Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley

Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley
Perbincangan Akhir


__ADS_3

Xingsheng membawa Xishi kembali ke kediamannya, sementara kekacauan yang ada di urus oleh para pengawal kediaman Song dibantu oleh Hua dan Fengyue serta para penduduk sekitar.


Di kediaman Liu, Xingsheng menidurkan Xishi di tempat tidur sambil menggerutu, Liang yang juga ada di tempat terus menerus menundukkan kepalanya karena merasa bersalah membiarkan Xishi ikut bertarung sampai terluka parah seperti itu.


" A-Liang? " panggil Xingsheng.


" Ya, Master? " sahut Liang.


" Keluar dan renungkan kesalahan mu di kamar! Setelah ini aku akan memberikan hukuman kepadamu! " ujar Xingsheng.


Meski terlihat marah namun nada bicaranya tidak sekasar kelihatannya, gaya bicaranya seperti seorang ayah yang sedang memarahi anaknya. Lembut namun jika sudah menetapkan akan memberikan hukuman, Liang tentu saja bisa merasa takut.


" B-baik.. " jawab Liang lalu pergi dari kamar Xishi.


Setelah itu, Xingsheng terlihat menatap sendu ke arah Xishi, dia sebenarnya ingin memarahi Xishi juga, namun sekarang kondisinya melemah karena kehilangan banyak darah.


" Kau bisa melakukannya, kenapa membiarkannya terus terbuka dan mengeluarkan banyak darah? Kau ini, bodoh 'kah? " gerutu Xingsheng.


Salah satu pelayan masuk dengan membawa air hangat dan handuk kecil, setelah memberikan itu pada Xingsheng, dia pergi lagi.


Sebenarnya, orang seperti Xishi sudah tidak membutuhkan obat luka luar maupun obat dalam. Dalam keadaan sadar, tubuhnya bisa menghapus luka maupun rasa sakit. Itu artinya, dia sama sekali tidak bisa di lukai secara fisik oleh orang biasa maupun pendekar sekalipun.


Walaupun dirinya memiliki kemustahilan seperti itu, bukan berarti dirinya benar-benar tidak bisa di lukai. Xishi pun memiliki kelemahannya tersendiri, kelemahannya ada pada jantungnya.


Pada saat Xishi bertarung melawan Zhexuan, Xishi secara terlambat menyadari Zhexuan yang mengirimkan mantra segel yang mengarah ke tubuhnya, namun dirinya berhasil menghindar dengan melakukan pukulan jantung pada dirinya sendiri lalu menghancurkan mantra nya tepat satu jengkal dari tubuhnya.


Hal itu membuat, Zhexuan, Feng dan Cheng berfikir kalau tubuh Xishi berhasil di segel kembali, namun faktanya adalah tidak. Xishi bebas dari mantra segel yang di berikan oleh Zhexuan, dengan kata lain dirinya sudah bangkit sebagai Bai Long Qishi ketiga. Meski hal itu belum di sadari oleh Xishi, dia pun tidak mencoba mencaritahu kenapa dirinya harus di segel, dia bahkan tidak tahu apa jadinya ketika tubuhnya tidak di segel.


Sekarang Xishi kehilangan banyak darah, hal ini tentu membuat kondisinya semakin melemah. Xingsheng hanya mengetahui satu orang yang bisa membantu hal ini.


Saat dirinya beranjak, sebuah tangan menahan tangannya, membuat Xingsheng kembali duduk di tepi tempat tidur.


" Dimana? " suara Xishi terdengar sangat lirih, matanya masih terpejam namun mulut dan tangannya bekerja dengan baik.


" Di rumahku, istirahat dulu, aku akan keluar sebentar! " jawab Xingsheng.


" Hmm.. " gumam Xishi.


Xingsheng pun keluar dari kamar Xishi dan pergi ke kamar Liang yang mungkin masih menundukkan kepalanya serendah-rendahnya.


