
Keesokan harinya, Zhishu kembali tersadar. Dia bangun dari tidurnya dan mendengar alunan musik Guzheng yang terdengar menenangkan. Zhishu melangkah keluar dan mencari sumber suaranya, dari balik jendelanya, dia melihat laki-laki itu tengah memainkan Guzheng.
Jari-jari yang lentik, rambut panjang, wajah yang tenang, terlihat enak di pandang. Terlebih, kekuatan dalam dirinya bisa mengalahkan tato terkutuk yang ada di punggung Zhishu.
" Heh, aku sudah terlalu lama disini, aku harus pulang!! " gumam Zhishu seorang diri lalu keluar menemui laki-laki itu.
Saat Qianfan menyadari kehadiran Zhishu, dia langsung berhenti memainkan guzheng nya.
" Apa musikku membangunkanmu? " tanya Qianfan lembut.
" Tidak, aku memang harus bangun agar bisa pulang.. Ini terlalu lama, kakakku akan khawatir. " jawab Zhishu.
" Kalau begitu aku akan mengantarmu.. " ujar Qianfan.
' Heh, itu sih bisa gawat jika mereka tahu aku menginap di kediaman seorang pria!! ' gumam batin Zhishu.
" Tidak perlu repot-repot, aku akan pulang sendiri, ah aku belum mengetahui namamu.. " ucap Zhishu dengan kegugupan yang terlihat jelas.
" Shingming Qianfan.. " jawab Qianfan.
" Nama yang bagus, jika tidak keberatan aku akan datang lagi untuk mampir.. Oh, ya.. Bisa kau tunjukkan ke arah mana jalan menuju Gunung Luo? " tanya Zhishu.
Qianfan menunjuk ke sebuah gunung yang ada di seberang, siapa yang akan menyangka kalau Gunung Luo akan terlihat dari sini.
" Baiklah, aku akan pulang, terimakasih sudah merawat ku.. " pungkas Zhishu lalu pergi.
Qianfan hanya menatap kepergiannya, dia tidak bisa memaksa untuk mengantarnya juga tidak bisa diam-diam mengikutinya. Dia hanya bisa mendoakan keselamatannya dari tempat ia berada.
" Gunung Luo? Kau tinggal di dalam Klan Hēilóng 'kah? Marga Zhan.. Seperti tidak asing.. " gumam Qianfan.
Malam harinya, Zhishu yang baru sampai di kediaman Zhan tengah mengendap-endap untuk masuk tanpa sepengetahuan orang lain. Rumah yang nampak sepi itu tentu terlalu mencurigakan.
" Heh, kemana semua orang pergi? " ujar Zhishu bertanya-tanya.
Ia mengambil langkahnya dengan waspada dan berharap berhasil sampai di kamarnya tanpa ketahuan. Namun, saat dia membuka jendela kamarnya, Zhan Hua sudah ada di sana dengan tatapan mata yang tajam. Zhishu hanya tertawa hambar ketika mendapati dirinya tertangkap basah, setelah itu mencoba lari dan meminta perlindungan orang lain.
" ZHAN XISHI! JANGAN COBA-COBA MELARIKAN DIRI LAGI, ANAK NAKAL!!! " teriak Zhan Hua sebelum akhirnya melompati jendela dan mengejar Zhishu.
" Aduh, jangan teriak kakak!! " gerutu Zhishu.
Zhishu berlari mengelilingi rumah, Zhan Hua masih ada di belakangnya bahkan dengan curang nya dia mengambil jalan pintas melalui atap.
" Tunggu, itu curang kakak!! Tidak, AYAAAAHHHHH TOLONG AKU!!! " teriak Zhishu.
Hal itu mungkin di dengar oleh Qibo yang langsung keluar dan menunjukkan dirinya di hadapan Zhishu.
" Ah, penyelamat ku.. Kau yang terbaik Kakak kedu----
" Kena, Kau!! " ucap Qibo saat berhasil mengunci pergerakan Zhishu.
' Sial! Kenapa aku tidak berfikir kalau mereka bersekongkol? ' gumam batin Zhishu.
Dengan raut wajah yang cemberut, Zhishu di bawa untuk menghadap Zhan Cheng dan juga Zhan Feng yang sudah menunggu di aula pertemuan.
Zhishu di paksa berlutut di hadapan ayahnya, dengan terus merengut Zhishu diam sebagai tanda merajuknya.
" Zhan Xishi.. Kemana perginya kau selama ini? " tanya Zhan Cheng.
" Entah.. " balas Zhishu.
" Perhatikan kata-kata mu anak nakal, setelah ini kita luruskan masalahmu denganku! " ujar Hua.
