Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley

Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley
Krisis Ibukota Jian Yi


__ADS_3

Sinyal bahaya tersampaikan pada Raja Xiali, namun begitu Raja Xiali tiba di tempat. Dia tidak dapat menemukan Zhishu disana, bahkan Zhexuan pun sudah tidak ada.


Namun, sesuatu dirasakan oleh Raja Xiali, dia pun tidak tinggal diam dan segera bertindak.


Sementara itu, se-perginya Raja Xiali, tibalah Xingsheng ditempat yang juga merasakan sinyal bahaya.


Sesuatu membuat dia dan Zhishu terhubung, perasaan yang sama seperti saat Zhishu memiliki ingatan Xishi. Sebagaimana Xingsheng yang mengikat Xishi sebagai miliknya.


" Liu Qing Fei? Apa dia datang untuk menolong Zhishu? Tidak.. Jika tidak, apa yang sebenarnya terjadi? " gumam Xingsheng seorang diri.


" Wah, sepertinya apa yang dirumorkan alam bawah benar adanya, Penguasa Lembah Hantu bahkan Penguasa Alam Baka lebih tertarik untuk menetap di dunia manusia.. "


Mendengar suara yang familiar itu, segera Xingsheng menoleh ke arah sumber suara dan mendapati sosok laki-laki yang sangat dibenci oleh Raja Xiali.



^^^(Yuwen Huanran)^^^


" Yuwen Huanran.. " ucap Xingsheng penuh penekanan.


" Lama tidak bertemu, Penguasa Lembah Hantu.. " balas Huanran.


" Pengecut sepertimu mengapa begitu berani muncul di hadapanku? " tanya Xingsheng.


" Benarkah? Aku atau kau yang pengecut? Mencintai dan bahkan hampir merebut kekasih Raja Xiali.. Tanpa tahu konsekuensi yang akan diterima oleh manusia yang tak bersalah. Lebih pengecut lagi karena kau bahkan tidak mau mengakuinya! " jawab Huanran dengan nada menantang.


" Pandai sekali cara bicaramu! Namun, kau salah.. Kau terlalu bodoh hingga tidak dapat membedakan wanitaku dengan wanita Qing Fei.. Sekarang, enyahlah! " balas Xingsheng lalu mulai melemparkan kipasnya.


Kipas berputar ke arah Huanran, bergerak mengikuti target sebelum akhirnya di sangkal oleh Huanran.


" Simpan saja energi mu untuk malam nanti, aku tidak punya waktu untuk bersenang-senang denganmu, sampai bertemu lagi! " pungkas Huanran lalu melarikan diri.


Sementara Xingsheng masih diam di tempat, jika Huanran sampai berkata demikian, kemungkinan besar mereka akan benar-benar dipertemukan kembali.


Xingsheng hanya memikirkan situasi seperti apa kiranya yang akan di pilih oleh Huanran untuk menemui dirinya.


Sementara itu, Zhishu sendiri sudah dibawa oleh Zhexuan ke sebuah Gua Dewa yang terletak di belakang Gunung Shu.


Saat mengetahui jantung Zhishu masih berdetak, segera Zhexuan membawa Zhishu ke seseorang yang mungkin bisa menyelamatkannya.


Sesampainya di Gua Dewa, sosok perempuan dengan wajah terkejut menyambut kedatangan Zhexuan.


Melihat Zhexuan yang diselimuti kekhawatiran dan wajah dengan bekas air mata, tentu saja hal itu adalah pemandangan yang langka.


Namun, dia lebih terkejut saat mendapati Zhexuan membawa sosok yang paling ditakuti oleh penduduk desa itu, sosok Master Shi yang tengah dalam keadaan sekarat.


" Jingyi.. Tolong, selamatkan dia. " pinta Zhexuan.


" Tapi, bukankah bagus jika Master Shi mati? Mengapa kau malah mau menolongnya? " tanya Jingyi.


" Tutup Mulutmu!!! " sarkas Zhexuan.


Jingyi spontan tersentak saat Zhexuan membentaknya.


" Tuan Muda Zhu.... " ucap Jingyi lirih dengan mata yang berkaca-kaca.


" Aku dengan hormat meminta tolong padamu, tapi apa yang kau katakan?! Kau dengan gampangnya mengatakan bagus jika dia mati, apa kau tahu siapa yang aku bawa kehadapan mu? Zhu Zhishu!!! Dia adalah adikku! Sang Bai Long Qishi!! Mengapa sampai tidak tahu malu berkata demikian dengan tegasnya!!? " pekik Zhexuan.


Mendengar hal itu, Jingyi langsung bersujud dan memohon ampun, dia tidak mengira kalau Master Shi adalah Zhu Zhishu.


