Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Kue Pancong.


__ADS_3

"Kenapa kang Bidin tau ya apa yang aku rasain? Padahal kan aku gak ngomong apa-apa, kaya dukun aja, tau apa yang ada di dalam hati Yati," gerutu Yati dalam hati.


Yati segera membuka mukena dan melipat sajadahnya. Lalu dia keluar dari kamar, matanya menoleh ke kamar anak-anak.


Ingin rasanya hati Yati balik ke kamar itu, dan ikut tidur lagi bersama anak-anak tirinya, tapi dia merasa segampang dengan Bidin, suaminya.


Apa lagi barusan Bidin bilang begitu, malah Yati merasa tambah engham untuk kembali tidur.


Kini Yati melangkahkan kakinya menuju ruang dapur.


Dia mulai menyiapkan sarapan untuk Bidin. Tetapi Yati bingung, apa yang harus di masaknya.


Akhirnya dia memanaskan air untuk membuat kopi. Yati mulai meraciknya, tanpa dia sadari, Bidin susah berada di depan pintu dapur.


Dia memperhatikan gerak gerik istrinya. Dalam hatinya Bidin bertanya,


"Mau ngapain tuh Yati, bisa apa dia si dapur?"


Bidin terus memperhatikan istrinya yang sedang membuat kopi. Saat itu Yati membuat kopi dua cangkir.


Secara tidak sengaja, karena hatinya penasaran, Bidin langsung bertanya,


"Kamu bikin kopi untuk siapa Yat? Kok bikin dua cangkir?"


Dengan cepat Yati menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Yati melihat Bidin yang tengah berdiri di depan pintu dapur.


Jantungnya berdegup kencang, mana kala mata Bidin mengarah padanya. Padahal tatapan Bidin tidak bermaksud apa-apa, dia cuma merasa heran, satu cangkir lagi untuk siapa?


Yati tersenyum kecut sambil menjawab,


"Yang satu buat Akang, yang satu lagi buat Yati Kang."


Lalu mata Bidin terbelalak, "Kamu mau minum kopi juga?"


Yati mengangguk dan menunduk. Ada perasaan tidak enak yang Yati rasakan. Yati masih risih di hadapan suaminya.


Yati mengangkat dua cangkir panas itu tanpa nampan.


Akhirnya Bidin mengarahkan Yati dan berkata, "Pakai nampan Yat, biar tangan kamu gak kena panas."


Bidin mengambil nampan yang berada di rak piring, lalu menyuruh Yati untuk meletakkannya di atas nampan.


"Taro sini Yat," perintah Bidin.


Yati pun meletakkan dua cangkir kopi ke atas nampan. Sengaja Bidin terdiam sejenak, dia ingin melihat apa yang di lakukan Yati setelah itu.


Setelah meletakkan dua cangkir kopi panas di atas nampan, Yati pun terdiam.


Dia ingin mengambil tampan itu dari tangan Bidin, tetapi dia malu. Melihat Yati yang terdiam terpaku di hadapannya, Bidin tersenyum, lalu bertanya,


"Kamu mau bawa nampan ini?"

__ADS_1


Mata Bidin menatap Yati sambil tersenyum. Yati pun mengangguk. Lalu Bidin pun menyerahkan nampan itu pada Yati, segera Yati meraihnya, tetapi tanpa sengaja, tangan Yati menyentuh kedua tangan Bidin.


Yati pun salah tingkah, wajahnya merona, akhirnya dengan cepat Yati membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju kw teras depan.


Bidin pun merasa heran, karena biasanya jika sarapan, Bidin makan si ruang makan.


Di awal pernikahan pun setelah Bidin menyiapkan nasi goreng untuk mereka sarapan, Bidin menyiapkannya dan meletakkan makanan di meja makan.


Tetapi kali ini, Yati membuatkan kopi dan membawanya ke depan teras.


Dia duduk di sana, sambil menoleh ke arah dalam rumah.


Bidin sengaja menghentikan langkahnya, dia ingin melihat apa yang di lakukan istrinya.


Yati pun memanggilnya,


"Akang, sini atuh, kita ngopi di depan aja, sambil nunggu tukang kue pancong yang lewat."


"Oooowh, ternyata istri saya lagi pengen makan kue pancong," sahut Bidin sambil tersenyum.


