Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley

Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley
Konflik batin Zhan Xishi


__ADS_3

Qibo memutar tubuhnya dan melihat adik ketiganya disana. Entah apa yang dilakukannya di Ibukota, namun senyum terukir secara alami di wajah Qibo.


" Apa yang kakak lakukan disini? " Tanya Hua begitu dingin.



^^^( Zhan Hua - Putra Ketiga Zhan Cheng - Murid Klan Fènghuáng )^^^


Tetapi, pertanyaan yang di sertai dengan sikap dingin itu tak menghapus senyum di wajah Qibo. Bagaimana pun juga, ini sudah satu tahun lebih mereka tidak bertemu, sikap dingin adiknya yang satu ini memang sudah melekat dalam dirinya.


" Bukankah aku yang seharusnya menanyakan hal demikian? " Ujar Qibo membalikkan pertanyaan.


Hua terdiam sejenak.


" Sedang apa kau disini? Bukankah seharusnya kau berguru di Kota Tang? " Tanya Qibo memperjelas.


Hua mengerti.


" Aku pergi menemani Fengyue ke sini atas perintah guru, kami seharusnya menyelidiki kematian Marga Li, namun Fengyue sakit dan menjadi sedikit bermasalah! " Jawab Hua.


Qibo terdiam, mencoba mencerna maksud dari perkataan adiknya sebelum matanya melihat sekitar. Kebetulan mereka berdiri di depan kedai teh, Qibo mengajak adik nya masuk untuk membicarakan detailnya.


Hua menceritakan apa yang terjadi pada Fengyue. Mereka adalah anak dari Kepala Desa Luo yang juga menguasai ilmu pengobatan, namun saat ini Qibo masih belum tahu kalau Ayahnya sedang pergi ke barat. Untuk lebih jelasnya, Hua membawa sang kakak melihat kondisi Fengyue yang tinggal di kediaman Song.


Kedatangan Qibo di dampingi langsung oleh putra kedua keluarga Song, Yakni Song Qin Song. Melihat kondisi Fengyue yang terlihat seperti anak kecil, membuat Qibo merasakan hal yang familiar.


" Terakhir kali, apa yang terjadi? " Tanya Qibo.


" Tidak ada yang tahu, tetapi, para pengawal Ibukota menemukannya tengah menangis di dekat mayat penduduk yang di bunuh! " Jawab Hua.


" Siapa yang membunuhnya? " Tanya Qibo.


" Ada lambang ' Shi ' di area sekitar, kemungkinan besar adalah Master Shi, Pembunuh Malam! " Jawab Qin Song.


Sesaat Qibo merasa gugup karena Qinsong yang menjawab pertanyaannya, terlebih dia sampai menyebutkan detailnya. Qibo menelan salivanya.


" Kakak, melihat kondisi Fengyue yang seperti ini, mungkin adik keempat bisa membantunya! " Celetuk Hua.


Dan disaat itu juga Qibo terdiam, dia lupa kalau dirinya tengah mencari anak nakal yang pergi entah kemana, berikut kakak tertuanya ikut menghilang.


" Benar, seharusnya bisa. Namun, sebenarnya kedatangan ku ke ibukota adalah mencari Xishi.. " Ujar Qibo sedikit membuat Hua terkejut.


" Adik keempat hilang?? " Tanya Hua merendahkan suaranya hingga nyaris berbisik.


Qinsong yang merasa nama yang di sebutkan tadi terlalu familiar pun ikut terjun ke dalam topik.


" Apa maksud kalian adalah Zhan Xishi? " Tanya Qinsong.


Qibo memutar kepalanya yang sempat membelakangi Tuan Muda Song ini, dia tidak menyangka kalau Zhan Xishi bisa sampai di kenali oleh orang terhormat ini.


" Tuan Muda Song mengenalnya? " Untuk kali pertamanya pertanyaan itu keluar secara khusus untuk Qinsong.


" Aku bertemu dengannya kemarin, dia juga membantuku memakamkan putra bungsu keluarga Li, Li Xiao Bian. " Jawabnya.


Jantung Qibo mulai tak beraturan, berkali-kali dia dibuat terkejut oleh pernyataan yang tidak terduga. Nama Xiao Bian ini cukup familiar baginya, namun mungkin Li Xiao Bian bukan orang yang sama, pikirnya.


" Lalu, kapan dia pergi? " Tanya Qibo.


" Dia pergi sore hari setelah pemakaman, apa Tuan Muda Zhan belum bertemu dengannya? " Tanya Qinsong.


