
Qinsong membawa pergi Zhishu dari hutan timur menuju ke Gunung Qiyi, tepatnya ke menara tinggi Ye Shashou, kediaman Master Shi.
Kedatangan Qinsong tentu di sadari oleh Limei, Limei pergi ke menara tinggi Ye Shashou dan mendapati Qinsong tengah merebahkan tubuh Zhishu di atas tempat tidur. Melihat hal itu, Limei langsung berlutut dan menundukkan kepala.
" Tuan, Anda datang.. " ujar Limei.
" Pergi jemput Diwei Ling dan Yan Xun.. Berikan alasan apapun agar Yanxun menungguku di desa Bai Xuan.. " titah Qinsong.
" Baik, Tuan. " balas Limei lalu pergi.
Sementara itu, Qinsong sendiri membantu Zhishu mengobati lukanya. Luka Zhishu tidak terlalu serius dan tidak mengancam nyawanya, dia hanya membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaganya.
Menyalurkan emosi dalam dirinya memang menguras banyak tenaga, terlebih kemampuan Zhishu yang bisa menetralkan luka dalam sekejap di alihkan kepada naga nya agar bisa menang dalam pertarungan melawan Rubah ekor sembilan. Hal itu membuat dirinya tidak bisa menetralkan luka yang ada pada tubuhnya.
Pedang gaib milik Rubah Pembunuh memang beracun, namun hal itu tidak akan berpengaruh pada tubuh Zhishu yang saat ini. Hanya saja, tusukannya nyata dan membuat Zhishu kehilangan banyak darah. Mungkin butuh waktu lama untuknya memulihkan darahnya, terlebih saat ini tabib andalannya sudah tiada.
Disisi lain, Xingsheng masih berada di tempat yang sama, Xuan Yin sudah berubah ke wujud manusianya, dia tidak sadarkan diri bersama dengan dua orang bawahannya. Mungkin luka mereka lebih parah di bandingkan dengan Zhishu yang memiliki tubuh abadi.
Namun, sepertinya terluka parah saja tidak cukup, Xingsheng memiliki niat lebih, yakni membunuh mereka. Tetapi, sebelum dia melakukan hal itu, sebuah suara yang sedikit familiar terdengar, hal itu membuat Xingsheng mengurungkan niatnya.
Tak lama setelah itu, Diwei Ling dan Yanxun datang untuk mencari Master Shi dan Qinsong. Namun, mereka tidak menemukan siapapun disana, hanya ada lahan kosong yang di kelilingi pepohonan yang tinggi.
" Kemana perginya mereka? " tanya Yanxun.
" Ada yang datang.. " gumam Ling.
Kemudian, Limei muncul dari dalam kegelapan hutan dengan menggunakan jubah hitam, beserta topengnya. Dengan nada dingin dia mulai berbicara.
" A-Ling kau boleh kembali ke Mizong, Tuan Yanxun, Master memintamu menunggu di desa Bai Xuan.. Kami akan mengobati luka mu disana.. " ujar Limei.
" Maaf, hanya saja aku harus pulang sekarang.. " balas Yanxun.
" Baiklah, dengan ini kau memilih untuk membahayakan putramu! Ayo, Ling! " ujar Limei sebelum akhirnya melenggang pergi.
Pernyataan Limei itu tentu saja membuat Yanxun berada dalam keraguan besar, entah darimana dia mengetahui tentang anaknya. Namun, jika benar hal ini akan membahayakan putranya tentu saja Yanxun tidak akan membiarkannya.
" Aku akan ikut! " ucap Yanxun.
Limei menghentikan langkahnya, dia mengangkat sudut bibirnya sebelum akhirnya melanjutkan jalannya.
Yanxun dan Diwei Ling mengikuti Limei dari belakang, ketiganya sama-sama hening dan tidak mengatakan apapun. Hanya ada suara langkah kaki yang menginjak dedaunan kering. Bahkan, semakin dalam hutan yang mereka pijak, suara serangga itu semakin lenyap, bahkan udara menjadi lebih dingin.
Yanxun menatap sekitar sambil berfikir, tempat ini jauh berbeda dengan delapan tahun yang lalu.
' Desa Bai Xuan? Aku tidak tahu kalau desa itu masih ada, letaknya lebih jauh dari yang ku kira, tak heran jika desa ini berada di luar jangkauan pengawasan wilayah timur. Selama ini, apa mereka berada di pihak Pembunuh Malam? Atau Pembunuh Malam adalah profesi mereka? Jika benar, mungkinkah Shingming??? ' batin Yanxun.
