
Dengan tangan yang gemetaran, Yanxun mencoba memeriksa nadi Cheng. Sesaat wajahnya menjadi semakin panik, dia memanggil Cheng mencoba membangunkannya, namun semuanya percuma. Anak panah yang menusuk Cheng menembus jantungnya hingga nyawanya pun terenggut.
" A-Apa?? Ada apa?? " tanya Fengyue.
" Tuan Zhan sudah tiada.. " ujar Yanxun lirih.
" Tidak mungkin, itu tidak mungkin!!! " pekik Fengyue.
Saat empat pendekar itu larut dalam situasi mereka sendiri, para Pembunuh Malam sudah selesai dengan tugasnya.
" A-Ling.. Kau ikut mereka, sisanya ikut kembali bersamaku! " ujar Zhishu.
" Dimengerti! "
Diwei Ling, Si Yin dan dua lainnya pergi menuju markas utama dari Pembunuh Yue. Sebelum Zhishu pergi, Limei menghentikannya lebih dulu. Dengan terbata dia mengingatkan kembali perkataan Zhishu.
" M-Master.. Bagaimana dengan Tuan Muda Zhan?? Bukankah kau ingin menolongnya? " tanya Limei.
" Awalnya memang iya, namun orang-orang sekte yang angkuh itu tidak pantas menerima bantuan dariku! Cepat, pergi! " ucap Zhishu sebelum akhirnya melenggang pergi.
Saat Zhishu pergi lebih dulu, Limei diam-diam menghampiri para pendekar itu, dia memberikan sebuah penawar untuk Qibo yang mengalami luka parah sampai tak sadarkan diri.
Situasi itu membuat mereka salah faham, mereka pikir Limei memberikan racun yang menular seperti yang biasa para Pembunuh Malam lakukan pada korban nya. Namun, Yanxun yang sedikit mengenal obat-obatan menyangkalnya dan memberitahu teman-temannya kalau itu sebuah penawar bukan racun.
" Buat dia meminum ini, darahnya akan berhenti, kemungkinan akan menahannya sampai bantuan dari Singa Emas datang.. " ujar Limei.
" Kau mau memberi racun saja sampai repot-repot bersandiwara! " Ujar Zhiyu ketus.
" Jika kami di perintahkan untuk membunuh kalian, aku tidak akan membuang-buang waktu seperti ini! Ku bunuh kalian sejak awal! Namun, siapa yang akan menyangka kalau target malam ini adalah Raja Yue gadungan! Simpan ini, kau bisa menggunakannya, jika mau di buang pun aku tidak akan mempermasalahkannya! " Balas Limei lalu pergi menyusul Master Shi dan yang lainnya.
Sementara itu, Zhiyu masih memperdebatkan cairan penawar yang di berikan anggota Pembunuh Malam itu.
" Buang saja! Sudah sangat jelas, kalau itu adalah racun! " Ujar Zhiyu.
" Tapi, mungkinkah yang di katakan Pembunuh Malam itu benar? " Tanya Fengyue.
" Heh, apa kau percaya dengan yang di katakan oleh seorang pembunuh? " Tanya Qing Lian.
" Bukankah aku pernah bertemu Master Shi, saat itu dia hanya menusukku sebagai peringatan, dia bilang dia tidak akan membunuh tanpa alasan yang kuat, hari ini pun terjadi lagi, dia bahkan tak melukai kita sedikitpun! " Jawab Fengyue.
" Kau begitu membelanya? Apa kau ada hubungan baik dengannya, huh? " Tanya Zhiyu.
" Mengapa kau berpikiran begitu?? " Balas Fengyue.
" Ini Penawar!! " ucap Yanxun yakin.
Yanxun langsung membuat Qibo meminumnya, jelas Zhiyu dan Qing Lian tidak setuju dengan hal itu.
" Apa yang kau lakukan?? Bagaimana jika itu benar-benar racun? " tanya Zhiyu dengan emosinya.
" Jika Qibo mati karena cairan ini, maka aku bersedia bertanggung jawab dan di eksekusi di depan para pemimpin sekte! " tegas Yanxun.
" Kakak... " Fengyue memasang ekspresi tidak percaya di wajahnya.
Hal itu jelas terlalu berlebihan, namun Fengyue ada di pihaknya, dia mempercayai apa yang dilakukan oleh Yanxun. Dia adalah pria dewasa dengan pikiran bijak, tidak mungkin dia melakukan hal tanpa tahu resikonya.
