
Pagi hari menyapa, aktivitas di Gunung Qiyi mulai terlihat, Xishi sedang beristirahat di kediamannya sebelum pergi ke pertemuan dengan 50 teratas siang nanti. Sedangkan Limei baru saja turun gunung untuk pergi ke Kota Kun Yuan, kota tersebut berada tepat disisi timur Ibukota Jianyi, dan termasuk kota yang berada di wilayah timur. Di wilayah timur juga ada sebuah klan terkenal yang bernama Klan Báisè de lǎohǔ, klan tersebut berada di Kota Ming, kota yang berada tepat di penghujung timur.
Sedangkan kota Kun Yuan berbatasan langsung dengan Ibukota Jianyi. Berbeda dari Jianyi yang ramai, Kun Yuan lebih tenang dan damai, ramai namun tak berisik. Orang-orang disana lebih mengutamakan kenyamanan para pendatang di bandingkan dengan keributan sosial yang tidak berguna. Namun, hal itu bukanlah tujuan Limei datang kesana, Kun Yuan hanya sebagai pengganti Jianyi karena jarak Gunung Qiyi lebih dekat dengan Kun Yuan.
Dengan di temani Si Yin dan Song Song, ketiganya mulai membeli bahan makanan untuk beberapa hari ke depan, tentunya mereka memakai pakaian sehari-hari agar tidak menakuti penduduk kota. Saat sedang membeli beberapa sayur, Song Song melihat ada beberapa pendekar yang sepertinya akan pergi keluar kota, mereka nampak gagah berada di atas kuda.
" Kakak Limei, lihatlah, mereka sepertinya pendekar dari Klan Báisè de lǎohǔ.. " ujar Song Song.
Limei menoleh dan melihat laki-laki tampan itu, namun dirinya tidak begitu peduli dan hanya memandang biasa laki-laki itu.
" Ohh.. " balas Limei yang menunjukkan reaksi mengecewakan untuk Song Song.
" Apa itu? Apa kau sama sekali tidak tertarik pada laki-laki? " tanya Song-Song sedikit kesal.
" Tentu saja aku tertarik, hanya saja aku sudah melihat satu dan takkan melihat ke laki-laki lain.. " jawab Limei.
" Wah, apa itu Master Zhan? " tanya Si Yin tiba-tiba.
Seketika wajah Limei menjadi memerah, dia berusaha menutupi wajahnya dan menahan rasa malu yang membakar wajah cantiknya.
" Ternyata adalah Master Zhan, haahaahaa.. " seru Song-Song.
" Eh sudahlah, jangan membuat Kakak Limei semakin malu, tapi, Kakak, apa kau tahu siapa laki-laki itu? " tanya Si Yin.
" Tentu saja, dia adalah putra Pemimpin Sekte Báisè de lǎohǔ, namanya Huang Yan Xun " jawab Limei.
^^^( Huang Yan Xun - Putra Pertama Pemimpin^^^
^^^Klan Báisè de lǎohǔ, Huang^^^
^^^Ming Ling)^^^
" Dengar-dengar dia sudah menikah dan bahkan anaknya sudah besar, meskipun begitu dia terlihat begitu muda dan masih sama tampannya.. " gumam Limei.
" Haah?? Dia sudah menikah? Kapan?? " tanya Song Song.
" Bukankah, Xiao Xin belum menikah? " tanya Si Yin.
" Si Yin!! Aku bilang namanya Yan Xun, Xiao Xin adalah adiknya, dia disana!! " ujar Limei sambil menunjuk laki-laki dengan pakaian putih.
^^^(Huang Yan Xin - Putra kedua Huang^^^
^^^Ming Ling)^^^
Si Yin dan Song Song terpana dengan ketampanan kakak beradik itu, namun di sisi lain, mereka masih belum percaya kalau Yan Xun ternyata sudah menikah dan memiliki seorang anak, bahkan anaknya sudah besar.
" Alih-alih menawarkannya kepadaku, mengapa kalian berdua tidak menawarkannya kepada Master Shi? " gumam Limei nyaris berbisik.
__ADS_1
Mata keduanya terbelalak, sebagai kode kalau ide Limei sangat buruk, mereka berdua jelas menepis ide bodoh yang di berikan kakak seperguruannya itu.
