Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley

Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley
Sisi Tersembunyi


__ADS_3

Orang yang paling pertama menerobos barisan depan Pembunuh Yue adalah Yan Xun, samar namun yakin, Xishi adalah gadis yang memperebutkan orang yang sama dengannya.


Yanxun orang pertama yang mengayunkan pedangnya sebelum akhirnya disusul oleh Fengyue. Amarah mereka meledak tak terkendali, begitu juga dengan Cheng, dia bahkan tidak akan menyangka hal buruk semacam ini bisa terjadi pada putri kesayangannya.


Seperti yang di ketahui, hutan barat adalah tempat tinggal lain bagi para Pembunuh Yue, jumlah mereka sangat banyak saat ini. Empat orang laki-laki pendekar tidak akan mampu mengalahkannya.


Di satu sisi, di dalam api, tubuh Xishi di lahap oleh, samar netra nya menangkap sosok Raja Xiali. Entah itu mimpi, kilas balik kehidupan atau nyata, rasanya wajah Raja Xiali sangat familiar.


Ingatan yang terkumpul, sesuatu yang berhubungan dengan Zhan Xishi seolah di putar ulang. Waktu berjalan mundur di mulai dari malam ini sampai ke ingatan dimana dia tumbuh besar di lingkungan keluarga yang hangat.


Setelah habis, Xishi mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang terang. Bayangan dirinya yang lain muncul di hadapannya, dia menangis namun bibirnya tersenyum. Hingga perlahan cahaya seolah mengikuti langkah dirinya yang lain, melangkah semakin jauh darinya dan semakin membuat kegelapan menyelimuti dirinya. Hingga sebuah suara membisikkan dirinya,


' Kau adalah Zhu Zhishu.. '


Disisi lain, Qibo menyadari keributan, dia menghindari sejenak keramaian itu dan mencoba mencari sumber keributan itu, hingga tak sengaja kakinya tersandung sesuatu hingga membuatnya jatuh. Begitu sadar, dia mendapati seseorang tengah terbaring disana.


" Luo Zhiyu? " gumam Qibo terkejut.



^^^( Zhan Qibo - Putra kedua Zhan^^^


^^^Cheng)^^^


Dalam keadaan seperti ini Qibo malah bertemu dengan orang yang membuatnya kesal, dia tidak punya pilihan selain membangunkannya.


Beruntung, Zhiyu sadar begitu Qibo memukul kepalanya. Dia bangun dalam keadaan linglung, bahkan malah bertanya pada Qibo hal yang seharusnya ditanyakan oleh Qibo.


" Sedang apa kau disini? " tanya Zhiyu.


" Bukankah aku yang seharusnya menanyakan hal itu? Sedang apa kau disini? Pembunuh Yue sedang ribut, kau malah tidur?! " cibir Qibo.


" Heh, tidur??? Tidak! Bukan seperti itu! " bantah Zhiyu lalu terdiam.


" Apa? Ada apa? Apa tujuanmu datang kesini? " tanya Qibo.


" Aku datang karena mendapat surat undangan dari pembunuh Yue!---


" Heh???? Kau juga?? " potong Qibo.


" Ya, aku melihat Xishi sebelum akhirnya seseorang memukulku hingga tak sadarkan diri, tunggu-- Kau bilang siapa yang sedang ribut?? " tanya Zhiyu.


Keduanya terdiam, sebelum akhirnya Qibo memahami sesuatu dan langsung beranjak.


" Zhan Xishi??? " ujar Qibo.


Zhiyu mengikuti Qibo dari belakang, suara itu membawa mereka hingga sampai ke sebuah pertarungan empat pendekar melawan pasukan Pembunuh Yue.


Keduanya sadar dan mengenali siapa saja yang terlibat, tanpa berpikir panjang, mereka langsung turut membantu. Langkah Qibo membawanya sampai ke Yanxun.


" Kakak Xiao Xun? " panggil Qibo.


" Zhan Qibo? Kau datang? "


" Apa yang terjadi? " tanya Qibo.


" Xishi, kita harus menyelamatkan Xishi! " jawab Yanxun.


" Apa maksudnya??? " tanya Qibo.


" Api unggun!! " ujar Yanxun.


" A-Apa?? "


' Jadi, sejak tadi itu mereka membakar Xishi?? ' gumam batin Qibo.


Qibo lengah dan memaksa Yanxun untuk melindunginya, di larut dalam kekacauan hatinya sendiri dan teru terpaku pada tempat dia berdiri tanpa berkutik sedikit pun.


