
Sebelum Xishi membawa Qibo ke tempat yang ditujunya, Qibo terlebih dahulu menyarankan tempat yang biasa mereka datangi dan langsung di setujui oleh Xishi.
Mereka sampai di tempat dan langsung menemukan Limei yang rupanya sudah menunggu mereka sejak kemarin. Limei memberi salam pada kedua masternya begitu Xishi dan Qibo masuk ke kamar.
" Master, maafkan Limei, sejauh ini jejak Tuan Muda Zhan belum di temukan.. " ujar Limei sambil menurunkan pandangannya.
" Siapa yang kau maksud? Siapa yang hilang? Apa kakak ketiga juga tiba-tiba hilang? " tanya Xishi.
" Tidak perlu mencarinya lagi, dia sudah ada di rumah.. " potong Qibo sebelum sempat Limei menjawab.
Qibo sudah siap bertanya-tanya tentang apa yang adiknya lakukan tadi, sebelumnya dia melihat Xishi menekan leher lelaki itu, namun begitu Qibo ingin menindak lanjuti Xishi malah melindungi laki-laki itu. Terlebih kelihatannya ada banyak hal yang tidak di ketahui Qibo. Namun, sebelum Qibo memulai berbicara, Xishi lebih dulu mengatakan apa yang ingin dia katakan. Hal itu membuat Qibo menelan kembali kata-katanya.
" Limei, kau yang bertemu dengan Nie Fengyue saat itu? Racun apa yang kau berikan?! " tanya Xishi dengan nada bicara yang datar membuat Limei salah faham dan langsung berlutut.
" Benar, Master. Saat itu aku berusaha melindungi salah satu adik seperguruan yang masih berada di tingkat bawah, aku memberikannya racun halusinasi masa lalu sebelum akhirnya pergi membawa keduanya pergi untuk menghilangkan jejak! " ujar Limei semakin merendahkan kepalanya.
Xishi terdiam, dia mengerti dengan apa yang Limei katakan.
" Jika tindakan Limei salah, mohon Master memberi hukuman pada Limei! " sambung Limei.
Xishi menghela nafas.
" lain kali, jika bertemu orang rendahan yang berani menghalangi kalian, langsung bunuh saja! Tidak perlu membuang-buang racun, racun itu di buat olehku, penawarnya juga hanya aku seorang yang tahu! Jika kakak kedua sudah menyeret namaku pada masalah ini, mau tidak mau aku harus menambah skenario lain! " ujar Xishi sambil berjalan ke arah tempa duduk lalu duduk disana.
Qibo tercengang mendengar perkataan Xishi.
' Eh, bukankah aku belum mengatakan apapun. tentang hal ini, aku hanya mengajaknya membantu Nie Fengyue dan belum mengatakan hal yang seperti Xishi katakan! ' gumam batin Qibo heran.
" Apa kamu akhirnya bersedia membantu Nie Fengyue? " tanya Qibo.
" Apa aku mengatakan hal itu? " tanya balik.
' Eh! Xishi begitu dingin. Sejak kemarin suasana hatinya tidak baik, hal ini harus segera di bicarakan dengan Kakak Tertua, namun untuk sekarang pikirkan dulu cara mencairkan suasana hatinya itu! ' Gumam Qibo lagi.
" Kakak, sebelumnya aku sudah mengatakannya kepadamu, jadi apa perkataan ku sebelumya masih belum jelas dan mengapa sikap Kakak menjadi begitu gugup? " tanya Xishi.
Sekali lagi, Qibo di buat diam oleh Xishi, dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya. Saat ini, baginya Zhan Xishi yang sekarang lebih menakutkan dari pada Master Shi yang semua orang bicarakan, secara tidak langsung Qibo merasakan bagaimana ketakutan yang sebenarnya saat berhadapan dengan Sosok Ketua Pembunuh Malam ini.
' Tidak ada cara lain! ' gumam Qibo.
" Sebenarnya sejak tadi aku ingin menanyakan kejadian di kedai teh tadi, ku lihat kau punya hubungan dengan laki-laki yang membawa kipas itu? Apa kau punya hutang budi? " Secara tiba-tiba, Qibo menjadi sangat dingin.