Zhishu memalingkan wajahnya dari Zhan Hua setelah mendengar ocehannya.
" Kedua kakakmu mengatakan kalian terlibat dalam pengejaran Pembunuh Yue, lalu kau menghilang tanpa jejak.. Kemana kau pergi setelah itu? " tanya Zhan Cheng lagi.
" Apa itu salahku? Kalian meninggalkanku saat aku terluka, jika dia tidak menemukanku mungkin aku mati di hutan belantara itu! " jawab Zhishu.
" Kau terluka?? Dimana yang terluka?? Apa itu parah?? Bagaimana sekarang? Apa masih sakit?? " tanya Qibo bertubi-tubi sambil mendekat ke Zhishu.
" Aduh, jangan dekat-dekat, bodoh! Aku di tusuk menggunakan belati, kehilangan banyak darah ditambah sakit itu muncul lagi, hal itu membuatku kehabisan tenaga, belum lagi hujan deras semakin membuat rasa dingin itu menusukku sampai ke tulang! Jika tidak di temukan mungkin aku sudah membusuk! " balas Zhishu ketus.
Zhan Feng yang mendengar hal itu hanya terkekeh, sedangkan wajah Zhan Cheng yang berpura-pura serius mendengarkan malah terlihat lucu untuk di pandang.
" Kejam sekali, aku akan membantumu mengobati lukamu, selanjutnya hukuman untuk Qibo dan Hua'er akan ku pikirkan.. " ujar Feng dengan lembutnya.
" Heh, tapi luka ku kan---- "
__ADS_1
Zhishu terkejut saat mendapati area perutnya basah, saat dia melihat ke arahnya, ternyata luka itu kembali terbuka. Saat dia mulai ingat, tatapan mata tajamnya mengarah ke Zhan Hua.
" Zhan Hua.. Ini gara-gara kau tahu? " ucap Zhishu sinis.
Feng membantu Zhishu bangkit dan menggandengnya pergi dari sana, hanya saja Zhishu yang usil tidak mau memalingkan tatapannya dari Zhan Hua.
Sementara itu, Zhan Cheng baru bisa terkekeh pelan saat Zhishu sudah benar-benar meninggalkan tempat.
" Apa dia benar baik-baik saja? " tanya Qibo.
" Ayah, aku khawatir kepalanya terbentur saat dia tak sadarkan diri.. Kenapa tiba-tiba tatapannya menjadi menakutkan, itu terlalu aneh bukan? " tanya Hua.
" Daripada itu, lebih baik kau persiapkan dirimu untuk hukuman yang akan di berikan oleh Zhan Feng besok.. " ujar Cheng sebelum akhirnya beranjak.
" Aku menyesal.. " gumam Qibo.
" Ya, aku juga.. " balas Hua.
Hari-hari selanjutnya, Qibo dan Hua tengah berlatih pedang bersama ayahnya, sedangkan Zhishu dan Feng melihat mereka dari samping. Di hadapan Zhishu ada sebuah guzheng cantik, namun Zhishu hanya menatapnya saja.
" Kau tidak memainkannya? " tanya Feng.
" Apa Kakak tahu cara memainkannya? " tanya Zhishu.
" Ah, ternyata begitu, biarkan aku mengajarkanmu sedikit.. " ujar Feng.
Seketika mata Zhishu berbinar, senyumnya sumringah mendengar hal itu.
Dengan teliti, Zhishu mengamati cara Feng memainkan guzheng itu, bahkan sampai melihat bagaimana gerakan jari-jarinya yang lentik.
Setelah selesai memberikan contoh, Zhan Feng pun meminta Zhishu memainkan musik yang sama seperti yang ia ajarkan barusan. Berkali-kali kalah, berkali-kali pula Zhishu mencobanya, Feng nampak sabar mengajari Zhishu, berikut Zhishu yang nampaknya sangat ingin memahami alat musik itu dengan gigihnya terus belajar.
Hingga kesabarannya sampai di ujung, Zhishu mulai mengeluh.
" Ah, sepertinya aku akan belajar pedang saja.. Jari-jari ku nampak kaku meski sudah di latih berkali-kali.. " ucap Zhishu dengan sedikit keluhan.
" Kau ini seorang gadis, bagaimana bisa memilih pedang di bandingkan dengan alat musik.. Pada umumnya, seorang gadis akan mempelajari musik, syair dan mempercantik diri.. Kau lihat bagaimana dirimu.. Kalau seperti ini terus aku khawatir tidak ada yang mau denganmu.. " ujar Feng.
