Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley

Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley
Pedang Hei Ying


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat, ini sudah satu pekan semenjak kejadian itu. Suatu hal terlambat di sadari oleh Xishi, semenjak berpisah di ibukota, dia belum bertemu lagi dengan kakaknya, Zhan Qibo. Pagi tadi ayahnya pamit untuk pergi ke Barat Jianyi, yang mana di sana ada sebuah sekte yang terkenal. Urusan penting itu sampai tidak di beritahukan kepada Xishi detailnya, namun saat ini dia hanya ingin bertemu dengan Qibo yang sepertinya sibuk di rumah besi.


Dengan di temani Limei, Xishi melangkah keluar menuju rumah besi, namun saat dirinya tiba di sana, rumah itu nampak kosong dan tak ada seorang pun disana. Sebuah kotak panjang menarik perhatian Xishi, dia mendekat dan ada sebuah surat di atasnya. Limei mengambil surat itu dan membaca penerimanya.


" Teruntuk Master Shi.. " gumamnya.


Xishi langsung mengambil surat itu dan membacanya dalam hati, jadi selama ini Qibo menghabiskan waktu untuk membuat pedang untuknya. Dia mengatakan kalau dia tidak punya banyak waktu lagi, karena ayah akan mengirimnya ke akademi klan di barat atas permintaan ketua klan. Qibo juga mengatakan kalau dirinya yang meminta sang ayah agar tidak memberitahukan hal ini pada dirinya, selama ini Xishi selalu bergantung pada dirinya, namun jika di lihat lebih teliti lagi, sebenarnya Qibo lah yang bergantung pada Xishi. Dia takut berubah pikiran begitu melihat Xishi sebelum berangkat, jadi hal ini sudah berjalan lancar sesuai dengan kemauannya.


Xishi meremas habis kertas itu, lalu membuangnya sembarang. Dia membuka kotak pedang itu lalu melihat pedang dengan warna hitam kemerahan dengan corak bunga sakura.


" Warna yang sangat familiar " gumamnya pelan hingga suaranya tidak bisa di tangkap dengan jelas oleh telinga Limei.


" Warnanya cantik " ucap Limei lirih.


" Bunga sakura dengan warna hitam kemerahan.. namanya Hei Ying.. Aku adalah Tuan mu yang pertama dan terakhir, ingat itu! " ujar Xishi lalu membawanya.


Di luar, suasana pasar yang ramai sedikit membuat Xishi yang suka ketenangan merasa pusing. Meskipun begitu, seorang Xishi yang identik dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya ini cukup terkenal di kalangan penduduk desa Luo. Tak heran jika banyak yang menyapanya di sepanjang jalan. Xishi berusaha bersikap ramah di tengah kepusingan akan kebisingan yang ada, bagaimanapun juga dia tidak bisa merendahkan martabatnya sebagai putri Pemimpin desa yang terhormat.


Setelah lama menelusuri jalan, Xishi pun sampai di kediaman, Xishi terduduk di teras sambil memijat keningnya. Limei masuk dan menyiapkan teh untuk masternya.


' Ini sudah waktunya, namun ayah tidak ada disini.. aku tidak mau bergantung dan terus menjadi beban untuk Ayah, aku juga sudah menetapkan hatiku untuk membalas semuanya, mereka yang tidak bisa menerimaku untuk apa terus menerus hidup dalam ketenangan? Jadi, ayah, aku tidak ingin melibatkan mu lagi ' gumam batin Xishi.


Limei datang dan membawakan teh untuk Xishi, baru saja meletakkan tehnya Xishi sudah memberikan tugas kepadanya.


" Limei, siapkan kuda, kita akan pulang ke Gunung Qiyi " ujar Xishi.


" Master, maksudmu, kita akan keluar sebagai Pembunuh Malam? " tanya Limei.


" Ini perintah! " tegas Xishi.


" B-baik.. " ujar Limei lalu berlari menuju kandang kuda.


' Memangnya pembunuh malam hanya ada di malam hari? Lagi pula seluruh pasukannya adalah manusia, bukan hantu! Mengapa begitu takut pada matahari? ' gerutu Xishi dalam hati.


Beberapa saat kemudian, Xishi dan Limei keluar dengan menggunakan pakaian berjubah serba hitam dengan topeng yang menjadi ciri khas mereka. Tanpa berlama-lama, Xishi langsung naik ke atas kudanya, begitu juga dengan Limei. Pedang yang di buatkan oleh Qibo langsung di bawa olehnya sebagai pedang dari Master Shi.


