
Pertarungan antar saudara berlangsung, setelah segelnya terbuka Xishi malah nampak lebih kuat dari sebelumnya. Tatapannya di penuhi kebencian yang sangat dalam, bahkan hubungan darah pun seolah tak berarti baginya, keinginan membunuh lawannya saat ini lebih besar di bandingkan ikatan palsu itu.
Namun, meskipun begitu, tetap saja kemampuan Zhexuan tidak boleh di remehkan. Kedudukannya tidak boleh sembarangan di remehkan, dia sangat terhormat hingga banyak pihak yang tunduk padanya. Berbeda dengan Xishi, saat orang-orang melihat wajahnya sebagai Bai Long Qishi, orang-orang pasti akan menertawainya dan menganggapnya sebagai orang gila. Bagi mereka Bai Long Qishi hanyalah Zhu Zhexuan seorang, selain itu hanya ada Zhu Zhaoyang sebagai sang Dewa Pedang.
Xishi tersayat oleh pedang Zhexuan di bagian lengan kirinya, membuatnya mundur seketika. Tidak ada rasa bersalah dalam raut wajah Zhexuan, tatapannya begitu dingin pada Xishi.
" Menyerahlah! Jangan memberontak! " ujar Zhexuan.
" Cih. Siapa kau berani memerintahkan aku? " balas Xishi yang langsung kembali menyerang.
Suara gesekan pedang itu terdengar ngilu di telinga Cheng yang lama tidak bertarung, hari ini dia di hadapkan dengan pertarungan yang tidak terduga datangnya. Melihat anaknya berjuang melawan sang kakak tentu saja bukanlah hal baik, namun mencegah mereka juga bukan hal baik. Cheng melirik ke arah Liang dan baru menyadari kalau Liang sekarat. Dia segera berlari ke arah Liang, mengetahui Liang masih hidup, Cheng menyeretnya ke tepi untuk menjauhi Medan perang kakak-beradik itu.
Sekali lagi, Zhexuan berhasil menyayat betis Xishi, darah mengalir namun tak membuat Xishi menyerah begitu saja.
" Benar-benar berniat membunuh, ya? " Suara Xishi pelan sambil melihat ke betisnya.
Xishi terlihat lengah karena memperhatikan lukanya, hal itu membuat Zhexuan maju untuk menyerangnya. Namun, Zhexuan tidak sadar kalau itu adalah jebakan yang yang di buat Xishi. Saat Zhexuan mendekat, Xishi membalik pedangnya dan mengarahkan gagangnya ke kaki Zhexuan sehingga fokusnya teralihkan. Zhexuan mengangkat kakinya mundur sehingga membuat tubuhnya condong ke depan, hal itu memberikan Xishi kesempatan untuk menggunakan Pukulan Jantung.
Zhexuan menerima pukulan jantung dari Xishi, namun fisiknya yang lebih kuat dari Liang tidak membuat dirinya lumpuh begitu saja. Hanya menunjukkan luka dalam yang di tunjukkan dalam bentuk muntah darah.
" Dungu! Apa Bai Long Qishi se lalai itu? Memalukan! " Sindir Xishi.
Zhexuan menatap tajam ke arah Xishi, dia menggertak kan giginya, tangannya menggenggam kuat pedangnya.
" Tak di sangka kakak tertua Zhu Zheyan begitu menyayangi adik sampai berani membuka segel, apa kau tahu? Dia mengorbankan dirinya untukmu, bahkan gelar Bai Long Qishi pun di tarik kembali oleh Ayahanda, seharusnya kau sadar jika kau tidak pernah melihat Kakak mu itu memegang sebuah pedang, karena sejatinya Bai Long Qishi hanya memiliki satu pedangnya, ketika pedangnya di hancurkan, keahlian menggunakan pedangnya pun akan hilang! " ujar Zhexuan sambil tersenyum sinis.
" Omong Kosong macam apa yang orang tua ini bicarakan? " gumam Xishi.
" Adikku, seharusnya kau sadar, semua ini terjadi karena kau, kau lah penyebab utamanya. Kakak tertua dan Ibunda menanggung hukuman demi hidupmu, namun kau malah hidup dengan tenang tanpa memikirkan pengorbanan mereka berdua, jika aku adalah kau, aku tidak sudi hidup di atas penderitaan Ibu dan saudaraku sendiri! " cibir Zhexuan.
