Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley

Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley
Rencana Rahasia Zhan Feng


__ADS_3

Di waktu yang sama, Zhan Cheng tiba di rumahnya, namun rumahnya masih sama seperti sebelumnya. Dia berpikir mungkin anak-anaknya sedang pergi lagi, sekarang dia hanya merasakan kehadiran orang lain di dalam rumahnya. Entah siapa yang bertamu, Zhan Cheng pun masuk ke rumah. Dia melihat seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam dan rambut putih. Begitu laki-laki itu berbalik, dia sedikit terkejut saat tahu kalau itu adalah anaknya.


" Zhan Feng? " Gumam Cheng.


Feng memutar tubuhnya, lalu memberi salam kepada sang ayah. Dia tersenyum seperti biasa, sosok lembutnya masih sangat jelas, namun perwujudan seperti ini tidak pernah disaksikan oleh Zhan Cheng.


" Kau.. "


Kata-kata Zhan Cheng berhenti tanpa alasan, dia masih belum mengerti apa yang terjadi. Feng menuntun ayahnya duduk untuk berbicara sambil menikmati teh di teras dalam rumahnya.


" Maaf, membuat ayah terkejut, namun ini adalah wujud asliku.. " ujar Feng.


" Apa sesuatu terjadi saat aku pergi? " Tanya Zhan Cheng dengan raut wajah serius.


Feng menghela nafas lalu menundukkan kepalanya sebelum akhirnya mulai menjawab.


" Entah bagaimana, namun dia telah mengetahui semuanya.. " gumam Feng.


Zhan Cheng menjatuhkan bahunya, tanpa Feng melanjutkan bicaranya, dari sikap Feng saat ini, dia bisa merasakan betapa marah dan kecewanya Xishi saat ini.


" Namun, mengapa kau mengubah wujud mu seperti ini? " Tanya Zhan Cheng.


" Aku akan pergi.. " jawab Feng lirih.


" Pergi kemana? "


" Gunung Shu.. " Jawab Feng.


Zhan Cheng masih belum mengerti apa yang akan di lakukan Feng setelah ini. Dia hanya terdiam sampai Feng melanjutkan bicaranya.


" Aku akan pergi untuk menemui Ayahanda sekaligus menahan Adik Kedua, beberapa hari belakangan ini seharusnya Zhan Xishi tidak merasakan sakit lagi, besok segel di tubuh Xishi akan terbuka, hari itu adalah hari dimana Xishi menjadi Bai Long Qishi.


Ketika saat itu tiba, adik kedua ku akan turun menggantikan ayahanda untuk menyegel kembali Zhan Xishi.. Aku ingin menghentikannya agar Xishi menjadi Bai Long Qishi, dengan begitu ikatan yang mengikat takdirnya akan putus.. " jelas Feng panjang lebar.


Setelah mendengar hal ini, Zhan Cheng sadar ada hal lain yang di tutupi oleh Feng. Namun, apa yang membuat Feng sangat takut, takdir seperti apa yang akan di jalani oleh Xishi ketika tubuhnya di segel.


" Ikatan seperti apa sampai membuatmu begitu ingin memutuskannya? " Tanya Cheng.


" Ikatan pernikahan dengan Penguasa Alam Baka.. " jawab Feng .


" Apa? " Cheng tentu saja terkejut dengan jawaban Feng.


" Saat itu ketika Ibunda melahirkan Xishi, seharusnya Xishi tidak terselamatkan, namun Ibunda meminta Malaikat Maut mempertemukannya dengan Penguasa Alam Baka, setelah itu Beliau membuat perjanjian dengan Penguasa Alam Baka itu, yang mana Ibunda meminta agar dia mengembalikan kehidupan Xishi, sebagai gantinya setelah dua puluh tahun Xishi akan menikah dengannya.. " sambung Feng.


" Bagaimana mungkin? " Gumam Cheng.


' Jadi selama delapan belas tahun ini, alasan Para Hantu tak lagi meneror kehidupan manusia adalah ini, jadi, yang sebenarnya terjadi bukanlah karena Dewa Pedang menang dalam pertempurannya, namun kalah karena ikatan yang di buat oleh istrinya.. ' ucap Cheng dalam hati.


Setelah lama berbincang, Zhan Cheng pun mengizinkan Feng untuk pergi. Sebagai seorang ayah dia juga tidak ingin putrinya menjadi pengantin dunia kematian.


Feng pergi, Zhan Cheng juga kembali pergi, kali ini menuju Ibukota untuk menemui anak-anaknya. Dia juga harus memberitahukan Qibo mengenai akademinya di barat Jianyi.


