
Liang terdiam dan terlihat tengah berfikir, dia menebak-nebak kiranya siapa yang bisa menculik Limei.
" Apa tidak aneh jika Limei di culik? " gumam Liang.
" Di culik??? " ujar Xishi.
Liang mengangguk imut di hadapan Xishi.
" Siapa kiranya menculik gadis seperti Limei? " tanya Xishi.
" Mungkin ada satu tempat yang memungkinkan, mari bicara sambil berjalan menuju tempat itu, aku akan membantumu sampai menemukan Limei.. " jawab Liang.
Xishi mengangguk sekali, tanda menyetujui tawaran Liang. Sepanjang perjalanan, Xishi menceritakan tentang kejadian semalam sebelum dirinya berpisah dengan Limei. Xishi memang memberikannya tugas yang cukup sulit, namun tidak menuntut waktu dan memberi kebebasan pada Limei. Meski demikian, bukan berarti Limei bisa menghilang secara misterius seperti ini. Liang yang mendengar pun jadi semakin yakin akan tebakannya.
" Rumah bordil? Kau becanda? " tanya Xishi.
" Hmm.. Sebenarnya aku juga kurang yakin, namun tidak ada salahnya jika memeriksa ke dalam.. " ujar Liang.
" Kalau begitu, ayo masuk! "
Liang menarik kembali tangan Xishi agar berhenti, dia masuk ke dalam sama saja dengan menyerahkan diri.
" Kau seorang perempuan, alih-alih menemukan Limei, kau akan di jadikan pelayan rumah bordil nantinya! " ujar Liang.
" Penghinaan! Siapa yang bisa membuatku menjadi seperti demikian? " sarkas Xishi.
" Jika Limei berada di dalam, tentu bukan hal aneh.. Aku akan masuk untuk memeriksa, jika aku berhasil menemukannya aku akan langsung membawanya keluar! " ucap Liang.
" Lalu, bagaimana denganku? " tanya Xishi.
" Tunggulah, di kedai teh biasa, jaraknya dekat dari sini, aku akan kesana setelah keluar dari sini! " jawab Liang.
" Heh, kau sengaja membuatku bertemu dengannya, ya? " tanya Xishi curiga.
" Tenanglah, Master tidak ada di ibukota, itu sebabnya aku libur! Pergilah, aku akan masuk! "
" Apa kau baru saja menyuruhku? " tanya Xishi sambil mengangkat sebelah alisnya.
" Kau bilang tidak punya banyak waktu? " ujar Liang mengingatkan.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Xishi pun pergi sambil sesekali menengok ke belakang, memastikan Liang benar-benar masuk dan mencari Limei. Setelah melihat laki-laki itu masuk, barulah Xishi melangkah dengan tenang menuju kedai teh yang di maksud. Sejenak, dia bertanya-tanya kemana perginya Liu Xingsheng, pagi ini mereka sempat bertemu, lalu tiba-tiba Xingsheng sudah meninggalkan Ibukota.
Xishi masuk ke kedai teh dan duduk di lantai dua kedai itu. Dengan suguhan teh dan beberapa camilan, telinganya awas mendengar setiap gosip yang keluar dari mulut ke mulut.
" Kau lihat, Pembunuh Malam masih ada di sekitar sini, mayat beracun itu di gantung di depan gerbang kediaman Li.. "
" Benar, kami melihatnya pagi ini, festival hantu kali ini benar-benar sangat menyeramkan dengan munculnya tiga organisasi pembunuh! "
" Terlepas dari pendekar hantu, masuk ke tengah-tengah pertempuran antar Pembunuh, bisa-bisa penduduk yang tidak bersalah akan menjadi korbannya! "
" Benar, seharusnya hal ini di hentikan sejak awal agar tidak terjadi hal yang lebih fatal! "
" Sudah dengar? Desa Luo sudah di bakar habis oleh Pendekar hantu, dengar-dengar pendekar hantu bekerja sama dengan Pembunuh Malam untuk menghancurkan desa-desa yang tidak memiliki kekuatan! "
" Pembunuh malam memang sadis, mereka semua sudah kelewatan, jika kita bekerjasama pasti bisa memberantas dan menghabisi mereka satu persatu! "
Mendengar hal yang begitu merendahkan, tentu saja membuat Xishi sangat geram, terlebih rumor itu seperti biasanya, menyebar dengan cepat layaknya sambaran petir. Xishi menggenggam kuat gelas teh di tangannya hingga pecah dan melukai tangannya.