Namun, caranya tetap tidak membuat Xishi menunjukan ekspresi apapun. Dia menganggap sepele dengan terus menunjukkan sikap santai yang bercampur dengan aura dinginnya.
' Berbicara tentang hutang budi? Memang, aku berhutang budi karena dia menyelamatkan nyawaku saat itu, namun... '
" Aku dan laki-laki itu tidak memiliki hubungan apapun, hanya sempat bertarung bersama dalam pertempuran semalam melawan orang-orang dari Rubah Pembunuh! " jawab Xishi.
Qibo dan Limei kompak menunjukkan ekspresi terkejut mereka, selama dua tahun belakangan ini, nama ini tidak pernah muncul. Namun, sekarang tiba-tiba orang-orang itu kembali muncul sudah pasti ada suatu alasan yang mendorong mereka kembali keluar.
" Kenapa begitu terkejut? " tanya Xishi yang bahkan tidak mengangkat wajahnya untuk melihat raut wajah dua orang di depannya.
" Limei, bangkitlah.. Lutut mu akan sakit jika terus menerus seperti itu, aku akan mempertimbangkan hukuman untukmu dan juga kedua orang itu! " ujar Xishi.
__ADS_1
" Baik "
Limei bangkit dan berdiri, Qibo baru mengambil posisi duduk di kursi sebelah Xishi.
" Nama ini sudah lama tidak muncul, sekarang tiba-tiba muncul jelas sangat mencurigakan! " ujar Qibo.
" Limei, pergi ke kedai teh terkenal di wilayah ini, aku meninggalkan kudaku disana! " ujar Xishi.
" Baik "
Limei keluar, sekarang hal ini hanya akan di bahas oleh Kakak Beradik Zhan saja.
Mengenai Rubah Pembunuh, mereka adalah organisasi pembunuh kedua yang paling di takuti. Ada Organisasi pembunuh lain yang menempati posisi pertama, yakni Pembunuh Yue. Namun semenjak nama Pembunuh Malam beredar, nama kedua Organisasi Pembunuh itu lenyap dalam perbincangan orang-orang. Dan saat itu juga, Pembunuh Malam menjadi satu-satunya organisasi yang paling di takuti karena cara membunuhnya yang sangat rapi dan sadis.
Sekarang yang seharusnya muncul adalah Pembunuh Yue, karena Pembunuh Malam merebut posisi pertamanya dan membuat namanya sebagai Pembunuh yang paling di takuti tidak berarti lagi.
" Kau curiga tapi aku tidak.. Aku sudah memperhitungkan kalau hal ini pasti terjadi! " ujar Xishi.
" Itu sebabnya kau mendirikan sekte rahasia? " tanya Qibo.
" Benar, aku mencoba memperkuat mereka dan menjadikan mereka pendekar rahasia terkuat dan membuatnya berlipat ganda. Dengan begini, Pembunuh Malam tidak akan pernah ada habisnya! " ujar Xishi.
" Lalu, bagaimana dengan Rubah Pembunuh, kapan kau pertama kali melihat mereka? " tanya Qibo.
" Awalnya aku tidak tahu itu adalah mereka, pertama kali bertemu saat aku dan laki-laki itu sedang bertarung di atap. Lalu, kali kedua saat aku sampai di Desa Luo, disana aku melihat wajah pemimpinnya dengan jelas, namun aku lengah lalu terluka sebelum akhirnya di bawa ke Gunung dan di rawat oleh Luo Zhiyu disana, setelah membicarakan hal ini aku baru tahu kalau mereka adalah para Rubah Pembunuh! " jelas Xishi panjang lebar.
" Kau terluka? " tanya Qibo yang perhatiannya mulai beralih ke tubuh Xishi, mencari-cari dimana letak lukanya.
" Itu luka kecil, tidak perlu khawatir! " ujar Xishi.
" Apa yang terjadi antara kau dan Kakak Tertua, atau mungkin ada yang mengusik mu selama berada di Gunung Luo? Aku sungguh tidak akan mengampuni siapapun yang berani mengganggumu! Kau harus ingat, kau punya aku, kakak kedua mu ini akan selalu berada di pihakmu! " ujar Qibo.
