
Limei membalut luka Xishi dengan mata yang berkaca-kaca, selama ini dia tidak pernah melihat luka separah ini, sayatan yang panjang dengan darah yang terus mengalir. Lengan dan betisnya selesai di balut, Xishi bergumam pelan lalu mulai membuka matanya. Apa yang di katakan Xingsheng benar adanya, seolah kejadian di depan matanya sudah terbaca dengan jelas.
" Master, kau sadar.. " ujar Limei bersemangat.
" Apa kau juga berharap aku mati? " balas Xishi dingin.
Limei membelalakkan matanya dan langsung mengambil posisi sujud.
" Limei tidak berani, sejujurnya Limei sangat bahagia Master bisa pulih dengan cepat.. " ujar Limei.
" Bangunlah.. "
Limei bangun, melihat Xishi bergerak, Limei langsung membantunya duduk.
" Dimana orang itu? " Tanya Xishi.
" Maksud Master, Tuan Muda yang membawamu kesini? " Tanya Limei.
" Panggil dia kesini! " Ujar Xishi dingin.
" B-baik.. "
Limei keluar, dia pergi ke teras depan untuk memberitahu kalau Masternya ingin menemuinya. Xingsheng terdiam sejenak, tidak ada raut wajah yang memperlihatkan kemarahan seperti sebelumnya. Dia beranjak lalu segera melangkah menuju ke kamar Xishi.
Xishi di sana, tengah duduk di tempat tidur seolah sedang memikirkan sesuatu. Xingsheng datang, Xishi melirik ke arah Limei sekilas, lalu Limei pergi ke luar dan membiarkan mereka berdua berbicara.
Xingsheng mengambil inisiatif untuk duduk di tepi tempat tidur, membuat posisi mereka saling berhadapan, Xishi pun tidak mencegahnya. Tatapannya dalam pada laki-laki yang ada di depannya itu, seolah sesuatu sedang di pertanyakan dalam pikirannya.
' Kamu lagi! Kau mengesalkan, namun entah apa yang membuatku begitu senang saat kau datang.. ' gumam batin Xishi.
Xingsheng tersenyum.
" Bagaimana? Sudah lebih baik? " Tanya Xingsheng.
" Kau menolongku lagi, hutang budi ku tidak akan ada habisnya jika kau terus melakukan itu! " Gerutu Xishi.
" Tidak perlu memikirkan hutang budi kalau kau keberatan.. " gumam Xingsheng.
" Lalu, apa alasanmu menyelamatkan nyawaku? " Tanya Xishi.
Xingsheng terdiam sejenak.
" Apa yang kau inginkan dariku? Setiap pertemuan kita ku rasa itu bukanlah sebuah kebetulan! Apa kau yang merencanakannya? Rubah Pembunuh itu? Pembunuh Yue? Dan kejadian tadi, kau selalu datang saat aku dalam bahaya, entah itu takdir atau kehendak mu namun aku rasa kau--- "
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Xingsheng menarik tengkuk leher Xishi, lalu membawa wajahnya mendekat hingga ciuman terjadi di antara keduanya. Xishi terkejut sampai membelalakkan matanya, seolah sesuatu yang sama pernah terjadi sebelumnya, namun bukan saat dimana dia menyembuhkan Nie Fengyue, melainkan saat dirinya berada di dalam air.
' Maaf, Aku sungguh tidak bisa menahannya lagi.. ' gumam batin Xingsheng.
Xishi sendiri menahan dada Xingsheng, mencoba untuk menghentikan hal ini, namun tubuhnya masih begitu lemah hingga dia tidak melakukan hal demikian.
' Tidak! Aku harus mendorongnya.. Liu Xingsheng, bocah dungu ini sangat berani! Tubuhku, ku mohon patuh lah! Bantu aku mendorong laki-laki ini!! ' Gerutu batin Xishi.
Xishi terus memejamkan matanya, begitu juga dengan Xingsheng. Namun, merasa Xishi tidak menerimanya, Xingsheng pun berhenti dan melepaskan Xishi. Awalnya, Xingsheng berpikir akan ada tamparan yang mendarat di wajahnya, namun begitu di lepaskan, dia malah melihat wajah Xishi yang begitu merah.
Xingsheng tertawa kecil melihat hal itu, dia sudah melepaskannya namun Xishi masih memejamkan matanya. Perlahan dia mendekat telinga Xishi dan berbisik.
