
..." Aku bisa melepas siapapun yang ingin pergi meninggalkan Ku, namun sejak awal Aku sudah membuat pengecualian untuk Dirimu, tanpa persetujuan dariku, Kau tidak akan pergi kemana-mana! "...
...-Liu Xingsheng-...
Perkataan Xishi yang begitu dalam tentu saja akan Xingsheng terima dengan berat hati. Namun, jika gadis itu sudah berkata demikian, saat ini mau mencegah pun Xingsheng sudah kehilangan haknya. Hanya ada satu pihak yang perlu mempertanggungjawabkan perbuatannya, melanggar janji sama saja dengan mengajukan perang.
" Aku akan mengingatmu, bahkan jika esok kau akan sangat membenciku.. " balas Xingsheng.
" Memangnya apa yang akan kau lakukan hingga membuatku membencimu? " tanya Xishi.
" Entah, aku pun tidak tahu harus melakukan apa.. Hm, kau mau pergi sekarang? " tanya Xingsheng mengalihkan pembicaraan.
" Benar, aku akan pergi sekarang.. " jawab Xishi.
" Boleh kah aku mengatakan ini? Sebelum kau pergi, sebaiknya kau cari tahu apa yang sebenarnya terjadi, terus berlari dari kenyataan tidak akan mengubah takdirmu, setelah kau tahu semuanya, kau akan tenang kemudian menjalani hidupmu sebagai peran yang seharusnya.. " ujar Xingsheng.
" Baiklah, aku akan mencobanya.. " balas Xishi.
" Aku dan Liang akan menunggu di luar untuk mengantarmu, tolong jangan sungkan.. Master Shi.. " ujar Xingsheng yang di balas anggukan kepala dari Xishi.
Xingsheng keluar, Xishi menatap sendu langkah yang di ambil laki-laki itu. Meski sempat mengalami sekarat, orang yang seharusnya ia lihat malah tidak terlihat dalam bayangannya, Xishi hanya melihat laki-laki dengan kipas di tangannya itu.
' Liu Xingsheng, siapa kau sebenarnya? ' gumam Xishi.
Xingsheng dan Liang benar-benar menunggu di depan kamar, tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan memperlihatkan sosok Master Shi dengan jubah kebesarannya. Pedang Hei Ying ada di tangannya, topeng hitam menutupi sebagian wajahnya dan hanya memperlihatkan bagian mulut saja.
Liang tercengang begitu mendapati dirinya melihat sosok Master Shi secara langsung bahkan dalam jarak sedekat ini. Xishi membungkuk memberi salam pada Xingsheng dan Liang, dia juga membungkuk di depan Liang yang membuat Liang tidak enak.
" Nona Zhan.. Kau akan pergi sendiri? " tanya Liang.
" Panggil aku dengan nama yang seharusnya.. " balas Xishi.
' Eh! Dinginnya!! ' ucap Liang dalam hati.
Dengan petikan jari sebanyak tiga kali dengan bunyi teratur, seorang mata-mata yang sebelumnya bertemu dengan Xishi muncul secara tiba-tiba, entah sejak kapan dia ada di atap, Liang dan Xingsheng bahkan sampai tidak menyadarinya.
" Mohon maaf karena sudah tidak sopan, aku tidak sendiri.. Waktunya sangat mendesak, kami harus segera pergi.. " ujar Xishi.
Pintu utama di buka, sesuatu yang tak terduga lebih mengejutkan lagi. Entah sejak kapan anak buah Xishi berkumpul di depan kediaman Liu, namun sepertinya gerakan mereka sangat teratur dan rapih hingga tidak menimbulkan suara apapun.
" Se-sejak kapan mereka disana? " tanya Liang.
" Mereka baru saja sampai, jangan khawatir, tidak ada yang tahu! " jawab Xishi.
Pandangan Xishi dan Xingsheng bertemu sekilas, sebelum akhirnya Xishi benar-benar melenggang pergi. Ada sekitar dua puluh anggota yang menunggu di luar, di tambah Xishi dan juga Diwei Ling.
Dua puluh anggota yang datang sebenarnya bukan untuk membantu Xishi menyelamatkan Limei, melainkan untuk mengawasi kediaman Liu agar orang di dalamnya tidak terlibat lebih jauh dengan Xishi.
Disisi lain, Limei tengah diikat di sebuah kamar dengan pakaian terbuka dan mulutnya di bungkam. Lalu, seorang laki-laki masuk dengan pakaian seperti seorang pendekar, dilihat dari kondisinya dia terlihat sedang mabuk. Selain itu, di samping kanan dan kirinya ada dua gadis yang sama-sama berpakaian terbuka dan dandanan yang menor.
Limei bahkan tidak tahan dengan pemandangan ini, dia ingin segera pergi dan menemui sang master.
