
" Xishi, kau baik-baik saja? " suara Xuan Yin membuat Xishi terhenyak sejenak lalu kembali ke jalur topik yang tengah di bicarakan.
" Kau yakin adalah ulah Pembunuh Malam? " tanya Xishi.
" Simbol 'Shi' bukankah itu adalah simbol yang biasa di tinggalkan oleh para Pembunuh Malam, simbol itu sebagai tanda kalau mereka adalah pelakunya! " jelas Xuan Yin.
" Hmm, sebenarnya aku tidak peduli dengan masalah antara Klan dan Pembunuh, aku sedang mencari seseorang dan kebetulan jalan ku salah hingga terlibat dengan Yan Xun, aku akan menyelesaikan masalah itu lalu pergi! Kau pergilah, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi! " ujar Xishi lalu berbalik.
Tangannya di tahan oleh Xuan Yin hingga membuatnya kembali memutar tubuhnya menghadap Xuan Yin.
" Apa kau benar-benar akan mengakhiri pertemanan kita? " tanya Xuan Yin dengan tatapan sendu.
Xishi menepis tangan itu kuat-kuat hingga terlepas dari genggaman Xuan Yin, tatapannya sangat asing di mata Xuan Yin, sesuatu yang berbeda terlihat begitu jelas dalam diri gadis yang merupakan teman masa kecilnya ini.
" Jangan melupakan apa yang pernah aku katakan kepadamu, selama aku tidak lagi menjalin hubungan denganmu, banyak hal yang berubah, hati-hati kau tidak dapat menerimanya! " ujar Xishi lalu berbalik.
Namun, beberapa langkah di ambil, Xishi berhenti dan kembali berbicara tanpa berbalik.
" Hari ini anggap tidak terjadi apa-apa, pertemuan selanjutnya aku akan memberitahumu sebuah kejutan hingga kau sendiri yang akan memutuskan diantara kita, teman atau lawan! " pungkas Xishi lalu melangkah cepat meninggalkan Xuan Yin.
Xuan Yin sendiri masih berdiri di tempatnya, Xishi mengatakan hal seolah-olah hal buruk akan terjadi ketika mereka bertemu lagi. Meski seperti sebuah peringatan yang memaksa keduanya untuk tidak bertemu lagi, namun sepertinya ancaman yang ada di balik perkataannya sangat serius dan tidak main-main. Xuan Yin menghela nafasnya sambil memandang punggung Xishi yang kian menjauh.
' Kau benar! Banyak hal yang berubah saat kita tidak lagi bersama. Namun, sebenarnya apa yang membuatmu begitu berbeda, Xishi? ' gumam batin Xuan Yin.
Tatapan sendu itu memperlihatkan sebuah ketidakrelaan, ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dari lubuk hati Xuan Yin yang mungkin selamanya akan tersimpan disana. Tak lama setelah itu, seorang perempuan datang menghampiri Xuan Yin.
Disisi lain, Xishi melihat elang pengintai muncul, dengan segera Xishi mencari tempat yang tepat untuk menerima informasi darinya. Xishi memesan sebuah penginapan yang biasa ia pesan saat kesini, lalu elang itu datang melalui jendela yang di buka Xishi.
" Rubah Pembunuh, ya? Sebelumnya, aku juga sempat bertarung dengan mereka malam itu, jadi, semenjak kejadian itu mereka memang belum benar-benar meninggalkan desa dan muncul lagi tepat saat pendekar hantu itu datang.. Selidiki lagi, cari tahu ada hubungan apa antara Rubah Pembunuh dan Klan Hantu! "
Xishi berbicara, Sang Elang mendengarkan, begitu mendapat tugas lagi langsung melesat menjalankan apa yang di perintahkan. Baru saja elang pergi, gagak hitam muncul dan hinggap di meja di depan Xishi.
Ada sebuah surat di kakinya, Xishi mengambil dan mulai membacanya dengan tenang. Informasi dari mata-mata di barat yang memberitahukan kalau keadaan disana aman dan tidak ada pergerakan aneh atau kemunculan organisasi pembunuh. Meski baik-baik saja, Xishi akan tetap membalas dengan perintah lain.
Setelah itu, Xishi akan pergi untuk mencari Limei, sejak semalam dia kehilangan jejak Limei. Meski mengharuskan dia kembali, seharusnya Limei sudah mencarinya kesini, namun bahkan gagak hitam dan elang pengintai pun tidak memberi kabar apapun.