Xishi terdiam, matanya mulai panas mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Zhexuan. Perkataannya seperti pedang yang menusuk tubuhnya hingga menembus jantung, terasa begitu menyesakkan hingga membuat Xishi putus asa dengan kehidupannya. Namun, dia belum menyerah.
" Ck. Bai Long Qishi kedua ini sungguh pandai bicara, alih-alih meneruskan kedudukan sebagai kandidat Dewa Pedang, mengapa tidak menjadi ahli debat kerajaan saja? " Gumam Xishi.
" Sialan! " umpat Zhexuan.
Dia melemparkan pedangnya dengan cepat hingga membuat Xishi tidak bisa menghindar, sesaat sebelum pedangnya sampai ke dada Xishi, sebuah kipas menyangkalnya. Sejenak Xishi merasa senang sebelum akhirnya kembali di kecewakan.
" Liu Xingsheng " gumam batin Xishi.
Begitu ia menoleh, ternyata adalah dia, Zhan Feng. Raut wajah Xishi berubah, saat mengetahui siapa yang datang dan di saat itu juga dia kembali merasakan sakit di punggungnya.
^^^( Zhan Feng // Zhu Zhe Yan )^^^
" Tidak! ZHU ZHISHU!!! " teriak Feng saat Zhexuan berhasil menyegel kembali tubuh Xishi.
Saat Feng mencoba menyerang Zhexuan, adiknya itu sudah lebih dulu melemparkan pedang ke arahnya. Xishi yang saat itu tengah menghadapi rasa sakitnya menyadari Kakaknya akan terbunuh, dia memeluk kakaknya mencoba menjadi tameng untuknya. Lagi-lagi sebuah kipas menyangkal pedang Zhexuan.
' Lagi? Jelas-jelas Zheyan tidak mengendalikan kipasnya, siapa lagi yang berani menghalangiku? 'gumam batin Zhexuan.
__ADS_1
Kipas berputar dan kembali ke tangan pemiliknya yang perlahan muncul dari atas, tatapan yang sama persis dengan yang di tunjukkan Xishi terpasang begitu saja di raut wajahnya.
" Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur, namun melihat caramu yang begitu tidak berperasaan membuatku muak! Jika kau mencoba membunuhnya, maka aku yang terlebih dahulu mengeluarkan isi perutmu! " ujarnya dengan tegas.
Xishi yang masih memeluk kakaknya, tiba-tiba membuka matanya setelah mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.
" Tidak salah lagi, kau datang, Liu Xingsheng! " gumam Xishi.
Feng membawa Xishi menjauh dari sana, Xishi semakin melemah, rasanya pasti sangat sakit saat tubuh dan kekuatan kembali di segel.
" Siapa kau? " tanya Zhexuan.
" Siapa aku itu sungguh tidak penting, namun siapa dirimu dan siapa orangtuamu, akulah yang paling tahu! " ujar Xingsheng.
" Gunakanlah pedang jika ingin bertarung, jangan seperti pria cantik yang mengandalkan kipas! " cibir Zhexuan.
" Anda terlalu sombong! Ketika aku menggunakan kipas sebagai senjata, aku bisa menjadi lebih berbahaya daripada dirimu, hati-hati kepalamu putus! " balas Xingsheng.
Pertarungan tiada henti untuk Zhexuan, lawan terus berganti dan perlahan menguras tenaganya. Terlebih, tubuhnya semakin melemah akibat pukulan jantung yang di berikan Xishi. Tak di sangka, kekuatan Xishi bisa setara dengan ayahnya saat segelnya terbuka, bahkan saat kekuatannya di segel, Xishi masih bisa menggunakan pukulan jantung, ilmu pedangnya seolah tidak berkurang sedikitpun. Hal itu karena tubuhnya menyimpan kekuatannya dalam waktu yang lama, semakin lama dia menyimpan semakin kuat jika segelnya terbuka, bahkan jika sudah mencapai batas tertentu Xishi dapat membuka segelnya sendiri.
Dan jika saat itu tiba, maka Dewa Pedang akan muncul untuk menyegelnya kembali menggunakan tangannya sendiri. Namun, saat ini tidak ada yang tahu kapan hari itu tiba, kekuatan Xishi tersegel, maka ikatan pernikahan akan terus berlanjut, Feng sendiri menghabiskan waktu sepuluh tahun untuk bisa menghancurkan segel Xishi, sedangkan waktu dua tahun ini tidak akan berarti apa-apa. Dia tidak akan bisa menggagalkan pernikahannya.
