
Fengyue terdiam saat Qinsong dan Cheng menatap curiga ke arahnya, sedangkan Zhishu yang duduk di sampingnya nampak acuh tak acuh, padahal matanya jelas tertarik pada jawaban Fengyue atas pertanyaan Qinsong.
Hanya saja ternyata tatapan Zhishu malah membuatnya salah faham.
" Ma-mana mungkin aku menyukainya? Aku peduli bukankah sangat wajar? Dia membantuku mengembalikan kewarasan ku, lagi pula, aku menyukai gadis lain.." ujar Fengyue.
" Huh? " Qinsong dan Cheng bergumam bersamaan.
" Sudahlah, niatku menemui Tuan Zhan adalah untuk memeriksa denyut nadiku, mengapa jadi membicarakan orang lain? " celetuk Zhishu.
" Zhishu benar, barangkali Xishi tidak bisa berhenti bersin disana! " tambah Qinsong.
' Benar, dua orang bodoh ini tidak bisa melihatnya dengan jelas! Namun, mengapa Song Qinsong begitu nekat? '
Zhishu larut dalam pikirannya hingga tak mendengar panggilan dari Cheng, dia sadar setelah Fengyue menyentuh bahunya.
" Kau melamun, ya? " tanya Fengyue.
" Ah, maaf. Aku terlalu banyak berfikir.." jawab Zhishu.
Zhishu mengulurkan tangannya pada Cheng untuk di periksa denyut nadinya, ketiganya sama-sama memperhatikan Cheng, hingga sesuatu di sadari oleh Fengyue.
" Zhishu, bukankah kemarin kau terluka? " tanya Fengyue.
Karena sudah di sadari, Zhishu pun tidak menyembunyikannya lagi. Dia akan berterus terang tentang hal ini.
" Ah, itu.. Sepertinya aku lupa memberitahu sesuatu.." ucap Zhiyu lalu mengeluarkan pedangnya.
Zhishu menyayat telapak tangannya sekejap, membuat orang yang melihatnya tersentak kaget. Namun, setelah itu dirinya memperlihatkan darahnya yang berhenti mengalir sebelum akhirnya sayatan itu tertutup kembali dan hilang secara ajaib.
" Aku tidak bisa di lukai oleh hal-hal semacam ini, tenang saja! " ujarnya sambil menaikkan sudut bibirnya.
' Tunggu! Sepertinya sesuatu terlihat familiar!! ' gumam Fengyue.
Selang beberapa detik saja, seorang pelayan datang dan memanggil mereka untuk segera pergi ke aula belakang untuk memulai pertemuan. Tak terasa waktu sangat cepat berlalu hingga saat yang di tunggu telah tiba.
Mereka sampai di aula belakang, disana sudah ada tamu yang berkumpul seperti kemarin, Zheyan dan Zhexuan pun sudah datang. Namun, Zhishu tidak melihat Zheyan membawa pedang, hal itu mulai membuat Zhishu berfikiran berlebihan.
Meskipun demikian, dia tetap bisa menahan pertanyaannya, karena pertemuan ini juga pasti akan membahas masalah 'Target', dengan ini Zhishu memiliki rencana untuk membunuh Zhan Xishi.
Zhishu masuk di ikuti Fengyue, Qinsong dan Cheng di belakangnya sebelum akhirnya ketiga laki-laki itu mulai menempati tempat masing-masing. Zhishu pun mulai menempati tempatnya dan menunggu Zhexuan untuk membuka mulut mengenai kesepakatannya.
Tak lama setelah Zhishu duduk, Zhexuan mulai bangkit dan berbicara.
" Sesuai dengan kesepakatan, aku sudah memenuhi keinginan mu, sekarang giliran mu berbicara! "
Zhishu ikut bangkit.
" Maka beri aku bukti terlebih dahulu, setelah itu aku akan mengabulkan permintaan mereka! " balas Zhishu.
Zhexuan mulai menggertakkan giginya, lalu menoleh malas ke arah Zheyan.
" Apa kau akan duduk saja? " celetuk Zhexuan.
Zheyan pun ikut bangkit, lalu menunjukkan wujud aslinya, tak sampai disitu dia juga menunjukkan pedang milik Bai Long Qishi pertama.
^^^(Zhu Zheyan // Zhan Feng)^^^
Zhishu tersenyum, rasa haru nya sangat terasa hingga matanya terasa begitu panas.
Zheyan tersenyum ke Zhishu, ada sepatah kata yang tertahan di mulutnya. Entah mengapa dia tidak berani mengatakannya dalam situasi ini.