' Itu artinya dia pulang saat aku dan kakak tertua tiba di Ibukota, namun, bagaimana bisa tidak bertemu? Apa ada jalan lain yang menuju desa Luo selain Hutan Luoxia? Atau mungkin dia pergi ke Gunung Qiyi ' Gumam batin Qibo bertanya pada dirinya sendiri.


Qibo mulai merasa sesuatu telah terjadi pada Xishi, namun dia juga merasa tidak seharusnya mengkhawatirkan Xishi. Kalau pun Xishi ternyata di culik yang patut di khawatirkan adalah penculiknya.


" Kakak.. " panggil Hua lirih saat menyadarkan Qibo dari lamunannya.

__ADS_1


" Hm? Em, begini saja, aku akan kembali ke Desa Luo untuk melihat apakah adik keempat sudah pulang atau belum, jika aku bertemu dengannya aku akan membawanya kesini untuk memeriksa Tuan Muda Nie.. " ujar Qibo.


" Kalau begitu maaf sudah merepotkan Tuan Muda Zhan.. " ujar Qinsong.


" Tidak perlu sungkan, Ayah dan adik keempat kami cukup memahami ilmu pengobatan, tidak salah kalau saling membantu.. " balas Qibo.


Hua mengantarkan Qibo keluar, sebelum pergi, Qibo sempat berpesan kepada Hua, jika bertemu dengan Kakak Tertua maka sampaikan padanya untuk menunggu sampai dirinya dan Adik Keempatnya datang. Hua pun mengerti dengan pesan yang di titipkan kakaknya itu.


Waktu terus berlalu hingga malam kembali datang, dengan sinar bulan yang menerangi jalannya, Qibo memacu kudanya pergi ke kediaman Zhan. Namun, begitu sampai rumahnya sangat kosong. Qibo sudah mulai terbiasa dengan desanya yang menghentikan aktivitas saat malam tiba, namun tidak terbiasa dengan rumahnya yang nampak begitu sepi. Bahkan tidak ada pencahayaan dari dalam rumah. Tanpa turun dari kuda dan masuk ke rumah untuk mengecek, Qibo kembali pergi menuju Gunung Qiyi untuk mencari keberadaan sang adik.


Disisi lain, Xishi duduk di teras Paviliun Yan sambil menatap bulan. Malam yang begitu dingin di Gunung Luo, dengan hembusan angin yang menyentuh pipi halusnya menemani kesunyian yang damai. Matanya terus menatap bulan yang menggantung di langit malam tanpa ada jejak bintang satu pun, merasakan kesendirian yang serupa dengan dirinya.


' Apa yang Kakak Tertua sembunyikan dariku, dia bisa melakukan apa yang tidak bisa di lakukan oleh Kakak Kedua dan Ayah. Sebenarnya, siapa Marga Zhu yang dia maksud? Aku sudah terlalu lama menyembunyikan diriku sendiri, sudah terlalu lama juga membohongi diri sendiri, jika aku mencaritahu diri ku, apa aku akan kehilangan orang-orang yang kini bersamaku? Aku terlalu takut untuk mengambil langkah lebih jauh, aku mencoba memupuskan dendam orang yang telah membuang ku, membuatku tak mampu mengenali diri sendiri.. ' gumam batin Xishi.


Xishi mengalihkan pandangannya, dia melihat sekitar sangat kosong. Hingga tak lama setelah itu ada beberapa murid yang berpatroli dan melihatnya tengah duduk sendirian. Mereka hanya memberi salam sambil tersenyum lalu berlalu begitu saja.


Xishi mengeluarkan pedangnya, pedang yang konon sudah ada sejak dirinya di lahirkan. Pedang Bai Long Qishi yang sering di kaitkan dengan Dewa Pedang. Ungkapan Bai Long Qishi yang Agung sebenarnya hanya asal bicara saja, namun siapa sangka kalau dia memang begitu agung. Sampai banyak orang yang begitu hormat dan meninggikan namanya. Terlebih kenyataan Dewa Pedang ini sangat di hindari oleh Xishi karena selalu saja membuatnya takut. Jika benar dirinya adalah bagian dari Dewa Pedang maka ada dua pilihan jalan yang harus di lalui nya. Mati dengan cara terhormat karena mengotori pedang suci atau Memberontak atas kebencian Masa Lalu dengan mengkaitkan Pembunuh Malam.


Xishi mendengar langkah kaki, dengan cepat ia menyimpan kembali pedangnya. Awalnya Xishi mengira kalau dia adalah Feng, namun ternyata bukan.


" Nona Zhan sudah begitu malam mengapa masih duduk di luar? " celetuk Zhiyu.