Sedangkan, dalam pertarungan antara Zhexuan dan Xingsheng. Di hadapan Xingsheng, Zhexuan bukanlah apa-apa, kekuatannya tidak bisa di bandingkan dengan Xingsheng. Dengan sekejap Xingsheng telah mengukir luka di sekujur tubuh Zhexuan, membuatnya lemah tak berdaya. Mungkin jika di berikan satu kali tebasan lagi, Zhexuan akan mati. Satu fakta yang harus di ketahui, di balik sikap lembutnya, Xingsheng akan bersikap kejam pada orang yang berani meremehkannya. Sikap yang sama persis dengan yang dimiliki oleh Xishi, namun tebasan kipas terakhir Feng berhasil di sangkal oleh sebuah pedang lain.
Seorang wanita tiba-tiba datang dan membawa pergi Zhexuan dari hadapan Xingsheng. Pedang yang baru saja menyangkal kipas sakti milik Xingsheng pun kembali ke tangan pemiliknya. Xingsheng tidak mengejarnya dan malah beralih ke mencari Xishi.
Xishi tak sadarkan diri di pelukan Feng, saat Xingsheng mendekati mereka, Feng langsung menatap waspada kepadanya. Tanpa mempedulikan Feng, Xingsheng langsung meraih tangan Xishi dan memeriksa denyut nadinya.
" Kondisinya melemah, biarkan aku membawanya ke Kediaman Zhan lebih dulu.. " ujar Xingsheng.
" Siapa aku tidaklah penting, nyawa Xishi lebih penting dari pertanyaan mu! Aku sedang berusaha menyelamatkan hidupnya! Jadi jangan menghalangiku! " ujar Xingsheng.
" Kau pergi membawanya, apa bedanya dengan membawanya pergi bersamaku? " tanya Feng.
" Jangan bodoh! Kekuatan mu ikut tersegel sehingga tidak bisa menggunakan teleportasi! Jika kau menggunakannya tidak mungkin kau akan berlari dari Gunung Shu ke Hutan Luoxia! " sindir Xingsheng.
" Zhan Feng, biarkan Tuan Muda Liu membawa Xishi, di sana ada Limei yang akan membantunya.. " Ujar Cheng.
" Terimakasih, Tuan Zhan.. " balas Xingsheng.
" Maaf, karena merepotkan Tuan Muda Liu untuk yang kesekian kalinya " ucap Cheng lirih.
" Tidak perlu sungkan, sebentar lagi kereta kuda ku akan sampai, kalian gunakan itu untuk tunggangan ke Kediaman Zhan.. Aku akan membawa Xishi lebih dulu! " ujar Xingsheng.
Xingsheng mengambil alih tubuh Xishi, dia menggendongnya sebelum akhirnya melesat cepat menuju ke kediaman Zhan.
Tak lama setelah itu, sebuah kereta kuda tanpa kusir muncul di jalan, kereta itu berhenti di hadapan Cheng dan Feng yang berdiri di tepi jalan. Tanpa melupakan Liang, keduanya kompak membawa tubuh Liang masuk ke kereta kuda, Feng lalu mengisi posisi kusir yang kosong.
Ditengah perjalanan, Feng bertanya-tanya tentang siapa Tuan Muda Liu, bisa begitu dekat dengan Xishi, sampai-sampai ayahnya juga bisa mengenalnya. Dia juga bertanya siapa anak muda yang penuh luka tadi, wajah keduanya begitu asing di mata Feng.
" Xishi mengatakan kalau Liu Xingsheng menyelamatkan hidupnya berkali-kali, aku mempercayainya sebagai teman dari Zhan Xishi.. " ujar Cheng.
__ADS_1
" Seorang gadis seperti Xishi apakah memerlukan perlindungan? " tanya Feng.
" Dia memang berbeda dengan gadis lainnya, dia terampil beladiri dan memegang pedang, selain itu dia juga ahli dalam penawar dan racun, semua itu adalah murni atas apa yang mengalir dalam darahnya, dia memiliki pedang sejak lahir itu adalah sebuah anugerah tersendiri. Hanya saja mengetahui situasi seperti sekarang ini, perlindungan tentu saja di butuhkan oleh Xishi.. " ujar Cheng.
" Apa yang ayah katakan memang benar, namun jika ayah masih menghawatirkan kalau Zhexuan akan datang lagi itu sepertinya tidak mungkin, aku melihat kipas yang di gunakan oleh Liu Xingsheng itu beracun, lukanya tidak akan sembuh dalam waktu dekat.. " ujar Feng.