" Baiklah, aku akan bertaruh dengan kepalaku sendiri, tidak akan ada teror dari para hantu di masa depan, jika hal itu terjadi, aku Zhu Zhishu akan memenggal kepalaku sendiri di hadapan para pemimpin sekte sekalian!! "
Zhishu mengatakan hal itu dengan lantang tentu saja membuat seisi aula menjadi merinding. Dia berani mempertaruhkan dirinya sendiri atas keselamatan manusia.
" Zhis-- em, Bai Long Qishi Zhishu, kau bisa pikirkan kembali hal itu.. " ujar Fengyue.
" Tidak! Aku sudah mengatakannya dan tidak akan menarik kembali perkataan ku. Tapi, jika aku mendengar ada salah satu dari kalian yang berani menyinggung Raja Xiali, maka aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri! " kecam Zhishu.
" Eh, apa dia benar-benar serius dengan Raja alam baka itu? Apa jangan-jangan mereka sudah bertemu? Apa Raja Alam Baka sangat tampan hingga Zhishu mengatakan hal demikian? Mengerikan!! ' gumam Qinsong.
'Apa benar Bai Long Qishi ini di didik oleh Zheyan? Mengapa sikapnya berubah drastis dalam semalam? Apa semalam dia baru saja bernegosiasi dengan Raja Alam Baka? ' gumam Hanrong.
' Sepertinya Raja Alam Baka memperlakukannya dengan baik, sampai-sampai dia berani mengatakan hal itu? Sungguh menakutkan! ' gumam Cheng Lu.
' Zhu Zhishu? Penekanan seperti apa yang kau alami, mengapa jadi begini? Bukankah kau seorang Bai Long Qishi? Kau tidak sedang berada dalam ancaman Raja Xiali 'kan? ' gumam Fengyue.
__ADS_1
Hening. Tidak ada seorang pun yang bergeming, bahkan Zhexuan dan Zheyan sekalipun.
" Jika tidak ada yang ingin di bahas, aku akan pergi! " celetuk Zhishu memecahkan keheningan.
Seketika seisi ruangan kembali tersadar sebelum Zhishu mulai beranjak.
" Tunggu, aku ingin mendapatkan solusi darimu! " ujar Gaochang.
" Solusi? Untuk masalah apa? " tanya Zhishu.
" Baru-baru ini beredar kabar kalau para organisasi pembunuh menargetkan Xishi---
" Lalu? Kau ingin aku memberikan solusi apa? " potong Zhishu.
' Setidaknya dengarkan sampai aku selesai bicara! 'gumam Gaochang dalam hati.
" Eh, apa maksudmu? " tanya Beiyang.
" Mereka tidak menargetkan Zhan Xishi tanpa alasan, menurut kalian berapa banyak dia menyinggung para pembunuh itu hingga bahkan Master Shi turun tangan langsung? " tanya Zhishu.
Hening lagi, tidak ada yang menjawab, beberapa dari mereka mulai mengingat saat-saat dimana nyawa Xishi terancam.
" Pembunuh Malam, Pembunuh Yue dan Rubah Pembunuh! Mereka pasti memiliki alasan yang kuat mengapa menargetkan Zhan Xishi, hanya saja satu kebenaran yang tak di sadari dan masih membuat orang keliru, Organisasi Pembunuh tidak akan bekerjasama satu sama lain, namun mereka bisa bekerjasama dengan orang-orang yang berpengaruh! " jelas Zhishu.
" A-apakah ada cara untuk menyelamatkannya? " tanya Hua.
" Eh, jika kau mau menyelamatkannya, kau harus siap berurusan dengan para pembunuh itu! Kau pikir mereka menargetkan Xishi untuk di bunuh? Siapa tahu mereka melihat keahlian beladiri Xishi dan berniat merekrutnya, apa kalian tidak bertanya-tanya? Siapa guru yang di maksud Zhan Xishi? Siapa yang tahu kalau dia akan bertemu salah satu dari para pembunuh itu dan mulai bekerja sama? " ujar Zhishu mulai memprovokasi.
Zhiyu bangkit secara tiba-tiba lalu mulai berbicara dengan lantang.
" Aku ingat! Saat itu Master Shi mengatakan sesuatu tentang Zhan Xishi si pengkhianat! Bukankah ada kemungkinan? "
' Aku menemukanmu! ' gumam batin Zhishu.
" Omong Kosong! Adikku bahkan tak mampu mengayunkan pedang! " bantah Qibo.
Disaat-saat seperti ini, Zhishu malah terlihat menikmati situasinya. Namun, dia memiliki rencana sendiri, rencana yang datang berdasarkan situasinya.
