
Tanpa banyak berfikir, tangan Xishi mulai berusaha mendorong tubuh Xingsheng agar menjauh, namun justru gerakannya malah membawanya kembali di tarik ke dalam pelukan Xingsheng. Tepat sedetik setelah itu dua anak panah terlepas dan melewati sisi pelukan mereka. Di saat seperti ini, melonggarkan pelukan sedikit saja, anak panah itu bisa mendarat di bagian tubuh.
" Sudah ku bilang jangan ceroboh.. Apa kau benar-benar sudah bosan hidup?! " Gerutu Xingsheng dengan nada datar.
Tangan kirinya merangkul pinggang Xishi sedangkan tangan kanannya menahan kepala Xishi agar tetap terbenam di dadanya. Seolah tidak mengizinkan Xishi melihat raut wajah Xingsheng saat ini.
' Eh, kenapa dia jadi semarah ini? Dia marah padaku? Pria dungu ini!! ' Batin Xishi bergumam sambil sesekali mengumpat.
Saat Xingsheng membawanya pergi ke tempat lain, secara refleks kedua tangannya berpegangan erat pada pakaian Xingsheng. Di balik itu, Xingsheng tersenyum usil dengan tatapan mata tajam menatap ke depan.
Setelah beberapa saat, Xishi di daratkan di sebuah jalan gang kosong, dengan beberapa kedai kaki lama yang sudah tutup. Di saat itu, tangannya yang berpegangan pada pakaian Xingsheng segera ia lepaskan, dia membuka matanya lalu merasa pelukan di longgarkan, namun tangan kiri Xingsheng masih melingkar di pinggangnya. Xishi mendongak untuk melihat wajah Xingsheng, namun tatapan Xingsheng saat itu penuh kemarahan. Xishi berusaha melepaskan diri, namun tangan yang melingkar di pinggangnya begitu kuat.
" Hey, bisakah kau melepaskan aku? " Tanya Xishi dengan nada datar.
" Tidak, tunggu sebentar lagi.. " ujar Xingsheng lirih dengan tatapan terus menatap ke depan.
Xishi yang mencoba melihat ke arah yang sama lagi-lagi di cegah. Tangan kanan Xingsheng lagi-lagi menuntun kepalanya agar menunduk, bahkan saat itu Xishi di buat patuh kepada laki-laki ini.
" Jangan dilihat.. " gumam Xingsheng lirih.
" Ada apa? Mengapa kau terus menahan ku? " Tanya Xishi ikut merendahkan suaranya.
" Mereka disini, tunggu sebentar setelah aku bereskan semuanya, aku akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.. " ujar Xingsheng.
' Suaranya begitu hangat, begitu juga dengan pelukan ini, sangat bertolak belakang dengan tatapannya. Ini adalah kesekian kalinya aku melihatnya sangat marah, namun sebenarnya apa yang membuatnya menjadi begitu marah? ' Gumam batin Xishi.
Setelah itu, Xingsheng melepaskan tangannya, dia juga mengambil satu langkah ke belakang untuk membuat jarak diantara dia dan Xishi. Saat itu, Xishi yang tengah menunduk, perlahan mengangkat kepalanya.
Dilihatnya raut wajah laki-laki di depannya, tatapannya sudah kembali hangat, namun tetap saja sesuatu yang membuatnya menjadi sangat marah tetap selalu di pertanyakan.
" Kenapa? Kecewa karena aku melepaskan pelukanku? " Tanya Xingsheng.
" Ck. Kau berpikir terlalu banyak! " Balas Xishi.
" Kau tidak penasaran dengan sesuatu di belakangmu? Apa kau lebih tertarik pada pria tampan di depan mu ini? " Tanya Xingsheng yang terus menggoda Xishi.
" Memangnya apa yang ada di bela-- uh? " Begitu Xishi berbalik.
Dia malah melihat banyak mayat berserakan di jalan, mayat-mayat ini menggunakan pakaian yang sama seperti orang yang memanah tadi. Xishi membulatkan matanya, rasanya seolah dia melihat pemandangan ketika baru saja selesai dari pekerjaannya.
" Me-mereka?? " Xishi sampai terbata saking terkejutnya.
" Pembunuh Yue.. " ujar Xingsheng.
" Eh? Bagaimana kau tahu? " Tanya Xishi.