Melihat senyuman Bidin, hati Yati terenyuh, betapa tampannya Bidin di mata Yati, dan Yati pun mengajak Bidin untuk duduk di teras.


"Duduk sini Kang, sambil kita ngopi," ajak Yati.


Bidin pun duduk di dekat Yati. Mata Bidin melirik ke arah Yati, melihat Yati sedang menyeruput kopi hitamnya.


Tiba-tiba otak Bidin penasaran dengan hobi Yati yang baru saja dia tahu.


"Yat, kamu suka dengan kopi hitam?"


"Suka Kang, apa lagi, kaya sekarang, Yati masih ngantuk banget, enak kali kalo ngopi hitam, ya udah Yati bikin aja, biar kedat mata Yati," jawabnya.


Lalu Bidin menoleh ke dalam, dia melihat ke arah jam dinding yang menempel di tembok.


Lalu Bidin berkata,


"Tapi Akang gak bisa lama-lama Yat, Akang harus berangkat ke sekolah. Lima belas menit lagi Akang harus pergi."


Yati menoleh ke arah Bidin, lalu dia mengangguk.


"Iya Kang, Yati tau," sahut Yati.


Tidak lama kemudian tukang kue pancong pun lewat. Segera Yati beranjak dari duduk nya, dan memanggil tukang pancong yang lewat dengan berteriak,


"Akaaaang, Yati mau beliiii!"


Tukang kue pancong pun menghentikan langkahnya. Lalu dia menoleh ke arah rumah Bidin.


Tukang kue pancong segera mendekat,


"Mau beli Neng?"

__ADS_1


Yati mengangguk. Tukang kue pancong pun melayani Yati.


Sedangkan di samping rumah Bidin, ada Arum yang sedang menyapu pelataran rumahnya.


Ya, rumah Arum tepat di sebelah rumah Bidin. Perawan tua tinggal bersebelahan dengan seorang duda beranak dua, sebelum Bidin memutuskan menikahi Yati.


Arum memperhatian Yati dan Bidin. Tiba-tiba ada niatan Arum untuk menyapa Bidin, Arum pun menyapanya dengan sedikit berteriak,


"Kang Bidiiin, belum berangkat? Nanti kesiangan loh!"


Ketika namanya di panggil oleh seseorang, Bidin mencari sumber suara itu. Bidin pun mulai celingak celinguk, mencari sumber suara, ternyata sumber suara yang memanggil namanya berada di samping rumahnya.


Lalu Yati mengingatkan Bidin,


"Kang, di panggil tuh."


Bidin pun menoleh, dia pun membalas sahutan dari Arum,


"Iya Rum, sebentar lagi, nih lagi nemenin Yati dulu."


Yati menoleh kearah Arum, yang masih menyapu pelataran rumahnya. Yati menawarkan kue pancong pada Arum,


"Teh Arum, mau kue?"


Arum segera menoleh ke arah Yati yang jaraknya beberapa meter, dan Arum pun menjawab,


"Gak Yat, saya gak doyan kue begituan!"


Mendengar jawaban dari Arum, Yati hanya terdiam, dia tidak membalas kembali sahutannya.


Lalu Bidin mengeluarkan uang dari dalam saku celananya,


"Nih Yat, uangnya." Tangan Bidin menyodorkan selembar uang kertas,  tetapi Yati malah menolaknya sambil berkata,


"Gak usah Kang, Yati punya uang kok, uang dari bapak masih ada."


Bidin pun tertawa mendengar ucapan Yati.


Lalu Bidin masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu sambil memakai sepatu.


Bidin menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dasar bocah, harusnya uang dari bapaknya di simpan, kenapa malah di kasih tau ke saya dan di buat jajan? Kan saya suaminya, saya malah jadi malu dengernya,"


gumamnya dalam hati.


Setelah transaksi selesai dengan tukang kue pancong, Yati pun hendak kembali duduk di teras.


Tetapi belum saja Yati duduk, Bidin segera memanggilnya dari dalam.


Memang sengaja Bidin memanggilnya dari dalam, karena Bidin malas meladeni Arum, yang sengaja berlama-lama menyapu pelataran rumahnya.

__ADS_1


"Yat, sini, masuk dulu atuh ke dalam,"


panggil Bidin.


__ADS_2