Tak lama setelah itu, bantuan dari pemimpin barat datang, apa yang dikatakan oleh Limei terbukti saat ini. Darah Qibo yang berhenti keluar dan bantuan dari barat.
Yanxun dan Fengyue mulai memikirkan hal yang sama, tanpa adanya pemicu Pembunuh Malam tidak akan membunuh siapapun.
Namun, fakta mereka adalah Pembunuh Bayaran tidak bisa di pungkiri, lebih menakutkannya lagi, jika ada hal yang menyinggung, mengganggu bahkan sampai memicu dendam, Pembunuh Malam akan bergerak dengan sendirinya. Bagaimana pun juga gerakan mereka sangat rahasia, jika ada orang yang melihatnya dan berusaha membocorkannya jelas tidak akan lolos dengan mudah.
Pernyataan itu mengingatkan kembali pada Pembantaian Marga Li, dimana kebrutalan Master Shi tergambar jelas dalam tragedi itu. Tidak ada yang tahu siapa yang membayar mereka untuk menghabisi Marga Li, atau apa yang dilakukan orang-orang Marga Li sampai menyinggung Pembunuh Malam.
Pagi harinya, orang-orang di wilayah barat di gemparkan dengan mayat yang tergantung di depan Rumah Rayuan (-rumah bordil yang merupakan markas utama Pembunuh Yue). Hal itu jelas dilakukan oleh Pembunuh Malam atas perintah dari Master Shi.
__ADS_1
Namun, pendekar yang terlibat dalam kekacauan semalam memilih bungkam dan tidak mengatakan apapun pada Jiang Cheng Lu. Sementara itu, nyawa Qibo terselamatkan dan tengah di rawat di kediaman Jiang.
Di samping itu, keempat pendekar lainnya juga sudah di obati. Namun, hari ini juga hari pemakaman Zhan Cheng yang gugur karena mencoba melindungi putranya.
Qibo belum sadarkan diri, kemungkinan dia tidak akan ikut dalam pemakaman Sang Ayah. Tubuh Zhan Cheng akan di bawa ke Desa Luo yang mana adalah kampung halamannya.
Atas saran Huang Yan Xun, Qibo ikut dibawa ke Desa Luo. Para pemimpin sekte suci lainnya pun akan datang ke Desa Luo untuk menghadiri pemakaman.
Sebenarnya bukan hanya pemakaman Zhan Cheng, namun hari ini juga merupakan pemakaman Zhan Xishi. Saat terbangun Qibo pasti akan sangat terpukul, dia kehilangan dua orang tercintanya sekaligus.
Di waktu yang bersamaan, Nie Hanrong mengajak beberapa muridnya untuk pergi ke desa Luo, termasuk Zhan Hua. Hua sendiri belum tahu apa yang terjadi, yang ia tahu Nie Fengyue belum kembali sejak kemarin.
Di tengah perjalanan, kebetulan mereka bertemu dengan Song Gaochang dan Song Qinsong, mereka juga akan melakukan perjalanan ke Desa Luo, dengan begitu mereka akan pergi bersama-sama.
Song Qin Song masih ceria seperti biasanya, hal ini juga bisa di pastikan kalau dia belum mengetahui hal yang terjadi.
" Kakak Song, apa Tuan Muda Qing Lian tidak ikut? " tanya Hua.
" Dia sedang pergi, namun dia sudah mengirim surat akan datang ke Desa Luo.. Bagaimana dengan Fengyue? Mengapa dia tidak kelihatan? " tanya Qinsong.
" Dia bahkan belum kembali sejak kemarin! " jawab Hua.
" Heh, kemana dia pergi? Tidak seperti biasanya, bukankah kau selalu ada di sampingnya kemanapun dia pergi? " tanya Qinsong.
" Jika aku boleh jujur, dia pergi diam-diam, bahkan guru pun tidak tahu kemana dia pergi! " jawab Hua.
" Heh, mungkinkah dia kawin lari bersama perempuannya? " tanya Qinsong mulai melantur.
" Sembarang bicara, laki-laki jutek sepertinya, memangnya siapa yang mau? " balas Hua.
" Hahaha.. Kau benar, dia terlalu judes! " timpal Qinsong.
Setelah membicarakan hal itu, mereka jadi diam, Qinsong menangkap raut wajah Hua yang tidak biasa, ada kecemasan di matanya, namun dia tetap diam. Entah apa yang membuatnya sampai berkeringat seperti itu.