" Alih-alih di banggakan, sepasang mata ini pasti di congkel keluar oleh Master.. " cibir Si Yin.
" Hei, jaga bicaramu, jangan sampai master mendengarnya! " ujar Limei menakut-nakuti kedua adik seperguruannya.
Mengingat hari semakin panas, mereka pun segera kembali ke gunung. Seperti biasa, jika dari wilayah timur, tempat yang paling sering mereka lewati adalah Desa Bai Xuan, yang mana letaknya berada tepat di kaki Gunung Qiyi. Desa itu bisa di bilang terpencil dan jauh dari wilayah kota, mungkin karena berada di dalam hutan yang menyatu dengan kaki gunung. Penduduk di sana juga sudah mengenal wajah Limei dengan baik, mereka sering kali menyapa saat Limei melewati daerah mereka. Mereka ramah karena tidak tahu siapa Limei, mungkin jika tahu Limei pun akan mendapati tantangan berat saat melewati Desa Bai Xuan.
Disisi lain, di dalam aula Ye Shashou, Xishi tengah mengadakan pertemuan dengan para 50 teratas. Disana mereka mulai membicarakan masalah krisis mengenai kembalinya para pembunuh tersadis dan teror dari para hantu yang juga mulai menyerang Ibukota.
" Tidak heran jika para pembunuh menyerang untuk mencari perhatian dan meninggikan namanya, namun para hantu muncul setelah sekian lama apa mereka juga memperebutkan posisi pembunuh tersadis? " tanya Xishi heran.
" Klan Shèng yīng akan mengadakan pertemuan ikatan lima Klan untuk membicarakan hal ini! " ujar salah satu murid yang hadir.
" Pertemuan ikatan lima klan? Menarik, mungkinkan Dewa Pedang akan hadir? " gumam Xishi bertanya-tanya.
" Namun, Master, Dewa Pedang tidak akan muncul semudah itu, mungkin saja Bai Long Qishi akan hadir menggantikannya.. " ucap yang lain.
" Manusia angkuh itu terluka cukup parah saat bertarung kemarin, tidak mungkin akan sembuh begitu saja, aku akan memilih beberapa untuk pergi bersamaku nanti malam, sisanya, aku akan memberikan senjata baru untuk mengimbangi musuh! " ujar Xishi.
" Baik, Master! "
" Pertemuan selesai, kalian boleh kembali.. " pungkas Xishi.
" Baik, Terima kasih Master! "
Mereka keluar secara bersamaan, meninggalkan Xishi sendirian di aula besar Ye Shashou. Dia mulai menyusun kembali langkah yang akan ia ambil untuk sebuah liburan di Ibukota. Setidaknya dia perlu bersenang-senang sedikit sebelum menutup diri untuk beberapa waktu ke depan.
Sore pun tiba, Xishi berdiri tepat di menara tinggi Ye Shashou, melihat indahnya pemandangan wilayah timur yang tenang. Hanya pemandangan ini yang bisa di tangkap dari tempat ini, karena bisa di katakan Gunung Qiyi juga berada di wilayah timur sebagai perbatasan antara wilayah timur dengan wilayah selatan.
Hal itu jelas membuat Xishi geram, Dia sendiri bahkan belum pernah bertemu dengan pendekar hantu, bagaimana bisa dirinya di seret ke dalam rumor murahan seperti itu, hal itu jelas adalah sebuah penghinaan dan juga fitnah. Bagaimanapun juga pasti ada pihak yang di untungkan dalam hal ini, mendengar kembali nama Pembunuh Malam di jatuhkan dalam fitnah, Xishi tentu tidak akan diam saja.
Malamnya, Xishi sudah memilih beberapa dari 50 teratas untuk di jadikan mata-mata. Mereka yang terpilih akan mendapatkan tugasnya masing-masing, cara kerja individu dan tidak berkelompok seperti biasanya. Mereka juga di tuntut untuk bungkam jika tertangkap, bahkan jika nyawa mereka adalah bayarannya, identitas Master Shi tetap tidak boleh bocor.