' Master.. Tolong aku, ku mohon.. ' ucapnya dalam hati.
Di waktu yang bersamaan, saat Xishi dan Diwei Ling berada di atap bangunan yang berhadapan dengan Rumah Bordil itu. Diwei Ling berjongkok melihat situasi, sedangkan Xishi berdiri di belakangnya.
^^^(Diwei Ling)^^^
Diwei Ling adalah murid kedua Xishi setelah Limei, dia adalah putra mantan perdana menteri dari Timur. Dia juga adalah orang kepercayaan Xishi setelah Qibo dan Limei, mata-mata terbaik sekaligus anggota yang menduduki tingkat nomor satu dari 1500 anggota Pembunuh Malam.
" Master, banyak orang yang membawa busur panah sore tadi, kemungkinan besar di dalam ada banyak anggota Pembunuh Yue! " ujar Ling.
" Kau takut? " tanya Xishi dengan nada dingin.
" Bagaimana mungkin? Kau bisa langsung memerintahkan ku, aku akan langsung melaksanakannya! " balas Ling.
" Beri aku jalan! Bunuh siapapun yang menghalangi jalanku! Ini perintah! " tutur Xishi tegas.
" Laksanakan, Master! " jawab Ling lalu turun.
Ling melompat lalu mendobrak pintu secara tiba-tiba, hal itu membuat seisi ruangan menjadi heboh karena terkejut. Banyak lelaki hidung belang yang di kerubungi wanita dengan kain tembus pandang. Mereka semua menatap ke arah pintu dengan mata terbuka lebar.
__ADS_1
" Ah, maaf, aku terlalu bersemangat! " gumam Ling.
" Pe-pe-pe-pembunuh malam? "
" Ga-gawat!! "
Tak lama setelah itu, Xishi muncul juga di hadapan mereka, sosok yang selama ini menjadi perbincangan panas akhirnya muncul dan di saksikan oleh orang-orang yang ada di dalam rumah haram ini. Dengan aura tegasnya, pandangannya lekat menatap ke depan, telinganya terpasang tajam mendengar bisikan dan ketakutan orang-orang ini.
" Ma-master Shi! "
" Benarkah dia? "
" Apa aku akan mati sekarang? "
Berbagai celotehan membuat Xishi pusing, belum lagi pemandangan vulgar mengotori matanya.
" Menjijikan!! " cibir Xishi dengan suara pelan.
" Mari, Master.. " ujar Ling.
Diwei Ling mulai kembali memimpin jalan, mengacuhkan bisikan orang-orang di sekitarnya. Selama mereka diam di tempat dan tidak menghalangi jalan, nyawa mereka aman. Sampai akhirnya Xishi dan Diwei Ling tiba di sebuah tangga, yang mana satu tangga mengarah ke rubanah dan satu tangga lainnya mengarah ke lantai atas.
" DEWI RACUN!! " teriak Xishi.
Teriakan itu sampai ke telinga Limei yang tengah di tindih oleh laki-laki yang mabuk tadi. Tangan dan kakinya masih diikat, begitu juga mulutnya yang masih di bungkam seperti sebelumnya. Limei berusaha keras mengerang, berharap Xishi akan mendengarnya. Namun, laki-laki yang menindihnya justru malah menamparnya hingga sudut bibirnya berdarah, namun bola yang membungkam mulutnya terlepas.
" Kau!! " ucap Limei tertahan.
" Kau yang begitu tidak patuh sangat membuatku tertarik! Namun, ORANG GILA MANA YANG BERTERIAK MALAM-MALAM? SIALAN!! Mengganggu saja! " ujar laki-laki itu.
Limei tertawa, tawanya semakin keras saat laki-laki itu menatapnya.
" Apa yang kau tertawa kan? " tanya si laki-laki.
" Kau dengar teriakan itu? " tanya Limei.
" Hah? "
" Dia memanggilku.. Jika dia sampai menemukanmu, hari ini adalah hari kematian mu! " ujar Limei santai.
" Siapapun Kau! Ku pastikan, kau akan segera mati! " balas Limei ketus.
" Baru kali ini, ada wanita yang menolak ku dengan kasar! Ingat ini, aku adalah Raja Yue, Yue Baoyu! Dan asal kau tahu, rumah bordil ini adalah markas para Pembunuh Yue! " ujar laki-laki itu sebelum akhirnya menjulurkan lidahnya dan menjilat area leher Limei.
Di samping itu, Xishi yang sempat mendengar suara Limei langsung bergerak ke arah sumber suara. Namun, langkah mereka terhenti saat beberapa anggota Pembunuh Yue menghalangi jalan mereka.
" Disini kalian rupanya? " gumam Ling.