Dengan tatapan tajamnya, ia menandai empat laki-laki yang tengah asyik bergosip di bawah sana. Dengan beraninya mengatakan ingin menghabisi Pembunuh Malam.
" Nona, tangan mu terluka.. "
Suara laki-laki mengalihkan perhatian Xishi, dia menoleh ke arah laki-laki yang berdiri di sampingnya dengan menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna merah. Setelah sebelumnya mengira adalah Xingsheng, namun begitu melihat wajahnya ternyata bukan.
Xishi tersenyum menanggapi perhatian kecil itu, meski tertutup masker namun laki-laki itu sepertinya memahami ekspresi tersembunyi dari Xishi. Tanpa sungkan lagi, Xishi mengambil sapu tangan merah itu lalu di gunakan untuk membalut tangannya.
__ADS_1
" Ini hanya luka kecil, " balas Xishi.
Selang beberapa detik kemudian, Liang datang dan terburu-buru masuk ke kedai. Matanya melihat sekitar mencoba menemukan sosok gadis yang baru saja ia suruh kemari sebelumnya. Tak butuh waktu lama, netra nya menangkap sosok tersebut. Kakinya melangkah cepat menaiki tangga dan menghampiri Xishi, laki-laki yang berdiri di samping Xishi tersenyum dan pamit undur diri.
" Baiklah, karena tidak ada hal lain lagi, maka saya akan pamit, semoga hari mu menyenangkan, Nona.. " pungkasnya.
Laki-laki itu berpapasan dengan Liang, pandangan mereka bertemu, Xishi menangkap tatapan penuh rasa tidak suka di mata Liang.
Liang langsung mengambil tempat di hadapan Xishi, lalu matanya tak sengaja melihat banyak darah di meja.
" Nona, kau terluka?? " tanya Liang panik.
" Luka kecil, aku tidak sengaja menghancurkan gelas ini.. Jadi, bagaimana dengan Limei.. " tanya Xishi mengalihkan pembicaraan.
" Menurut informasi, semalam memang ada pelayan baru, namun sudah di bawa ke rumah bordil lain! " jawab Liang.
" Maksudmu? " tanya Xishi tidak mengerti.
" Di sisi ibukota ada Rumah Cinta, itu adalah rumah bordil terbesar dan terkenal di Ibukota, seseorang sepertinya membeli Limei dan menjualnya kesana! " ujar Liang.
" Keparat! Ayo pergi! " Ajak Xishi.
Liang menahan tangan Xishi dan membuatnya kembali duduk, kali ini dia akan sedikit berbicara mengenai pria tadi.
" Nona, jika aku boleh menyarankan mu, sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengan lelaki tadi.. " ucap Liang berbisik.
" Memangnya dia siapa? " tanya Xishi.
" Aku hanya tau dia bernama, Yuwen Huanran.. Pokoknya jangan dekati dia, jika Master tau hal ini, dia pun akan memperingatkan hal yang sama! " ujar Liang.
^^^( Yuwen Huanran )^^^
Liang menghembuskan nafas lega, lalu mengangguk mengiyakan ajakan Xishi. Mereka berdua sama-sama pergi ke sisi barat Ibukota, wilayah dimana Rumah Bordil itu berada.
' Yuwen Huanran muncul secara tiba-tiba, satu persatu tokoh yang sempat menghilang kembali muncul ke permukaan setelah rumor mengenai Pembunuh Malam menyebar, sebenarnya siapa yang mereka targetkan? Jika mereka semua menargetkan satu titik yang sama, maka target itu akan kalah dengan mudah, bahkan ada kemungkinan untuk bekerja sama antara satu sama lain. Saat ini, bertanya 'kenapa?' bukanlah hal yang tepat, yang paling penting adalah 'Siapa?' '
Liang bergumam dengan batinnya sendiri selama perjalanan, hal itu membuat Xishi yang berjalan di sampingnya merasa bosan. Xishi ingin membuka pembicaraan, namun bingung mengenai obrolan seperti apa yang akan mereka bicarakan, terlebih Xishi dan Liang baru pertama kali menjadi sedekat teman saat ini.
Belum sempat membuka mulut untuk berbicara, Liang mendorong bahu Xishi hingga tubuhnya bertabrakan dengan orang lain. Xishi yang sudah bersiap memarahi Liang menelan kembali kata-katanya begitu melihat anak panah yang melesat.
Lagi-lagi Pembunuh Yue, sepertinya kali ini mereka sudah menargetkan Xishi. Satu persatu anggota Pembunuh Yue muncul membuat penduduk sekitar panik, suasana ricuh seketika. Tidak ada waktu untuk menenangkan mereka karena lawan bersiap di depan mata. Mereka mengelilingi Xishi dan Liang bahkan menutup jalur atap.