" Karena masalah ini tidak ada hubungannya denganku, maka aku tidak akan terlibat lebih jauh. Oh, ya, aku baru saja mengetahui satu hal mengenai kebakaran Desa Luo, hal itu tidak ada hubungannya dengan pendekar hantu! " ujar Zhishu.
" Eh, darimana kau tahu? " tanya Gaochang.
" Lalu, bagaimana dengan Master Shi? " tanya Zhiyu.
" Bukankah kau yang mengatakannya tadi, maksud perkataan mu adalah Xishi membelot dan bergabung dengan Pembunuh Malam bukan? Jika benar, kau hanya perlu membuktikannya, setelah itu, kalian akan tahu harus melindunginya atau membunuhnya! " jawab Zhishu dengan tenang.
" Kalau bukan Pembunuh Malam dan Pendekar Hantu, lalu siapa yang membakar Desa Luo? " tanya Cheng Lu.
" Tuan Jiang, mengapa tidak menanyakan hal itu langsung pada Tuan Muda Luo, sepertinya dia baru saja melupakan sesuatu, jika aku bertanya, kau menyinggung siapa saat menolong Zhan Xishi? " tanya Zhishu dengan tatapan mengintimidasi.
Setelah itu dia mulai melangkahkan kakinya keluar dari aula tanpa pamit. Sebagian orang menatap kepergiannya, sebagian lagi melihat ke arah Zhiyu.
' Eh, apakah karena... ' gumam batin Zhiyu terhenti.
" Zhiyu, saat itu kau mengatakan pedang gaib, bukankah benar adalah Rubah Pembunuh? " celetuk Zheyan.
" Kakak-- Em, benar, sepertinya karena aku menyelamatkan Xishi saat itu.. " ujar Zhiyu.
' Jika Xishi mati saat itu, mungkin desa Luo tidak akan dibakar, bukan? Sepertinya memang harus membuktikan satu kebenarannya! ' gumam batin Zhiyu.
Sementara itu, aktivitas di luar Kediaman Song berjalan dengan damai setelah sebelumnya masih dalam situasi waspada karena Pembunuh Yue berkeliaran di sekitar kota. Namun, semenjak insiden kebakaran rumah bordil itu, para Pembunuh Yue tidak muncul lagi dan membuat situasi kembali tentram.
Ketika para pemimpin sekte mulai mempercayai 'Target', Xishi mulai menyusun rencana baru untuk menghapus identitas Zhan Xishi dalam dirinya dan menjalani hidup sebagai sosok yang paling di takuti di dunia.
Meski mungkin caranya agak sedikit ekstrim, namun dia sudah berkata demikian maka tidak akan ada lagi yang bisa menghentikannya.
Di samping itu, 'Target' yang sebenarnya bukanlah Zhan Xishi, melainkan Pembunuh Malam. Karena sejak awal organisasi pembunuh bergerak hanya untuk mendapatkan posisi teratas dan mencapai titik dimana mereka menjadi ancaman untuk segala kedamaian. Untuk mencapai hal itu mereka hanya perlu mengalahkan yang terkuat.
Meski sebelumnya Pembunuh Yue mencoba menunjukkan kesadisannya lewat pembunuhan, namun aksi pertama mereka justru di gagalkan oleh Liu Xingsheng. Hal itu bisa di katakan sebagai senjata makan tuan, yang mana mereka di kalahkan oleh mangsanya sendiri. Aksi kedua kembali di gagalkan oleh Xishi yang menyelamatkan nyawa Yanxun, terus seperti itu sampai sesuatu mengundang Master Shi datang ke markas mereka.
Berbeda dengan Pembunuh Yue, Rubah Pembunuh melakukan aksinya secara menyeluruh dan tidak bergilir ke setiap kota. Mereka menyebar di setiap penjuru kota untuk menemukan keberadaan Pembunuh Malam, selain itu, mereka juga mencari sosok misterius yang sempat berurusan dengan mereka, yakni Liu Xingsheng.
...***...
Pertemuan telah berakhir, kini para pemimpin klan mulai kembali ke kotanya masing-masing, tak terkecuali Nie Fengyue.
Song Gaochang dan Hanrong tengah berbincang sebelum pulang, Qinsong juga sedikit berbicara sebelum Fengyue kembali.
" Fengyue, kau tidak boleh suka pada Xishi, ya! " ujar Qinsong.
__ADS_1
" Aku tidak akan pernah suka pada gadis aneh sepertinya! " balas Fengyue seperti biasanya.
" Kau selalu berkata demikian, membosankan! " gumam Qinsong.