" Ternyata Tuan Muda Luo.. Malam ini begitu damai, akan sangat di sayangkan jika melewatkan suasana damai di Gunung Luo ini.. " balas Xishi.


Xishi menggerakkan tangannya, isyarat untuk mempersilahkan Zhiyu duduk di kursi yang tersedia. Zhiyu pun duduk, entah basa-basi seperti apa yang akan dia lontarkan malam ini, Xishi hanya perlu memainkan perannya.


" Tak disangka Nona Muda Zhan ini begitu pandai beladiri, namun mengapa kau bisa terluka malam itu? " tanya Zhiyu.


" Beladiri ku masih tingkat bawah, hanya untuk melindungi diri, belum cukup jika untuk melawan, terluka dalam medan perang adalah hal yang lumrah.. " balas Xishi.


' Sangat pandai menyusun kata-kata! ' gumam batin Zhiyu sambil tersenyum.


" Benar, itu benar.. " gumam Zhiyu tak mampu lagi berkata-kata.


" Jika Tuan Muda Luo berkenan, bolehkah Xishi bertanya? " tanya Xishi.


" Jika aku tahu aku akan memberitahumu, tanyakanlah.. " jawab Zhiyu.


" Sebenarnya apa hubungan antara Bai Long Qishi dengan Dewa Pedang? " tanya Xishi.


' Eh, anak ini tidak tahu apapun? ' Zhiyu memasang wajah sedikit kaget.


" Bisa di katakan Bai Long Qishi adalah keturunan Dewa Pedang, sejauh ini seharusnya ada tiga Bai Long Qishi, namun belasan tahun yang lalu di katakan keturunan terakhir meninggal saat di lahirkan, mengetahui sang ibunda dan adiknya meninggal, Bai Long Qishi pertama ikut bunuh diri untuk menyusul dua orang tercintanya! " jelas Zhiyu.


" Begitu ya.. " balas Xishi.


' Rumor yang begitu rumit! Aku sungguh takkan menanyakan hal ini lagi! 'gerutu batin Xishi.


Mendengar penjelasan itu, Xishi menunjukkan ekspresi yang kurang puas. Namun, rumor yang beredar adalah demikian. Sejauh ini pun tidak ada yang tahu bagaimana rupa Sang Dewa pedang dan Bai Long Qishi yang sebenarnya. Namun, di katakan dalam sejarah, Dewa Pedang pernah mengalahkan pasukan Lembah Hantu hingga membuat perdamaian kehidupan manusia sampai sekarang ini.


Tetapi, setelah belasan tahun, nama Bai Long Qishi kembali muncul bahkan sampai di kaitkan dengan Pembantaian Marga Li. Bagi sebagian orang hal itu adalah bentuk penghinaan, namun bagi Xishi itu adalah yang hal yang berbeda. Dia mengenali Bai Long Qishi yang tidak di kenali oleh orang lain.


" Sampai sekarang tidak ada yang tahu rupa dari Bai Long Qishi, mungkin saja sudah tua dan mungkin saja hidup abadi dan terlihat muda! " timpal Zhiyu yang di balas anggukan Xishi tanda mengerti.


' Namun, Bai Long Qishi adalah aku.. ' gumam batin Xishi sekali lagi.


Malam semakin larut, perbincangan Xishi dan Zhiyu sudah berkahir. Keduanya kembali ke kediamannya masing-masing.


Sedangkan, Qibo, dia baru saja sampai di Gunung Qiyi. Hal yang pertama dia lakukan adalah pergi ke Gua Qiyi dan mencari Xishi disana. Namun, lagi-lagi dia tak menemukan adiknya itu, Limei yang menyadari kedatangan seseorang pun keluar untuk melihat siapa yang datang. Begitu tahu dia langsung memberi salam pada Qibo.


" Master Zhan.. "


" Dimana Xishi? " tanya Qibo.


" Master Shi datang tiga hari yang lalu, malam sebelumnya aku melihatnya di atap dengan seorang laki-laki, sepertinya sedang mencoba menghentikan laki-laki itu, tapi setelah itu kami pergi dan tidak bertemu lagi! " jawab Limei.

__ADS_1


" Kau tahu kemana dia akan pergi? " tanya Qibo.


" Tidak "


" Besok pergilah ke Ibukota, tunggu sampai aku menemui di tempat yang sama! " ujar Qibo.


" Baik! "


Setelah itu Qibo langsung pergi lagi, Limei pun tak mampu menahannya dan hanya membiarkannya pergi. Qibo kembali ke Desa Luo, dia berpikir mungkin saja Xishi akan kembali besok pagi. Jika masih belum kembali juga dia akan pergi mencarinya lagi. Terlebih saat ini dia tidak tahu kemana ayahnya pergi, ada kemungkinan dia membawa Xishi ke suatu tempat untuk berkunjung.