" Kalau bukan, berarti mereka Pembunuh Malam.. " jawab Xingsheng.
" Benarkah? "
' Ekspresi yang bagus! ' Gumam batin Xingsheng.
" Apa hari ini kau merasa melupakan sesuatu? " Tanya Xingsheng.
" Eh, apa yang aku lupakan? " Tanya Xishi.
Xingsheng melangkah mendekati Xishi lagi, lalu mengeluarkan sutra dan memakaikan nya.
' Eh, masker? Mungkinkah tadi itu dia sedang membantuku menutupi identitas ku? Atau memang ada maksud lain? ' Tanya Xishi dalam hati.
Setelah selesai memakaikan Xishi masker, Xingsheng kembali mundur.
" Ini sudah larut, jika malam ini masih belum jelas, kau bisa menemuiku besok di kedai teh biasa.. " ujar Xingsheng lalu berbalik.
" Lain kali, jangan bertindak ceroboh, konsentrasi mu menurun.. cobalah meningkatkan hal itu! " Ucap Xingsheng sebelum akhirnya melangkah menjauh dari pandangan Xishi.
Xishi terdiam di tempatnya, dia masih sangat bingung dengan maksud di balik kejadian ini. Semakin lama, bayangan Xingsheng semakin menghilang dari gelapnya malam. Sekali lagi Xishi berbalik, orang-orang itu masih ada di sana, ini nyata dan bukan sekedar ilusi.
__ADS_1
' Namun, bagaimana dia melakukannya? Aku bahkan tidak merasakan dia bergerak seperti sebelumnya dia melemparkan kipas, meski tidak melihatnya namun aku bisa merasakannya. Tetapi, bagian ini, aku masih tidak mengerti, Liu Xingsheng, siapa kau sebenarnya? '
Xishi bertanya-tanya dalam hatinya sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke kediaman Song. Xishi melewati atap sebelumya saat dia mencoba menyelamatkan Xingsheng, disana juga ada beberapa mayat dengan pakaian yang sama. Xishi semakin banyak berpikir dan bertanya-tanya tentang siapa Xingsheng sebenarnya. Dia sama sekali tidak terlihat seperti Tuan Muda yang berasal dari kota ini.
Sesampainya di kediaman, Xishi langsung menyelinap masuk dan berhasil tanpa tertangkap oleh mata pengawal yang tengah berjaga. Setelah itu, dia segera bersiap untuk tidur dan mencoba mengesampingkan kejadian yang baru saja terjadi.
" Aku ini tadi keluar untuk melihat siapa yang meniup seruling, namun malah terlibat dalam pertarungan yang bahkan tidak bisa ku lihat! " Gerutu Xishi sambil menatap langit-langit.
' Tapi, jika di pikir-pikir, di dunia ini siapa yang mencoba membunuh Liu Xingsheng. Masalah seperti apa sampai-sampai Pembunuh Yue mengirim begitu banyak orang untuk membunuhnya? Lalu, bagaimana cara pria dungu itu mengalahkan mereka? Apa tatapannya begitu mematikan? Namun, jika di lihat mereka tidak seperti di bunuh, melainkan, bunuh diri! Pria seperti apa Liu Xingsheng itu? ' Tanya batin Xishi lagi.
Disisi lain, Liu Xingsheng baru saja masuk ke sebuah penginapan. Di dalamnya ada Bei Liang yang menyambutnya begitu dia sampai. Melihat dari raut wajah Xingsheng, Liang bisa tahu kalau suasana hati masternya ini sedang buruk.
" Bereskan mereka! " Ujar Xingsheng.
" Eh? Siapa maksud Master? " Tanya Liang.
" Pergilah keluar, aku sudah menandai mayat mereka, kau akan tahu begitu melihatnya! " Balas Xingsheng dingin.
" Baik "
Liang pun keluar untuk menjalankan tugasnya, sedangkan Xingsheng terdiam di dalam kamar penginapan, sambil mengingat momen tadi.
" Apa aku terlalu menuntutnya? " Gumamnya.
Malam berlalu, pagi tiba dengan langit cerah seperti biasanya. Suara kicauan burung di kediaman Song menyambut kedatangannya, namun Xishi masih terlelap dan menjelajahi mimpinya. Limei datang ke kamar Xishi, namun begitu mengetahui Masternya masih tidur dia kembali keluar dan berpapasan dengan beberapa dayang yang membawakan beberapa nampan berisi, makanan dan juga pakaian.