" Nona Zhan, pastikan tubuhmu tidak terkejut, kita akan bersenang-senang sore ini juga! " Ujar Liang.
" Tentu, pastikan kau tidak menggangguku nantinya! " Balas Xishi.
Liang mengangkat satu sudut bibirnya.
" Ngomong-ngomong, dimana pedangmu? Mereka menggunakan busur panah lhoo! " Ucap Liang.
" Asal kau tau, ya! Aku lebih berbahaya ketika aku bertarung tanpa senjata! " Balas Xishi.
" Baik, kau bisa membuktikan perkataan mu sekarang juga! " Timpal Liang.
Liang mengeluarkan pedangnya, sedangkan Xishi benar-benar menggunakan tangan kosong. Orang-orang Yue yang berada di bawah pun menggunakan pedang, sedangkan yang di atap mereka memegang busur panah nya masing-masing. Hal itu tentu cukup berat untuk di lakukan, namun seorang Xishi mana mungkin tidak menyambut tamunya dengan baik.
Xishi dan Liang berlari ke arah yang berlawanan, keduanya akan sibuk dalam pertarungan melawan para pembunuh dari Organisasi Pembunuh yang pernah menempati tingkat pertama sebagai Pembunuh tersadis, saat ini yang perlu di lakukan oleh Xishi dan Liang adalah melukai harga diri Pembunuh Yue.
Gerakan beladiri Liang sama persis dengan yang di gunakan oleh Xingsheng. Gerakan tangan yang gemulai namun mengandung kekuatan yang tak terduga, meski tidak sehebat Xingsheng, Liang sudah termasuk mahir bertarung.
Setelah menghindari beberapa serangan, Xishi berhasil mengambil alih pedang yang di gunakan orang-orang itu. Meski pertarungan ini sedikit merepotkan karena anak panah yang terus mengarah kearahnya. Sekali pukul, suara tulang yang remuk terdengar begitu renyah di telinga Xishi, dia terlihat begitu menikmati pertarungannya. Hingga mengabaikan area sekitar yang rusak akibat pertarungan itu,
Itu bukan pertarungan satu lawan satu, melainkan satu lawan sekian, saat Xishi lengah pihak lain selalu mencoba untuk mengambil kesempatan, bahkan punggung Xishi berhasil di tebas hingga Xishi sempat memuntahkan darah. Merasa sangat jengkel, dengan tenaganya, Xishi melemparkan pedang yang ia ambil dari lawan dan berhasil menancap di dahi orang menebasnya.
__ADS_1
Xishi kembali lengah, pihak lain lagi-lagi di untungkan, satu anak panah menancap di bahu kanan Xishi, membuat pakaian putihnya menambah banyak corak merah, terlebih Xishi yang juga kembali memuntahkan darahnya.
" Nona Zhan!!!!! " Panggil Liang dengan teriakan lantang begitu melihat anak panah menusuk bahu Xishi.
Dengan mulut yang berlumuran darah, Xishi tersenyum dan menenangkan Liang yang terlihat hampir menangis.
" Jangan merepotkan ku, bodoh! Selesaikan urusan mu sendiri! " Ucap Xishi sambil melemparkan senyumnya.
Mendengar hal itu, Liang pun mengerti dan melaksanakan sesuai dengan apa yang Xishi katakan. Xishi mencabut anak panah itu tanpa ragu, ekspresi kesakitan pun tidak ia tunjukkan sedikitpun.
" Urus yang bawah, aku akan mengurus yang di atas! " Tambah Xishi.
" Kalian! Matilah! " Gumam Xishi sambil menatap tajam ke arah salah seorang di atas sana.
Dengan tatapan mata yang tajam, kaki jenjangnya bergerak cepat membawa dirinya sampai ke atap. Gerakan lincah yang cepat dan tak terbaca membuat lawan kewalahan dan tidak bisa mengimbanginya. Terakhir, Xishi ingat dia masih menyimpan belati milik kakaknya, Hua. Xishi menggunakan belati itu untuk menyayat leher lawan hingga tak mampu bergerak lagi.
Terakhir, orang yang menancapkan anak panah di bahu Xishi tentu tidak di lepaskan begitu saja, Xishi mendekatinya perlahan, mereka sama-sama terluka parah, namun Xishi tetap lebih menyeramkan saat ini.