Disisi lain, di lembah Xiali, lembah yang tidak dapat di lihat atau di datangi oleh manusia biasa terlihat begitu tenang. Seseorang dengan pakaian serba merah dan terlihat seperti orang yang berkedudukan tinggi, tengah duduk di tempat mirip sebuah singgasana.


" Master, yang melukai Zhan Xishi adalah Boneka Rubah Pembunuh! " ujar seseorang melaporkan apa yang telah di selidikinya.


" Ck. Hanya boneka saja bisa sampai begitu berani melukainya! " gumam Pria dengan pakaian serba merah itu.


" Master haruskah kita meratakan Hutan Xin? " tanya seseorang yang melaporkan hal tadi..


^^^( Hutan Xin - Tempat/ Markas Besar^^^


^^^Rubah Pembunuh )^^^


" Biarkan saja dulu, Xishi dan dan Bian Xin ini dulunya adalah teman, jika Xishi ingin maka dia akan meratakannya dengan tangannya sendiri! "


" Namun, dia terluka karena Siluman itu! "


" Benar, meskipun begitu Xishi tidak menyalahkannya, jadi biarkan saja! Urus para tamu yang datang dulu! "


" Tamu itu adalah orang-orang yang di bunuh oleh Zhan Xishi, mengapa harus aku yang mengurusnya? " tanya orang yang melaporkan hal tadi dengan wajah merengut.


Namun, begitu melihat ke arah Sang Master dia malah mendapat tatapan mematikan dari Sang Master. Suatu hal yang sangat tidak boleh di lihat. Buru-buru dia membawa kedua malaikat kematian hitam dan putih untuk membantunya.



^^^( Malaikat kematian Hitam -^^^


^^^Malaikat Kematian Putih )^^^


Keesokan harinya, Xishi dan Feng pamit kepada ketua Klan Hēilóng dan juga Zhiyu. Mereka juga berterimakasih karena sudah merawat Xishi dua hari ini. Ketua Klan Hēilóng yang terkenal tegas dengan aura dingin ini ternyata bisa memperlakukan Xishi dengan hangat. Tanpa berlama-lama lagi, mereka pun turun gunung untuk pulang.


Sepanjang jalur turun gunung, Xishi dan Feng tidak saling berbicara. Keduanya sama-sama hening, setelah sebelumnya Xishi adalah pribadi yang sangat cerewet jika bersama dengan para kakaknya. Kali ini secara tidak sadar, Xishi menunjukkan sisi dalam dirinya yang sebenarnya. Dalam diamnya, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Namun, bahkan satupun tidak terjawab dengan jelas.


Setelah siang hari barulah mereka sampai di desa, mereka di sambut oleh penduduk desa yang memang mengenal keduanya. Namun, wajah Xishi yang selalu tertutup masker memang sudah menjadi ciri khasnya. Tidak ada satupun warga yang tahu bagaimana rupa asli sang Zhan Xishi ini. Mengenai Klan Hēilóng, Xishi tidak berbicara apa-apa mengenai wajahnya yang terekspos, jika sudah ada yang tahu Xishi tidak akan memperpanjang, namun bagi yang belum tahu akan terus seperti itu sampai Xishi menunjukkan wajahnya sendiri.


Sesampainya di rumah, mereka berdua di sambut oleh Qibo, di saat itu juga Feng menyadari kalau dirinya meninggalkan Qibo di ibukota.


" Kakak bagaimana bisa kau bersama Xishi? " tanya Qibo.


" Aku terburu-buru saat menerima surat dari Zhiyu, jadi tidak sempat memberitahumu.. " jawab Feng.


" Jahatnya.. Lalu, dimana Ayah? " tanya Qibo lagi.


" Aku tidak tahu " jawab Feng.


" Semenjak aku pulang dua hari yang lalu, rumah memang sudah sepi! " timpal Xishi.


" Sudahlah, ayah tak mungkin hilang! Lalu kau, apa kau terluka? " tanya Qibo sambil memutar tubuh Xishi.


" Tidak kakak! Aku baik-baik saja! Aku hanya menginap di Gunung Luo kemarin malam! " ujar Xishi.


Nampak, wajah Qibo memperlihatkan kecurigaan namun, dia tak ingin membahasnya sekarang karena ada hal yang lebih penting.


" Ikutlah denganku ke ibukota, Nie Fengyue membutuhkan bantuanmu! " ujar Qibo.


" Nie Fengyue? " ..

__ADS_1


__ADS_2