Yanxun memanggilnya berulang kali, mencoba menyadarkannya, namun Qibo sudah terlalu larut, hingga Yanxun yang mencoba melindungi Qibo sedikit kewalahan dan memberikan celah untuk lawan. Qibo tersayat, saat itu juga dirinya sadar dan menjadi sangat marah, dia menerobos untuk mendekati api unggun untuk menyelamatkan Xishi.


Hanya satu hal yang di harapkan nya saat ini, Xishi harus tetap hidup. Dia mengayunkan kedua pedangnya dan membabi buta lawan yang ada di depan matanya. Tubuhnya mulai menampung luka sayatan, namun tenaganya masih cukup untuk membalikkan serangan. Kakinya terus melangkah menuju titik tengah dimana api unggun itu berada.


Namun, saat dirinya sampai, dia melihat seseorang yang tengah terduduk sambil menatap api disana. Melihat hal itu, air mata Qibo jatuh begitu saja, kakinya melemas hingga tak mampu lagi melangkah, sedangkan Pembunuh Yue sudah mengelilinginya.


" Ayah? " panggil Qibo.


" Ma-maafkan aku.. Aku terlambat.. " ujar Cheng dengan suara yang sangat lirih.


Hingga selang beberapa detik, sebuah pedang hampir saja menancap ke tubuh Qibo. Sesuatu menyangkalnya hingga pedangnya terjatuh sebelum mengenai target, saat dilihat itu adalah shuriken.

__ADS_1


" Shuriken? " gumam Qing Lian.


" Pembunuh Malam? " timpal Yanxun.


Namun, meski begitu mereka tidak akan muncul begitu saja, mereka sedang menjalankan perintah sambil menikmati permainannya. Hingga hal itu tidak bisa di pastikan kebenarannya.


Hanya saja keadaan semakin buruk, kelima pendekar itu terluka parah, termasuk Qibo yang ternyata memiliki luka tusuk di perutnya. Dia terduduk sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri, mungkin jika serangan tadi berhasil, Qibo akan langsung mati di tempat.


Fengyue datang menghampiri Qibo, yang lain pun ikut mendekat, hingga mereka berenam kini berada di dalam kepungan Pembunuh Yue.


" Kita kalah jumlah! " ujar Qing Lian.


" Ini benar jebakan, jika tidak salah mereka sengaja mengundang pendekar muda untuk memutus garis keturunan sekte hingga dunia berada di dalam kendali Organisasi Pembunuh! " ujar Zhiyu.


" Mungkin saja, namun perihal target sepertinya apa yang dikatakan Bai Long Qishi memang benar! " tambah Yanxun.


" Kakak! Qibo tertusuk!! " celetuk Fengyue.


Hal itu seketika mengalihkan perhatian kelimanya, termasuk Cheng yang dengan segera berbalik badan untuk melihat Qibo.


Sesaat mereka kembali menoleh, para Pembunuh Yue tengah menodongkan pedangnya, dengan pemanah di atas pohon yang menargetkan mereka.


" Sialan! Pembunuh Yue ini!!!! " umpat Qing Lian.


Mereka terpojok, dalam kondisi luka yang terbuka seperti ini akan sangat berbahaya jika terlalu banyak bergerak.


Namun, tak lama setelah itu, mereka membuka jalan dan sosok Raja Yue muncul. Tidak salah lagi dia masihlah Yue Baoyu. Dia menunjukkan wajahnya sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak karena melihat wajah panik dari para pendekar sekte suci.


" Apa kalian datang jauh hanya untuk membuat keributan di wilayah ku? Atau mencoba menyelamatkan gadis gila itu? Sayang sekali dia sudah mati, karena tidak bisa keluar lagi, maka mati saja sekalian! " ujar Baoyu.


" Kau--- "


Ucapan Fengyue tertahan karena setelah itu, para pemanah mulai meluncurkan serangannya. Mereka berhasil menghindar kecuali Cheng yang mencoba melindungi Qibo, dia tertusuk di dadanya. Tak berhenti sampai disitu, mereka kembali memanah para pendekar. Hanya saja hal serupa kembali terjadi, banyak shuriken yang menyangkalnya dan menggagalkan serangannya.


Hingga sedetik kemudian, seseorang dengan jubah hitam kemerahan muncul dan turun perlahan. Posisinya membelakangi para pendekar dan berhadapan langsung dengan Baoyu, dia adalah Zhu Zhishu, saat ini nama Zhan Xishi tidak berlaku lagi padanya, Master Shi yang memimpin Pembunuh Malam saat ini adalah Zhu Zhishu.


" Dia? " gumam Yanxun pelan.


" Heh, kau kenal dia?? " tanya Qing Lian.


" Master Shi.. " jawab Fengyue.


