Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley

Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley
Segel Bai Long Qishi


__ADS_3

Saat Feng baru saja sampai di pintu utama kediaman Sang Ayah, kedatangannya langsung di cegah oleh pengawal. Mereka berkata kalau Dewa Pedang Zhu Zhaoyang menolak pertemuan dengan Zhu Zheyan. Mendengar hal itu, Feng pun tak bisa melawan lagi, statusnya sebagai putra tertua sudah tidak berlaku dan membuatnya tidak memiliki kuasa untuk mengeluarkan perintah.


Feng pergi ke kediaman putra kedua, Zhu Zhexuan. Namun, di katakan kalau Zhexuan baru saja pergi turun gunung. Mengetahui hal ini, Feng langsung buru-buru pergi, hal yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Zhan Xishi.


Malam semakin berlalu, Xishi lagi-lagi tidak bisa tidur, sekali memejamkan mata, bayangan Xingsheng muncul begitu saja. Hal itu membuat Xishi jengkel dan semakin tidak bisa tidur, Xishi kembali bangun dia menyadari satu hal yang hampir saja ia lupakan.


' Belakangan ini penyakit ku tidak kambuh, aku jadi penasaran apa yang di lakukan oleh Kakak Tertua padaku hari itu. Aku jelas-jelas melihat darah di sekitar bibirnya, mungkinkah dia terluka setelah melakukan sesuatu padaku? Apa itu karena menyembuhkan penyakit ku? '


Xishi terus menerus bergumam dengan dirinya sendiri, sampai matanya semakin berat dan tertidur tanpa sadar.


Saat pagi buta, Xishi terbangun karena suara ayahnya yang terus menerus memanggilnya. Dia benar-benar berniat pulang sepagi ini, yang bahkan di luar pun masih sangat gelap. Xishi bersiap-siap sebelum akhirnya keluar dan menemui sang ayah. Namun, hanya ada ayahnya disana, tidak ada Qibo ataupun Limei.


" Dimana kakak kedua? Lalu, Limei? " tanya Xishi.


" Mereka pergi semalam " jawab Cheng.


" Sejak kapan mereka menjadi sedekat itu? " tanya Xishi.


" Sudahlah, nanti pun kalian akan bertemu, sekarang pergi dulu! " ujar Cheng.


Xishi mengangguk.


Masing-masing menunggangi kudanya dan melaju cepat meninggalkan penginapan. Namun, baru sampai setengah jalan, sebuah anak panah hampir saja menusuk kepala Xishi. Hal itu akan terjadi jika gerakan refleks Xishi terlambat, Xishi melompat dari kudanya demi menghindari hal itu.


Cheng yang merasakan bahaya mengelilingi mereka pun ikut berhenti, matanya menyapu sekitar begitu juga dengan Xishi. Hal yang sama persis seperti malam itu.



^^^(Zhan Cheng -^^^


^^^Ayah angkat Xishi dan Feng,^^^


^^^ayah kandung Qibo dan Hua)^^^


" Pembunuh Yue! " Gumam Cheng yang masih bisa di dengar jelas oleh Xishi.


" Ayah juga berfikir demikian? " tanya Xishi.


' Merepotkan! ' gumam batin Cheng.


" Kau membawa pedangmu? " tanya Cheng.


" Tentu.. Namun, menggunakannya saat ini bukankah sangat beresiko? " tanya Xishi.


" Benar, jangan gunakan itu! " ujar Cheng.


Beberapa anak panah kembali melesat mengarah ke mereka berdua, namun keduanya kompak menghindari hal itu.


Karena tidak bisa menggunakan pedangnya, Xishi menggunakan akalnya untuk melawan mereka. Matanya dengan cepat menemukan dimana orang yang menembakkan panah ke arahnya. Setelah itu Xishi berlari ke arah pemanah itu hingga anak panah lain mengarah ke arahnya, sebelum anak panah itu mengenai Xishi, dia menghindar dan membuat anak panah itu melesat ke pemanah di depannya.


" Dungu! " gumam Xishi sambil tersenyum.


Pemanah di depannya tewas oleh kawanannya sendiri, Xishi mengambil alih busurnya dan mulai menggunakannya sebagai senjata.


Disisi lain, Zhan Cheng merasa ragu karena dia bahkan tidak pernah mengajarkan Xishi cara memanah. Dia khawatir anak panahnya meleset dan mengenai hal lain, termasuk dirinya. Namun, siapa sangka kalau panahan Xishi tepat sasaran. Hal yang belum dia pelajari pun bisa dengan mudah di kuasainya, bahkan Xishi sendiri tidak pernah memegang busur panah sekalipun. Meski untuk pertama kalinya, dia malah terlihat seperti seorang profesional yang mahir membidik sasaran dengan tepat. Cheng kagum dengan putri hebat kesayangannya ini, alih-alih melindunginya sebagai seorang ayah, dirinya malah di lindungi oleh sang putri yang bahkan masih sangat muda.


