maaf Kang Bidin, saya terbawa perasaan."
Bidin mulai mengangkat wajahnya. Ratmi dan mang Ining melihat pula wajah Bidin yang nampak sedih.
Lalu untuk meyakinkan pada Bidin bahwa dia sangat mengesal dengan segala pertanyaannya, mang Ibing pun kembali berkata,
"Sekali lagi saya minta maaf Kang, saya gak bermaksud marah-marah sama Kang Bidin."
Bidin menghela nafas panjang, lalu berkata,
"Tidak apa-apa Pak, jika Bapak dan Ibu marah sama saya. Memang mungkin saya patut di marahi, karena tidak becus mendidik istri. Sebagai suami, saya sudah berusaha menyayangi Yati sebaik-baiknya. Semua tugas rumah saya yang kerjakan, bahkan saya melarang dia untuk memasak. Bair saya saja se pulang mengajar saya kerjakan. Saya tidak pernah kasar, bahkan tidak pernah memaksakan sesuatu."
Mereka pun terdiam sejenak.
Sementara keberadaan Yati ada si sebuah warung makan, di mana di sana banyak muda mudi berkumpul dan saling berbincang.
Di antara mereka ada yang berpasangan, ada juga yang tidak, termasuk Yati.
Yati termasuk yang tidak berpasangan. Mereka menikmati gorengan dan teh tawar.
Mereka bukan hanya saling berbincang, tetapi mereka yang bersama pasangannya alias dengan pacar, mereka tidak merasa sungkan atau malu bercumbu di depan umum.
Ada juga beberapa pendatang yang singgah di warung itu, di antara merek yang singgah, kebanyakan orang yang lewat dari kampung sebelah yang akan pergi ke kampung lainnya.
Di antara para pendatang yang singgah, bernama Ujang.
Sejak Ujang datang ke warung makan itu, dia melihat Yati yang tengah berbincang dengan pemilik warung.
"Ngapain kamu sendirian Yati? Mana suamimu?"
tanya Sukaisih, pemilik warung.
"Udahlah Teh, jangan tanya-tanya soal Kang Bidin, Yati tuh kesini ingin menikmati kesendirian Yati, jadi jangan tanya-tanya orang orang rumah atuh Teh, pusing Yati!" jawab Yati dengan sembarang.
Kemudian Yati meminta sesuatu pada Sukaisih,
"Teh, Yati minta teh tawar hiji, gelas gede ya Teh."
Yati pun duduk sambil berropang dagu.
Tiba-tiba dari kejauhan, Yati melihat Asih bersama seorang pemuda berjalan menuju warung.
Sesampainya mereka di warung, Asih terkejut melihat Yati yang tengah duduk sendirian.
"Eh, ada kamu Yat, sama siapa?" tanya Asih penasaran.
"Kamu liat aku sama siapa emang!" jawab Yati dengan ketus.
Asih pun duduk bersama pemuda itu.
Wajah Yati masih saja cemberut, lalu Asih memperkenalkan pemuda itu pada Yati.
"Na, kenalin ini temanku," sapa Asih pada pemuda itu.
Pemuda itu mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. Dengan malas, Yati menyambutnya.
"Yati," kata Yati.
"Nana," sahut Nana, pemuda yang bersama Asih dengan singkat.
Dari seberang meja, Ujang memperhatikan perbincangan mereka. Sepertinya Yati sedang malas untuk berbincang-bincang.
Akhirnya Asih pun menyudahinya. Asih mengajak Nana untuk masuk ke dalam warung, karena Asih merasa saat itu sikap Yati sedang tidak bersahabat,
"Na, kita masuk ke dalam aja yuk."
Nana pun menagngguk.
Beberapa saat kemudian, Ujang memberanikan diri untuk pindah dari duduknya.
Dia duduk di meja berhadapan dengan Yati.
__ADS_1
"Permisi Teh, boleh saya duduk di sini?" tanya Ujang.