Xishi beranjak dari duduknya lalu pergi ke pintu, namun saat dia membuka pintu, seseorang mengejutkannya. Datang secara tiba-tiba dengan memasang tatapan tajam ke arah Xishi, seseorang yang kini menjadi satu-satunya yang di takuti oleh Xishi.
" Kakak? " panggil Xishi lirih.
" Mau kemana? " tanya Hua dingin.
^^^( Zhan Hua - Putra ketiga^^^
^^^Zhan Cheng)^^^
" Aku harus pergi mencari Limei.. hehe.. " jawab Xishi dengan di akhiri tawa hambar.
Saat Xishi melangkahkan kakinya, Hua dengan cepat meraih daun telinganya dan menariknya kembali ke dalam kamar. Xishi meringis kesakitan dan meminta Hua untuk melepaskan tangannya.
" Aaa.. Sakit, sakit, sakit! Kakak lepaskan dulu, kita bisa bicarakan hal ini baik-baik.. Aduhh!! " gerutu Xishi.
" Benar, kita bisa bicarakan hal ini baik-baik.. "
Seorang laki-laki ikut muncul, bahkan ada dua orang lain di belakangnya. Ketiganya tentu saja di kenal oleh Xishi meski Xishi membantah tegas ikatan pertemanan antara mereka.
" Kau.. " gumam Xishi pelan.
Qinsong datang dan membantu Hua melepaskan tangannya dari telinga Xishi.
" Kau berniat mencabutnya, huh? " tanya Qinsong yang membuat Hua langsung melemaskan tangannya.
__ADS_1
^^^(Song Qin Song)^^^
Xishi mengusap telinganya yang memerah, ini adalah salah satu hal yang paling di hindari olehnya. Dengan melakukan hal ini, Hua adalah sosok yang menyeramkan sejak mereka berdua masih kecil, bahkan saat kecil Xishi tidak berani mendekati Hua walau Hua seringkali melindunginya.
Xishi menundukkan pandangannya, lagi-lagi bertemu dengan dua pria pembawa sial di hidupnya. Sekarang dia hanya perlu bersiap-siap untuk kesialan yang akan datang dua sekaligus, namun satu kesialan tadi sudah muncul, jadi tinggal ada satu kesialan lainnya.
Fengyue menutup pintu, membuat ekspresi wajah Xishi berubah seketika.
" Hey! Empat laki-laki dan satu perempuan di dalam kamar itu tidak baik, aku bisa di cap kotor oleh orang-orang! " celoteh Xishi.
" Aku akan bertanggung jawab membersihkan namamu, sekarang katakan, mayat yang menggantung di depan rumah perdana menteri Li apakah kau yang melakukannya? " tanya Yan Xun dengan nada mengintimidasi.
" Apa maksudmu, bagaimana cara aku menggantungnya dengan tubuh sekecil ini? Bicaralah dengan akal sehat lain kali! " balas Xishi tegas, tak mau kalah dengan cara Yan Xun.
" Zhan Xishi! Rendahkan suara mu! " Ujar Hua mengejutkan Xishi.
" Maaf, Kakak.. " jawab Xishi lirih.
Fengyue dan Qinsong yang menyaksikan perubahan drastis itu malah tertawa kecil, Xishi terlihat lucu saat begitu takut dan tiba-tiba menjadi patuh pada Hua.
" Lalu, siapa yang melakukannya? " tanya Yan Xun.
" Kau bertanya padaku, aku bertanya pada siapa? " balas Xishi.
Merasa geram karena informasi yang di berikan Xishi tak memuaskan, Yan Xun meraih pergelangan tangan Xishi dan membawanya keluar.
" Ah!! Sakit, sakit! " rintih Xishi saat Yan Xun terlalu kuat menggenggam pergelangan tangannya.
Hua dengan cepat menghentikan Yan Xun, namun tidak bisa membantu Xishi melepaskan tangannya.
" Tuan Muda Huang, tolong jangan terlalu kasar pada adikku.. " pinta Hua memelas.
' Oh, kakakku yang terbaik, kenapa tidak memintanya melepaskan tanganku saja? Tenaganya begitu kuat, sedangkan aku sedang berada di balik topeng yang lemah! ' gumam Xishi.
Yan Xun mengerti, dia yang awalnya menggenggam pergelangan tangan Xishi kini berubah tangannya turun dan menggenggam tangan Xishi.