" A-Liang? " panggil Xingsheng begitu masuk ke kamar Liang.


Liang tengah menghadap ke dinding kamarnya, menyahut tanpa membalikkan tubuhnya.


" Iya? "


" Sudah tahu apa kesalahan mu? " tanya Xingsheng.


" Tidak menjaga Nona Zhan dengan baik dan membiarkannya ikut bertarung sampai terluka parah, Hamba pantas untuk di hukum! " jawab Liang.


" Baik-


" Tapi, Master. Tolong jangan berikan aku hukuman yang berat, aku juga terluka.. " ujar Liang memotong.


" Memotong perkataan ku, berani meminta keringanan serta membela diri! Hukuman mu di tambahkan! " tegas Xingsheng.


" A-Apa??!! "


" Empat macam hukuman! " ujar Xingsheng.


" Baik! " jawab Liang yang sadar semakin dia memberontak semakin banyak hukumannya.


" Berbalik lah.. Aku akan memberikan hukuman yang pertama! " ujar Xingsheng.


Liang pun berbalik, setelah itu Xingsheng mulai memberikan hukuman yang berupa perintah untuk pergi ke Desa Luo.


Disisi lain, di Kediaman Song, Luo Bei Yang dan Luo Zhiyu baru saja tiba. Kedatangan mereka di sambut oleh Qinsong yang memang di tugaskan untuk menyambut pemimpin sekte Naga Hitam dari Selatan.

__ADS_1


" Selamat datang Paman Luo dan Kakak Zhiyu.. Aku sudah menyiapkan paviliun untuk kalian berdua, silahkan beristirahat lebih dulu.. " ujar Qinsong.


" Terimakasih, maaf sudah merepotkan Tuan Muda kedua.. " balas Beiyang.


" Tidak apa-apa, ini sudah menjadi tugasku untuk menyambut kalian berdua.. " ujar Qinsong lembut.


Qinsong pamit untuk mengurus hal lain dan membiarkan kedua tamunya untuk beristirahat sejenak di kediaman yang sudah di sediakan. Begitu keluar dari pintu kediaman, Qinsong terlihat menghembuskan nafas lega dan bergumam sebelum akhirnya melenggang pergi.


" Untuk tidak sampai terlambat.. " gumamnya.


Saat Qinsong hendak kembali ke kediaman, dia berpapasan dengan Fengyue dan Hua yang baru saja datang berpatroli. Ketiganya berbincang sejenak.


" Bagaimana keadaan di luar? " tanya Qinsong.


" Buruk, Pembunuh Yue masih berkeliaran, bahkan membuat kekacauan di kota, beruntung Nona Zhan dan temannya sudah membereskan hal itu.. " jawab Fengyue.


" Bagaimana dengan kondisi Nona Zhan? " tanya Qinsong.


" Entahlah.. "


" Apa ayahku sudah datang? " tanya Hua.


" Tuan Zhan akan datang besok pagi, Paman Luo dan Kakak Zhiyu sudah tiba, sekarang mereka sedang beristirahat.. " jawab Qinsong.


" Eh, Kakak Feng tidak ikut? " tanya Hua.


" Mungkin dia akan datang bersama dengan Paman Zhan.. " ujar Fengyue.


Hua terdiam, lagi-lagi memikirkan tentang siapa yang membawa Xishi pergi. Padahal sangat asing, namun dirinya tidak bisa pergi untuk menghentikannya, kedekatan mereka terlihat begitu jelas hingga Hua tidak berani menghalanginya.


" Heh, Qinsong. Kau tidak ribut? Xishi di bawa pergi oleh laki-laki, sebelumnya saat Xishi di bawa oleh Kakak Xiaoxun kau sangat berisik sampai mengejarnya, sekarang sudah menyerah 'kah? " tanya Fengyue.


" Kenapa kau begitu munafik? Bukankah kau juga menyukai Nona Zhan? " tanya balik Qinsong.