Xishi tersenyum, sesaat Qibo merasakan ketulusan dalam senyum Xishi saat ini. Namun, dia belum bisa menemukan hal sebenarnya, Xishi menyembunyikannya dengan baik hingga tidak meninggalkan celah apapun, orang biasa akan langsung salah faham dan menganggap kalau dirinya banyak berpikir. Namun, Qibo ini, sejak kecil Xishi selalu mengikutinya dia paham betul gerak gerik Xishi, hanya saja hal ini sepertinya Xishi belum siap untuk memberitahunya.
" Aku tidak apa-apa, hanya saja merasa sedikit janggal, namun Kakak, bolehkah aku meminta sesuatu padamu? " ujar Xishi.
" Kau ingin minta apapun, selama aku mampu aku akan memberikannya.. " balas Qibo.
" Ini sederhana, aku hanya ingin pedang Khusus untuk Master Shi.. " jawab Xishi.
" Eh, bukankah pedangmu yang sekarang cukup bagus? " tanya Qibo yang terkejut karena tiba-tiba Xishi minta di buatkan pedang.
" Apa kakak keberatan? Kalau begitu lupakan apa yang baru saja aku katakan.. " balas Xishi.
" Membuat pedang untuk Master Shi adalah sebuah kehormatan bagiku, mana mungkin aku menolaknya, aku akan segera membuatkannya untukmu.. " ujar Qibo.
Xishi tersenyum, Qibo pun membalas senyumannya. Perlahan Qibo mulai merasa berdamai dengan sikap dingin Xishi.
" Terima kasih banyak Tuan Muda kedua.. " timpal Xishi.
Selang beberapa detik saja, pintu di ketuk, suara Limei dari luar memanggil mereka. Qibo menyuruhnya masuk dan bicara.
" Tuan Muda Song mencari Master.. " ujar Limei.
__ADS_1
" Eh, " gumam Qibo.
" Dia bilang aku membawa kuda miliknya, namun saat aku menjawab ini adalah kuda milik tuanku dia langsung menebak nama Master.. " ujar Limei menjelaskan.
" Tidak perlu takut, kau tunggu disini dan jangan kemana-mana sampai kami kembali! " ujar Xishi.
" Baik "
Xishi mengenakan kembali maskernya sebelum akhirnya keluar mengikuti Qibo dari belakang. Terlihat Qinsong tengah duduk dengan di temani salah seorang pengawal di sampingnya. Mendengar langkah kaki orang yang menuruni tangga, Qinsong pun menoleh, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah Zhan Xishi.
^^^( Song Qin Song )^^^
Xishi bersikap seperti biasanya, kakak beradik itu mulai memberi salam dan di balas ramah oleh putra kedua dari Song Gao Chang ini.
Qibo juga meminta maaf karena tidak langsung menemuinya dengan alasan baru saja tiba, namun hal itu memang kebenarannya. Hari sudah mulai petang namun Qinsong malah mencari mereka sampai kesini.
" Jika berkenan, kalian berdua bisa menginap di Kediaman Song, agar lebih mudah untuk memeriksa kondisi Tuan Muda Nie " ujar Qinsong.
'Apa jadinya kalau sampai menginap disana? Lebih baik tidak us-
" Menolak kebaikan seseorang tentu bukanlah hal baik, jika tidak keberatan kami akan menginap satu malam.. " ujar Xishi.
' APA?? Bocah ini, apa yang dia rencanakan?? ' gumam Qibo melanjutkan isi suara hatinya yang sempat terpotong.
" Tentu saja, tidak.. " ujar Qinsong.
Akhirnya, Qibo dan Xishi pun di bawa ke Kediaman Song, Limei juga ikut pergi agar tidak ada pertanyaan lebih lanjut jika tidak di ajak. Lagipula, Limei lah yang membawa Qinsong sampai ke hadapan Xishi.
Baru masuk saja, mata mereka sudah dimanjakan dengan kemegahan di dalam kediaman itu. Padahal mereka baru saja memasuki pintu utama dan belum sampai benar-benar masuk ke dalam Kediamannya. Memberikan penginapan berupa Paviliun mewah tentu saja sangat berlebihan untuk dua pihak yang baru di pertemukan satu kali. Namun, sepertinya Qinsong ini terlalu polos hingga bisa menaruh kepercayaan penuh kepada kakak beradik Zhan ini. Tidak ada sedikitpun kecurigaan yang terselubung dalam hatinya, merasa hal ini harus di biarkan berjalan dengan semestinya.