" Kau mau lagi? "
Begitu mendengar hal itu, seluruh tubuh Xishi menjadi merinding. Dia membuka matanya, mencoba menampar namun luka di lengannya menahannya.
" Xingsheng, dungu! Keluar kau!! " Teriak Xishi.
" Aku akan keluar, kau tidak perlu berteriak, aku ini tidak tuli! " Ujar Xingsheng.
__ADS_1
" Kau tidak tuli, tapi dungu! " Balas Xishi.
" Heh, terserah saja! " Gumam Xingsheng lalu beranjak.
Baru mengambil beberapa langkah, Xingsheng berbalik. Xishi menatapnya sinis.
" Untuk yang tadi, terima kasih! " Ujar Xingsheng nyaris berbisik.
Seketika wajah Xishi kembali memerah, sedangkan Xingsheng melangkah dengan senyum di wajahnya. Namun, begitu membuka pintu, senyum di wajahnya hilang begitu saja. Cheng dan Feng sudah kembali, mereka berdua baru saja sampai di pintu kamar Xishi dan mendapati Xingsheng keluar dari kamarnya.
" Apa yang kau lakukan di kamar adikku? " Tanya Feng dengan nada suara sedikit tinggi.
" Aku yang memanggilnya! " Jawab Xishi dari dalam.
" Mohon maaf atas ketidaksopanan putraku, dia sudah salah faham pada Tuan Muda Liu, belakang ini dia memang selalu khawatir pada adiknya, mohon Tuan Muda memakluminya.. " ujar Cheng.
" Ayah-
" Tidak masalah, Aku sangat mengerti, masalah ini tidak perlu di perbesar.. " potong Xingsheng.
" Tuan Muda, Limei sedang mengobati Bei Liang di kediaman tamu, jika Tuan Muda ingin pergi, kediamannya ada di depan teras barat " ujar Cheng.
" Mohon maaf tidak bisa mengantar! " Ucap Feng ketus.
" Tuan muda terlalu sungkan, kalau begitu aku akan menjenguk A-Liang dulu, permisi.. " pungkas Xingsheng.
Xingsheng pamit dan pergi dari sana, sedangkan Cheng dan Feng masuk untuk menemui Xishi. Tatapan dinginnya dapat di rasakan oleh kedua orang yang baru saja masuk itu.
" Bagaimana keadaanmu? " tanya Feng.
" Ku pikir hal tadi tidak sampai membuat mu turun tangan untuk bertarung, seharusnya penglihatan mu tidak terganggu! " balas Xishi.
Cheng menghela nafas, menghadapi masalah internal antar saudara seperti ini tentu bukanlah hal yang bisa di anggap enteng. Xishi berhak marah dan kecewa, namun hal ini sepenuhnya bukanlah salah Zhan Feng. Bagaimanapun juga ada alasan yang kuat mengapa kebenaran harus di sembunyikan, akan ada waktu yang tepat untuk mengatakannya, namun sepertinya waktu tak lagi mampu menahan kebohongan yang ada.
" Penjelasan seperti apa? Aku sudah tahu semuanya.. Tidak perlu di jelaskan lagi, karena hari ini telah usai, mari kita lupakan apa yang terjadi.. " balas Xishi.
" Xishi.. " panggil Feng lirih.
" Kakak Zheyan.. ku harap kedepannya kau lebih menjaga jarak denganku, aku lelah dan ingin istirahat, bisakah kalian meninggalkan ku sendiri? " ucap Xishi sambil mengatur posisi.
" Baik, istirahatlah anakku, kau harus cepat pulih.. " ujar Cheng dengan kelembutannya.
Setelah itu, Cheng menarik Feng keluar dari kamar Xishi. Saat itu bisa di lihat dengan jelas dari raut wajah Feng yang tidak bahagia, kesedihan yang amat dalam tengah di rasakan nya hari ini.
Cheng yang paham akan hal itu, mengajak Feng minum di teras rumah sambil melihat ke bulan. Meski ada pantangan, namun pancaran sinar bulan yang menenangkan tidak boleh di lewati begitu saja.
" Perlahan semua akan membaik.. " gumam Cheng mencoba membuka pembicaraan.
Feng menghela nafas,
" Kau tahu, adikku, Zhu Zhishu, bahkan lebih penting daripada gelar Bai Long Qishi, aku akan mempertaruhkan apapun untuk melindunginya, takkan ku buat dia jatuh ke tangan orang yang salah, bagaimana pun juga dia adalah turunan manusia setengah dewa, tidak boleh hidup di alam baka rendahan! Ayah, kau yang paling paham hal itu.. " ujar Feng.