" Eh, apa itu? Tiba-tiba mengejutkanku dengan mengatakan hal itu, kau ini becanda? Aku mana tertarik dengan gadis aneh sepertinya! " sangkal Fengyue.


" Aih, kau marah? Kenapa? Bukankah kau juga begitu dingin pada adikmu? Kau bahkan tidak menghentikan laki-laki yang membawanya pergi, itu bisa menjadi rumor yang merendahkan nama baik Zhan, kau tau? " ujar Fengyue yang jelas sangat salah penilaiannya.


" Aku memang dingin dan acuh pada adikku, namun bukan berarti aku tidak memperhatikannya, meskipun demikian adik perempuanku adalah satu-satunya hal yang sangat berharga, bahkan lebih berharga dari nyawaku, kedua kakakku yang lain pun akan berkata demikian. Mengenai laki-laki itu, jikalau benar dia adalah kekasih dari Zhan Xishi, ayah pun tidak akan berani menghalangi mereka jika mereka ingin menikah sekalipun! Jadi, masalah keluargaku, kalian berdua tidak perlu ikut campur terlalu jauh! " ujar Hua dengan begitu dinginnya lalu berlalu meninggalkan Fengyue dan Qinsong.


Fengyue dan Qinsong jelas terdiam begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Hua. Mereka bahkan tak mampu berkata-kata sampai Hua tak terlihat lagi dari pandangan mata.


' Hua begitu dingin dan sedikit bicara selama ini, namun begitu bertemu dengan Xishi, dirinya mendadak begitu hangat dan berani berbicara lebih banyak, meski kepeduliannya tidak di perlihatkan secara langsung, namun matanya tidak bisa berbohong, dia sangat menyayangi Xishi.. Aku salah besar! ' gumam batin Fengyue.


" Hua'er, dia kumat lagi? Menyeramkan.. Sama seperti saat pertama kali bertemu dengan Nona Zhan.. " gumam Qinsong.


" Sudah petang, aku akan pergi mandi! " ujar Fengyue mengalihkan pembicaraan.


" A - Yue, kakak Xiao Xin, Kakak Zhiyu dan aku akan pergi minum malam ini, kau boleh datang kalau mau! " ujar Qinsong.


Fengyue hanya tersenyum sebelum akhirnya pergi, tiba-tiba saja suasana berubah se-drastis ini. Hua adalah orang pertama yang membuka tali pertemanan dengan Fengyue setelah sekian lama Fengyue berada dalam kesendirian dan ruang yang tertutup. Dia menutup diri dari berbagai aktivitas dari keramaian dan hanya mendalami teknik pedang yang di kuasainya selama itu.


" Haaahh.. mereka laki-laki dewasa akankah saling memusuhi? Ini adalah tahun pertama Fengyue mau berbicara dengan ku meski terkadang perkataannya terlalu menusuk, namun itu juga berkat Hua'er.. Tanpanya, mungkin Fengyue yang nakal dan ceplas-ceplos itu akan menua dalam kesendiriannya tanpa seorang teman! " gumam Qinsong seorang diri.


Malam pun tiba, Liang sampai di depan pintu kediaman keluarga Zhan. Dengan sedikit ragu dia mengetuk pintu dan memanggil penghuninya dengan sopan. Tanpa butuh waktu lama, seseorang membuka pintu dan menyambut kedatangan Liang dengan ramah.


" Em, mohon maaf mengganggu Anda malam-malam, Tuan Zhan. " ujar Liang.


" Tidak apa-apa, masuklah dulu, berbicara di dalam saja.. " balas Cheng.


Liang masuk dan di suguhkan teh hangat oleh Cheng, tanpa banyak basa-basi lagi, dia pun segera menyampaikan maksud kedatangannya kesini.