Langkahnya terhenti setelah sampai di depan gapura desa Bai Xuan, matanya menatap sendu bukan ke arah desanya, melainkan ke arah gunung yang ada di belakangnya.
" Gunung itu... "
" Gunung Kematian Qiyi.. " potong Ling.
Diwei Ling pergi ke arah gunung, sedangkan Limei membawa Yanxun menuju ke salah satu rumah penduduk yang saat ini dihuni oleh murid Sekte rahasia tingkat menengah.
Dia tidak menggunakan jubah dan topeng seperti Limei dan Yanxun, bahkan dia juga mengira kalau Yanxun adalah salah satu dari kakak seperguruannya.
" Jin Shuang.. Tolong obati dia, setelah selesai antarkan dia ke paviliun sakura.. " ujar Limei.
" Dimengerti.. " jawab Jin Shuang.
" Tuan Muda Huang, Tuan Muda Song akan menunggu Anda di paviliun sakura, tidak perlu khawatir akan bahaya disini.. " ujar Limei.
Tidak ada pilihan lain selain menuruti apa yang dikatakan oleh bawahan Master Shi. Saat ini Yanxun hanya bisa pasrah, tapi, disaat yang bersamaan terlintas dalam pikirannya untuk mencaritahu lebih dalam mengenai Master Shi, dia juga mulai penasaran dengan apa yang ada di balik nama gunung kematian Qiyi.
" Maaf, apa kau tahu mengapa gunung Qiyi berubah namanya menjadi gunung kematian? " tanya Yanxun pada Jin Shuang.
" Ah, itu karena Gunung Qiyi sudah tidak memiliki aura kehidupan lagi, orang yang masuk ke wilayahnya akan lenyap dan tidak pernah kembali lagi.. " jawab Jin Shuang santai.
" Apa kau salah satu dari pembunuh malam? " tanya Yanxun.
__ADS_1
Jin Shuang terdiam, mengenai indentitas nya tentu tidak akan dia beritahu ke sembarang orang. Apalagi pria di depannya adalah orang luar yang kebetulan meminta bantuan Pembunuh Malam untuk menyelesaikan sebuah misi.
" Sudah selesai, aku akan mengantarmu ke paviliun sakura.. " ujar Jin Shuang mengalihkan pembicaraan.
' Sepertinya tidak ada cara lain, jika benar adalah dia, maka satu-satunya cara adalah berbicara empat mata dan bernostalgia. Ada kemungkinan kematiannya adalah awal dari terbentuknya Pembunuh Malam.. Berikut, dahulu dia adalah gadis yang lemah bahkan sangat, mustahil jika waktu merubahnya menjadi seperti sekarang ini.. ' gumam Yanxun.
" Kakak? " panggil Jin Shuang.
" Iya? " sahut Yanxun yang baru saja sadar dari lamunannya.
" Kita harus pergi ke Paviliun Sakura.. " ujar Jin Shuang.
" Ah, mari.. "
Sementara itu, Limei pergi menemui Qinsong yang baru saja selesai mengobati Zhishu. Dia memberitahu tempat dimana Yanxun akan menunggu Qinsong.
Sikap Qinsong begitu dingin pada Limei, di samping itu Limei juga sangat tunduk pada Qinsong. Keduanya seolah sudah mengenal sejak lama layaknya seorang Tuan dan pelayan. Perbedaan yang sangat jauh dengan Limei yang lebih bersikap santai pada Zhishu.
" Tuan, izinkan aku mengantarmu ke paviliun sakura.. " ujar Limei.
" Tidak perlu, aku akan pergi sendiri.. " balas Qinsong lalu melenggang pergi.
Setelah tiba di Paviliun Sakura, Yanxun mendapati Qinsong yang tengah duduk di teras sambil menatap bulan. Kehadirannya di sadari oleh Qinsong yang langsung menyapa nya dengan senyuman.
" Kakak Xiao Xun, bagaimana keadaanmu, kau baik-baik saja? " tanya Qinsong.
" Aku baik, daripada itu biarkan aku bertanya, kemana perginya kau saat pertempuran tadi? " tanya Yanxun dengan nada serius.
" Maaf, kalau begitu aku akan undur diri, kalian di perbolehkan untuk menginap disini malam ini, permisi.. " ujar Jin Shuang menyela sebelum akhirnya pergi.