" Hmmm.. Entahlah, hatiku benar-benar merasa gelisah sejak semalam, ada ketakutan yang merasuki tubuh ku, namun aku tidak tahu jelas apa penyebabnya.. " jawab Hua.
" Tenanglah, semua akan baik-baik saja.. " ujar Qinsong.
" Kakak, menurutmu mengapa ada undangan tiba-tiba dari Desa Luo? Apa Xishi telah kembali? " tanya Hua.
" Zhan Xishi? Hah, aku sudah lama tidak melihatnya, ku harap itu benar.. " balas Qinsong.
" Namun, perasaan gelisah macam apa ini? Aku benar-benar tidak tenang.. " ujar Hua.
" Sebentar lagi kita sampai, setelah itu kita akan tahu apa yang terjadi sebenarnya.. " ujar Qinsong.
Sementara itu di Gunung Qiyi, Limei keluar dari menara tinggi Ye Shashou dengan luka cambukan di punggungnya. Ini adalah pertama kalinya Master Shi menghukum dirinya separah ini.
Dia keluar dengan tertatih, lalu gadis di belakangnya mengejar dan memapahnya kembali ke Paviliun Utara yang merupakan kediamannya. Gadis itu membantu mengobati luka Limei dengan hati-hati, sebelumnya Master Shi tidak pernah sekeras ini, tentu hal yang terjadi hari ini terlalu mengejutkan penghuni Sekte Àn shān ini.
" Kakak Limei, apa yang salah dengan Master? " tanya Tianba.
" Dia sudah kembali, inilah sifat aslinya, lama-lama kau akan terbiasa.. Hanya saja perlu diingat, sebagian dari sifatnya sudah mati bersama dengan ingatannya.. " jawab Limei.
" Sebelumnya sifat Master sedikit me lembut, namun tiba-tiba menjadi tegas dan tak berhati lagi, kira-kira apa yang membuatnya seperti ini? " tanya Tianba.
" Xue Tianba.. Jika sudah selesai bisakah kau tinggalkan aku sendiri, aku ingin beristirahat.. " ucap Limei mengalihkan pembicaraan.
" Mm,, tentu.. Cepatlah sembuh, Kak.. " ujar Tianba lalu keluar dari paviliun Utara.
Setelah kepergian Tianba, Limei langsung beranjak dari tempat tidurnya. Dia duduk di tepi tempat tidur, mengingat sesuatu yang seharusnya terjadi hari ini.
' Nona Zhan sudah tiada, sepertinya dia tidak akan kesepian karena ayah tercintanya ada bersamanya. Meski ini adalah keputusannya mengapa aku merasa begitu sedih? Seolah aku juga merasakan sesuatu hilang dari tubuhku, kehangatan yang selama ini ku rasakan seolah tidak ada lagi, aku melihat hal-hal suram di depan mataku. Master Xishi tercintaku telah tiada, kini Bai Xuan Zhishu menguasai seluruh tubuhmu. Apakah ini hal yang benar? ' gumam Limei dalam hati.
" Tidak! Setidaknya aku harus ikut mengantarkan mereka berdua ke tempat peristirahatan terakhirnya! Meskipun akhirnya Master Shi akan kembali menghukum ku lagi, aku akan menerimanya! " ujar Limei lalu bergegas pergi.
__ADS_1
Saat Limei pergi, Zhishu melihatnya dari menara tinggi Ye Shashou, namun dia tidak mencegahnya dan tetap membiarkannya pergi.
Alih-alih mengejar Limei, Master Shi yang kali ini menggunakan nama Bai Xuan Zhishu malah pergi ke desa Bai Xuan untuk berkunjung.
Sore pun tiba, sebelum Klan Shèng yīng dan Klan Fènghuáng, Klan Báisè de lǎohǔ sudah tiba lebih dulu. Disana mereka mulai membantu mengatur persiapan pemakan, sementara Qibo di alihkan ke tempat tidurnya, dia di temani oleh Jiang Chen Li yang merupakan anak tunggal dari pemimpin Klan Jīn Shī.
" Hei, bangunlah.. Jika kau tidak bangun kau tidak akan ikut pemakaman adik dan ayahmu.. " ujar Chen Li lirih.