Di sisi lain, Xishi baru saja terbangun, dia merasa baik-baik saja adalah bukti kalau dia berhasil. Namun, dia masih ada di ruangan yang sama seperti sebelumnya, hanya saja Fengyue tidak ada disana. Saat Xishi menurunkan kakinya dari tempat tidur, pintu terbuka lalu masuk seseorang.


" Adik.. " ujar Hua sambil berlari kecil menghampiri Xishi.


" Kakak, kenapa sendirian? Dimana kakak kedua? " Tanya Xishi.


" Dia keluar mencari pelayanmu.. " jawab Hua.


Xishi beranjak dari tempat tidurnya, dia merapikan bajunya lalu berniat pergi dari sana.


" Eh, mau kemana? Kau baru saja siuman.. " tanya Hua.


" Tadi itu aku sedang memulihkan tenagaku, sekarang sudah pulih, jadi aku harus pergi juga.. " jawab Xishi.


" Kau harus menemui Tuan Muda kedua dulu sebelum pergi! " Ujar Hua.


" Bagaimana jika kakak ketiga yang menyampaikannya? Aku terburu-buru.. " ujar Xishi.


Saat Xishi berlari menuju ke arah pintu, dia hampir saja bertabrakan dengan seseorang, namun saat mencoba menghindar tubuhnya malah kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Sepasang tangan menahan pinggangnya agar tidak terjatuh, kedua matanya terbelalak melihat siapa yang melakukan itu.


Dengan segera Xishi berdiri dan sedikit menjauh dari orang itu, dia membungkuk untuk meminta maaf dan sekalian berpamitan.


" Maaf, tadi itu bukan sengaja, mohon Tuan Muda Nie memaafkan, Xishi harus pergi " ujar Xishi.

__ADS_1


Saat mencoba berjalan melewati Fengyue, tangannya kembali di tarik dan membuat Xishi kembali ke hadapan Fengyue. Tatapan Fengyue sangat tajam seperti ingin menerkam habis gadis di hadapannya. Namun, saat Fengyue mendekatkan wajahnya sebuah suara mengalihkan perhatiannya dan tanpa sadar melepaskan Xishi.


" Maaf, anggap saja aku tidak ada! " Ujar Hua sambil berbalik membelakangi mereka.


Xishi diam-diam melenggang pergi saat Fengyue melihat ke arah kakak ketiganya. Hal itu jelas membuat Fengyue geram karena Hua membuatnya melepaskan gadis yang mencuri sesuatu darinya.


Xishi dengan cepat keluar dari kediaman Song, kakinya segera melangkah menjauh dari tempat itu. Dengan bantuan timing dia langsung bisa menemukan Limei yang baru saja keluar dari kedai teh.


" Master.. " panggilnya lalu turun dan memberi salam.


" Bagaimana? " Tanya Xishi.


" Tidak ada kabar yang beredar tentang Pembunuh Yue semalam.. " jawab Limei.


' Aneh, jelas-jelas semalam mayat berserakan di setiap atap dan gang itu.. ' gumam batin Xishi.


" Datang mencari ku? " Suara laki-laki berbisik tiba-tiba muncul membuat Xishi sedikit terkejut.


" Dia, benar saja, kedai teh ini! " Ucap Xishi dalam hati.


" Kau, kemarilah! " Ujar Xishi sambil menarik tangan Xingsheng masuk ke dalam kedai.


Xingsheng tersenyum saat Xishi menarik tangannya, sedangkan Limei menatap heran melihat Sang Master sangat akrab dengan laki-laki itu. Saat dirinya ingin menyusul ke dalam, tangannya di tahan oleh seorang laki-laki dan membuatnya hampir menyerang.


" Tunggu! Aku adalah pelayannya juga, jangan mengganggu mereka berbicara! " Ujar Liang.


" Siapa yang mau mengganggu mereka? Aku ingin menunggu sambil minum teh! " Jawab Limei ketus.


" Kalau begitu tidak masalah jika aku menemanimu! " Ujar Liang bersemangat.


Tanpa membalas apapun lagi, Limei masuk kembali ke kedai teh yang baru saja ia singgahi. Di waktu yang bersamaan, Xishi duduk berhadapan dengan Xingsheng di sebuah meja di lantai atas.


" Secepat itu kau merindukanku? " Tanya Xingsheng usil.


" Jangan bicara sembarangan! " Ujar Xishi.


" Pandai mengelak! " Gumam Xingsheng.


" Malam itu, benar-benar adalah Pembunuh Yue? " Tanya Xishi dengan raut wajah serius.


" Jika bukan, apakah itu Pembunuh Malam? " Tanya Xingsheng.


" Baiklah, itu benar adalah Pembunuh Yue! " Ucap Xingsheng.


" Lalu, kemana semua mayatnya? " Tanya Xishi.