Sementara itu, keduanya melanjutkan pembicaraan.
" Duduklah dulu.. " ujar Qinsong.
" Sekarang, bicaralah.. " balas Yanxun setelah duduk.
" Aku pergi mencari Master Shi, " jawab Qinsong.
" Dia terluka, bawahannya membawanya, sedangkan aku mengikuti yang lainnya dan sampai di tempat ini. Lalu, apa yang kau lakukan? Apa selama ini kau terlibat dengan Pembunuh Malam? " tanya Qinsong.
" Jangan bicara sembarangan! Ini adalah pertama kalinya aku membuat perjanjian dengannya, dia membantuku dan aku membantunya sebagai balasan.. " jawab Yanxun.
" Membantunya dalam hal apa? " tanya Qinsong.
" Aku tidak tahu.. " balas Yanxun.
" Kakak, bukankah kau terlalu ceroboh? Kau menyetujui kesepakatan itu tanpa tahu apapun? Bagaimana jika dia memintamu membantunya untuk menyerang kota? Itu akan merusak kepercayaan dan reputasi mu sebagai pewaris Klan Báisè de lǎohǔ! " ujar Qinsong.
Yanxun terkejut sampai membelalakkan matanya, lagi-lagi dia begitu naif sampai tak memikirkan hal itu. Namun, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dia sudah terjebak dan tidak mungkin bisa keluar sebelum kesepakatannya berakhir.
" Aku tahu! Sejak awal aku sudah menyiapkan diri untuk resiko terburuknya! Selama kota ku aman, aku akan mempertaruhkan apapun, sekalipun dia meminta nyawaku! " tegas Yanxun.
Qinsong terdiam, keduanya kembali hening sebelum akhirnya Yanxun mulai kembali berbicara.
" Song Qin Song, aku mendengar rumor kalau kau telah menghilang dua tahun belakangan ini.. Kemana kau pergi selama ini? " tanya Yanxun.
" Ah, jika mengenai aku menghilang mungkin itu benar, sekarang aku tiba-tiba muncul dan bertemu denganmu saat sedang bersama Master Shi, kau pasti berfikir kalau aku bersembunyi di antara para pembunuh malam.. Namun, tenang saja, aku bukan bagian dari mereka.. Aku memiliki tempat untuk pulang selain ibukota Jianyi.. " jawab Qinsong.
" Tempat apa? " tanya Yanxun.
" Aku tidak bisa memberitahumu, yang penting, rumor mengenai aku adalah raja Yue yang sebenarnya itu adalah salah! Kau tahu aku, tidak pernah menyentuh pedang apalagi mengayunkannya, aku juga tidak pernah menyentuh anak panah.. Selama di kediaman Qinsong aku hanya belajar dan mengurus masalah kota, se sedikitnya aku hanya mempelajari musik, itulah alasan mengapa aku bisa mengendalikan musik kegelapan menggunakan seruling ku.. " jelas Qinsong panjang lebar.
Raut wajah Qinsong yang serius dan suara yang sedikit lirih membuat Yanxun sedikit mencoba mengerti nya. Meski ceritanya sedikit janggal, namun Yanxun tidak memiliki pemikiran lain untuk menyangkalnya. Lagipula, jika di lihat hubungan keluarga antara Qinsong dan Qing Lian sepertinya tidak begitu baik.
" Kakak, selama ini apa ada orang-orang yang mencari ku? " tanya Qinsong.
" Ada.. " jawab Yanxun.
" Apa itu pengawal rumah? Ayah yang memerintahkan mereka? " tanya Qinsong.
__ADS_1
" Bukan! Dia adalah Nie Fengyue.. " jawab Yanxun.
" Ah, ternyata si bodoh itu.. " ujar Qinsong.
Qinsong beranjak dan melangkah masuk ke dalam rumah, sosok dinginnya mendadak hilang saat berbicara dengan Yanxun.
Sosok Qinsong seperti seseorang yang memiliki kepribadian ganda, dia bersikap dingin dan pemilik sorot mata yang tajam di hadapan orang-orang tertentu. Namun, di hadapan orang-orang yang mengenalnya, dia adalah sosok lugu yang penuh dengan keceriaan, terkadang dia juga bersikap layaknya laki-laki polos yang mudah di bodohi. Hanya saja, siapa yang tahu wajah yang sebenarnya.