" Heh, aku mencari mu ke segala penjuru, tak ku sangka kau malah datang dengan sendirinya, tahu begini lain kali aku akan duduk santai saja menunggumu, sayangnya, hari itu tidak akan ada karena kebetulan aku akan membunuhmu hari ini! " ujar Baoyu lantang.


Sementara itu,


" Apa-apaan maksud Raja Yue itu? " tanya Fengyue bingung.


Zhishu tetap tenang, dia tidak menggubris ocehan dari Baoyu yang berlagak sombong di hadapannya.


" Heh, kalian! " panggil Zhishu.


" Siapa maksudmu? " tanya Baoyu.


" Aku sedang tidak berbicara dengan Anjing! " balas Zhishu lalu menolehkan kepalanya.


Baoyu tersentak atas penghinaan itu, juga hal itu membuat empat orang di belakangnya tersadar.


" Mau mati sekarang atau mau melihatku membereskan sampah ini dulu? " tanya Zhishu dingin.


" Pertanyaan macam apa itu si--- " mulut Zhiyu di bungkam oleh Qing Lian sebelum dia menyelesaikan bicaranya.


Zhishu mendekatkan dirinya ke arah Zhiyu, menatapnya dalam. Tatapan yang begitu dingin itu mampu membuat Zhiyu terdiam, hingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri.


" A-Apa yang kau lakukan? " tanya Yanxun.


" Kau ingin melakukan kontak mata denganku juga, huh? " tanya Zhishu tanpa melirik kan matanya.


Tak ada jawaban, Zhishu kembali berjalan ke hadapan Baoyu. Melihat apa yang terjadi pada Zhiyu ternyata tidak mampu membuat nyali Baoyu menciut, hal itu cukup menarik perhatian Zhishu.


Zhishu bersiul, sebelum akhirnya sebelas orangnya muncul dengan cara yang sama. Mereka mengelilingi para pendekar itu, di bandingkan berdiri di sisi Zhishu.


" Katakan, mau mati dengan cara apa? " tanya Zhishu.


" Percaya diri sekali! ******! " balas Baoyu.


" Mulutmu begitu bau, panggil Raja Yue keluar! Aku tidak mau berurusan dengan serangga menjijikan! " ketus Zhishu.


" Aku Raja Yue!! Akulah rajanya!! Kalian, cepat bunuh wanita ****** ini!! " titah Baoyu.

__ADS_1


Beberapa dari mereka berlari dan siap mengayunkan pedangnya ke arah Zhishu, namun sebelum mereka sempat mendekatinya, sesuatu memotong kaki mereka dengan sekejap mata. Padahal Zhishu hanya mengulurkan tangannya.


Baoyu tersentak, dia kembali memerintahkan yang lainnya, namun kali ini Zhishu menggunakan cara lain, dia mengeluarkan pedang Hei Ying dan mulai bergerak menunjukkan keahlian pedangnya.


Gerakan yang cepat dan sulit di mengerti itu mampu membunuh banyak orang dalam waktu singkat, kecepatannya tidak sebanding dengan ilmu pedang yang di kuasai oleh Sekte Elang Suci sekalipun. Mereka bahkan bisa dikatakan masih kalah jauh.


Kini hanya tinggal beberapa dari Pembunuh Yue, Baoyu memerintahkan para pemanah untuk menyerang namun secara tidak sadar mereka semua telah di habisi oleh bawahan Zhishu. Dengan kata lain, tidak ada cara lain selain menyerah dan bunuh diri.


Zhishu mengarahkan pedangnya, Baoyu memelototi sikap Zhishu yang dianggap terlalu sombong.


" Mari, aku ingin lihat bagaimana cara diriku mati di tanganmu! " ujar Zhishu.


" Terlalu sombong! " balas Baoyu.


" Sebagai gantinya, jika kau tidak berhasil dengan kata lain kalah, maka semua tempat yang merupakan markas mu akan ku ratakan! Namamu akan selamanya hilang setelah hari ini! " ucap Zhishu tegas.


" Banyak bicara!! " sarkas Baoyu.


" Setidaknya aku tidak menggonggong seperti mu! " balas Zhishu.


Namun, berbeda dengan pertarungan yang ia lakukan dengan Xishi, lawannya saat ini jelas sudah seperti gambaran Malaikat Maut yang hanya sekedar bermain-main saja, karena pada akhirnya Baoyu sekalipun yang menganggap dirinya Raja Yue, dia akan mati di tangan Zhishu dengan mudah. Itu adalah janjinya, sebagaimana dia tidak pernah tidak menepatinya.