" Tuan Zhan, sebelumnya aku ingin minta maaf karena mengganggu waktu Anda, hanya saja ini sangat mendesak.. Sore tadi Aku dan Nona Zhan terlihat dalam pertarungan melawan anggota Pembunuh Yue, kami menang, namun Nona Zhan mendapat luka yang cukup berat, dirinya kehilangan banyak darah saat ini.. Master ku bilang kalau kau punya penawar penambah darah, jadi dia mengutus ku kesini untuk meminta bantuan darimu.. " jelas Liang.


" Zhan Xishi itu terlalu keras kepala, namun gadis sepertinya tidak ada duanya di dunia ini. Dia istimewa dan banyak orang yang mencintainya, di samping itu, banyak juga yang ingin membunuhnya.. Apa selama ini dia bersama kalian? " tanya Cheng.


" Sebenarnya, aku dan Nona Zhan baru bertemu sore tadi. Nona Zhan juga sempat mengatakan kepadaku kalau dia dan Nona Limei baru tiba kemarin malam dan berpisah di jalan. Aku berniat membantunya mencari Nona Limei, namun kami malah bertemu dengan Para Pembunuh Yue.. " jawab Liang mendetail.

__ADS_1


' Benar, Zhan Xishi punya satu tempat lagi untuk dirinya pulang, Kau sudah besar dan ingin berpisah dari ayah, namun kalau kau masih terus terluka seperti ini, bagaimana Ayah bisa melepasmu? ' gumam batin Cheng.


Cheng tersenyum sekilas.


" Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan penawar itu.. " ujar Cheng lalu beranjak.


Cheng pergi meninggalkan Liang sendirian, dalam kesendiriannya, Liang merasa sangat bersalah pada Xishi. Dalam diam hatinya bertekad untuk melindungi Xishi sampai tiba hari itu akan terjadi.


Tak lama kemudian, Cheng datang dan memberikan satu botol kecil berisi penawar yang Liang minta.


" Suruh Xishi meminumnya sekaligus, paksa saja jika dia tidak mau " Ujar Cheng.


" Baik "


" Dan juga, bolehkan aku menitip pesan? " tanya Cheng.


" Tentu saja, Aku akan menyampaikan pesan anda pada Nona Zhan.. " jawab Liang sambil melemparkan senyumnya.


Setelah mendengar apa yang ingin di sampaikan Cheng pada Xishi, Liang pun pamit pulang karena penawar ini sangat di butuhkan oleh Xishi saat ini. Cheng pun tak segan untuk mengantarnya sampai pintu.


Namun, sebelum Liang melangkah lebih jauh, dia melihat sekumpulan orang-orang bertopeng rubah disana. Karena hal ini di luar tugasnya, Liang pun tidak akan mengambil tindakan dan segera kembali ke Ibukota.


Di waktu yang bersamaan, Xishi masih terbaring di tempat tidurnya, tubuhnya masih begitu lemah dengan kulit yang pucat. Perlahan ia membuka matanya, menyadari tempat yang sama seperti saat itu, dia bisa mengenali dengan cepat meski penglihatannya sedikit samar.


' Ada sesuatu yang mengalir bersamaan dengan darahku, apa itu? Seingat ku sebelumnya aku tidak pernah menguasai keahlian itu, kapan tepatnya aku pertama kali menyadari hal semacam itu? Kapan? '


Xishi bergumam dengan batinnya sendiri, sebelum akhirnya mata sayu nya mulai kembali terpejam, mencoba mengingat sesuatu yang terlewat begitu saja. Tak lama kemudian, dia kembali membuka matanya.


' Benar! Setelah aku tenggelam! Setelah kejadian itu, aku mulai mampu menyembuhkan bahkan menghilangkan lukaku dengan cepat tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Namun, darimana aku mendapatkannya? Mungkinkah itu salah satu kelebihan seorang Bai Long Qishi?


Tidak! Saat itu tubuhku masih tersegel dan bukan seorang Bai Long Qishi, bahkan seorang Zhexuan pun masih bisa di lukai. Seharusnya kekuatan ini tidak dimiliki oleh manusia 'kan?