Tanpa berkata-kata lagi, Yan Xun membawa Xishi pergi dan meninggalkan tiga lainnya disana.
" Heh, kakak Xun, kau mau kemana? Mengapa membawa calon istriku juga?? " ujar Qinsong sebelum akhirnya pergi menyusul.
" Apa? Calon istri? Otaknya bermasalah, ya? Mengapa putra pewaris seperti mu malah memilih gadis aneh sepertinya? Hey, Qinsong!!! Aku berbicara denganmu!!! " teriak Fengyue lalu berlari keluar.
" Gadis aneh sepertinya? Siapa maksudmu? Xishi ku gadis aneh? Hah? Matamu kau simpan dimana? Adikku adalah bunga desa dari Luo!! Kakak Fengyue, aku tidak akan membiarkan mu, aku akan membuatmu menyadari kecantikan dari Xishi ku tersayang!? NIE FENGYUE!!! " Ujar Hua marah dan tidak terima adik satu-satunya di sebut aneh oleh Fengyue.
Hua ikut mengejar sebelum akhirnya kembali lagi karena lupa menutup pintu.
Sedangkan, sepanjang jalan orang-orang memperhatikan Yan Xun dan Xishi. Mereka saling berbisik bahkan sampai mengatakan dengan lantang kalau dirinya iri pada Xishi yang bisa mendapatkan seorang pendekar gagah nan tampan seperti Yan Xun. Di dalam hati Xishi sendiri, dia memaki laki-laki yang berjalan di depannya dengan tangan yang terus menggenggamnya.
" Lepaskan! Orang-orang membicarakan mu! " ujar Xishi tanpa menghentikan langkahnya.
" Kau salah, mereka jelas-jelas iri padamu karena kau bisa berjalan dalam genggamanku, kau seharusnya merasa beruntung! " ucapan dengan nada dingin itu hampir membuat tubuh Xishi menggigil.
" Beruntung apanya! Aku malah tersiksa berada di belakangmu! " ucap Xishi sambil memalingkan wajahnya.
Karena tidak memperhatikan jalan, Xishi menabrak Yan Xun yang berhenti tanpa ia ketahui. Yan Xun berbalik dan melihat Xishi tengah mengusap-usap dahinya menggunakan tangan kirinya.
" Kalau begitu berjalanlah di sampingku! " ujar Yan Xun sambil melingkarkan tangan Xishi di lengannya.
Saat Xishi berusaha memberontak, Yan Xun kembali mengeluarkan kata-kata yang sama seperti sebelumnya.
" Jangan coba-coba melepaskan diri! "?
Xishi memutar bola matanya malas dan terus mengalihkan pandangannya sampai netra nya bertemu dengan sosok pria dengan kipas di tangannya. Xishi membulatkan matanya, Xingsheng yang duduk di lantai dua sebuah kedai teh membalasnya dengan mengangkat sebelah alisnya. Xishi membalas lagi dengan mengerutkan keningnya, merasa semuanya sama-sama tidak bisa di andalkan.
Jalanan ini jelas membawa mereka ke tempat kediaman Li berada, mayat itu masih ada disana. Posisi dan kondisi yang sama seperti mayat Xiao Bian sebelumnya. Sedetik kemudian, Qinsong muncul diantara keduanya dan melepaskan tangan Xishi dari lengan Yan Xun.
__ADS_1
Xishi enggan menanggapi hal itu dan memilih berjalan mendekati mayat itu, ada tanda 'Shi' di bawah mayat itu. Xishi berjalan menghampiri keempat laki-laki yang berdiri di tempat yang sama.
" Jelas-jelas ini adalah perbuatan Pembunuh Malam mengapa menyeret ku dalam hal ini? " tanya Xishi.
" Benarkah? Kau tidak membuatnya seolah-olah ini ulah Pembunuh Malam, bukan? " tanya Yan Xun.
" Kakak, pinjamkan belati mu! " pinta Xishi.
Tanpa ragu Hua pun meminjamkannya. Xishi melemparkan belati itu hingga mengenai tali gantung itu, lalu belati kembali ke tangan Xishi laksana bumerang.
Mayat itu jatuh beserta kepalanya, Xishi mendekat dan memutar kepalanya menggunakan belati.
" Orang yang aku bunuh semalam, terluka di bagian kepala, anak panah yang menembus kepala seharusnya merusak tengkorak dan memiliki bekas luka lebar karena aku menarik kembali anak panah itu, namun orang ini bahkan sama sekali tidak memiliki luka selain bekas gorokan! " ujar Xishi menjelaskan dengan tenang.