" Kau malah mempedulikan mayatnya? Bukankah sangat jelas aku yang melindungi mu semalam? " Tanya Xingsheng.


" Tuan Muda Liu yang terhormat, aku ini bertanya demikian karena sedang mencaritahu alasan mereka tiba-tiba muncul, mengapa kau begitu sensitif? " Tanya Xishi.


" Mereka muncul jelas karena ingin mengambil kembali posisinya, aku membereskan mayat mereka dan membuat mereka seolah tak pernah muncul lagi, kau begitu pun tidak tahu! " Ujar Xingsheng.


Xishi terdiam, dia akhirnya mengerti maksud Xingsheng, namun ada hal lain yang di pertanyakan.


" Apa semalam itu mereka mengincar mu? " Tanya Xishi.


" Apa pada akhirnya kau mengkhawatirkan ku? " Tanya Xingsheng.


" Jika kau tidak bisa serius aku tidak mau membuang waktuku lagi! " Ujar Xishi.


" Mereka tidak mengincar ku, aku ada disaat mereka sedang mencari sasaran untuk menunjukkan muka! Namun, setelah apa yang aku lakukan malam itu, mungkin aku adalah target selanjutnya! " Balas Xingsheng.


Meskipun Xingsheng menjawab demikian, namun raut wajahnya sangat tenang. Xishi bertanya-tanya kehebatan seperti apa yang membuat Xingsheng begitu sombong terlebih identitasnya yang sangat misterius terus menerus di pertanyakan dalam pikiran Xishi.


Xishi menatap lekat pria di depannya ini, namun Xingsheng malah membalasnya dengan senyuman yang membuat Xishi jengkel.


" Tuan Muda Liu ini, dari mana kau berasal? " Tanya Xishi.


Xingsheng memalingkan wajahnya namun bibirnya masih tersenyum, seolah mengetahui apa yang akan di katakan oleh Xishi.


" Itu yang kau pikirkan selama menatapku, apa istriku ini benar-benar ingin mengenalku lebih jauh? " Ujar Xingsheng setelah kembali menatap Xishi.


" Siapa yang istrimu?! Jangan berbicara sembarangan, suami-istri itu ada karena ikatan pernikahan! " Balas Xishi.


" Tentu saja aku akan menikahi mu, mungkin lebih cepat dari yang seharusnya! " Ucap Xingsheng.

__ADS_1


Merasa pertanyaannya tidak akan terjawab, Xishi pun beranjak untuk menghindari omong kosong yang terus di lontarkan oleh Xingsheng. Namun, saat melangkah melewati laki-laki itu, tangannya di tahan hingga membuat langkahnya terhenti. Xishi menengok ke arah Xingsheng yang menahannya.


" Kau sungguh tidak ingin mengenalku lebih jauh? " Tanya Xingsheng sebelum akhirnya memutar pandangannya ke arah Xishi.


" Tidak ada gunanya! " Ujar Xishi lalu menepis tangan Xingsheng.


Xishi melanjutkan langkahnya, saat itu dia bisa mendengar Xingsheng bergumam.


" Jangan menganggap kata-kata ku adalah omong kosong, karena apa yang seharusnya terjadi maka akan terjadi! "


Xishi acuh tak acuh dan terus menuruni tangga.


' Yang harus terjadi, maka terjadilah. Kata-katamu hari ini, aku sungguh tidak berharap untuk mendengarnya sebagai topik lain yang mengalihkan pembicaraan! 'batin Xishi.


Xishi berjalan keluar dari kedai, Limei pun segera beranjak dan mengikuti Sang Master dari belakang. Di waktu yang bersamaan, Xingsheng kembali bergumam.


' Begitu ya, jadi, apa kau baru saja marah padaku? ' Tanya Xingsheng dalam hati.


Liang menghampiri Xingsheng yang duduk di lantai atas, dari raut wajahnya seperti orang yang baru saja bertengkar.


" Master, apa yang baru saja terjadi? Apa kalian baru saja bertengkar? " Tanya Liang.


" Tidak ada, kau terus awasi mereka, aku harus pergi dan mungkin akan kembali besok! Ingat, kau harus menggantikan aku menjaganya selama aku tidak ada! " Ujar Xingsheng.


" Baik! "


Hari semakin sore, Xishi mencari Qibo ke sebuah jalan dan membawanya bertemu dengan Qibo yang saat itu sedang bersama sang ayah. Xishi menghampiri keduanya, tak lupa memberi salam pada ayahnya.


Sebelumya, saat Qibo keluar untuk mencari Limei, dia bertemu dengan sang ayah di tengah jalan. Cheng memberitahu Qibo tentang penawaran akademi untuknya di barat Jianyi, sedangkan Cheng tidak menerima sebuah penolakan yang membuat Qibo tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Hanya saja dia ingin mengulur waktunya sampai pedang baru untuk Xishi selesai di buatnya. Mendengar hal itu, Cheng pun mengiyakan.