" Namun, bukan itu yang di khawatirkan " gumam Cheng.
" Lalu, situasi seperti apa yang membuat Xishi membutuhkan perlindungan? " tanya Feng.
" Kedua organisasi itu telah kembali, mereka berebut posisi dengan menggunakan kematian orang-orang tak bersalah, hal ini--- "
' Tunggu, apa yang aku katakan? Apa aku sudah kelepasan? ' gumam batin Cheng setelah menghentikan kata-katanya.
" Ayah? Mengapa berhenti? " tanya Feng.
" A-Aku hanya sedang berfikir, kenapa pembunuh Yue mengincar Xishi, sebelum kami keluar dari Ibukota, Pembunuh Yue mengepung dan menyerang, untungnya kami bisa lolos.. " ujar Cheng melepaskan diri dari kecurigaan.
" Pembunuh Yue? Xishi? " gumam Feng.
Feng terdiam sambil memikirkan sesuatu yang menurutnya tidak benar.
" Apa yang Xishi lakukan hingga menyinggung Pembunuh Yue? " gumam Feng lagi.
Disisi lain, Xingsheng tiba dan membuat Limei yang ada di teras terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba. Xishi berada di dalam gendongannya, ada beberapa bercak darah di pakaiannya membuat dia khawatir pada kondisi masternya itu.
" Dimana kamarnya? " tanya Xingsheng cepat.
" Mari saya antar.. " jawab Limei dengan raut wajah cemas.
Xingsheng mengikuti Limei sampai tiba di kamarnya, setelah sampai dia menidurkan Xishi di tempat tidur, lalu menyuruh Limei untuk keluar sebentar.
" Keluar dulu, setelah selesai aku akan memanggilmu! " ujar Xingsheng.
" Baik " balas Limei lalu keluar.
Di dalam, Xingsheng duduk di tepi tempat tidur Xishi, menatap wajah pucat Xishi dengan cemas, lalu mengulurkan tangannya dan meletakkannya di dahi, perlahan sesuatu mirip sebuah cahaya merah muncul dari telapak tangan Xingsheng. Sepasang mata Xingsheng sudah terpejam sebelum cahaya itu keluar. Perlahan sebuah tanda di dahi Xingsheng muncul, warnanya merah menyala seperti sesuatu yang keluar dari telapak tangannya.
Tak lama setelah itu, Xingsheng melepaskan tangannya, sebuah tanda juga muncul di dahi Xishi, meski sama-sama teratai namun bentuknya lebih indah daripada tanda yang ada di dahi Xingsheng. Perlahan, tandanya menghilang, begitu juga dengan yang ada di dahi Xingsheng.
Xingsheng beranjak dan keluar dari kamar, Limei masih berdiri di depan pintu. Menunggu kabar baik dari Masternya, begitu Xingsheng keluar air matanya terjatuh begitu saja, sehingga membuatnya buru-buru menyeka meskipun dia tahu Xingsheng sudah melihatnya.
" Masuklah, dia akan sadar setelah lukanya di balut.. " ujar Xingsheng.
" Baik.. "
Limei buru-buru masuk setelah mendengar hal itu, sedangkan Xingsheng yang sebelumnya memasang raut wajah cemas, seketika wajahnya terlihat begitu marah hingga tatapannya terlihat begitu menakutkan. Limei mengambil beberapa kain dan obat untuk mengobati Xishi, lalu masuk ke kamar dan menutup pintunya. Sedangkan Xingsheng mulai melangkahkan kakinya keluar rumah, tatapannya masih begitu tajam, tangannya pun menggenggam kuat kipasnya. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba menjadi se marah ini, padahal sebelumnya terlihat baik-baik saja.
Sambil menunggu yang lain, Xingsheng duduk di teras Kediaman Zhan. Amarahnya masih belum mereda, dia menatap tajam ke arah pintu utama, seolah kedatangan seseorang benar-benar di tunggu olehnya.
__ADS_1
' Ternyata adalah miliknya, tanda itu adalah bukti kepemilikannya.. Namun, aku terlanjur menyukainya, jadi aku pun akan melindunginya, lihat bagaimana nanti aku akan membereskan mu! Dan juga, siapapun yang berani menyentuh sehelai dari rambutnya, aku akan mencabut rambutnya satu persatu, lalu aku akan mengupas kulit kepalanya dengan anggun! '
Gumaman batin Xingsheng terdengar seperti kecaman, meski sangat misterius namun kemarahannya benar-benar nyata dan terlihat seperti ancaman besar.