Setelah mengalami hal menyakitkan seperti ini, aku baru menyadari ada hal lain di dalam tubuhku, sesuatu yang bahkan aku sendiri belum tau! Apa aku harus mencaritahu mengapa tubuh ku di segel? Rahasia seperti apa lagi yang belum terbongkar? '


Xishi terus bergumam dengan hatinya, dia ingin bangkit, namun, jangankan untuk duduk, menggerakkan jari saja dia tidak mampu.


Hal ini bukanlah pertama kalinya, Xishi menjadi lemah. Bahkan, dahulu pun Xishi adalah gadis yang lemah sebelum bertemu dengan orang itu, lalu jalan takdirnya berubah drastis ketika Xishi kehilangan sosok nya.


Selang beberapa detik saja, pintu terbuka, Xingsheng dan Liang masuk. Liang membawa sebuah mangkuk yang berisi penawar yang ia dapatkan dari Cheng. Meski tidak memberitahu darimana asalnya, Xishi bisa langsung tahu dari aroma nya.


' Ayah? Apakah dia disini? ' tanya batinnya.


Xingsheng mengambil posisi duduk di tepi tempat tidur, lalu membantu Xishi duduk agar lebih mudah meminumnya.


" Minumlah.. " ujar Xingsheng lirih.


Xishi meminumnya dalam sekali tegukan, berbeda dengan ekspektasi Liang yang berpikir kalau apa yang dikatakan Cheng adalah benar. Liang bahkan sudah membayangkan ekspresi Xishi saat meminumnya, namun setelah hal itu terjadi Xishi terlihat biasa saja.


" Penawar ini.. " gumam Xishi lirih.


" Penawar penambah darah.. " potong Xingsheng.


" Apanya yang penambah darah? Ini adalah obatku, di buat khusus untuk meredakan rasa sakit dan memulihkan tenaga dalam.. " ujar Xishi dengan nada bicara yang berbeda seperti sebelumnya.


" Hah? " Liang terkejut melihat perubahan drastis yang di alami oleh Xishi.


Xishi yang sebelumnya terlihat seperti mayat hidup, kini terlihat biasa saja setelah minum penawar itu. Bahkan bicaranya sudah begitu kuat.


" Terimakasih.. Aku sudah baik-baik saja.. Lagi-lagi aku berhutang, ya? " gumam Xishi dengan senyum di wajahnya.


Wajahnya sudah di lihat oleh Xingsheng dan Liang, namun Xishi tidak mempersalahkan hal itu dan memberi pengecualian selama dia hadir sebagai seorang Zhan Xishi. Beda ceritanya jika dia sudah memakai jubah kebesaran dengan warna hitam kemerahan, sebuah warna baru yang senada dengan warna pedangnya, warna yang hanya di miliki oleh dirinya.


" Aku ingin berbicara sebentar dengan Tuan Muda Liu, boleh 'kah? " tanya Xishi.


Xingsheng melirik ke arah Liang sebelum akhirnya Liang membungkuk dan undur diri. Merasa akan ada pembahasan serius, Xingsheng pun ingin memberitahu Xishi satu hal.


" Liu Xingsheng, pertemuan kita adalah sebuah takdir, aku dan kau di pertemukan oleh alunan musik seruling mu malam itu, Aku tau kau juga pasti melihatku saat itu, waktu terus membawaku bertemu denganmu di saat yang tepat dan tidak tepat, aku banyak berhutang budi padamu, aku ingin membalasnya namun sepertinya aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu yang menurutku terlalu melenceng, jika ada jodoh, aku ingin membalasnya secara tuntas. Besok adalah hari terakhir ku disini, setelah itu aku akan pergi dan beristirahat. Aku harap kau dapat mengingatku dan menagih hutang budi begitu kita bertemu lagi.. " ujar Xishi.

__ADS_1


__ADS_2