" Kau sudah siuman? Kenapa tidak beristirahat dulu? " Tanya Qibo.


" Tenagaku sudah pulih kakak, apalagi yang ingin di pulihkan, aku tidak butuh waktu lama untuk beristirahat.. " ujar Xishi.


" Sudahlah, karena Xishi sudah pulih, sekarang kita kembali ke desa! " Ujar Cheng.


" Namun, hari sudah sore ayah.. Alangkah baiknya kita kembali saat pagi tiba " ujar Qibo.


Zhan Cheng sangat tahu hal itu, namun mereka tidak punya banyak waktu untuk berleha-leha seperti ini. Dia mencari-cari alasan yang masuk akal dan yang paling tidak mungkin untuk di tolak.


" Bulan hantu sudah tiba, pantangan itu sudah mulai berlaku.. apa kita akan benar-benar pulang? " Tanya Xishi.


Mendengar hal itu, keyakinan Zhan Cheng untuk membawa Xishi keluar dari ibukota malah menciut. Jika mereka pulang sekarang, maka akan sampai di rumah malam nanti, siapa yang tahu kalau mungkin Penguasa Alam Baka itu akan mencari Xishi malam ini.


Akhirnya, mau tidak mau, Zhan Cheng pun mengalah, namun mereka akan tetap pergi pagi buta, setidaknya besok pagi saat tengah hari, Xishi tidak ada di Ibukota untuk menghindari perhatian penduduk dan berbagai rumor.


Malam harinya, Xishi menikmati arak seorang diri, dia membuka tirai jendela nya hingga membuat dirinya bisa melihat suasana di luar penginapannya. Tak ada seorang pun yang keluar, sangat sepi hingga desiran angin terasa begitu dingin malam ini. Sesuatu terlintas dalam pikirannya, hal-hal yang terjadi di luar dugaannya, kebenaran yang selama ini tersembunyi. Seolah dunia mempermainkannya begitu mudah, orang yang paling dipercaya ternyata adalah orang yang lebih dekat dengannya, hubungan darah dan ikatan keluarga yang sebenarnya dengan mudahnya di tutupi.


Meski Xishi sendiri terus menghindari kebenaran itu, namun, tetap saja begitu tahu hatinya menjadi sangat sakit. Dia menyesali waktu yang membawanya kepada kebenaran akan identitas aslinya, sekilas dia berfikir tidak seharusnya dia mengetahui fakta menyesakkan ini. Namun, dia terlanjur marah kepada saudara kandungnya, yang sebenarnya mencoba membantu Xishi menjauhi kebenaran ini.


Di sisi lain, Zhan Feng tiba di Gunung Shu, memasuki wilayahnya sebagai Putra Tertua dari Sang Dewa Pedang. Zhan Feng berjalan menuju ke kediaman sang Ibunda terlebih dahulu, setelah delapan belas tahun lamanya, dia akhirnya bisa menemui ibunya lagi.


Kedatangannya langsung di sadari oleh Sang Ibunda, senyumannya terukir di wajah cantik yang bahkan tak terlihat menua sedikitpun.



^^^( Zhong Qian Ling - Ibunda Zhu^^^


^^^bersaudara)^^^


" Ibunda.. " ucap Feng lirih.


Feng memberi salam kepada ibunya dengan berlutut di hadapannya. Sambutan hangat dari Qian Ling untuk putra tertuanya sangat tulus namun, ada sesuatu yang sangat di sayangkan hari ini.


" Zhu Zhe Yan.. " panggilnya lembut.


^^^( Zhu Zhe Yan - Nama asli Zhan Feng )^^^


" Ya ibu, " sahut Feng.


" Kau tidak membawa putriku? " tanya Qian Ling.


Feng terdiam sejenak, lalu senyumnya terukir di wajah tampannya.


" Ibunda, aku mungkin tidak bisa membawa Zhu Zhishu kepadamu, namun aku bisa membawamu menemuinya, meski hal ini akan sedikit sulit untuk di lakukan.. Namun, sepertinya ada satu kesempatan.. " ujar Feng.

__ADS_1


" Kesempatan? " gumam Qian Ling.


Feng memberikan sebuah surat kepada ibunya karena tidak berani mengatakannya secara langsung, karena hal yang ingin dia katakan adalah sebuah pelanggaran pada aturan yang di tetapkan sang ayah. Feng juga meminta Ibunya untuk tidak membukanya sebelum dia pergi, setelah selesai dengan urusannya, Feng pamit untuk menghadap sang ayah.


__ADS_2