" Tuan Muda.. Mohon ampuni Jingyi.. Jingyi sungguh tidak menyadari kalau Master Shi adalah Nona Zhu.. " ucap Jingyi.


" Jangan banyak bicara, aku memerintahkan mu untuk menyelamatkan nyawanya, jika dia sampai tidak tertolong, maka kau adalah yang selanjutnya! " balas Zhexuan.


" B-baik.. Jingyi pasti akan menyelamatkan Nona Zhu.. " ucap Jingyi.


Zhexuan merebahkan tubuh Zhishu di atas tempat tidur yang ada, lalu menyerahkan sisanya pada Jingyi.


Dengan harapan yang besar, dia menunggu di depan pintu untuk menjadi orang pertama yang menerima kabar baik dari Jingyi.


Namun, sebelum itu, Zhexuan menyegel gunung agar tidak ada siapapun yang datang mengganggu.


Terlebih, kehadiran Zhishu tidak boleh sampai diketahui oleh sang Ayah.


Sementara itu, saat malam mulai tiba. Di kediaman Song, Zheyan baru saja terbangun setelah tak sadarkan diri karena menghirup racun yang disebarkan oleh Master Shi.


Luo Zhiyu pun sudah sadar lebih awal, sedangkan Luo Beiyang masih dalam kondisi yang buruk karena anak panah beracun milik Pembunuh Malam.


Zheyan tersadar dan mendapati Fengyue ada di kamar yang ia tempati. Fengyue tersenyum saat Zheyan menoleh ke arahnya.


" Kakak Zhu.. " sapa Fengyue.


" Fengyue.. Dimana yang lain? " tanya Zheyan.


" Zhiyu sedang menemani Tuan Luo.. Qinsong sudah pergi sejak sore tadi.. " jawab Fengyue.


" Lantas, dimana Song Qing Lian? " tanya Zheyan.


" Kakak Qing Lian pergi ke timur.. Dia akan kembali besok bersama dengan Kakak Xiaoxun.. " jawab Fengyue.


" Ah, maaf sudah merepotkan.. Aku perlu bertemu dengan Tuan Song Gaochang untuk berpamitan.. " ujar Zheyan.


" Eh, sudah mau pergi? " tanya Fengyue.


" Iya, ada hal yang harus aku lakukan! " jawab Zheyan.

__ADS_1


" Apa ini ada hubungannya dengan Zhishu? " tanya Fengyue.


Zheyan tidak menjawab.


" Qinsong mengatakan kepadaku mengenai Zhishu.. Dia bilang dia pernah bertemu dengan Zhishu, bukan hanya dia, bahkan Kakak Xiaoxun juga bertemu dengannya.. " ujar Fengyue.


" Huang Yan Xun? " gumam Zheyan.


" Benar, jika kau berkenan, kau bisa tinggal sampai besok dan bertanya pada Kakak Xiaoxun.. Siapa tahu dia mengetahui sesuatu mengenai Zhu Zhishu.. " ucap Fengyue.


Setelah mendengar perkataan Fengyue, Zheyan mempertimbangkan kembali keputusannya.


Sementara itu, tanpa dia sadari, situasi diluar lebih buruk dari yang dia bayangkan.


Kekacauan yang di sebabkan oleh Jiangshi, membuat kediaman Song mengalami kerugian besar, beberapa pengawal dan murid tewas dan mengalami luka berat.


Selain itu, ada banyak perubahan yang terjadi pada orang-orang yang tewas, meskipun sudah mati, namun mereka tidak terlihat seperti orang mati.


Sebuah hal yang bahkan tabib pun tidak dapat menjelaskannya.


Zhan Hua tiba saat sore, dia datang dan memeriksa semua orang yang terluka. Luka yang tidak pernah ia temui sebelumnya, hal baru yang membuatnya harus mencaritahu lebih dalam lagi mengenai luka yang tak biasa itu.


Hua sendiri tengah berkutik dengan buku-buku pengobatan dan buku-buku Taoisme yang dimiliki oleh mendiang ayahnya, Zhan Cheng.


Dia tidak mempelajari ilmu pengobatan sebanyak Xishi, namun jika Xishi ada disini, sepertinya dia bisa langsung menemukan penawarnya dan langsung memahami lukanya hanya dengan melihatnya saja.


Mengingat hal itu membuat konsentrasi Hua benar-benar kembali terganggu, dia ingin kuat meski kedua orang yang berharga dalam hidupnya tak lagi berada disampingnya.


Saat Hua larut dalam lamunannya, seseorang mengetuk pintu dan memanggilnya dari luar.