" Master, bagaimana jika kita di serang? " tanya Limei yang terdengar sedikit ragu.


" Maka kita akan membunuh mereka lebih dulu, kalau kau takut, berhenti saja! " tegas Xishi.


" Hamba akan mengikuti Master.. " ujar Limei dengan nada lirih.


Xishi memacu kudanya keluar, seketika suasana jalan menjadi heboh saat mereka sebagai Pembunuh Malam memacu kudanya melewati jalanan desa. Belum sempat keluar dari desa, sekelompok orang yang di kenal oleh Xishi muncul menghalangi jalan dan menghentikan mereka.


" Orang-orang ini, apakah Klan Hēilóng? " tanya Limei berbisik.


" Benar.. " balas Xishi santai.

__ADS_1


Selain di depan, ternyata di belakang juga ada beberapa orang lagi, satu hal yang menarik adalah Zhan Feng ada di antara mereka. Saat Xishi memutar kepalanya, Luo Zhiyu sudah ada di depan mata mereka. Saat itu, Xishi sudah tahu kelemahan Feng.


" Kalian keluar dari kediaman Zhan dan mengambil kuda milik keluarga Zhan apa yang telah kalian lakukan di sana? " tanya Zhiyu.


" Tuan Zhan, anda benar-benar tidak khawatir, ya? Sebaiknya anda didik baik-baik adik anda agar tidak menjadi pengkhianat! " gumam Xishi menggunakan suara yang berbeda.


Feng tersentak, lalu dari jauh murid lainnya berteriak dan memberitahu mereka kalau ada bercak darah di depan pintu kamar Zhan Xishi. Feng dengan cepat pergi kesana dan meninggalkan barisan kepungan. Xishi sendiri mengangkat sudut bibirnya.


" Bodoh! " umpat Xishi pelan.


" Enyahlah, jika tidak mau mati! " ujar Xishi dingin.


" Bicara apa? " balas Zhiyu lalu mengeluarkan pedangnya.


Xishi memberikan kode pada Limei untuk pergi lebih dulu dan membawa kudanya, dia berhasil menerobos namun beberapa orang menyerangnya. Kali ini Xishi ada di tengah-tengah murid Hēilóng yang berusaha menangkapnya.


" Kau adalah Master Shi? Mari kita lihat sejauh mana kemampuanmu? " tanya Zhiyu meremehkan.


" Memakai pedang dan bertarung melawan seorang gadis, bukankah terlalu kejam? Kalian hanya akan di cap sebagai pengecut jika di lukai olehku! " jawab Xishi.


" Terlalu banyak bicara! " cibir Zhiyu.


" Hah, kalian membuatku terlihat seperi orang jahat! Kemarilah, lihat bagaimana aku membereskan kalian! " ujar Xishi.


Saat mereka semua menyerang Xishi secara bersamaan, Xishi menggunakan pusaran tanah yang mengeluarkan shuriken dan menusuk mereka satu persatu. Hanya Zhiyu seorang yang selamat dan berhasil mengelak dari hujan shuriken itu. Xishi memanfaatkan kesempatan saat debu mengganggu indera penglihatan Zhiyu, Xishi keluar dari kepungan.


" Menjengkelkan! " gumam Xishi sebelum akhirnya mengirimkan hujan shuriken pada Beiyang.


Saat Beiyang fokus menghindari serangan shuriken, Xishi mengeluarkan pedang Naga Putih dan berbalik secara mendadak hingga membuat Beiyang terkejut. Meski tidak menusuknya, namun sayatannya berhasil melukai pinggang Beiyang.


" Dungu! " bisik Xishi saat tengah menyayat pinggang Beiyang.


Beiyang yang tersentak karena sempat melihat penampakan pedang naga putih jadi lengah, namun begitu pedang di tarik kembali yang ada hanyalah pedang berwarna hitam. Dia tidak bisa mengendalikan pikirannya hingga Xishi berhasil menyayat bahu Beiyang sebelum akhirnya menendang dadanya hingga terjatuh dari udara.


" Ilusi yang sempurna.. " gumam Xishi memuji dirinya sendiri.


Disisi lain, Limei masih dalam pengejaran murid-murid Hēilóng, namun tak lama kemudian sebuah shuriken menusuk para murid itu hingga terjatuh dari kudanya. Selang beberapa detik saja, Xishi melompat ke kudanya.