" Aku tahu, itulah alasan mengapa aku berkata demikian, kau lakukan itu secara diam-diam dan sebisa mungkin untuk tidak muncul di hadapannya, itu lebih dari cukup! " balas Cheng.
Feng terdiam, dia berfikir apa yang di katakan oleh Sang Ayah ada benarnya juga. Sejenak memorinya kembali ke masa saat dia keluar dari kediaman Zhexuan, dimana Sang Ayah menampakkan dirinya dan terlihat begitu marah. Feng langsung mengakui perbuatannya sebelum Ayahnya berbicara, bahkan Zhaoyang pun langsung menarik kembali gelar Bai Long Qishi dari Feng, sebagai hukumannya. Setelah itu, Feng bukan lagi makhluk abadi, bukan lagi seorang Bai Long Qishi apalagi Putra Tertua dari Dewa Pedang. Dirinya yang sekarang bukan lagi seorang Zhu Zheyan, dia hanya seorang Zhan Feng yang tidak bisa menggunakan pedang. Hal itu sudah di beritahukan oleh Zhexuan saat mencoba membuat Xishi lengah.
Malam harinya, Xingsheng masuk ke dalam kamar yang di tinggali oleh Liang. Disana, Liang sedang terbaring di tempat tidur dengan kondisi lemah. Xingsheng berjalan menghampirinya.
" Siapa yang sedang kau bodohi? " tanya Xingsheng dengan tangan yang terus mengayunkan kipasnya.
Mendengar suara yang familiar itu, Liang langsung bangun dari tidurnya.
" Master, biarkan tubuhku beristirahat dulu, aku sudah berusaha melindungi Nona Zhan sampai seperti ini, pedang naga itu benar-benar mampu melukaiku.. Bahkan lukanya pun tak mampu ku hapus dengan mudah seperti luka lain.. " rengek Liang.
__ADS_1
" Kau pikir apa tujuanku kesini? " tanya Xingsheng.
Wajah tampan Liang sumringah saat mengetahui kalau masternya datang untuk mengobatinya. Xingsheng duduk di belakang Liang, keduanya sama-sama duduk bersila. Liang melepas pakaiannya, lalu Xingsheng mulai menyalurkan kekuatannya untuk menyembuhkan luka sayatan pedang milik Zhexuan di tubuh Liang. Sampai perlahan, luka itu mulai menghilang dan memperlihatkan kulit mulus Liang seperti semula.
Tubuh Liang terasa kembali ringan, rasa sakit yang baru saja di terimanya hilang seketika. Dia memutar tubuhnya dan berterima kasih pada Sang Master.
" Master, aku sangat berterimakasih padamu.. " ujar Liang.
" Sudah merasa baikan bukan? " tanya Xingsheng yang di balas anggukan dari Liang.
" Kalau begitu pulanglah! Aku punya tugas untukmu " Ujar Xingsheng dingin seperti semula, hal itu membuat ekspresi wajah Liang yang awalnya sumringah jadi berubah tanpa ekspresi.
Liang mendekat untuk mendengar tugas dari Masternya, setelah selesai, Liang langsung pergi dari sana tanpa sepengetahuan keluarga Zhan.
Keesokan harinya, Xishi bangun tepat sebelum Limei masuk ke kamarnya membawakan beberapa makanan untuk sarapan. Xishi turun dari tempat tidur, bersikap seolah-olah dia tidak terluka parah, padahal lukanya masih baru, meskipun Xishi sangat kuat, mustahil jika sayatan pedang naga tidak membuatnya menunjukkan sedikit rasa sakit.
" Master, lukamu.. " ujar Limei yang khawatir pada kondisi tubuh Xishi.
" Tidak perlu khawatir.. " Ujar Xishi santai lalu membuka balutan lukanya.
Limei tercengang melihat hal itu, Xishi membuka balutannya dengan tenang. Sampai lukanya kembali terlihat, namun kali ini Limei menyaksikannya dengan jelas. Luka sayatan itu perlahan memudar dan tidak meninggalkan bekas sama sekali. Limei masih menatap kagum atas kekuatan Xishi yang mirip seorang penyihir.
" Ini adalah rahasia kita, jangan katakan hal ini pada siapapun.. " ujar Xishi.