" Tuan Muda Zhan kedua.. Apa kau di dalam? "


Hua tersadar, dia beranjak lalu membuka pintu dan mendapati Song Gaochang disana.


" Ketua Song.. " sapanya sambil memberi hormat.


Hua mempersilahkan Gaochang masuk ke ruangannya, lalu mulai berbincang.


" Sepertinya masalah ini cukup sulit.. Jika kau memerlukan bantuan kau boleh memintanya langsung kepadaku, jangan terlalu membebani dirimu sendiri.. " ujar Gaochang.


" Ketua Song begitu pengertian.. Memang, saat ini aku sedang kesulitan mencaritahu makhluk macam apa yang sudah menyerang kediaman Song, berikut gigitannya yang beracun memberikan efek yang sangat berbeda, aku tidak pernah menemui hal semacam ini sebelumnya. " balas Hua.


" Mereka terlihat seperti mayat hidup. Tidak mempan untuk ditusuk atau dilukai bagaimanapun.. " ujar Gaochang.


" Mayat hidup? "


Hua terdiam, mengenai mayat hidup ini, dia seperti pernah mendengarkan kisahnya bersama dengan Xishi.


Saat mereka masih kecil dulu, Zhan Cheng menceritakan sebuah kisah mengenai mayat hidup yang mengambil energi kehidupan manusia untuk bertahan hidup.


" Ketua Song, sepertinya aku memiliki buku mengenai mayat hidup yang kau maksud.. Dengan ini, aku meminta izin untuk kembali dan mencari buku tersebut, mendiang ayahku pasti meninggalkan catatan hal-hal yang berhubungan dengan makhluk itu.. " ujar Hua.


" Tentu, aku akan meminta beberapa orang untuk menemanimu.. " balas Gaochang.


" Tidak perlu, aku tidak akan lama.. Setelah mendapatkan bukunya, aku akan langsung datang lagi ke sini.. " ujar Hua.


" Baiklah, hati-hati dijalan.. Jika terjadi sesuatu, segera kirimkan sinyal bahaya.. " balas Gaochang.


" Dimengerti.. "


Hua pun pergi ke Desa Luo untuk kembali ke rumahnya dan mencari buku tentang Jiangshi itu.


Sesampainya di rumah, kedatangan Hua disambut oleh Qibo yang belum lama ini baru saja sampai.


Dia tidak tahu apa yang membuat Hua begitu tergesa-gesa hingga tidak menyempatkan diri untuk sekedar berbincang dengannya.


Hua memberi salam lalu berlari ke perpustakaan untuk menemukan buku catatan mengenai Jiangshi.


" Zhan Hua! Apa terjadi sesuatu di ibukota? Apa yang membuatmu begitu tergesa-gesa? " tanya Qibo.


" Kakak.. Saat ini di ibukota sedang kritis, sekelompok mayat hidup menyerang dan melukai orang-orang kediaman Song, belum lagi Kakak Feng, Zhiyu dan Ketua Luo terluka akibat Pembunuh Malam! " jawab Hua sambil sibuk mencari-cari catatan itu.


" Kakak Feng? Kakak Zheyan ada di ibukota? Lalu, apa mereka bertarung dengan Master Shi? " tanya Qibo.


" Ya, siapa lagi kalau bukan Master Shi. Pemimpin keji itu selalu yang terparah dalam melukai seseorang.. Ketua Luo sampai tak sadarkan diri, tugasku masih banyak, ditambah lagi mayat hidup yang entah darimana datangnya.. Tolong, Kakak jangan bertanya lagi.. " jelas Hua.


" Mengenai mayat hidup, aku mungkin bisa membantu.. Bawa aku bersamamu.. " ujar Qibo.


Hua berhenti sejenak dan melihat ke arah Qibo.


" Kau yakin? " tanya Hua.


" Ya! " jawab Qibo tegas.


" Baiklah, kalau begitu kakak bisa pergi lebih dulu, aku akan mencari catatan mengenai racun mematikan.. " balas Hua.


" Cepatlah menyusul! " ucap Qibo.


Hua mengangguk. Setelah itu, segera Qibo pergi lebih dulu.


Namun, sebenarnya Qibo tidak langsung pergi ke kediaman Song, melainkan dia pergi mencari Liu Xingsheng untuk menanyakan apa maksudnya mayat hidup.


Dia tidak benar-benar tahu mengenai hal itu, karena bahkan Qibo tidak pernah mempelajari ilmu pengobatan.


Dia berfikir, mungkin saja Liu Xingsheng mengetahui hal ini, karena sejauh dia mengenal Liu Xingsheng, dia adalah orang yang paling tahu segala sesuatu yang terjadi di dunia ini.