^^^(Jiang Chen Li - Putri Tunggal^^^
^^^Jiang Cheng Lu)^^^
Hal itu tidak membantu Qibo bangun, dia tetap tak sadarkan diri, namun suatu hal di sadari oleh Chen Li. Qibo menangis dalam tidurnya, air matanya menetes setelah dia mengatakan hal itu. Hanya saja hal ini terlalu membingungkan, hingga Chen Li tidak tahu harus melakukan apa.
Di sisi lain, rombongan Nie Han Rong dan Song Gaochang tiba, Hua yang melihat benda-benda menyedihkan tertata di depan rumahnya tidak mampu menahan diri lagi. Dia berlari masuk dan mendapati dua peti mati di dalam rumahnya.
Tidak ada yang mencegahnya, kakinya melangkah pelan mendekati dua peti itu lalu mulai membuka peti pertama. Orang yang paling ia hormati terbujur kaku disana, Hua tertawa melihatnya.
" Hei, Ayah! Apa yang kau lakukan disitu? Tempat ini terlalu sempit, tidurlah di kamarmu! Apa kau terlalu banyak minum lagi sampai tidak tahu tempat tidur mu? " tanya Hua.
" Zhan Hua.. " panggil Hanrong.
" Ayah?? Kau begitu pucat.. Jika kau sakit mintalah adik merawat mu.. Ayah? Jangan bercanda seperti ini ku mohon! " ujar Hua.
" Hua'er?? " panggil Hanrong lagi.
Hua tidak menyahuti panggilan gurunya, dia beralih ke peti di sampingnya, saat ia membuka hanya ada sisa tulang yang tak utuh, juga ada baju serta masker milik Zhan Xishi. Hal itu membuatnya kembali terkekeh.
" Heh, ini tidak lucu.. Zhan Xishi?! Keluar kau.. Jangan bersembunyi seperti ini! " pekik Hua dengan senyum yang terpasang di wajahnya.
Mendengar hal itu, membuat Qinsong ikut berlari menghampirinya. Dia melihat hal yang sama, lalu pergi ke Fengyue dan menarik bajunya.
" Ada apa ini?? Apa maksudnya?? " tanya Qinsong.
^^^(Song Qin Song)^^^
Fengyue tidak menjawab, dia melepaskan tangan Qinsong dari bajunya. Qinsong beralih bertanya pada Qing Lian, namun dia juga tidak menjawab, saat bertanya pada Yanxun, dia langsung melemas saat mendengar jawabannya.
" Kakak Xiao Xun.. Katakan apa yang terjadi? Tulang siapa itu?? Mengapa baju Xishi dan maskernya di letakan di sana?? " tanya Qinsong.
" Tuan Zhan pergi bersama putri tercintanya, itu adalah fakta.. kau harus menerimanya.. " jawab Yanxun lirih.
" Apa maksudmu? Jangan sembarang bicara! " sarkas Hua.
Hua melakukan hal yang sama, dia mencoba membangunkan ayahnya, namun hasilnya nihil, bahkan air matanya sampai menetes saking putus asanya dia.
Tak sampai disitu, dia pergi ke setiap ruangan yang ada di rumahnya, memanggil Zhan Xishi untuk keluar, namun yang ia temui hanyalah Qibo yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Tanpa pikir panjang, dia langsung membangunkan Qibo.
" Kakak!!! Kakak!! Bangunlah! Beritahu aku dimana Zhan Xishi? Kakak!! " teriak Hua sambil menggoyangkan tubuh Qibo agar terbangun.
" Tuan Muda.. Tolong tenanglah.. " ucap Chen Li.
" Kakak.. Ku mohon bangunlah dan beritahu aku apa yang terjadi?? Mengapa ayah tak kunjung bangun?? Kakak, bangun ku mohon!!! " semakin lama Hua semakin banyak menitikkan air matanya.
Chen Li yang mendengar nya turut tersiksa, dia merasakan pukulan yang sama, suatu hal yang sama persis dengan apa yang di alaminya di masa lalu.
" Zhan Qibo??? Dimana anak nakal itu?? Dia bermain-main terlalu jauh! Aku harus menarik telinganya agar kembali patuh! Zhan Xishi... Ayaaah... " ujar Hua sambil menggenggam tangan Qibo.
Tepat setelah dia menyelesaikan bicaranya, seseorang memukulnya dari belakang dan membuatnya tidak sadarkan diri seketika.
" Bai Long Qishi Zhu Zheyan? " ..
__ADS_1