Malam tiba, saat ini mereka benar-benar merasakan kenikmatan yang ada di Kediaman Song ini. Selesai makan malam, ketiganya pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat, namun malam ini Xishi malah tidak bisa tidur.
Ada terlalu banyak masalah yang muncul hingga Xishi tidak bisa mengendalikan pikirannya untuk memikirkan masalah itu satu persatu. Berawal dari Bai Long Qishi tiba-tiba masalah antara dirinya dengan Zhan Feng muncul dalam pikirannya. Saat mencoba menepis hal itu, dia mengingat kembali wajah Xuan Yin sebelum akhirnya memori terus berputar ke belakang hingga memperlihatkan pertemuannya dengan Liu Xingsheng. Saat dimana jarak antara mereka tiba-tiba menjadi begitu dekat sampai beberapa kali saling bertukar pandang. Saat itu dia mulai membuka kembali kejanggalan dari seorang Liu Xingsheng.
'Benar, mata itu.. dia pemilik mata itu, aku mengingat jelas saat dia menatapku dari sebuah kedai teh.. Meski sebagian wajahnya tertutup oleh kipas, namun fakta kalau dia selalu membawa kipas yang sama persis cukup untuk membenarkan dugaanku. Lalu, gerakan beladiri nya begitu asing, terlebih tatapannya terasa begitu hangat padaku, namun begitu menatap orang-orang bertopeng rubah itu aku sampai bisa merasakan kemarahannya..
Dia memiliki wangi yang khas, wangi yang tidak pernah ku cium aromanya pada siapapun tetapi tubuhnya sangat dingin, kulitnya pucat, ketika aku menatap dalam-dalam matanya aku bisa melihat warna matanya yang sesungguhnya, namun, mungkinkah dia memiliki penyakit dingin yang serupa denganku, atau mungkin..
Tunggu! Mengapa aku memikirkan pria dungu sepertinya?? Namun, ini sungguh aneh.. Dari mana dia berasal? Sekte mana yang tak ku ketahui gerakan beladiri nya? Mungkinkah ada sekte rahasia lain selain Pembunuh Malam? ' seketika Xishi berhenti bergumam.
Samar dia mendengar suara seruling yang pernah ia dengar sebelumnya, karena penasaran, Xishi keluar. Suara itu terdengar lebih jelas, penasaran dengan siapa yang memainkannya, Xishi pun pergi diam-diam lewat atap dan mendekati ke sumber suara.
Namun, saat tinggal beberapa bangunan lagi, langkahnya terhenti di salah satu atap. Xishi merasakan ada bahaya sekitar, dari tempatnya berdiri, dia melihat ada seseorang yang mengarahkan panah ke lelaki yang tengah bermain suling itu. Tanpa sadar kaki Xishi membawanya melesat cepat ke arah laki-laki itu dan berdiri di depannya mencoba melindungi.
' Aroma ini.. ' gumam Xishi.
Namun, sebelum sempat dia melihat wajah laki-laki yang memainkan seruling ini, laki-laki itu malah memeluknya erat dan membenamkan wajahnya dalam dada bidangnya. Xishi tidak bisa menghindari hal itu dan hanya bisa diam di bawah kendali laki-laki yang meniup seruling itu.
Dengan cepat tangan laki-laki itu menangkap anak panah itu sebelum menusuk ke punggung Xishi. Xishi selamat, namun orang yang berusaha membunuh itu tentu saja tidak aman, kipas di lemparnya dan dengan mudahnya memenggal kepala orang dengan pakaian serba hitam dan menggunakan sebuah topi caping di kepalanya. Kipas berputar dan kembali ke tangan laki-laki yang tengah memeluk Xishi.
" Istriku yang bodoh, kenapa bertindak begitu ceroboh? Kau jangan sampai bosan hidup seperti ini! " tanya laki-laki dengan suara familiar itu.
__ADS_1
Seketika mata Xishi terbelalak mendengar suara dan nada bicara itu.
' Tidak salah lagi.. Ternyata adalah dia.. Liu Xingsheng! ' gumam Xishi.