__ADS_1


Saat malam tiba, Qibo baru saja sampai di Ibukota. Suasana ramai, tidak seperti saat festival hantu yang menentang aktivitas di malam hari.


Segera, Qibo pergi ke kedai teh yang menjadi sarang Xingsheng. Namun, sesampainya disana, dia tidak melihat adanya Liu Xingsheng.


Qibo tidak menyerah sampai disitu, dia bertanya pada pelayan mengenai Liu Xingsheng.


Hingga seseorang memberitahunya mengenai kediaman Liu Xingsheng yang ada di tenggara kota.


Tanpa berlama-lama lagi, Qibo pergi ke tenggara dan mendapati sebuah kediaman yang tidak terlalu mencolok.


Dia mengetuk pintu, hingga tak berapa lama, seorang gadis membuka pintunya.


" Maaf, apa benar ini adalah kediaman Liu? " tanya Qibo.


" Benar, Tuan Muda. Kalau boleh tahu, siapa yang Tuan Muda cari malam-malam begini? " tanya gadis itu.


" Aku mencari Liu Xingsheng.. "


" Siapa yang mencari ku? " tanya Xingsheng yang ikut datang ke pintu utama.


Qibo membungkuk dan memberi salam pada Xingsheng, Xingsheng juga membalas salamnya.


" Tuan Muda Zhan, apa yang membuatmu mencari ku malam-malam begini? " tanya Xingsheng.


" Ada hal yang perlu aku tanyakan padamu! " jawab Qibo.


Xingsheng terdiam sejenak, sebelum akhirnya mempersilahkan Qibo masuk untuk berbincang di dalam.


Setelah duduk dengan suguhan teh di meja, Qibo mulai masuk ke inti pembicaraannya.


" Aku mendengar kabar kalau Kediaman Song di serang oleh sekelompok mayat hidup.. Apa kau tahu mengenai hal itu? " tanya Qibo.


" Tuan Muda Zhan, mengapa kau bertanya seakan-akan aku adalah pelaku penyerangannya? " tanya Xingsheng yang merasa sedikit tersinggung.


" Maaf, tapi aku hanya ingin mengetahui hal yang tidak ku ketahui, aku tahu wawasan mu lebih luas dibandingkan dengan diriku, maka dari itu aku ingin tahu lebih banyak mengenai makhluk ini.. " jelas Qibo meluruskan arah pembicaraannya.


" Baiklah.. Karena kau sudah datang jauh-jauh.. Maka aku pun tidak akan membuatmu kecewa dengan usahamu sendiri.. Aku melihat penyerangan itu bersama dengan Master Shi, diantara kita berdua tidak ada satupun yang tahu siapa yang mengendalikan mayat-mayat itu. " ujar Xingsheng.


' Master Shi? ' gumam batin Qibo.


" Intinya, Jiangshi adalah makhluk beracun yang menjadikan energi kehidupan manusia sebagai makanannya. Sebagian besar manusia yang terkena gigitan atau racunnya sekalipun, akan menjadi Jiangshi, terlebih setelah itu mereka tidak memiliki kesadaran apapun.. " jelas Xingsheng.


" Bagaimana cara mengobati luka karena Jiangshi? " tanya Qibo.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


...Bonus!...


Pengenalan Karakter:


...Zhu Zhexuan...



Putra kedua dari Dewa Pedang Zhu Zhaoyang, satu-satunya keturunan yang di didik langsung oleh Zhu Zhaoyang.


Dia adalah Adik dari Zhu Zheyan dan juga kakak dari Zhu Zhishu.


Namun, karena suatu hal, hubungannya dengan kedua saudaranya tidak berjalan dengan baik. Bahkan dalam beberapa kesempatan, dia selalu berambisi untuk membunuh sang adik yang merupakan calon pengantin Raja Xiali.


Karena termakan oleh ambisi ayahnya, dia juga tumbuh sebagai sosok yang ambisius dan keras kepala.


Meskipun demikian, Dia juga termasuk orang yang selalu mementingkan penduduk dibandingkan dengan dirinya sendiri.


Hanya saja, dia selalu ingin menang dalam perbedaan diantara dia dengan Zhu Zhishu.


Dia menganggap Zhishu adalah sosok saingan terberatnya, juga sosok yang perlu di singkirkan.


Kecemburuannya terhadap sang ibu yang selalu memberi perhatian lebih ke kedua saudaranya, membuatnya kembali datang dan untuk menantang Zhishu.


Namun, sesuatu terjadi dan mengubah sudut pandangnya terhadap Zhishu, kejadian itu membuat hatinya luluh dan menerima Zhishu sebagai adik dan orang paling berharga dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2