Xishi menjambak rambutnya lalu mendekat ke telinganya untuk membisikkan sesuatu kepada orang itu.
" Kau tahu siapa aku? Aku adalah gadis kecil yang patut di takuti oleh tikus-tikus pecundang seperti kalian, darah di bayar darah, namun jika lawan mu adalah aku, jangankan darah, tubuhmu pun akan ku kuliti hidup-hidup, lalu aku akan memakan hatimu tepat di depan orang-orang tak berguna ini! Dengar dan ingat baik-baik, Aku adalah orang yang kalian cari, Master Shi, Sang Bai Long Qishi pemimpin Pembunuh Malam! " Tekan Xishi.
Perlahan pedang Hei Ying muncul di tangan Xishi dan dengan cepat menebas leher orang dari Pembunuh Yue itu. Kepalanya jatuh dan menggelinding di tanah, sedangkan tubuhnya ada di atas atap. Xishi menyimpan kembali pedangnya sebelum akhirnya turun.
Di dalam sebuah ember berisi air, Xishi mencuci belati milik Hua dengan tatapan kosong, entah apa yang di pikirkan olehnya, hal itu juga sedikit mengganggu Liang. Belum lagi, darah yang terus mengalir keluar dari luka yang ada di tubuh Xishi semakin membuat Liang khawatir.
" Nona, kau terluka lagi, mari kita obati dulu lukanya! " Ujar Liang.
Xishi mengangguk, lalu menyeka darah yang mengotori area bibirnya. Sekilas dia melihat Liang dari atas sampai bawah.
" Apa kau terluka? " Tanya Xishi.
" Hanya sayatan ini saja, luka mu lebih parah, pergi dulu! " Jawab Liang.
Semua orang memperhatikan mereka berdua, ada rasa salah di hati Xishi saat melihat ke arah mereka. Xishi membungkuk dan meminta maaf karena sudah menghancurkan tempat ini, dia berjanji akan turut membantu dalam perbaikan bangunannya. Tatapan takut di antara orang-orang itu berubah menjadi sendu, sebagian besar dari mereka merasa tersentuh dan menganggap Xishi dan Liang adalah orang baik. Mereka juga menawarkan diri untuk merawat luka keduanya sampai sembuh, namun saat itu pandangan Xishi semakin kabur, tubuhnya semakin lemah karena kehilangan banyak darah. Nama yang ia sebut sebelum sadarkan diri hanya satu.
" Liu Xingsheng.. " gumamnya.
Tepat sebelum dirinya tumbang, Xingsheng datang dan langsung memeluk tubuh Xishi, bahkan Liang pun ikut terkejut karena Xingsheng datang secara tiba-tiba.
" Ma-master? " Ucap Liang terbata saking terkejutnya.
Xingsheng menggendong tubuh Xishi.
" Ikut aku pergi! " Ucap Xingsheng.
" Ba-ba-baiklah.. "
Ada dua sisi yang melihat hal itu, saat Xingsheng membawa Xishi pergi dari lokasi.
Di satu sisi, Fengyue yang sedang berkeliling bersama Hua tiba-tiba masuk dalam kericuhan penduduk yang di hebohkan dengan pertarungan dua pendekar melawan Pembunuh Yue, karena hal itu, mereka berdua segera pergi ke tempat yang di maksud dan sampai saat kepala salah satu pembunuh jatuh ke tanah. Hua yang saat itu melihat adiknya terluka parah mencoba untuk menghampirinya, namun seorang laki-laki mendekati Xishi dan terlihat begitu dekat dengannya. Hal itu membuat Hua menghentikan langkahnya.
" Itu benar-benar adikmu? " tanya Fengyue.
" Entahlah, melihat kemampuannya yang bahkan mungkin berada di jauh di atas ku sangat sulit untuk ku percayai, namun kenyataannya adalah dia, Zhan Xishi! " jawab Hua .
' Zhan Xishi? Siapa laki-laki itu? Mengapa terlihat begitu dekat? 'gumam batin Fengyue.
^^^(Nie Fengyue)^^^
Disisi lain, laki-laki yang sempat bertemu dengan Xishi dan Liang juga ada di sana, menyaksikan dari awal hingga akhir saat Xishi tumbang dalam pelukan Xingsheng. Awalnya ia tersenyum, namun begitu Xingsheng datang wajahnya berubah masam. Meskipun begitu, dalam hatinya laki-laki itu tulus memuji Xishi.
" Cantik, lincah dan menarik! Semuanya semakin menantang saat pria itu tiba.. " gumam Huanran.
__ADS_1