Diwei Ling langsung menyerang ke depan, sedangkan Xishi membereskan orang-orang yang berusaha menyerang dari belakang. Tubuhnya masih lemah namun situasi memaksanya untuk turut bertarung. Meski demikian, mereka bukanlah tandingan Xishi, mereka dengan mudah kalah dan terlempar ke bawah dari lantai sekian.
Hal itu membuat kepanikan orang-orang di bawah semakin meriah, bahkan tak sedikit dari mereka yang berlari keluar dan melanggar pantangan. Xishi beres begitu juga dengan Diwei Ling, namun begitu mereka hendak melanjutkan langkahnya, musuh lain muncul dan mengejar dari belakang. Diwei langsung mengambil inisiatif untuk mempersingkat waktunya.
" Master, mereka akan bermain denganku, Kakak Limei pasti sedang terdesak! " ujar Ling.
" Pastikan kau tidak terluka, atau orang-orang itu akan ku panggang! " balas Xishi.
Ling tersenyum tanda mengerti, Xishi langsung bergerak mencari keberadaan Limei. Ternyata tidak semudah yang ia duga, tetap ada orang-orang Pembunuh Yue yang menjaga, semakin ke atas jumlahnya semakin sedikit namun mereka terlihat lebih kuat.
" Menjengkelkan! " gumam Xishi saat melihat para pembunuh Yue berbaris di hadapannya.
Dengan santai dia melangkah mendekat, padahal orang-orang di depannya tengah menodongkan pedang ke arahnya. Tanpa di duga, Xishi melemparkan shuriken dengan jumlah yang sama seperti orang di depannya. Satu Shuriken, satu orang. Mereka langsung terkapar begitu shuriken nya menancap ke leher mereka.
Xishi melewati mereka bahkan menginjak tubuh mereka yang menghalangi jalannya. Sampai sebuah suara ambigu terdengar di telinganya, Xishi semakin percaya kalau Limei bisa di jadikan budak ranjang di sini. Kakinya melangkah lebih cepat sampai terlihat sebuah pintu ruangan yang paling berbeda di depannya.
Tanpa pikir panjang, Xishi pun langsung berlari lalu melompat ke pintu untuk mendobraknya, persis seperti apa yang di lakukan Diwei Ling sebelumnya.
Pemandangan tak senonoh terlihat di depan mata Xishi. Laki-laki duduk di atas Limei yang kaki tangannya diikat dan juga pakaiannya yang hampir terbuka. Sesuatu yang membuat Xishi sangat marah hingga tak segan melemparkan Hei Ying miliknya. Namun, pedang itu malah meleset karena salah satu pembunuh Yue menarik laki-laki itu.
" Beraninya kau menghindar!! " ujar Xishi penuh penekanan.
" Orang-orang kita telah kalah, kita harus kabur! " ujar salah satu pembunuh Yue kepada laki-laki yang melecehkan Limei itu.
' Orang Pembunuh Yue, ya? ' gumam Xishi.
Kedua orang itu berlari dan berusaha lompat dari jendela, sebelum itu Xishi melemparkan shuriken nya dan berhasil menancap punggung kedua laki-laki itu. Mereka gagal melompat ke atap lain dan malah terjatuh dari lantai empat rumah haram ini.
__ADS_1
Xishi mengabaikan hal itu dan memilih melepaskan Limei lebih dulu, lalu membungkusnya dengan jubah dan topeng yang di bawa Xishi. Tubuhnya gemetaran dan matanya memerah, banyak tanda aneh di sekitar dada dan lehernya. Bahkan Xishi juga tidak berani melihatnya, hal yang lagi-lagi terlihat menyeramkan di mata Xishi.
" Master... " panggil Limei lirih.
" Tenanglah, kita harus pergi dulu! " ujar Xishi.
" Master! " panggil Ling tergesa-gesa.
" Ada apa? " tanya Xishi.
" Kakak.. Kau baik-baik saja? Master, kita harus pergi, orang-orang sekte Elang Suci datang kesini! " ujar Ling.
' Sudah ku duga! '
" Ling, Limei kalian pergi lebih dulu! Aku akan mengalihkan perhatian mereka! " ujar Xishi.
" Tapi, kami bisa menemanimu! " ucap Limei.
" Ini perintah! " tegas Xishi.
" Baik, Master! " jawab keduanya serentak.
" Ling, kau terluka? " tanya Xishi.
" Sedikit tergores, itu sudah tidak apa-apa! " jawab Ling.
" Baiklah, sekarang, cepat pergi! " ujar Xishi.
Mereka mengangguk sebelum akhirnya pergi lewat jendela. Sesuai dengan perkataannya, Xishi mengambil lampu minyak lalu melemparkannya ke bawah, yang mana apinya menyambar tirai dan menjalar ke sesuatu yang mudah terbakar.