" Kakak, kalian selalu saja membicarakan adikku, terutama Kak Qinsong, apa kau benar-benar menyukai adikku? " tanya Hua.
" Heh, kau bertanya demikian padahal sudah tau jawabannya! " ujar Qinsong.
" Namun, apa yang membuatmu menyukainya? " tanya Hua.
Qinsong spontan melihat ke arah Hua, raut wajahnya nampak serius seolah menginginkan jawaban yang tepat.
" Haaahh.. Sebenarnya di dunia ini tidak kekurangan gadis cantik dan baik, namun Xishi sangat berbeda, dia jauh berbeda dari gadis yang pernah ku temui, tatapannya yang dingin, sikapnya yang tegas, keberanian dan pengetahuannya tidak ada dalam diri gadis yang lain, dia begitu istimewa sampai aku tidak mampu mengalihkan pandangan ku.." jawab Qinsong.
Hua tersenyum, dia merasa puas pada jawabannya, namun sebaliknya, Fengyue merasa geli mendengarnya.
" Aku mual! " celetuk Fengyue membuat perubahan ekspresi di wajah Qinsong dan Hua.
" Yue'er, ayo pulang! " suara Hanrong mengalihkan perhatian mereka.
Fengyue dan Hua melangkah mendekat ke arah Hanrong. Sedangkan, Qinsong menatap mereka dengan tatapan sendu.
" Song'er datanglah berkunjung ke Kota Tang, kami akan menunggu kedatangan mu.. " ujar Hanrong sambil memberikan senyuman.
" Aku akan datang, terimakasih Paman Nie.. " balas Qinsong.
Lalu ketiganya mulai melangkah pergi dari hadapan Qinsong.
Malamnya, Xishi tengah berada di penginapan di Jian Yi. Dia tertidur sampai malam tiba, sebelum Xishi terbangun dari tidurnya, dia merasa seseorang memeluknya dari belakang.
Kedua tangan itu menggenggam tangan Xishi, seolah menahannya agar tidak pergi dari dekapannya.
Xishi membuka matanya perlahan, wangi yang sama seperti saat itu. Pelukan hangat ini malah membuat Xishi merasa waspada.
" Siapa? " tanya Xishi.
" Kau sudah melupakan ku? Padahal baru kemarin.. "
Suara yang sama seperti saat itu, wangi dan dingin yang sama persis, saat Xishi berpikir kalau laki-laki ini adalah dia namun, begitu mendengar suaranya Xishi langsung teringat pada seseorang yang memiliki suara yang sama persis.
" Raja Xiali.. " ucap Xishi lirih.
" Hm? " sahutnya.
Xishi mencoba beranjak untuk melihat seperti apa rupa laki-laki yang tengah memeluknya saat ini, laki-laki yang terikat takdir dengannya, juga laki-laki yang membuatnya merasakan kehidupan seperti ini.
Namun, dekapan itu semakin kuat saat Xishi mulai bergerak, hal itu membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa.
" Kau ingin kabur? " tanya Raja Xiali.
" Bagaimana aku berani? " balas Xishi.
" Lalu? "
Xishi terdiam, dia ingin sekali menanyakan hal ini dan mengetahui jawabannya, namun dirinya masih sangat ragu.
" Kau ingin melihatku, ya? " celetuk Raja Xiali.
" A-apakah tidak boleh? " tanya Xishi.
" Boleh saja, tunggu sampai umurmu genap dua puluh tahun, saat kau benar-benar menjadi milikku kau bisa menatapku sepuas mu.. " jawab Raja Xiali.
" Hmm... Mengapa kau datang? " tanya Xishi.
" Tidak boleh 'kah? Kau pergi kesini dan bertemu banyak laki-laki tampan, aku tidak yakin kau tidak tertarik pada mereka.. " jawab Raja Xiali.
" Aku tidak tertarik! " sangkal Xishi.
" Bagaimana dengan Liu Xingsheng? "
Xishi membelalakkan matanya, perasaannya sangat dangkal dan tidak mungkin bisa di simpulkan, terlebih jika dia mengatakannya mungkin Raja Xiali akan benar-benar membunuh Xingsheng.
" Aku tidak menyukainya.. " gumam Xishi.
" Kau sedang tidak membodohi ku 'kan? " ujar Raja Xiali memastikan.
" Sungguh.. " balas Xishi.
Raja Xiali menunjukkan senyumnya, lalu mencium leher Xishi dan meninggalkan tanda kepemilikan disana.
__ADS_1
" Terima kasih.. " ujarnya lembut sebelum akhirnya menghilang begitu saja.