Keesokan harinya, Zhan Qibo baru saja tiba di rumahnya, belakangan ini dia sering mendapatkan tugas dari Klan Jīn Shī dari barat yang membuatnya hampir tak memiliki kesempatan untuk pergi menemui seseorang.
Dia tiba di rumah dan di sambut oleh adiknya, Zhan Hua. Kini Zhan Hua pun hanya menetap dirumah dan tidak pergi kemana pun. Dia hanya sesekali mengunjungi makam sang ayah dan adiknya untuk di bersihkan.
Luka terdalam itu ternyata mampu membuatnya terisolasi dalam kesedihan yang tidak ada habisnya. Rasa kehilangan itu tidak hilang dalam hitungan bulan bahkan sekarang sudah dua tahun lamanya, namun Zhan Hua masih tetap terpukul.
" Kakak Kedua.. Kau baik-baik saja? " tanya Hua saat melihat Qibo yang berdiam diri di pintu dan menatap kosong ke arahnya.
^^^(Zhan Hua)^^^
Qibo hanya membalas pertanyaan itu dengan senyuman, saat dia mengambil langkah lagi, Zhu Zheyan keluar dari rumah. Dia menyambutnya dengan senyuman hangat, Qibo membalas senyumannya. Namun, tetap saja banyak kekurangan dirumah ini.
Seketika dirinya menjadi sangat merindukan Ayah dan adik kesayangannya. Tak terasa air matanya menetes karena tidak mampu menahannya lagi.
" Dia akan menyebutmu bodoh jika sampai melihatmu menangis! " celetuk Zheyan.
^^^(Zhu Zheyan// Zhan Feng)^^^
" Masuklah, ada yang ingin aku tanyakan padamu.. " ujar Zheyan.
Qibo menurut, selain itu Hua juga ikut masuk untuk bergabung dalam perbincangan kakak-kakaknya.
" Aku akan langsung ke intinya, ini mengenai Zhan Xishi.. Qibo, apa kau ingat dengan Guzheng milik Xishi? Aku dan Hua sudah mencarinya di setiap ruangan yang ada dirumah, namun Guzheng itu tidak ada di manapun.. Apa kau tahu, dimana Zhan Xishi menyimpannya terakhir kali? " tanya Zheyan.
Qibo terdiam dan mencoba mengingat kembali terakhir kali dia melihat guzheng itu. Namun, memorinya malah menunjukkan saat dimana Xishi memainkan guzheng di hadapan Zheyan sendiri.
" Kakak, terakhir kali aku melihatnya saat dia menunjukkan sebuah lagu padamu.. Setelah itu, aku tidak ingat Xishi menunjukkannya lagi.. " jawab Qibo.
^^^(Zhan Qibo)^^^
" Menunjukkan? " gumam Zheyan.
' Jika itu dapat di simpan menggunakan mantra, mungkin ada satu cara untuk memanggilnya kembali.. ' gumam batin Zheyan.
Qibo dan Hua menatap heran ke arah Zheyan, sedangkan Zheyan sendiri tengah mencoba mengingat kembali asal muasal guzheng itu.
" Ibunda!! "
Zheyan beranjak.
" Ada apa? " tanya Hua.
" Aku akan pergi sebentar.. " ujar Zheyan lalu melenggang pergi.
Qibo masih belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, Zheyan muncul dan buru-buru pergi secara tiba-tiba.
" Hua, ada apa sebenarnya? " tanya Qibo.
" Sebenarnya, sudah lama ini kakak tertua mencari keberadaan adiknya, Zhu Zhishu. Pertemuan lima klan adalah terakhir dia menunjukkan dirinya.. Belakangan ini juga Pembunuh Malam dan Pembunuh Yue mulai tidak terdengar lagi, namun pemberontakan Rubah Pembunuh sudah semakin menjadi, Klan Hēilóng mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi mereka! " jawab Hua.
Saat Hua mengatakan Pembunuh Malam, Qibo merasa sedikit terkejut. Selama ini dia tidak memiliki kesempatan untuk pergi, namun selagi bisa dia akan pergi dan mencari keberadaan Zhan Xishi.
" Kakak kedua, kau mau kemana? " tanya Hua saat Qibo beranjak secara tiba-tiba.
" Aku akan pergi sebentar! Jangan kemana-mana dan tunggu kabar dari kakak Feng! " ucap Qibo sambil berlari keluar.
__ADS_1
Qibo memacu kudanya menuju ke sisi selatan wilayah timur. Dia berharap, bahkan sangat berharap agar bisa di pertemukan dengan Master Shi.