Yan Xun ikut mendekat untuk memeriksa sendiri, namun sebelum tangannya menyentuh bagian tubuh orang itu, Xishi menghentikannya lebih dulu. Yan Xun menoleh dan menatap heran ke arah Xishi.
" Kau mau mati? " tanya Xishi dingin.
" Apa maksudmu? " tanya Yan Xun.
" Tidak ada apapun yang mengerubungi bangkai, bukankah itu aneh? Bahkan lalat lebih pintar daripada dirimu! " sindir Xishi lalu beranjak.
Melihat tatapan tajam dari Yan Xun, Hua pun maju untuk menggantikan Xishi menjelaskan pada Yan Xun.
" Mayat ini beracun, tidak heran jika tidak ada lalat yang hinggap. Mohon perkataan adikku tadi jangan di masukan ke hati Tuan Muda Huang.. " ujar Hua.
" Eem, kakak Xun, sebenarnya kejadian yang serupa pernah terjadi belum lama ini, Nona Zhan membantuku mengurus mayat itu, kondisi mayat sama persis, dia tewas karena dengan luka tusuk yang menembus jantung, sebelum akhirnya di penggal oleh pedang beracun! " timpal Qinsong.
' Tetap saja, gadis ini lebih mencurigakan daripada yang aku bayangkan, namun dia adalah adik dari Zhan Hua, putri dari pemimpin desa dan tabib terkenal dari wilayah Luo, mungkinkah melakukan hal yang hina seperti ini? ' gumam batin Yan Xun bertanya-tanya.
Xishi yang merasa hal ini sudah beres pun berpamitan kepada keempat pria itu, terutama pada kakaknya. Dia benar-benar tidak mempunyai banyak waktu untuk bermain-main seperti ini, pertemuan ikatan lima sekte akan di adakan besok, jika tidak cepat menemukan Limei dia akan kesulitan untuk kembali ke Gunung Qiyi.
" Kakak, aku harus pergi mencari Limei, aku berpisah dengannya semalam, sampai sekarang dia masih belum kembali! " ujar Xishi.
" Hilang lagi? " tanya Hua saat kejadian serupa kembali terdengar.
" Ku mohon.. Aku khawatir padanya, sesuatu pasti terjadi padanya! " ucap Xishi makin memelas.
Hua melirik ke arah Yan Xun, laki-laki dengan gelar pendekar harimau putih itu membungkukkan badannya.
" Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk masalah ini, mohon maaf jika saya terlalu lancang dan kasar, di lain waktu saya akan membalas budi baik yang Nona lakukan.. " ujar Yan Xun lirih.
' Apa-apaan pendekar dungu ini! Tidak ada bedanya kalaupun kau bersikap formal tiba-tiba! ' maki batin Xishi.
" Tidak apa-apa, lupakan saja, aku benar-benar tidak punya banyak waktu, permisi! " balas Xishi lalu berlari pergi.
" Hm, padahal aku ingin mengajaknya minum teh.. " gumam Qinsong.
" APA???? " teriak Fengyue histeris.
Waktu terus berjalan, Xishi menyisir setiap jalanan dengan pandangan awas menyapu sekitar. Mencari kemana perginya Dewi Racun itu, tiba-tiba hilang jejak tentu saja terlalu mengejutkan begitu terjadi. Limei akan mencarinya meski dia belum menemukan apapun, dia tidak akan memaksakan dirinya dan pantang pulang sebelum mendapatkan apa yang ia cari.
Karena tidak hati-hati, Xishi hampir saja melakukan hal bodoh untuk yang ketiga kalinya, menabrak seseorang yang berjalan di depannya. Kali ini, dia berhenti tepat selangkah sebelum bertabrakan.
" Nona Zhan? "
^^^(Bei Liang)^^^
" A-Liang? " gumam Xishi.
" Benar, syukurlah kau mengingatku. Kau terlihat mencari sesuatu, apa yang sedang kau cari? Mungkin saja aku bisa membantumu! " tawar Liang.
" Heh, apa kau di pecat oleh Liu Xingsheng dan mencari pekerjaan baru? " tanya Xishi.
__ADS_1
" Tidak, aku hanya sedang libur untuk memulihkan diri saja.. Jadi, apa yang kau cari? " tanya Liang.
" Limei.. " jawab Xishi.