" Kau baik-baik saja? " tanya Xishi.


Limei mengangguk, mereka kembali ke tujuan awal untuk pergi ke Gunung Qiyi. Jaraknya lebih jauh dari Ibukota Jianyi, hal ini membuat mereka tidak bisa sampai dalam waktu semalam, apalagi mereka menggunakan kuda, jika terus dipacu mungkin kudanya akan mati kelelahan. Hari sudah mulai petang, Xishi menghentikan perjalanan untuk beristirahat sejenak, saat malam mulai larut barulah mereka akan melanjutkan perjalanan.


Disisi lain, di kediaman Zhan, mereka masih terus mencari keberadaan Xishi, bercak darah di depan pintu kamar Xishi bukanlah darah Xishi, melainkan darah binatang. Feng memang tahu kalau Xishi dan Qibo adalah anggota dari Pembunuh Malam, namun dia tidak tahu kalau Xishi ternyata adalah Master Shi, Pemimpin dari para Pembunuh Malam.


Malam ini di bantu para murid Klan Hēilóng, Feng menyisir seluruh desa mencari jejak Xishi, namun alih-alih bertemu dengan Xishi, mereka malah kedatangan tamu tak di undang yang siap merepotkan mereka.


" Kakak A-Feng, hantu-hantu itu datang ke desa ini! " ujar salah satu murid memberitahukan hal buruk pada Feng yang tengah berada di kediaman Zhan.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Feng meminta murid tadi untuk mengantarkannya ke tempat dimana para hantu itu berada. Ketika sampai ternyata kedatangannya mengalihkan perhatian para hantu yang ada. Mereka semua serentak menatap ke arah Feng yang berdiri diantara para murid Klan Hēilóng.


" Mereka baru saja tiba, mungkin berniat menyerang! " gumam Zhiyu nyaris berbisik.


" Zhu Zhe Yan, kau kah si idiot yang membuka segel Yang Mulia Ratu, benar-benar terlihat lebih lemah dari katanya! " cibir salah satu pendekar hantu.


" Zhu Zheyan? Siapa maksudnya? " gumam Zhiyu.


" Sudahlah, bereskan dulu baru cari tahu! " sangkal Feng.


" Benar-benar tidak takut mati, ya? " gumam pendekar hantu.


Sebelum para hantu menyerang, Feng menyerang mereka lebih dulu menggunakan kipasnya, namun kelebihan dari para hantu ini adalah gerakan mereka yang sangat cepat dan tidak sebanding dengan kekuatan murid tingkat bawah dari Klan Hēilóng, sehingga sebagian besar dari mereka terluka dan tidak bisa melanjutkan pertempuran. Kini hanya tersisa murid tingkat atas yang di pimpin Zhiyu dan Feng, selama pertempuran, terdengar gesekan pedang dan juga suara cekikikan para hantu yang sepertinya menikmati pertarungannya.


Lama bertarung, Zhiyu mulai kewalahan menghadapi para hantu-hantu ini, Feng juga sudah terluka, kali ini kalau tidak mundur mereka akan kehabisan tenaga, bagian fatalnya adalah mati konyol di tangan para hantu.


Feng dan Zhiyu mundur, mereka berdiri saling memunggungi satu sama lain, kini tinggal mereka yang tersisa, ini masih di depan pintu masuk desa, di dalam entah apa yang telah terjadi.


" Percuma saja, kita membunuh mereka, mereka hanya akan lenyap lalu kembali muncul, namun, tubuh kita mendapat luka yang nyata dan tidak bisa sembuh dengan cepat, sebaiknya, mundur dulu! " ucap Zhiyu.


' Mereka mencari ku, mungkinkah raja hantu sudah murka karena mengetahui segelnya terbuka, namun, bukankah tubuh Xishi berhasil di segel kembali oleh Zhexuan? Atau jangan-jangan.. ' gumam batin Feng.


" A-Feng!! Apa yang kau pikirkan? Kita harus pergi! " ujar Zhiyu mencoba menyadarkan Feng.


" Baik! " respon cepat Feng setelah sebelumnya larut dalam pikirannya.


Zhiyu dan Feng kabur dari para hantu, namun begitu mereka kembali ke desa, sesuatu yang tidak pernah mereka pikirkan terjadi begitu saja.