" Nona, ini adalah sarapan dan baju ganti untuk Nona Zhan.. " ucap salah seorang dayang.
" Masterku masih tidur, simpan dulu di meja, usahakan tidak menimbulkan suara apapun.. " ujar Limei tegas.
" Baik "
Mereka masuk dan mulai menaruh barangnya sesuai dengan apa yang di katakan Limei. Tak lama setelah itu, Xishi menggeliat dan merenggangkan tubuhnya. Perlahan dia membuka matanya dan menyadari hari sudah pagi.
Xishi duduk dan menikmati makanannya, sambil mengingat kembali kejadian semalam. Begitu teringat, mulutnya berhenti mengunyah, menyadari kejanggalan dalam dirinya sendiri.
" Apa aku dan dia berpelukan selama itu?? " Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Secara refleks tangannya menutup mulut dengan mata yang menyapu area sekitar. Dia bernafas lega ketika tahu dia benar-benar sedang sendirian di kamarnya.
' Tunggu, dia memiliki tubuh yang begitu dingin, namun bagaimana bisa pelukannya sehangat itu? ' Gumam batin Xishi.
" Tidak.. tidak.. tidak!! " Lagi-lagi Xishi kelepasan.
Tokk..Tokk..Tokk!
Xishi menoleh ke arah pintu dan melihat bayangan yang sangat familiar, dia menyuruh orang itu masuk ke kamarnya. Limei datang dan memberitahukan apa yang harus di beritahukan.
" Master, Tuan Muda Kedua Song menunggu Anda di kediaman Nie Fengyue.. "ujar Limei.
" Bukankah ini terlalu pagi? " tanya Xishi.
" Maaf, Master.. Namun, hari sudah sore.. ! " balas Limei.
Xishi tercengang, dia membuka pintu untuk melihat langit lalu menutupnya kembali.
" Benar sudah sore ya.. "
Tanpa pikir panjang Xishi langsung memakai pakaian gantinya, dia tetap memakai masker yang di berikan Xingsheng semalam dan meninggalkan masker yang di berikan oleh Qinsong.
Setelah selesai, Xishi pun pergi ke tempat yang di maksud dengan di antar oleh seorang dayang. Limei pun mengikutinya dari belakang, namun si tengah perjalanan Xishi teringat akan sesuatu dan langsung meminta Limei pergi keluar.
" Limei, semalam Pembunuh Yue muncul tiba-tiba dan banyak yang terbunuh, kau pergi keluar mencari informasi tentang mereka.. " Ujar Xishi sambil berbisik.
" Baik, Master "
__ADS_1
Limei pergi ke arah yang berbeda, sedangkan Xishi melanjutkan langkahnya menuju ke tempat dimana Fengyue berada. Sesampainya disana, ternyata sudah ada Qibo dan juga Kakak ketiganya, Zhan Hua. Xishi memberi salam kepada Qinsong, lalu kedua kakaknya. Terlihat Fengyue bersikap layaknya seorang anak kecil disana, namun demi menjaga sikap Xishi juga memberi salam kepadanya.
" Nona, kau bisa langsung memeriksa kondisi nya.. " ujar Qinsong.
Xishi duduk di tepi tempat tidur dan Fengyue duduk di sampingnya. Xishi meraih tangan Fengyue namun dengan cepat Fengyue menarik tangannya kembali. Tatapannya terhadap Xishi seolah menunjukkan kalau dia tidak memiliki kepercayaan pada Xishi, dengan kata lain saat kecil Nie Fengyue tidak bisa akrab dengan orang asing dan selalu bersikap waspada.
' Mencoba menyulitkan ku? Aku ini tidak bisa bersikap lembut meski pada anak kecil sekalipun! ' gerutu batin Xishi.
" Kakak, kenapa kakak menatap ku seperti itu? " Tanya Fengyue.
Xishi melirik ke arah kedua kakaknya yang kompak memintanya bersabar dengan melemparkan isyarat mata dan senyuman bibir. Xishi menghela nafas mengetahui hal itu.
" Adik tampan, siapa namamu? " tanya Xishi.
" Nie Fengyue, anak tunggal dari Nie Han Rong.. " balasnya dengan wajah polos.
" Nama yang bagus, berapa umurmu? " tanya Xishi lagi.