Menyadari fajar semakin menyingsing, Cheng langsung ingat kalau dirinya sudah tidak punya banyak waktu lagi. Pembunuh ini tidak akan habis jika di bunuh satu persatu, satu-satunya cara yang paling tepat adalah melarikan diri. Jika berjodoh mereka akan bertarung kembali sampai titik darah penghabisan.


" Zhan Xishi! " panggil Cheng menggunakan suara yang kuat.


Melihat kode yang di berikan sang ayah, Xishi langsung mengerti. Keduanya melakukan hal yang sama di waktu yang bersamaan, sehingga membuat musuh bingung. Sebuah ledakan terjadi tepat dimana mereka berada, namun saat ledakan urus mereda keduanya sudah tidak ada di tempat.

__ADS_1


Tanpa di ketahui oleh Pembunuh ini, ledakan itu hanya di kuasai oleh para Pembunuh Malam, biji peledak ini meskipun bentuknya sangat kecil tetapi cukup berbahaya karena benar-benar meledakkan area sekitar namun, ledakannya hanya mencapai maksimal lima meter. Saat menggunakannya untuk melarikan diri, biasanya si pengguna akan mengkombinasikan dengan jurus pusaran tanah. Mereka akan mengeluarkan jurus tersebut sebelum bijinya mulai meledak, jika telat sedetik saja sudah bisa di anggap sebagai tindakan bunuh diri.


Hal itu yang di lakukan oleh Zhan Cheng dan putrinya, dia membunuh kudanya dan berhasil terlepas dari pandangan para pembunuh itu. Selanjutnya mereka menggunakan langkah atap yang sama sekali tidak menimbulkan suara agar tidak menarik perhatian. Langkah ini juga ciri khas Pembunuh Malam saat beraksi, hingga kehadirannya sama sekali tidak pernah terduga karena hampir tidak menimbulkan suara sedikitpun.


Namun, tindakan Zhan Cheng dan Xishi tadi tentu saja tidak lepas dari mata yang diam-diam mengawasi Xishi. Dia yang berencana keluar dan membantu Xishi, malah di buat menikmati keahlian Xishi dalam memanah sampai ke tahap melarikan diri.


" Ha? Jadi, Nona Zhan adalah Dia, Pembunuh Malam.. " ujar Liang.


Dia ikut bergerak cepat mengejar ayah dan anak itu, bagaimanapun juga dia harus tetap melaksanakan tugasnya dan menjamin keselamatan Xishi sampai sang master datang. Memikirkan keterkaitan Xishi dan Pembunuh Malam tidaklah penting untuk saat ini, sesaat nyawanya akan dalam bahaya jika dia melupakan tugasnya.


Tidak sampai tengah hari, Zhan Cheng dan Xishi sampai di hutan Luoxia, selanjutnya hanya perlu melewatinya sampai tiba di desa. Tentu saja tindakan mereka kali ini lebih banyak menguras tenaga, di tambah tidak ada tunggangan untuk melewati hutan yang amat luas ini. Terlebih sikap Zhan Cheng yang begitu tergesa-gesa membuat Xishi sedikit curiga akan sesuatu.


Cheng begitu ingin cepat-cepat meninggalkan Ibukota, namun setelah memasuki kawasan Hutan Luoxia, langkahnya menjadi sangat santai. Sesaat kemudian, Xishi menghentikan langkahnya, sedangkan Zhan Cheng tanpa sadar terus melangkah dan mengira Xishi masih berjalan di belakangnya.


" Siapa? Keluar! " ujar Xishi.


Saat mendengar suara Xishi, barulah Cheng sadar kalau dia sudah berada jauh beberapa langkah di depan Xishi.


Perlahan, Liang yang baru saja tergelincir dari atas pohon dan terjatuh ke bawah, mulai menunjukkan dirinya. Dengan sedikit keberanian, dia menghadap ke Xishi dengan raut wajah bersalah.


" Siapa kau? " tanya Xishi.


" Jawab Nona, aku adalah pelayan dari Tuan Muda Liu, Bei Liang.. " jawab Liang ragu-ragu.


" Apa dia mengirim mu untuk memata-matai ku? " tanya Xishi.