Sebagian dari mereka di kirim ke lima penjuru Klan besar, masing-masing penjuru ada tiga mata-mata yang bekerja, sedangkan Xishi dan Limei akan pergi ke Ibukota untuk masalah Pertemuan Lima Klan. Akan ada Elang yang mengintai pergerakan mereka, jadi jika sewaktu-waktu ada yang salah langkah atau berkhianat, Xishi akan langsung mengetahuinya.
Mengenai Elang dan gagak hitam, meski sama-sama milik Pembunuh Malam, namun keduanya juga memiliki tugas yang berbeda. Gagak Hitam adalah media komunikasi antar anggota dan di miliki oleh setiap regu, sedangkan Elang pengintai, sesuai dengan namanya tugasnya adalah mengintai pergerakan anggota, laporan tersebut hanya akan sampai pada Xishi seorang, selain itu tidak ada lagi yang bisa mengendalikannya. Dengan kata lain, Elang pengintai adalah bagian dari penglihatan Xishi, meski tenang namun sangat berbahaya.
Malam ini, semuanya berangkat sesuai dengan tujuan masing-masing, mereka tentu tidak memakai baju khas Pembunuh Malam selama dalam penyamaran. Sisa dari 50 teratas lainnya bertugas untuk menjaga Gunung Qiyi, meski berjaga di dalam mereka tetap di awasi oleh Elang Pengintai lainnya, hal itu membuat mereka patuh dan tidak berani melanggar peraturan yang ada.
Xishi dan Limei sampai di Ibukota tepat pada tengah malam, sedangkan ketiga mata-mata yang bertugas sudah terpisah semenjak memasuki wilayah Ibukota. Mata keduanya menatap awas sekitar, memastikan keadaan aman dan tidak ada keanehan apapun. Sampai di tengah jalan, Xishi memerintahkan Limei untuk bergerak sesuai dengan tugasnya, yang mana tugas itu sangat rahasia dan hanya di ketahui oleh mereka berdua. Sedangkan Xishi akan berkeliling seorang diri.
Limei sudah pergi ke tempat yang harus ditujunya, sedangkan Xishi mulai berjalan menyusuri jalanan Ibukota yang sudah sepi. Karena festival hantu sedang berlangsung, pantangan akan pulang larut atau berkeliaran di malam hari sudah berlaku. Namun, pantangan tersebut tentu saja tidak berlaku untuk seorang Xishi.
Dalam langkahnya, Xishi bergumam tentang ciri khas masing-masing klan pembunuh dan sekte. Secara tidak langsung, Xishi mempelajari apa yang mereka kuasai lewat jalan pertarungan, Xishi sendiri tengah berencana untuk menguasai apa yang mereka kuasai untuk memanipulasi kebenaran. Karena dia tahu, teknik racun, langkah atap dan pusaran tanah hanya berlaku untuk para Pembunuh Malam saja, berikut hal itu sangat rahasia dan sulit untuk di bocorkan.
' Pembunuh Yue bergerak dengan panahnya, Rubah Pembunuh dengan Pedang Gaibnya, lalu, jika para hantu itu datang untuk bergabung dengan organisasi pembunuh, siapa yang hendak mereka bunuh? '
Saat Xishi tengah bergumam di setiap langkahnya, sebuah tangan menepuk bahunya dan hampir membuatnya mengeluarkan racun. Namun, begitu tahu siapa yang ada di depannya, Xishi mengurungkan niatnya.
" Nie Fengyue? " gumam Xishi dengan mata yang terbuka lebar karena terkejut.
__ADS_1
" Nona Zhan? " ucap Fengyue memastikan.
^^^(Nie Fengyue)^^^
" Benar, " balas Xishi.
" Sedang apa disini malam-malam? Lalu, apa kau send--- "
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Xishi mendorong tubuh Fengyue merapat dengan bangunan di sampingnya, lalu sebuah anak panah melesat ke tanah. Telat sedikit saja, mungkin anak panah itu sudah menusuk Fengyue.
Fengyue menunjukkan raut wajah terkejutnya, matanya terbelalak dengan mulut yang sedikit terbuka hingga tidak sadar tidak ada jarak antara dirinya dengan Xishi. Xishi yang sadar mencoba menahan momen itu karena matanya sudah menangkap letak si pemanah itu.
" Siapa dia? " tanya Fengyue.
" Sstt.. Ini adalah Pembunuh Yue, kita harus pergi sebelum mereka datang kesini! " gumam Xishi.