Fengyue hanya mengangkat tangannya dan menunjukkan lima jarinya dengan senyum di wajahnya.
" Kau sudah lima tahun? Wah sudah besar ya? " puji Xishi dengan tangan yang mencoba meraih kembali tangan Fengyue.
" Benarkah? "
" Kalian keluar dulu.. " ujar Xishi datar menyuruh ketiga laki-laki yang menontonnya keluar.
Qibo pun menarik Qinsong tanpa sadar untuk mempercepatnya. Sedangkan, di dalam Xishi membuat Fengyue pingsan. Dia membuka maskernya dan mulai menatap wajah Fengyue dalam-dalam.
" Aku sungguh berniat membunuhmu! " gumam Xishi.
Namun, melihat kekhawatiran di wajah Qibo saat mendengarnya berniat membunuh Fengyue, Xishi menjadi ragu. Sedangkan racun sudah menyebar di tubuh Fengyue dan hanya ada satu cara untuk mengeluarkannya.
' Apa aku ceroboh memberikan racun itu, dia tidak buruk, namun, ini adalah pertama kalinya bagiku.. ' gumam batin Xishi.
Setelah lama bergelut dengan pikirannya, Xishi pun langsung mengambil tindakan. Dia mendekatkan wajahnya, lalu mendaratkan bibirnya tepat di bibir Fengyue. Xishi mengeluarkan racun itu menggunakan tenaga dalamnya, setelah beberapa saat Xishi sedikit membuka jarak. Perlahan, racun yang berbentuk bubuk itu keluar dari mulut Fengyue dan di hisap oleh Xishi.
Setelah merasa sudah terhisap habis, Xishi segera memuntahkannya agar tidak berdampak pada tubuhnya. Naas, Xishi malah memuntahkan racunnya dalam bentuk darah dan membuatnya sedikit pusing. Sekilas Xishi merasa dia gagal dan akan menjadi gila seperti Fengyue sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Saat Xishi terbaring di lantai, Fengyue sadar dan terkejut mendapati dirinya ada di ruangan yang asing. Dia melihat seorang gadis tertidur di lantai dengan noda darah di mulutnya, dia yang mengira gadis itu terluka dan langsung memindahkannya ke tempat tidur. Fengyue juga membersihkan noda darah di sekitar bibir gadis itu, selain itu dia juga melihat ada sehelai masker. Sesaat ingatannya kembali ke saat dimana dia pernah melihat hal yang sama.
Tak lama kemudian, Fengyue keluar dan terkejut saat mendapati Qinsong, Hua'er dan Qibo di luar. Ketiga orang itu juga terkejut ketika melihat yang keluar adalah Fengyue bukan Xishi. Tanpa memperdulikan Fengyue, ketiganya masuk dan membuat Fengyue bingung.
" Eh, aku ini ada di Kediaman Song? " gumam Fengyue sebelum akhirnya ikut masuk.
Saat datang, ketiga laki-laki itu malah melihat Xishi yang terbaring di tempat tidur. Hal itu membuat Qibo dan Qinsong khawatir, dia mencoba bertanya kepada Fengyue namun sepertinya akan sia-sia karena mengira Fengyue masih gila.
" Ada apa ini ? " tanya Fengyue.
" Kakak, kau sudah kembali? " tanya Hua.
" Apa maksudmu? Aku hanya merasa aku tidur terlalu lama! " ujar Fengyue.
" Hey, Kau benar-benar kembali?? " tanya Qinsong.
" Tunggu, kalian disini, namun siapa gadis itu? Aku terbangun dan melihatnya tak sadarkan diri di lantai! " ujar Fengyue.
" Jadi, sebenarnya apa yang terjadi padamu? " tanya Qibo pada Xishi.
" Apa adik benar-benar tidak sadarkan diri? " tanya Hua.
" Adik? " gumam Fengyue.
" Kau gila selama ini dan dia datang untuk menolongmu mengeluarkan racun, namun sekarang malah dia yang tak sadarkan diri! " ujar Qinsong.
" Aku? Gila? Dia menolongku? " tanya Fengyue dengan bodohnya.
Tiba-tiba sebuah bayangan muncul, dia melihat kembali apa yang terjadi sebelum Xishi tak sadarkan diri, begitu sadar Fengyue menyentuh bibirnya sendiri.
__ADS_1
" TIDAAAAAKKKK!!! " ....