Disisi lain, Xishi tengah duduk di pohon sambil menikmati arak yang ia bawa dari rumah, sedangkan Limei duduk di bawah pohon lain sambil menjaga kuda. Selang beberapa detik, Limei mulai memberitahu Xishi apa yang terjadi di luar satu pekan belakangan ini, tentang teror Pembunuhan yang terjadi di Ibukota dan Kota Tang. Kini para pendekar yang baru saja lulus akademi sekte pun ikut turun tangan menghadapi teror itu. Teror pembunuh belum selesai kini para hantu sudah mulai menyerang ibukota.


" Begitu, ya? Aku baru saja beristirahat selama satu pekan penuh, orang-orang dungu itu malah membuat onar! Tapi, selama mereka tidak menyeret nama Pembunuh Malam, aku tidak akan sungkan dan turut menikmati permainan mereka.. " Ujar Xishi.


" Lalu, apa yang akan kita lakukan kedepannya, master akan kembali ke gunung, apa kita akan mulai bekerja lagi? " tanya Limei.


" Aku akan beristirahat dulu selama beberapa waktu, setelah saatnya tiba, aku akan membawa kalian meratakan sebuah gunung agung! Jadi, selama aku beristirahat, perkuat setiap tingkatan, aku pun ingin mencoba menggandakan pasukan dengan mengambil mereka yang hatinya di penuhi dendam dan kebencian.. " jawab Xishi sebelum akhirnya turun dari atas pohon.


" Wah, kau terlihat menakutkan.. " gumam Limei.


" Jika aku membuka topeng dan masker ku, itu akan membahayakan musuh karena pasti mereka meremehkan lalu menjadi teledor, itu terlalu memudahkan ku untuk membunuh, sedangkan tantangan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.. " pungkas Xishi sambil berjalan mendekati kudanya.


Xishi naik dan langsung memacu kudanya, melihat hal itu Limei menghembuskan nafas beratnya lalu mulai menunggangi kudanya dan mengejar sang master. Meski sangat dingin dan kejam, Xishi adalah sosok pelindung bagi Limei, dia menghormatinya sebagai kakak dan gurunya. Dia telah memantapkan hatinya untuk terus mengikuti jejak Xishi, berjalan di belakangnya, kemanapun Xishi melangkah Limei akan selalu berada di belakangnya sebagai orang yang paling mempercayai Xishi.


Saat pagi buta, Xishi dan Limei sampai di Gunung Qiyi, hanya ada beberapa murid yang menyambut mereka, sisanya ada di dalam kediaman. Ada dua kediaman, Mizong dan Ye Shashou. Meski terletak di gunung, namun jika di lihat dari jauh akan sangat indah dan megah, namun jika dilihat dari dekat akan terlihat sangat menyeramkan.


Kediaman Mizong adalah kediaman yang di tinggali oleh para murid Sekte Rahasia ini, sedangkan Kediaman Ye Shashou adalah menara tinggi yang mana adalah tempat Xishi, Qibo dan Limei tinggal. Letak Ye Shashou tepat berada di belakang Mizong dan di kelilingi oleh tebing curam, jadi sebelum ke Ye Shashou, Xishi harus berjalan dari pintu utama Mizong dan melewati luasnya Kediaman Mizong untuk bisa sampai di Kediamannya.


Sejauh ini tidak ada orang lain yang berani menginjakkan kakinya di Gunung Qiyi, selain itu, segel Xishi juga membuat gunung ini tidak bisa di lihat oleh orang biasa, meskipun itu pendekar sekalipun. Ada ilmu tertentu yang bisa membuka segelnya, namun jika segelnya terbuka bukan berarti mereka dapat keluar masuk Gunung Qiyi seenaknya, dikatakan siapapun yang berani menginjakkan kaki di tanah Gunung Qiyi ini maka mayatnya akan mati mengenaskan, sedangkan siapa pun yang berani memasuki Kediaman Mizong Ye Shashou maka selamanya tidak akan bisa keluar meski mati sekalipun.

__ADS_1


Xishi membangun sekte ini dengan keras, peraturan yang tidak ada tidak dan tidak ada tapi, setiap pertanyaan hanya ada satu jawaban, salah menjawab saja lidah akan terpotong. Ketegasan, kekejaman dan tanpa belas kasihan akan melekat dalam diri Xishi saat jubah hitam terpasang di punggungnya. Semua akan tunduk padanya meski dia hanya berjalan santai melewati mereka, tidak ada yang berani melawan kekangan akan peraturan yang berlaku di dalam Sekte Àn shān ini.


__ADS_2