" Tidak, Nona. Liang sungguh tidak berani, hanya saja, aku masih sangat baru dan tidak mengenal tempat. Aku hanya tau Nona adalah orang yang paling sering di temui oleh Tuan Muda, jadi, aku berharap bisa berada di sisi Nona Muda Zhan sampai Tuan Muda kembali.. Aku sungguh tidak mengenal siapapun selain Nona.. Mohon Nona Zhan menerima Ku.. " ujar Liang sambil terus menunduk.


Cheng yang mendengar perkataan Liang pun kembali menghampiri putrinya.


" Tuan Muda Liu? Siapa Dia? " tanya Cheng.


" Dia adalah orang yang beberapakali menyelamatkan hidupku! " jawab Xishi tanpa sadar.


" Kalau begitu terima saja dia sebagai balas budi.. " ujar Cheng.


' Heh, ide ayah ini kalau di pikir-pikir cukup bagus juga! ' ujar Xishi dalam hati.


Disisi lain.


' Balas Budi? Apakah aku baru saja menghancurkan kesempatan Master? Matilah aku!! ' gumam batin Liang.


" Baiklah, hanya sampai laki-laki itu datang, setelah itu kau tidak perlu lagi berada di sisiku! " ujar Xishi.


' Apa?? Benar-benar akan mati, ya? ' ucap Liang dalam hatinya.


" Te-terima kasih Nona Muda Zhan.. Tuan Zhan.. " ujar Liang.


Mereka kembali melanjutkan perjalanannya, Liang mengikuti Xishi dan Sang Ayah dari belakang. Sepanjang perjalanan, dia hanya melihat sekeliling yang di penuhi dengan pohon persik. Meski pernah pergi ke Gunung Luo, namun Liang tidak pernah menginjakkan kakinya di hutan lain, dengan kata lain ini adalah pertama kalinya dia menginjakan kakinya disini.


' Seumur hidupku, aku tidak pernah melewati jalan yang di penuhi oleh bunga persik yang berguguran seperti ini, sangat indah, terlalu indah sampai-sampai mataku enggan mengalihkan pandangannya. Bahkan sampai mati pun, aku tidak pernah melihat hal seindah ini, setelah sekian lama setelah kematian ku dan menjalani kehidupan sebagai sesuatu yang lain, aku baru merasakan keindahan yang begitu nyaman. ' gumam batin Liang.


Setelah melewati setengah jalan dari hutan Luoxia, sesuatu seperti tengah mengawasi langkah mereka. Sampai sesuatu seperti datang dari samping kanan Xishi, dengan cepat Liang menarik Xishi dan Cheng ke belakang. Sebuah pedang melesat cepat lalu menusuk ke batang pohon, pedang yang sangat familiar hingga Cheng dan Liang pun bisa mengenalinya.


" Pedang Naga Putih! " ucap Cheng dan Liang bersamaan.


' Jelas itu bukan pedangku! Kenapa bisa sama persis? ' gumam batin Xishi sebelum akhirnya rasa sakit nya kembali kambuh.


Lututnya terjatuh, kali ini sakitnya lebih luar biasa lagi, bahkan Xishi sudah langsung memuntahkan darahnya di awal. Zhan Cheng yang khawatir langsung ikut berlutut dan memeriksa nadi Xishi. Namun, semuanya nampak normal, tidak seperti orang yang sekarat.


Disisi lain, pedang yang tertancap di batang pohon persik itu terlepas dengan sendirinya, lalu melesat seolah di tarik oleh sesuatu. Mata Liang dan Cheng mengikuti kemana perginya, hingga pedang itu sampai ke tangan laki-laki yang bergerak turun dari udara.

__ADS_1


" Siapa dia?? " tanya Cheng.


" Bai Long Qishi.. " jawab Liang dengan nada datar.


Dia memasang tatapan marah ke arah laki-laki dengan pakaian khusus dan berambut putih itu. Meski rambutnya berwarna putih, namun wajahnya terlihat sangat muda, hal ini kembali mengingatkan Cheng saat dirinya melihat wujud asli Zhan Feng.


" Dia adalah putra kedua dewa pedang? " tanya Cheng.


" Benar, Zhu Zhexuan.. " jawab Liang lagi.


" Heh, sepertinya kau tahu banyak! " ujar Cheng.


Tatapan mata tajam Zhu Zhexuan seolah mengintimidasi kedua pria yang ada di samping Xishi. Pedang yang ada di dalam genggamannya jelas sangat sama persis dengan milik Xishi, satu fakta kalau dirinya adalah sang Bai Long Qishi, kakak kandung kedua dari Zhan Xishi.


" Kalian. Minggirlah sebentar, aku harus mengurus adik kesayanganku dulu.. " ujar Zhu Zhexuan.