" Kakak, perkataan itu terlalu kejam! Jika aku tidak bisa menjadi seperti gadis pada umumnya, aku masih bisa menjadi gadis satu-satunya yang berbeda, dengan kata lain aku akan menjadi yang paling istimewa.. Dan juga, aku tidak memikirkan jodoh, aku memiliki tiga kakak tampan yang selalu ada di sampingku, itu sudah lebih dari cukup! " balas Zhishu.
" Heh, seharusnya aku tidak mengatakan hal itu! " gerutu Zhishu.
" Begini, dengarkan aku.. Meskipun kami adalah kakakmu, tidak ada jaminan kalau kami akan terus berada di sampingmu, ada kalanya kami menikah dan hidup terpisah darimu, saat masa itu tiba kau juga harus mempersiapkan dirimu untuk menikah dan menjalani kehidupan yang baru.. " ujar Feng.
" Heh, bilang saja kalian berniat meninggalkanku! " balas Zhishu lalu beranjak.
Zhishu pergi, menggunakan kudanya, dengan masker sutra yang menutupi wajahnya, dia pergi menuju ke gunung yang ada di wilayah timur, yakni gunung Qiyi.
Wajahnya terlihat kesal, Zhishu sampai menunjukkan kerutan di dahinya saking merasa kesalnya.
' Sebenarnya, bukankah sejak awal aku memang sendirian? Kakak mengatakan hal itu benar-benar terdengar bodoh! Aku sudah tahu hal yang sebenarnya!!! '
Meskipun Zhishu bergumam demikian, tetap saja ada banyak bagian yang tidak ia ketahui, termasuk asal usul dirinya sendiri.
Dalam perjalanannya, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Mencoba mencari sesuatu yang bisa membuatnya melupakan hal-hal yang menjengkelkan baginya. Hingga akhirnya dia sampai di kediaman Shingming, dan melepas maskernya.
Di halaman depan, terlihat Qianfan yang tengah duduk menikmati tehnya, Zhishu muncul secara tiba-tiba dan menyerang Qianfan dari belakang. Namun, secara tidak terduga Qianfan berhasil menghindar dan menyangkal serangan Zhishu.
" Sudah ku duga.. Kau ahli pedang.. " gumam Zhishu.
Melihat kemampuan pedang Zhishu yang tidak biasa, Qianfan pun akhirnya memutuskan untuk menemani Zhishu bermain sebentar sampai akhirnya Zhishu mengakui kekalahannya.
" Baiklah, aku kalah, penyambutan yang menarik! " ujar Zhishu.
Qianfan tersenyum, dia mengulurkan tangannya untuk membantu Zhishu berdiri. Setelah itu mereka duduk di teras dengan suguhan teh.
" Pedang itu terlalu cantik, ngomong-ngomong dimana kau mempelajari ilmu pedang itu? " tanya Qianfan.
" Tidak, tidak.. Aku tidak digurui siapapun, hanya menonton dan mengamati apa yang ayah ajarkan pada kakakku.. " jawab Zhishu.
" Apa ayahmu seorang pendekar? " tanya Qianfan.
" Dia seorang tabib.. Namun, kemampuannya dalam ilmu pedang sangat baik.. " jawab Zhishu.
" Wah, dia hebat ya.. "
" Bagaimana denganmu? Kemampuan mu jauh di atas ku.. Apa kau berguru di Klan Báisè de lǎohǔ? " tanya Zhishu.
__ADS_1
" Tidak, ini adalah warisan turun temurun.. " jawab Qianfan.
" Hm, kau tinggal sendirian di gunung ini, tidakkah berfikir untuk membuka akademi ilmu beladiri? " tanya Zhishu.
' Dia benar-benar aktif dan di kuasai oleh rasa penasaran, berapa umur gadis ini sebenarnya? ' gumam Qianfan bertanya-tanya dalam hatinya.
" Kedengarannya menarik, namun yang aku kuasai adalah hal lain, bukan ilmu umum yang bisa di pelajari di setiap sekte.. " ujar Qianfan.
" Apa itu? "
" Musik sihir.."
" Hah? " Zhishu masih mencoba mencerna apa maksudnya.
" Becanda.. Apa kau tertarik dengan ilmu pedangku? Aku bisa mengajarkanmu strategi untuk menyerang, menyangkal dan menghindari serangan dadakan.. " tawar Qianfan.
" Heh, kali ini kau tidak sedang becanda 'kan? Aku mau, aku akan menjadi murid mu dan belajar dengan giat! " ujar Zhishu bersemangat.
" Baiklah baiklah, tapi, sebenarnya berapa umurmu sekarang? " tanya Qianfan.
" Aku? Empat belas tahun.. " jawab Zhishu dengan wajah polosnya.