" Kau bukankah kau bisa beladiri? Mengapa melarikan diri? " tanya Fengyue.
" Kau lihat apa aku membawa senjata? " tanya Xishi dengan berbisik.
" Aku bisa melindungi mu! " celetuk Fengyue tiba-tiba, membuat Xishi menarik tubuhnya menjauh dari Fengyue.
" Lawan saja sendiri! Satu hal yang perlu kau ketahui, aku tidak butuh perlindungan siapapun! " ujar Xishi lalu melangkah meninggalkan Fengyue.
Fengyue menatap kepergian Xishi dengan rasa bingung yang memenuhi isi kepalanya.
" Aku kira kau mengajakku pergi secara sembunyi-sembunyi, namun kau keluar begitu terang-terangan! Gadis Aneh! " gerutu Fengyue.
Fengyue menengok ke arah dimana seharusnya pemanah itu berada, namun disana tidak ada siapapun. Fengyue mulai memikirkan sesuatu sebelum pergi.
' Jika pembunuh itu ada disini, seharusnya mereka tersebar dan bersembunyi di berbagai tempat, namun mengapa melakukan suatu hal yang begitu membuang-buang waktu seperti ini? ' Fengyue bergumam sebelum akhirnya melenggang pergi menuju ke Kediaman Song.
Disisi lain, Xishi pergi ke atap menggunakan langkah atap yang cepat dan tanpa suara. Dari atas Xishi mengamati setiap pergerakan yang mungkin akan terjadi, jalanan ini seharusnya di lewati oleh Fengyue saat kembali ke kediaman Song, selain ini jalan lainnya tidak sedekat ini dan cukup berbelit.
Namun, saat Xishi sedang fokus seseorang muncul di ujung atap secara tiba-tiba, meski tidak menunjukkan reaksi terkejut, namun hal ini membuat Xishi yakin kalau masalah selanjutnya sudah ada di depan mata.
Xishi yang semula berjongkok perlahan mengangkat tubuhnya dan mulai berdiri. Dia enggan melihat siapa yang ada di belakangnya, jika dia salah satu dari Pembunuh Yue, dia tidak akan diam saja dan akan langsung menyerang. Aroma nya belum pernah Xishi temui pada siapapun, sangat jelas kalau malam ini adalah pertemuan pertama mereka.
Enggan berlama-lama, Xishi langsung melangkahkan kakinya melompat ke atap di depannya, namun siapa sangka kalau orang tadi akan mengejar Xishi. Ajang kejar-kejaran terjadi diantara Xishi dengan orang yang tidak di kenalnya itu, hal itu membawa Xishi sampai ke atap terakhir, atap selanjutnya adalah salah satu bangunan di dalam kediaman Song.
Xishi tentu saja kehilangan langkah, dia tidak bis mengeluarkan pedang naga nya, selain itu dia juga tidak membawa pedang Hei Ying. Yang ia bawa saat ini hanyalah beberapa racun yang akan ia gunakan jika sewaktu-waktu dia bertemu dengan salah satu anggota organisasi pembunuh.
' Orang ini memojokkan ku sampai kesini, apakah dia salah satu penghuni kediaman ini? Sialan! Hal seperti ini membuatku dilema dengan racun ku! ' ucap Xishi yang bergelut dengan pikirannya sendiri.
" Siapa Kau? " tanya seseorang dengan suara laki-laki gagah.
" Siapapun aku, aku bukanlah ancaman selama aku tidak di usik! Biarkan aku pergi maka hidupmu akan selamat! " ujar Xishi lalu melangkah turun dari atap.
Begitu turun, Xishi langsung menyadari keberadaan seseorang yang menargetkan nya. Namun, lagi-lagi hal merepotkan, tepat saat laki-laki yang mengejar Xishi itu turun, anak panah melesat ke arahnya. Orang itu selamat berkat Xishi namun identitas Xishi terbongkar karena panah itu mengenai maskernya dan membuatnya lepas dari wajah Xishi.
__ADS_1
Wajah cantik Xishi membuat laki-laki itu tercengang, namun mata Xishi sendiri menunjukkan sebuah kejengkelan.
" Bodoh! " gumam Xishi pelan lalu mendorong laki-laki itu menjauh dari dirinya.