Bayangannya tertangkap oleh orang-orang di bawah, sebagian orang ambisius langsung menaiki tangga dan berusaha mengejarnya, namun Xishi tentu tidak akan membiarkan hal itu menjadi mudah. Dia melemparkan senjata andalannya, meski meleset namun shuriken mengandung bubuk racun yang membuat mereka langsung mengantuk lalu tertidur tanpa sadar.
Setelah melakukan itu, dia langsung pergi keluar melalui jendela. Lagi-lagi bayangannya tertangkap oleh orang-orang di bawah. Salah satu orang mengejarnya, Xishi menoleh lalu menghela nafas saat tahu siapa yang mencari masalah dengannya.
" Bocah Dungu ini! Mengapa selalu ada dalam setiap situasi genting! " gumam Xishi.
Sedetik kemudian, Xishi berhenti secara tiba-tiba dengan pedang yang mengarah tepat ke leher orang yang mengejarnya.
" Kalian! Mengapa selalu membuat masalah dan membunuh orang-orang tak bersalah di kota ini? " tanya Fengyue.
Xishi diam, tak menggubris perkataan konyol yang keluar dari mulut Fengyue.
" Apa kau Master Shi yang kejam, namun sepertinya kau masih memiliki rasa ragu untuk membunuh orang! Kasihan sekali! " cibir Fengyue.
Mendengar hal itu, Xishi langsung mengarahkan ujung pedangnya ke letak yang mana seharusnya jantung berada. Setelah itu, dia mulai mengambil satu langkah maju, namun di waktu yang bersamaan Fengyue juga mengambil langkah mundur.
" Heh, sebelumnya kau gila karena bertemu salah satu orang ku! Kau mencemooh ku, apa sudah bosan hidup? " tanya Xishi.
Tangan Fengyue perlahan mulai menggenggam pedangnya, meski tak memperhatikan namun gerakan itu sudah sangat terbaca oleh Xishi.
" Benar, namun sebelum itu, aku akan menghabisi mu lebih dulu! " tegas Fengyue.
Xishi melemparkan senyumnya, namun mata Fengyue menatap begitu tajam ke arahnya.
Tanpa basa-basi lagi, Fengyue langsung mengayunkan pedangnya dan mulai menyerang Xishi. Kemampuan pedangnya memang sangat hebat, dia kuat dalam mengayunkannya, gerak refleks yang tepat dan juga konsentrasi yang bagus. Hanya satu kekurangan yang dapat Xishi tangkap, dia masih begitu ceroboh, bahkan sangat.
Suara benturan pedang terdengar mengilukan di telinga. Xishi yang menikmati pertarungannya dan Fengyue yang ambisius dan begitu terobsesi untuk membunuhnya. Xishi terpojok hingga ke sudut atap, pedang Fengyue yang mengarah ke wajahnya, ia tangkap menggunakan tangannya. Darah perlahan mengucur, namun Xishi tak menghiraukannya, dia menarik pedangnya lalu menusuk Fengyue yang lengah.
Tak lama, Xishi langsung mencabut kembali pedangnya. Tusukan di perutnya membuat Fengyue menjatuhkan lututnya dan terduduk. Tangan kirinya menekan perutnya yang terus mengeluarkan darah. Dia mengangkat wajahnya dan melihat sosok Master Shi di depannya.
Xishi melepas sarung tangannya, lalu memperlihatkan luka akibat menggenggam pedang Fengyue. Luka robek yang juga mengeluarkan darah. Xishi menjilat lukanya lalu darahnya, kemudian di memperlihatkan telapak tangannya yang bersih tanpa luka sedikitpun.
Fengyue tercengang begitu melihat luka itu tidak ada disana, padahal jelas-jelas Xishi menggenggam pedangnya, bahkan darahnya juga ada di pedangnya.
" Ba-bagaimana mungkin? " tanya Fengyue.
" Aneh bukan? Kau bukan tandingan ku, jika ingin membunuhku, pastikan kau tau kelemahan ku! Jika tidak, maut akan berbalik dan datang kepadamu! Sekarang, enyahlah! Jangan ikut campur dalam urusan yang berkaitan dengan Pembunuh Malam! Kami memiliki tugas kami sendiri! " ujar Xishi lalu berbalik.
" Master Shi! "panggil Fengyue lirih.
Xishi berhenti namun tetap membelakangi Fengyue.
" Mengapa kau tidak membunuhku? " tanya Fengyue.
" Hari ini bukan hari kematian mu! Aku memimpin dan mengajari mereka bukan untuk sembarang membunuh! Ada alasan yang kuat untuk merebut sisa umur mereka, dan yang pasti, mereka pantas untuk mati! Di pertemuan selanjutnya, aku tidak akan segan! Jadi berhati-hatilah dan jangan sampai bertemu lagi! " pungkas Xishi.
__ADS_1