^^^( Zhu Zhe Xuan - Putra Kedua Zhu^^^


^^^Zhaoyang )^^^


" Ck. Adik kesayangan apanya? Jika kau benar-benar seorang kakak, kau tidak akan melemparkan pedangmu yang jelas membahayakan nyawanya! " ucap Liang ketus.


" Lancang! Jangan membuatku mengulang perkataan ku! Minggir atau enyah! " ujar Zhexuan dingin.


" Kalau begitu biar aku mengetahui kemampuan seperti apa yang dimiliki oleh manusia yang hidup di gunung selama puluhan tahun! " ujar Liang.


Liang mengulurkan tangannya, lalu pedang nya muncul.


" Cari mati! " gumam batin Zhexuan.


" Kalau begitu, jangan salahkan aku tidak sungkan lagi! " ujar Zhexuan.


Liang menyerang Zhexuan yang jelas-jelas bukan tandingannya, gerakannya terus terkecoh dan membuat pedang Zhexuan menyayat kulit lengan Liang. Di waktu yang bersamaan, Xishi sedang berjuang melawan sakitnya, tenaga dalam yang di salurkan Cheng benar-benar tidak mempan untuk tubuh Xishi saat ini.


Pertarungan antara Zhexuan dan Liang masih berlanjut, Liang terus menerus tersayat. Seorang pelayan mencoba melawan Sang Putra dari Dewa Pedang sama saja dengan menyerahkan hidupnya dan membuatnya mati konyol. Namun, melihat apa yang di lakukan oleh Liang saat ini benar-benar menyentuh hati Cheng.


Hingga akhirnya Zhexuan menggunakan pukulan jantung dan membuat Liang terkapar seketika. Cheng tahu dengan jenis pukulan ini, Xishi pun pernah melakukan hal yang sama sepertinya.


" Tuan Zhan, aku masih berbelas kasihan kepadamu, jadi minggir lah sejenak, aku hanya perlu menyegel tubuhnya setelah itu urusanku dengan adikku selesai! " ujar Zhexuan yang masih terdengar begitu dingin.


Cheng tertawa kecil mendengar hal itu, seolah Zhexuan baru saja mengatakan lelucon yang menggelitik pikirannya.


" Kau menyebutnya adik, secara tidak langsung kau menganggap dirimu adalah kakak? Jika aku adalah kau, aku akan kembali menahan rasa malu dan menganggap aku tidak pernah mengucapkannya. Kau berkata demikian atas dasar apa? Seorang Bai Long Qishi yang menjadikan kakak dan adiknya sebagai pijakan? Sangat tidak tahu malu! " sindir Cheng dengan nada lembut.


Zhexuan yang memiliki sikap temperamental dan emosi yang tidak stabil tentu saja langsung terpancing dan langsung melemparkan pedangnya ke arah Cheng. Saat itu Cheng lalai, dia tidak cepat mengeluarkan pedangnya dan hampir saya tertusuk di bagian kepala. Namun, hal tak terduga terjadi, Xishi sadar dan menyangkal pedang Zhexuan menggunakan pedangnya.


' Segelnya terlepas? ' gumam batin Cheng.


Pedang kembali ke tangan pemiliknya, Xishi bangkit dengan tatapan marah, dia melihat Liang sudah terkapar di tanah. Salah satu hal yang membuatnya semakin marah, dia menatap tajam ke arah laki-laki yang seharusnya ia panggil kakak saat ini.


" Siapa yang mengizinkanmu melukai orang ku? " suara Xishi terdengar begitu berat dan penuh penekanan.


' Zhu Zhishu, apa segelnya sudah terbuka? Mengapa auranya menjadi sangat berbeda? ' tanya Zhexuan dalam hati.


" Kau harus ingat ini, siapapun yang berani melukai orang ku, maka aku akan menggantikan untuk membalasnya sepuluh kali lipat! Satu nyawa kau bunuh, aku akan membunuh delapan generasi keturunanmu! Jangan menganggap remeh perkataan ku! " ujar Xishi.


" Lancang! Apa yang kau pelajari selama delapan belas tahun ini? Tidak tahu sopan santun dan melupakan tata krama! Sangat memalukan! " maki Zhexuan.


Satu sudut bibir Xishi terangkat, kakinya perlahan melangkah mendekat dengan diiringi suara ujung pedang yang di seret ke tanah.

__ADS_1


" Selama delapan belas tahun ini, aku hanya belajar, bagaimana cara membunuh dengan keji, agar di masa depan, aku dapat meratakan Gunung Shu, bahkan Dewa Pedang pun takkan ku ampuni sampai titik darah terakhir! " ujar Xishi sebelum akhirnya berlari dan mulai mengayunkan pedangnya.


__ADS_2