' Ternyata aku sudah hidup sepuluh tahun lebih lama daripada dirimu, tidak heran kau terlihat sama dengan anak-anak di luar sana.. ' gumam batin Qianfan.
Semenjak hari itu, Zhishu mulai sering pergi dari rumah saat pagi dan kembali begitu senja. Waktu yang ia habiskan hanya untuk mempelajari ilmu pedang secara sembunyi-sembunyi, karena mau bagaimanapun juga Zhan Cheng tidak akan mengizinkannya menyentuh pedang.
Tidak terasa bulan demi bulan Zhishu habiskan bersama dengan sang guru, hasil dari hal yang ia pelajari selama ini benar-benar tidak mengecewakan. Zhishu menunjukkan bahwa dirinya layak menggunakan pedang, bahkan gerakannya sudah semakin sempurna. Hal itu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Qianfan.
Hingga dua bulan kemudian, saat Zhishu mulai merasa bosan dengan pedangnya, Zhishu meminta Qianfan untuk mengajarinya cara bermain alat musik Guzheng. Selama ini Zhishu hanya mendengarkan musik yang Qianfan mainkan, Zhishu berfikir untuk memiliki bakat lain yang juga di miliki oleh Qianfan.
Hanya saja, saat itu Yanxun dengan keluarga kecilnya datang untuk menginap di kediaman Shingming. Keberadaan Yanxun sedikit membuat Zhishu merasa terganggu.
" Qianfan, ayo berburu! " ajak Yanxun.
" Tidak tidak! Master sudah berjanji akan mengajarkanku bermain guzheng! " ujar Zhishu.
" Heh, belakangan ini dia terus bersama mu, kali ini biarkan dia menghabiskan waktu bersamaku! " ucap Yanxun.
" Tidak boleh! " balas Zhishu sambil merangkul lengan kanan Qianfan.
" Kau!! Lepaskan tangannya, sudah ku bilang dia akan berburu denganku! " ucap Yanxun sambil ikut merangkul lengan kiri Qianfan.
" Tidak!! Apa terlihat baik jika seorang pria dewasa memperebutkan pria lainnya dengan seorang gadis!! " tanya Zhishu.
" Dia kan temanku!! " balas Yanxun.
" Kau merangkul temanmu seperti ini, terlihat tidak normal! Lepaskan dia! " tegas Zhishu.
Qianfan yang berada di tengah-tengah anak-anak yang tengah beradu mulut pun merasa kewalahan, sedangkan Nuan hanya terkekeh melihat hal itu terjadi pada kakaknya.
Qianfan memberi kode pada Nuan untuk membantunya, namun Nuan malah terus menerus terkekeh hingga akhirnya lelah menahan tawanya.
" Biarkan Kakakku berburu bersama Xiao xun, sebagai gantinya aku akan mengajarimu bermain Guzheng.. " ujar Nuan.
Mendengar hal itu, Zhishu hanya menghela nafas lalu mengalah dan melepaskan lengan Qianfan dari rangkulannya. Zhishu berjalan menghampiri Nuan, sementara itu Qianfan hanya menatap tangan kanannya yang baru saja di lepaskan oleh Zhishu.
" Heh, Qianfan, ada apa? Kau terlihat kecewa.. " ucap Yanxun nyaris berbisik.
" Aku akan menyiapkan busur panahnya.. " balas Qianfan sambil melangkah pergi.
Di tengah perjalanan menuju ke hutan, Qianfan yang nampak murung membuat Yanxun merasa bersalah sekaligus curiga di waktu yang bersamaan.
" Qianfan, kau nampak murung, apa kau benar-benar kecewa dia mengalah padaku? Atau jangan-jangan kau sudah menyukainya tanpa sadar? " tanya Yanxun.
Spontan, Qianfan menghentikan langkahnya, dia terdiam sambil memikirkan sesuatu. Sementara itu, diwaktu yang bersamaan, Zhishu nampak lesu saat Nuan tengah mengajarkannya. Mengetahui suasana hati Zhishu yang sedang buruk, Nuan pun membuka obrolan ke topik yang menarik.
" Shi? Ada apa? " tanya Nuan.
Zhishu hanya menggelengkan kepalanya.
" Kau merasa sedih karena Kakakku pergi bersama Xiao xun? " tanya Nuan.
" Apa aku terlihat sedih? " tanya Zhishu.
" Iya, itu terlihat jelas.. Apa kau menyukai Kakakku? " tanya Nuan.
Seperti halnya Qianfan, Zhishu pun ikut terdiam setelah mendengar pertanyaan seperti itu. Mungkin karena mereka terlalu sering menghabiskan waktu bersama, hingga perasaan itu muncul tanpa ada satupun dari mereka yang menyadarinya.
__ADS_1