Yang saat ini berdiri sebagai Master Shi jelas sangat berbeda dengan Master Shi sebelumnya, Dia adalah pendekar naga putih Zhu Zhishu, sebagaimana dia bahkan tidak bisa di kalahkan oleh Zhu Zhexuan, sikap kejinya ia perlihatkan secara nyata. Bertarung menggunakan kemampuan murni, tidak ada manipulasi sihir ataupun ilmu hitam. Namun, sekali lagi ia tegaskan, yang bertarung melawannya saat ini hanyalah bayangan, kalaupun dia mati, Pembunuh Yue akan tetap kembali karena Raja yang sebenarnya memantau dari kejauhan.


Baoyu terdesak, Zhishu memojokkannya setelah berhasil mematahkan pedang milik Baoyu menggunakan pedang Hei Ying miliknya.


" Dari segi pedang saja sudah sangat berbeda, Pemimpin Bayangan kelas bawah berani menyinggungku menggunakan kata-kata kotor! Kau bahkan bukan tandingan murid menengahku! " ujar Zhishu.


" Berisik!! Suatu saat nanti kau pasti akan mati di tangan Raja Yue! Camkan itu ******! " sarkas Baoyu.


" Oh, aku akan menantikan saat itu, aku penasaran seperti apa wujud dari pengecut yang bersembunyi di balik serangga kotor ini! " balas Zhishu.


" Sialan!!! Siapa yang kau sebut serangga kotor, dasar ******!!! " maki Baoyu.


" Kau bisa memintaku membunuhmu sekarang! "


Kata-kata yang sama yang di ucapkan Master Shi saat Li Guang dalam kondisi sekarat. Para bawahan yang mendengar hal itu seolah mendapatkan pemimpinnya kembali, mereka menunjukkan senyum di balik tubuh Zhishu.


" Siala---


Tepat sebelum Baoyu menyelesaikan perkataannya, Zhishu sudah meletakkan ujung pedang di dadanya. Dengan tatapan dingin, raut wajah datar tanpa senyum sedikitpun, Zhishu mendorong pedangnya.


' Apa ini? Tubuhku mati rasa saat ujung pedangnya mengenai kulitku, sekarang aku bisa merasakan pedang hitam ini menembus jantungku! Mungkinkah mereka yang mati di tangan Master Shi merasakan hal seperti ini? Rasanya, sangat menyakitkan.. '


Batin Baoyu bergumam tepat sebelum dia menutup matanya.


Zhishu mencabut kembali pedangnya lalu mengibas nya, hingga sisa darah yang ada di pedangnya terlempar.


Diwei Ling mendekati Masternya lalu mengambil alih pedangnya untuk di bersihkan.


" Tiga orang urus sisanya! " titah Zhishu.


" Baik! "


Si Yin memimpin tugas akhir, seperti yang biasa mereka lakukan, jika yang mati di bunuh oleh tangan Master Shi sendiri, dia akan di penggal lalu di gantung di depan markasnya sendiri.


Sementara itu, Zhishu mendekat ke arah Cheng dan Qibo yang tak sadarkan diri. Fengyue dan tiga lainnya jelas mencoba melindungi Ayah dan anak itu. Zhishu bisa menangkap situasi dari tingkah mereka.


" Luka tusuk di perut laki-laki itu sangat dalam, jika tidak cepat di obati mungkin tengah malam adalah waktu kematiannya! " ujar Zhishu.


" Apa maksudmu? " Tanya Zhiyu yang disertai emosinya.


" Tidak, dia benar! " Ujar Yanxun.


" Aku bisa membantunya menutup luka, namun aku tidak bisa mengembalikan darahnya, jika ingin aku membantumu maka katakan sekarang sebelum aku pergi! " Ucap Zhishu.


Mereka hanya terdiam, Lima pendekar meminta bantuan Pemimpin Pembunuh Malam tentu saja terdengar konyol.


' Aku tidak percaya! Caranya itu membuat niatnya menjadi sangat jelas! ' batin Qing Lian.


" Apa yang kau inginkan? " tanya Zhiyu tiba-tiba.


Zhishu berbalik ke arah mereka, menatap mereka dengan tatapan dingin khasnya.


" Apa aku terlihat mengharapkan sesuatu? Jika aku ingin aku bisa mendapatkannya dengan tanganku sendiri! Pikir mu apa yang bisa di dapatkan dari pria berpikiran dangkal seperti kalian? Bahkan, satu orang mati pun kalian sampai tidak menyadarinya! " ujar Zhishu.


Seketika perkataannya membuat mereka sadar, Fengyue memeriksa denyut nadi dan nafas Qibo. Dia masih hidup, namun yang di katakan Zhishu tidak salah.


" Paman Zhan?? " gumam Zhiyu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2