" Baik "
Sebuah kereta kuda berhenti di depan kediaman Zhan, kereta kuda yang sama dengan kereta kuda yang mengantarkan Cheng, Feng dan Liang ke sini. Cheng menatap dua pengawal yang turun dan menghampirinya. Mereka berdua kompak memberi salam kepada Zhan Cheng.
" Kami di perintahkan untuk menjemput Tuan Muda Liu kesini.. " ujar salah satu pengawal.
" Kalian sudah datang? " sebuah suara menyela giliran bicara Cheng.
Xingsheng datang, dia baru saja melangkahkan kakinya mendekati Cheng dan dua pengawalnya. Kedua pengawal itu memberi salam kepada tuannya, lalu Xingsheng memerintahkan mereka untuk menjemput Liang di kamar tamu.
" Terimakasih atas penginapan dan pengobatan yang di berikan Tuan Zhan, Saya merasa begitu beruntung bertemu dengan Anda, namun sepertinya kami tidak bisa tinggal terlalu lama, dengan ini saya mohon pamit. Kedepannya jika Tuan Zhan membutuhkan bantuan saya, Anda bisa datang ke Ibukota.. Saya punya tempat tinggal kecil disana.. " ujar Xingsheng ramah.
" Tuan Muda Liu jangan terlalu sungkan, menyelematkan nyawa putriku tentu saja sebuah jasa besar, dengan hanya memberikan penginapan dan pengobatan saja rasanya belum cukup untuk membayar tuntas kebaikan yang di berikan Tuan Muda Liu.. " balas Cheng.
Keduanya larut dalam perbincangan sampai Liang melewati mereka dan masuk ke dalam kereta kuda. Setelah menyelesaikan perbincangan hangat pagi itu, Xingsheng langsung pamit dan undur diri dari hadapan Cheng. Cheng sendiri sempat menawarkan Xingsheng untuk berpamitan juga dengan Xishi, namun Xingsheng menolak dengan halus dan juga dengan alasan untuk membiarkan Xishi beristirahat lebih lama agar tenaganya pulih dan lukanya cepat sembuh. Cheng pun tidak berani memaksa dan hanya mengantarkan mereka sampai melaju menjauh dari kediaman.
Di samping itu, Xishi diam-diam melihat kedekatan antara Xingsheng dan ayahnya, dia juga melihat Xingsheng melangkah keluar dari kediamannya dan di antar oleh Sang Ayah.
Waktu terus berjalan, Qibo berada di rumah besi untuk mengerjakan sebuah pedang. Rumah besinya berada di lingkungan pasar yang cukup ramai, sehingga tidak ada kesunyian selain saat malam tiba.
" Tuan Muda Zhan?? " panggil salah satu warga.
Qibo menoleh dan mendapati laki-laki paruh baya sedang berdiri di ambang pintu.
" Tuan Zhao.. Masuklah, mengapa berdiri di pintu? " ujar Qibo.
Suara tawa terdengar, Tuan Zhao masuk dan melihat Qibo yang sedang bekerja.
" Kau seharian disini, sudah dengar kabar terbaru? Dengar-dengar para hantu kembali muncul dan mengacaukan ibukota.. Selain itu, Pembunuh Yue dan Rubah Pembunuh belakangan ini juga sempat muncul, kira-kira keadaan seperti ini apakah tanda-tanda perang akan terjadi? " tanya Tuan Zhao.
Seketika Qibo berhenti, tiba-tiba dia merasa khawatir pada adik perempuannya, dia pergi lebih dulu dan meninggalkan ayah dan adiknya di ibukota. Dan sampai sekarang, belum ada kabar dari mereka, dua hari ini Qibo mengerjakan tugasnya sebelum pergi, dia tidak punya waktu untuk sejenak menemui mereka karena waktu yang di milikinya sangat terbatas. Dia khawatir jika tiba saatnya, pedang yang ia kerjakan tidak akan selesai.
" Tuan Zhao, apa kau melihat ayahku saat menuju kesini? " tanya Qibo.
" Heh, pagi tadi aku melihat ada kereta kuda di depan kediaman mu, lalu A - Cheng keluar bersama pemuda tampan dengan pakaian mahal, sepertinya dia Tuan Muda dari Ibukota.. " jawabnya.
" Apakah itu Qinsong? Atau Fengyue? " gumam Qibo.
" Kau mengatakan sesuatu? " tanya Tuan Zhao.
__ADS_1
" Tidak ada.. " balas Qibo sambil melemparkan senyumnya.